NovelToon NovelToon
Istri Pilihan CEO

Istri Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Icha mawik

Jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat Shakala Fathan Elgio Genova, berusaha untuk memperjuangkan cintanya pada Zakira. Gadis manis yang ia temui tanpa sengaja di perusahaannya. Zakira adalah salah satu karyawan di perusahaannya.
Namun, sayangnya saat ia mengutarakan niatnya untuknya melamar gadis itu. Terjadi kesalahpahaman, antara Fathan dan Mamanya. Nyonya Yulia, yang adalah Mamanya Fathan. Malah melamar Nabila, yang tidak lain sepupu dari Zakira. Nyonya Yulia, memang hanya mengenal sosok Nabila, putri Kanayah dan Jhonatan. Mereka adalah rekan bisnis dan keluarga mereka memang sangat dekat.
Nyonya Yulia juga mengenal dengan baik keluarga bakal calon besannya. Akan tetapi, ia tidak pernah tahu, kalau keluarga itu memiliki dua orang anak perempuan. Terjadi perdebatan sengit, antara Fathan dan sang Mama yang telah melakukan kesalahan.
Nabila yang sudah lama menyukai Fathan, menyambut dengan gembira. Sedangkan Zakira, hanya bisa merelakan semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha mawik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29.

"Menikahlah denganku!"

Kata-kata Abizar masih terngiang di telinga Zakira saat ini. Siang tadi, saat keduanya tanpa sengaja bertemu di sebuah cafe. Abizar, pemuda akhir-akhir ini dekat dengannya itu, menyatakan perasaannya

Zakira akui, Abizar pemuda yang baik. Namun, entah mengapa? Sampai saat ini, ia masih enggan untuk membuka hatinya dan kembali menjalin hubungan lagi.

Namun, Zakira juga tidak mengiyakannya. Ia juga takut, kalau sampai membuat pemuda baik seperti Abizar kecewa. Zakira hanya meminta waktu yang tepat, untuk memberikan jawaban. Sebaliknya, Abizar juga menyambutnya dengan baik dan berjanji akan menunggu sampai waktu itu datang.

Zakira menarik napas dalam dan mengembus pelan. Ia kembali melanjutkan tugas kantornya, yang ia bawa pulang.

Keesokan harinya, seluruh anggota keluarga sedang berkumpul untuk sarapan. Di sana juga ada Fatih dan Nabil yang sedang menginap. Kedua orang tua mereka sedang negeri untuk urusan bisnis.

"Kiano ada menelpon, Za?" tanya Kendra, pada menantunya.

"Iya, Dad! Tadi malam, tapi hanya sebentar. Nanyain kabar semuanya dan Kiano juga mengingatkan Daddy untuk check up hari ini," beberapa Zavira panjang.

Kendra hanya tersenyum kecil, mendengar penuturan menantunya.

"Nanti, aku yang akan menemani Opa, ya Ummi?" celetuk Nabil.

"Boleh! Tapi, kami lagi gak sibuk, kan?" sahut Zavira.

"Gak, Ummi. Hari ini aku free," jawab Nabil.

"Nabil, sih setiap hari free Ummi," celetuk Fatih.

"Enak aja!" sembur Nabil.

"Emang iya, kan? Kerjaan lu, hanya bolak-balik butik buat mantau doang," timpal Fatih lagi.

"Kan, emang itu tugas gue. Lu juga sama, bolak-balik bengkel sama resto doang, kan?" Balas Nabil.

"Gak, juga! Kadang, gue ke perusahaan ngecek keadaan," kilah Fatih.

"Ngecek apaan, lu? Yang ada, lu bikin ulah di sana," sambung Zaki.

Terjadilah keributan panjang di meja makan. Fatih dan Nabil memang tidak pernah akur kalau bertemu. Namun, sebaliknya. Jika, akan saling merindukan ketika tidak ada salah satunya.

"Udah, ngapain pada rebutan? Yang menemani Opa check up hari ini, gue!" tunjuk Zakira pada dirinya sendiri.

"Lho... kan, kamu kerja, Sayang?" sela Zavira lembut.

"Tenang aja, bos lagi gak ada ditempat. Jadi, Kira bisa pulang lebih cepat," jelas Zakira semangat.

"Emang, si Fathan ke mana?" tanya Zaki.

"Ada urusan di luar," jawab Zakira.

"Owh, jangan-jangan dia juga menghadiri pertemuan kayak Daddy dan yang lainnya, ya?" tebak Zavira.

Zakira hanya mengangkat kedua bahunya, sebagai jawaban.

"Fathan ada, juga pasti dia ngasih izin. Kalau, lu yang minta," cetus Zaki asal.

"Jangan gitu, Kak. Gue sering dapat sindiran pedas, dari beberapa staff gegara itu," keluh Zakira.

"Siapa?" sela Kendra, pria tua yang sedari tadi diam dan menyimak obrolan cucunya itu. Akhirnya, angkat bicara.

"Bukan siapa-siapa, kok Opa. Tidak semua, hanya sebagian," jawab Zakira.

Zakira memberi kode pada Kakak dan kedua sepupunya. Untuk tidak melanjutkan, obrolan. Setelah menyelesaikan sarapannya, Zakira pun pamit untuk berangkat bekerja.

*****

Di tempat berbeda, terlihat Nabila yang duduk melamun di kamarnya.

Sudah hampir satu Minggu sejak kejadian itu, ia sama sekali putus kontak terhadap Fathan. Biasanya, tanpa rasa sungkan. Nabila, mengirim pesan, menelpon bahkan tanpa rasa malu, Nabila mendatangi Fathan di kantornya.

Nabila cemas, kalau sampai Fathan mengatakan semua perbuatannya pada kedua orangtuanya. Saat ini, mungkin Nabila bisa bernapas lega. Pasalnya, baik Fathan maupun kedua orangtuanya, sedang tidak berada di sini. Secara bersamaan mereka sedang berada di luar negeri, dengan tujuan berbeda.

Namun, tidak menutup kemungkinan, mereka bertemu. Sebab, baik Papa maupun pemuda yang saat ini masih menjadi tunangannya itu, menjalin kerjasama.

"Kenapa, kamu uring-uringan seperti itu, Bila?" tanya Sukma yang tiba-tiba masuk ke kamar.

"Oma!" ucap Nabila singkat.

Sukma mendekati gadis itu dan membawanya duduk.

"Ada apa?" tanya Sukma lagi.

"Fathan, Oma!" ucap Nabila.

"Kenapa lagi dengan dia?" tanya Sukma lagi.

"Sudah hampir satu Minggu ini, aku gak denger kabar dari dia," jawab Nabila.

"Memangnya kenapa? Kamu kangen sama dia?" goda Sukma.

"Kalau kangen, itu udah pasti Oma! Tapi...." Nabila menggantung kata-katanya.

"Tapi, apa?" Sukma menatap Nabila intens.

Nabila menarik napas dalam dan kasar.

"Oma, lupa kejadian kemaren?" tanya Nabila.

"Maksud kamu, kejadian di hotel itu?" Tebak Sukma.

Nabila mengangguk pelan.

"Kenapa?" tanya Sukma.

Kembali Nabila menarik napas dalam.

"Oma tau, gak? Kalau, sampai saat ini Fathan belum ngasi kabar apapun, perihal hari itu," ungkap Nabila.

"Lalu?" Sukma kembali bertanya.

"Aku heran aja, Oma! Selama aku kenal Fathan, ia itu orangnya tegas. Dia gak akan mengampuni, siapapun yang berbuat salah. Tapi, sekarang Oma liat sendiri, kan? Dia bahkan, gak ada kabar sama sekali," ungkap Nabila panjang.

"Ya, bagus kalau begitu. Itu artinya, dia gak ambil pusing dengan kejadian itu. Dia bahkan mungkin, udah melupakan semuanya," ucap Sukma dengan wajah berbinar.

"Gak mungkin, Oma! Aku tau, siapa Fathan!" tegas Nabila.

"Udahlah, Nabila! Stop berpikiran negatif. Oma yakin, Fathan tidak akan mengambil keputusan dengan gegabah. Dia juga pasti, memikirkan nama baik keluarganya, terutama mamanya," beber Sukma.

Nabila terdiam. Ia pun berusaha untuk mulai berpikir positif, seperti yang dikatakan Sukma.

***

Kiano memijit pelipisnya. Ia shock, mendengar cerita Fathan tentang Nabila.

"Mengapa dia, jadi senekat itu?" tanya Kiano.

"Saya rasa, semua ini karena Oma Sukma," tebak Fathan.

"Maksud kamu?" Kiano menatap bakal menantu dari adiknya itu, dengan seksama.

Fathan mengangguk samar.

"Saya cukup mengenal Nabila. Dulu, dia tidak seperti itu," terang Fathan.

Kiano pun mengiyakan, apa yang Fathan katakan. Ia juga sangat tahu sekali, dengan sifat keponakan perempuannya itu. Nabila dan saudara kembarnya, dididik cukup keras oleh kedua orangtuanya.

"Jadi, apa rencana kamu sekarang?" tanya Kiano.

"Saya akan mengatakan pada kedua orangtuanya dan...." Fathan menghentikan ucapannya sejenak.

"Dan?" sambung Kiano.

Fathan menarik napas dalam. "Saya, akan mengakhiri pertunangan ini."

"Apa?" Kiano tampak terkejut, mendengar keputusan pemuda yang ada dihadapannya.

"Ya! Saya tidak bisa melanjutkannya dan saya tidak mungkin memaksakan perasaan saya untuk Nabila," lanjut Fathan.

"Maksud kamu?" Kiano kembali bertanya. Bukan tanpa sebab, Kiano ingin tahu langsung. Bagaimana perasaan Fathan yang sesungguhnya, terhadap Nabila maupun Zakira?

"Saya tidak perlu menjelaskan lagi. Anda pasti sudah tau alasannya," jawab Fathan.

Kiano pun tidak lagi bertanya apapun. Sebab, ia sudah tahu jawabannya. Setelah mengakui semuanya, Fathan pun pamit undur diri. Ia akan bersiap untuk pulang dan menyelesaikan masalah.

****

"Zakira!"

Mata Zakira membulat, saat tahu. Siapa yang memanggilnya? Wanita itu berjalan mendekati Zakira, yang langsung mematung.

"Saya ingin bicara sama kamu," ucap Nyonya Yulia.

Zakira mengangguk dan mengikuti langkah wanita itu.

"Saya tidak ingin banyak buang waktu dan aku akan langsung ke inti permasalahannya," ucap Yulia mulai buka suara.

Zakira hanya bisa mengangguk. Sepertinya, ia tahu apa yang akan dibicarakan Ibu dari bos-nya itu.

"Saya ingin, kamu menjauh dari hidup Fathan," perintah Yulia.

"Maksudnya?" tanya Zakira.

"Kamu pasti tau, apa yang saya maksud," jawab Yulia.

Zakira mengernyitkan kedua alisnya bingung. Bukankah, selama ini dirinya telah menjauh, bahkan menghindari dari pemuda itu.

"Rencana pernikahan Fathan dan Nabila, akan saya majukan dari rencana awal. Saya tidak mau lagi, mengulur waktu lebih lama seperti kesepakatan awal," lanjut Yulia.

Zakira masih diam dan mendengarkan.

"Dan, saya tidak mau sampai rencana ini berantakan atau malah gagal. Hanya, karena masalah sepele. Kamu paham kan, apa yang saya maksud?" sambung Yulia.

Zakira masih diam, ia larut dalam pikirannya sendiri.

"Fathan juga sudah setuju, akan hal ini," kembali, Yulia melanjutkan ucapannya.

"Lalu, apa hubungannya sama saya?" tanya Zakira. Akhirnya, gadis bermata bulat itu buka suara. Setelah, sejak tadi hanya diam dan menyimak.

"Saya mau, kamu menghilang dari pandangan Fathan," jawab Yulia.

Zakira tersenyum tipis.

"Maaf, Nyonya. Tadi, Anda bilang, seluruh keluarga Anda sudah setuju untuk rencana Anda?" kata Zakira mengulang, apa yang dikatakan lawan bicaranya.

Yulia mengangguk tegas.

"Lalu, untuk apa Anda menemui saya dan mengatakan semua ini sama saya?" tanya Zakira.

"Saya mau, kamu jangan sampai menjadi penghambat rencana saya ini. Saya mau Fathan hidup bahagia dengan gadis pilihan saya. Untuk itulah saya datang menemui kamu dan meminta kamu untuk secepatnya pergi dari kehidupan putra saya," ungkap Yulia panjang.

Kembali Zakira tersenyum, sembari menggelengkan kepalanya.

"Baiklah. Saya akan tegaskan sekali lagi di sini. Antara saya dan Pak Fathan tidak ada hubungan apapun. Kalaupun ada, itu murni hanya urusan pekerjaan. Dan, jika itupun bisa dikatakan saya menjadi penyebab gagalnya rencana pernikahan Pak Fathan. Maka, mulai hari ini saya akan mengundurkan diri dari perusahaan ini." tegas Zakira.

"Bagus, kalau kamu mengerti dan sadar akan hal itu," sambut Yulia.

"Tapi, apa Anda akan memberikan saya sedikit waktu, untuk menyelesaikan tugas saya?" tanya Zakira sopan.

Yulia menatap Zakira bingung.

Zakira tersenyum. "Tadi, sebelum Anda datang. Pak Fathan, memberikan beberapa pekerjaan untuk saya. Saya harap, Anda mau memberikan saya waktu sampai tugas saya selesai."

Yulia mengangguk setuju.

Zakira mengangguk sembari tersenyum."Apa masih ada yang ingin Anda sampaikan?"

"Apa?" Yulia menatap lekat wajah Zakira.

"Ya, jika Anda sudah selesai, saya pamit undur diri. Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya dan setelahnya saya akan mengurus pengunduran diri saya dari perusahaan ini. Sesuai dengan permintaan Anda," ungkap Zakira tenang.

Yulia tersenyum angkuh. Ternyata, tidak sesulit yang ia pikirkan untuk membuat gadis yang telah membuat putranya itu tergila-gila.

Tanpa menunggu persetujuan dari lawan bicaranya, Zakira segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke perusahaan. Beberapa kali, ia mengusap pelan dadanya. Berusaha untuk menenangkan diri, agar tidak menangis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!