Di tengah dunia yang terbelah antara realita modern dan kiamat zombie, Shinn Minkyu—seorang cowok berwajah androgini dengan pesona misterius—mendadak mendapatkan sebuah sistem unik: Sistem Pengasuh.
Dengan kemampuan untuk berpindah antar dunia, Shinn berniat menjalani hidup damai... sampai seorang gadis kecil lusuh muncul sambil dikejar zombie. Namanya Yuki. Imut, polos, dan penuh misteri.
Tanpa ragu, Shinn memutuskan untuk merawat Yuki layaknya anaknya sendiri—memotong rambutnya, membuatkannya rumah, dan melindunginya dari bahaya. Bersama sistem yang bisa membangun shelter super canggih dan menghasilkan uang dari membunuh zombie, keduanya memulai petualangan bertahan hidup yang tak biasa.
Penuh aksi, tawa, keimutan maksimal, dan romansa menyentuh saat masa lalu Yuki perlahan terungkap...
Apakah Shinn siap menjadi ayah dadakan di tengah kiamat? Atau justru… dunia ini membutuhkan keimutan Yuki untuk diselamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F R E E Z E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
Pagi itu cuaca di luar masih dingin, tapi di dalam shelter, suasananya hangat dan tenang seperti biasa. Shinn bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena gangguan sistem atau zombie, tapi karena malam tadi, dia tidur sambil senyum-senyum sendiri setelah duduk bareng Elia dan Yuki di balkon.
Dia ngelirik ke arah tempat tidur Yuki. Anak kecil itu masih pulas, dengan posisi tidur kayak bintang laut. Selimutnya udah setengah nyeret ke lantai. Shinn ngerapihin pelan-pelan biar gak bangunin dia, terus jalan ke dapur.
“Pagi-pagi bikin kopi dulu ah.”
Sambil menyeruput kopi panas, Shinn duduk di depan layar sistem. Dia iseng-iseng buka data log dari malam tadi. Tapi matanya langsung nyipit begitu lihat notifikasi kecil berwarna oranye.
Peringatan: Aktivitas makhluk hidup terdeteksi 800 meter dari perimeter timur. Status: Tidak teridentifikasi.
“Hah? Manusia?”
Shinn langsung zoom in ke tampilan drone. Dan bener aja—ada dua sosok jalan kaki di tengah reruntuhan. Satu kayak bawa ransel besar, satu lagi pegang tombak panjang.
Shinn ngerasa was-was. “Hmm... jangan-jangan penyintas?”
Dia langsung bangunin Elia.
“Elia, bangun bentar.”
Elia yang masih setengah ngantuk nyaut, “Hmm? Kenapa? Zombie lagi?”
“Bukan. Ada dua orang... kayaknya penyintas. Mereka jalan ke arah shelter.”
Elia langsung bangun dan mengucek mata. “Serius? Tapi kan kita udah lama gak ketemu penyintas...”
Shinn mengangguk. “Aku juga kaget. Tapi gak bisa langsung percaya juga. Bisa jadi mereka bahaya.”
Mereka berdua berdiskusi sambil mantau gerakan dua orang itu. Gak lama, Yuki bangun dan datang ke ruang tengah sambil bawa boneka kelinci.
“Papa Shinn, Mama Elia... pagi...”
Shinn langsung nyamperin dan nggendong Yuki. “Pagi, sayang. Papa sama mama lagi mantau... ada orang yang datang dari luar.”
Yuki langsung buka mata lebar. “Orang? Beneran? Kok bisa?”
“Gak tahu. Makanya kita hati-hati dulu ya.”
Sekitar satu jam kemudian, kedua penyintas itu nyampe di area pagar luar shelter. Mereka ngelihat ke kamera yang nyala, terus salah satu dari mereka ngangkat tangan tanda damai.
Shinn aktifin speaker.
“Hai, kalian siapa? Tujuan ke sini apa?”
Orang yang bawa tombak menjawab, suaranya serak tapi jelas.
“Kami cuma nyari tempat aman, gak ada niat jahat. Namaku Reno, ini adikku Naya. Kami udah jalan hampir seminggu, gak makan layak, cuma pengen istirahat sebentar...”
Shinn dan Elia saling pandang. Elia pelan-pelan ngomong, “Gimana menurutmu?”
Shinn diam sebentar. “Kita sambut, tapi tetap waspada. Aku bakal periksa mereka dulu, pastiin gak bawa zombie atau hal aneh.”
Setelah pemeriksaan singkat dan pemindaian sistem, dua orang itu masuk ke ruang tamu shelter. Penampilannya lusuh, baju mereka robek, dan wajahnya capek banget. Tapi mata mereka keliatan lega waktu lihat ruangan bersih dan hangat di dalam shelter.
“Gila... kayak surga...” gumam Reno.
Naya, cewek berusia sekitar 14 tahun, langsung duduk dan ngelus boneka kecil yang dia bawa. “Kita beneran selamat, kak?”
Elia datang bawa air hangat dan roti panggang. “Minum dulu ya, makan dikit. Istirahat sebentar.”
Mereka makan dengan lahap. Shinn duduk di seberang, tetap awasi sambil ngobrol.
“Kalian dari mana asalnya?”
Reno ngejawab pelan. “Kami dari utara. Dulu tinggal di komunitas kecil, tapi diserang zombie mutasi. Hanya kami berdua yang lolos...”
Mata Naya mulai berkaca-kaca. Shinn dan Elia saling pandang, dan suasana mendadak jadi sunyi.
Yuki tiba-tiba lari kecil dan duduk di sebelah Naya. “Kakak... sini makan biskuit yang aku simpen buat hari spesial.”
Dia nyodorin satu biskuit kecil ke Naya. Cewek itu langsung nangis pelan sambil senyum dan peluk Yuki.
“Terima kasih... kamu baik banget...”
Malamnya, Shinn dan Elia ngobrol berdua di dapur.
“Elia... kalau mereka tetap tinggal di sini, kamu oke?”
Elia mikir sebentar. “Aku gak keberatan, asal mereka bisa dipercaya. Kita butuh tambahan orang juga, kan?”
Shinn ngangguk. “Iya... shelter makin besar, kerjaan makin banyak. Kalau mereka bisa bantu, ya bagus juga.”
Mereka setuju kasih Reno dan Naya waktu seminggu untuk adaptasi. Kalau semuanya oke, mereka bisa resmi jadi penghuni shelter.
Hari-hari selanjutnya berjalan lancar. Reno ternyata ahli bertani. Dia bantu kelola kebun hidroponik dan ngusulin buat nanam jenis tanaman baru yang tahan suhu dingin.
Naya akrab banget sama Yuki. Mereka sering main bareng, gambar bareng, bahkan tidur siang bareng. Elia sampe bilang, “Yuki kayak punya kakak baru.”
Sementara itu, Shinn manfaatin waktu buat latih Reno bertarung dan pakai sistem pertahanan. Dia ajarin cara pakai pelontar api, sistem sensor, dan senjata ringan.
Reno ngelihat semua teknologi yang Shinn bangun, dan ngomong dengan kagum, “Kamu ini... bukan orang biasa, Shin. Aku yakin kamu bisa bikin kota kecil dari shelter ini suatu hari.”
Shinn ketawa pelan. “Mimpi sih memang... tapi satu langkah kecil dulu ya.”
Suatu sore, waktu semua lagi ngumpul di ruang tengah, sistem berbunyi pelan.
[Pemberitahuan: Komponen upgrade sistem tersedia. Buka untuk rincian.]
Shinn langsung buka layar dan matanya melebar.
“Upgrade... mode ekspansi?”
Elia nyamperin. “Apa maksudnya?”
Shinn nunjuk layar. “Sistem ngasih opsi buat upgrade shelter ke versi ekspansi. Artinya, kita bisa bangun ruang tambahan, tambahin listrik, dan bahkan bikin taman kecil.”
Yuki langsung jingkrak-jingkrak. “Waaah, bisa bikin taman bunga dong!”
Reno semangat. “Kita bisa bikin lumbung, bahkan mungkin kandang ayam kalau dapet bibitnya.”
Shinn senyum lebar. “Tapi butuh banyak bahan dan tenaga. Kita harus kerja bareng.”
Semua setuju. Dalam beberapa hari ke depan, mereka mulai proyek ekspansi kecil-kecilan. Mereka kerja bareng, ketawa, masak ramai-ramai, dan saling bantu kayak beneran keluarga besar.
Malam itu, setelah semua selesai bersih-bersih, Shinn duduk di balkon lagi. Kali ini, Elia duduk di sebelah kirinya, Reno di kursi lipat kanan, dan anak-anak tidur di dalam.
“Mungkin dunia udah hancur,” kata Shinn pelan, “tapi hati kita enggak. Kita masih bisa bangun ulang, mulai dari kecil... mulai dari tempat ini.”
Reno angkat gelas air hangat. “Untuk shelter.”
Elia ikut senyum. “Untuk keluarga.”
Dan di bawah langit penuh bintang, empat orang dewasa dan dua anak kecil mulai menuliskan cerita baru tentang harapan, ketahanan, dan cinta... dalam dunia yang perlahan-lahan mereka bangun kembali bersama.
mampir kak