NovelToon NovelToon
My Little Badgirl

My Little Badgirl

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Mafia / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Icut Manis

Krystal Berliana Zourist, si badgirl bermasalah dengan sejuta kejutan dalam hidupnya yang ia sebut dengan istilah kesialan. Salah satu kesialan yang paling mengejutkan dalam hidupnya adalah terpaksa menikah di usia 18 tahun dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya.

Kesialan dalam hidupnya berlanjut ketika ia juga harus di tendang masuk ke Cakrawala High School - sekolah dengan asrama di dalamnya. Dan di tempat itu lah, kisah Krystal yang sesungguhnya baru di mulai.

Bersama cowok tampan berwajah triplek, si kulkas berjalan, si ketua osis menyebalkan. Namun dengan sejuta pesona yang memikat. Dan yang lucunya adalah suami sah Krystal. Devano Sebastian Harvey, putra tunggal dari seorang mafia blasteran Italia.

Wah, bagaimana kisah selanjutnya antara Krystal dan Devano.

Yuk ikuti kisahnya.

Jangan lupa Like, Komen, Subscribe, Vote, dan Hadiah biar Author tambah semangat.

Salam dari Author. 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icut Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 29 : MENCOBA MENGHINDAR

**Flashback On**

*Beberapa tahun yang lalu*...

*Saat itu hari penerimaan raport. Krystal berdiri di depan gerbang untuk menunggu Papanya menjemput raportnya. Papa William berjanji akan datang setelah mengambil raport di sekolah Keyzia nanti. Ya, meski kembar mereka selalu diperlakukan berbeda. Keyzia bersekolah di salah satu Sekolah Dasar berbasis Internasional. Sementara Krystal hanya di sekolah Swasta biasa, yang cukup elegan juga*.

*Sudah satu jam berdiri, namun orang yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang. Diperhatikannya wali murid lain yang bahkan satu persatu sudah mulai meninggalkan gedung sekolah. Sesekali dari mereka melempar senyum pada Krystal*.

"*Krystal, Papa kamu belum datang?" Tanya seorang wanita berhijab yang di balas gelengan oleh Krystal*.

"*Ya sudah, jika sudah datang nanti, langsung minta ke ruangan Ibu ya*."

*Krystal kali ini mengangguk, masih tanpa suara*.

*Waktu terus berputar dan sudah pukul 17.00 sore, Papa William tetap tidak datang. Krystal menenteng tas nya keluar dari gedung sekolah, tetap menegakkan kepala dan dagunya sehingga tak seorang pun akan menyadari bahwa gadis mungil itu sedang menahan sesak luar biasa di dadanya*.

"*Maaf, Krys. Papa tadi lupa. Keenakan nemenin Keyzia main di Maal sehabis ngambil raport nya. Keyzia juara umum*."

*Selalu, terlupakan adalah hal yang biasa untuk Kystal*.

*Di pukuli, dan di hajar setiap hari sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Krystal. Seperti sore ini, Krystal harus menahan lagi denyutan di kepalanya akibat jambakan Papa William. Tubuh kecilnya di seret menuruni tangga tanpa belas kasihan, hingga kakinya berulang kali terseok dan tersandung anak tangga. Besoknya, Krystal yakin akan banyak luka lebam di bagian kakinya*.

"*PAPA! STOP! PA!! KRYSTAL UDAH BILANG KALAU DIA NGGAK SENGAJA! PAPA!!" Keyzia berteriak histeris, langkah kecilnya berusaha menyusul langkah lebar Papa William yang sudah sangat dikuasai emosi di depan sana*.

*BRUK*!

*Tubuh Krystal di dorong sampai tersungkur di dalam sebuah ruangan gelap yang sudah tidak asing lagi untuknya. Karena hampir setiap hari dan setiap malam ia selalu menghabiskan waktu di dalam sini, terkurung tanpo makanan dan hanya mengandalkan cahaya dari sinar rembulan yang memantul lewat kaca transparan yang ada*.

"*RENUNGI KESALAHAN KAMU DI SINI! SEBELUM KAMU MENYADARI DIMANA LETAK KESALAHAN KAMU! JANGAN HARAP KAMU BISA KELUAR DARI SINI!" Teriak Papa William*.

"*Krystal!! Lepas! Papa kasihan Krystal!! Pa*!!"

*Keyzia yang sudah menangis terus memberontak dalam tarikan Papa William. Tangisnya tidak terbendung melihat saudari kembarnya terkapar tidak berdaya di dalam ruangan gelap tersebut*.

*BRAK*!

*Pintu ruangan tertutup sempurna. Samar-samar gadis malang di dalam ruangan gelap itu mendengar isak tangis Keyzia yang semakin menjauh*.

*Sudah terlalu lelah memberikan perlawanan rasanya. Sekujur tubuhnya sakit, luka-luka lebam yang hampir memenuhi wajah manisnya juga terasa perih. Namun, nyatanya ada yang lebih hancur dari itu semua*.

*Batin nya dan mentalnya sudah lama babak belur dan tidak pernah menemui kesembuhan*.

*Pada akhirnya, Krystal selalu terbuang layaknya sampah*.

*Krystal menarik nafasnya perlahan. Duduk termenung di sudut gudang. Di pandanginya langit malam lewat kaca transparan gudang ini. Langit malam yang indah dengan bintang-bintang yang bersinar terang. Membuat kerinduannya akan sosok Mama kandungnya---Eliza semakin membuncah. Baru dua tahun Eliza pergi, tapi rasanya sudah begitu lama untuk Krystal*.

*Dulu, Mamanya itu akan memeluknya dan melindunginya dari pukulan sang Papa. Sekarang, tidak lagi*.

*Dulu, Mamanya diam-diam menyelinap ke dalam gudang untuk memberikan makan pada Krystal. Sekarang tidak lagi*.

*Dulu, Krystal tidak sendirian, selalu ada pelukan Mama Eliza yang menghangatkan malamnya yang dingin karena berbaring di ubin lantai gudang yang dingin dan kotor. Sekarang tidak lagi*.

*CLEK*!

*Mata Krystal menyipit ketika pantulan cahaya dari lampu mengenai kedua bola matanya. Pintu gudang terbuka semakin lebar, memperlihatkan sosok gadis mungil yang masuk dengan balutan dress mahal di tubuhnya. Ketika pintu kembali tertutup, barulah Krystal bisa melihat senyuman manis saudari kembarnya yang kini berjalan ke arahnya*.

*Sepertinya Keyzia baru saja pulang dari suatu tempat, pastinya bersama sang Papa dan juga Mama Ambar. Terlihat dari dress yang melekat di tubuh, serta make up natural khas anak-anak di wajah manisnya yang tidak ada cela sama sekali. Berbeda dengan wajah Krystal yang selalu dipenuhi dengan lebam-lebam atau bekas tamparan tangan besar sang Papa*.

"*Hai." Keyzia duduk di samping Krystal*.

"*Ngapain di sini? Ntar kalau ketahuan bokap, lo bisa di hukum." Ujar Krystal datar, mengubah posisinya menjadi bersandar pada kaca. Menekuk kedua kakinya dengan pandangan yang dialihkan ke depan*.

"*Ish, gitu banget sih. Lagian Papa udah tidur, Key tadi nyelip ke ruang kerjanya sebentar untuk ngambil kunci gudang. Soalnya Key tahu, Krys kan belum makan dari tadi sore." Keyzia meraih kantong kresek yang di bawanya tadi secara diam-diam. Lalu mulai membukanya*.

*Krystal hanya memperhatikan tanpa suara. Ia sudah tidak punya banya tenaga untuk sekedar menanggapi ucapan Keyzia. Tubuhnya sakit-sakit, perutnya lapar dan matanya juga sedikit mengantuk*.

"*Kami tadi makan di luar. Key diam-diam sama Mama Ambar bungkusin Spaghetti Carbonara kesukaan Ital. Tenang aja, Papa nggak tahu kok. Ital makan ya. Nih!" Tangan kecil Keyzia menggeser box itu ke arah Krystal yang masih diam*.

"*Krys*..."

*Krystal sedikit memiringkan kepalanya ke kiri, menghindari pandangan mata Keyzia. Sebelah tangannya ia tumpu di lutut kaki, sehingga wajahnya yang basah tertutupi oleh lengan. Meski sudah terbiasa, entah kenapa ia tetap saja menangis*.

*Lengan kecil Keyzia terulur memeluk pundak Krystal dari samping. Ia tahu, dalam diamnya Krystal menangis. Gadis itu tidak pernah menunjukkan air matanya di depan siapapun, bahkan di depan Keyzia sekalipun. Krystal selalu menangis dalam diam dan tanpa suara*.

*Keyzia tumpukan kepalanya di atas kepala Krystal. Dan entah sejak kapan pula pipinya ikut basah*.

"*Key sayang banget sama Krys. Jangan tinggalin Key, ya. Key butuh Krystal. Krys nggak boleh sakit. Kalau Krys sakit, nanti siapa yang ngebelain Keyzia kalau lagi di nakalin sama anak-anak sekolah. Key janji akan selalu ada buat, Krys. Key janji selama Key hidup, Krys nggak akan pernah ngerasa sendirian." Keyzia dengan air mata bercucuran*.

*Mungkin ia selalu terlihat bahagia di luar. Tapi setiap kali melihat saudari kembarnya seperti ini. Jauh di lubuk hatinya, Keyzia juga sama menderitanya. Meski di tempat yang banyak pasokan udara. Keyzia selalu merasa sesak jika tidak ada Krystal di sampingnya*.

"*Sekarang Krystal makan dulu. Biar Key suapin ya." Ia menyeka air matanya, lalu berpindah menyeka air mata Krystal setelahnya*.

*Krystal menerima suapan itu sembari menatanya menatap Keyzia yang tersenyum lebar, senang ketika ia menerima suapan itu*.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"*Pa! Krystal ikut, kan*?"

*Papa William senyum hangatnya, lantas mengusap puncak kepala Keyzia penuh kasih*.

"*Nggak, Sayang. Cuma Key yang datang. Krystal nggak bisa*."

*Wajah gadis manis itu berubah murung seketika*.

"*Kenapa? Kan Krystal juga anak Papa. Kok nggak boleh iku*?"

"*Krystal harus mengerjakan tugas sekolahnya, Sayang. Kalau Krys ikut nanti dia nggak punya cukup waktu untuk mengerjakan PR-Nya. Kan dia bukan kamu yang pintar*."

*Keyzia terdiam, meski kalimat itu tidak ditujukan padanya. Namun entah kenapa dadanya ikut berdenyut sakit ketika mendengarnya. Matanya tanpa di perintah melirik pada Krystal yang duduk tepat di hadapannya, tampak menikmati sarapannya dalam diam dengan ekpresi wajah yang datar. Gadis itu sama sekali tidak bereaksi apapun*.

*Sampai beberapa detik kemudian Krystal menyudahi sarapannya. Meraih ransel di atas sofa yang sudah disiapkan oleh Bi Asri. Lantas berlalu pergi begitu saja. Menaiki kendaraan umum ke sekolahnya. Kenapa*?

"*Tidak ada supir pribadi. Belajar mandiri. Jangan manja. Banyak angkutan umum untuk ke sekolah*."

*Begitulah kata Papa William. Dan Krystal juga tidak peduli. Justru jika diantar, sepanjang jalan Krystal akan enek melihat pria tua yang tidak terlalu tua itu*.

*Dan biasanya, Krystal naik kendaraan umum buka untuk ke sekolah melainkan ke tempat biasa alias bolos. Lalu pulang ke rumah, dan siap menerima siksaan dari Papa William lalu di kurung lagi di gudang*.

*Kapok? Tentu saja tidak. Semakin Papa William mengamuk layaknya orang gila. Semakin senang rasanya Krystal memberontak*.

*Sampai hari dimana ia berani untuk angkat kaki dari Mansion terkutuk itu. Papa William tidak pernah mengusiknya*.

**Flashback Of**

Lalu sekarang di usia Krystal yang sudah 18 tahun. Mandiri. Tidak butuh siapa pun. Papa William kembali mengusik hidupnya. Menjerumuskan nya ke dalam kehidupan yang bahkan lebih buruk lagi.

Di sini lah Krystal sekarang duduk di bawah brankar yang Keyzia gunakan untuk berbaring selama satu tahun belakangan ini. Terduduk bersama isak tangisnya yang tak lagi di bendung. Tangannya menggenggam tangan dingin Keyzia yang terborgol di sudut brankar

"Argghhh! Hiks... Key, lo janji nggak akan ninggalin gue. Tapi sekarang kenapa lo nggak mau pulang sama gue? Kapan pulang hiks... Krystal kangen makan di suapin Key. Krystal kangen di peluk Key. Krystal juga kangen dijitak kepalanya sama Key kalau Krystal malas ngerjain PR hiks... Capek hiks... Krystal nggak yakin bisa bertahan lebih lama lagi. Ayo Key, pulang sama Krys. Temenin Krys hiks..."

Raungan pilu Krystal memenuhi ruangan putih tersebut.

Krystal tidak tahu kenapa ia bisa sehancur ini hanya karena satu ucapan yang keluar dari mulut Devano. Ia pernah disakiti lebih parah dari itu. Tapi kenapa hari ini air mata Krystal seakan tidak ingin berhenti.

Krystal mulai berpikir. Seburuk itukah ia di mata semua orang?

Dan hari ini Krystal di tampar oleh satu hal. Yaitu, yang namanya sampah akan tetap menjadi sampah. Meski di daur ulang sekalipun, panggilannya tetap lah sampah.

Dan itu lah arti Krystal di dunia ini. Tak pernah berarti, tak pernah diinginkan kehadirannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Krystal, hey, bangun sayang."

Krystal mengerjapkan matanya ketika samar-samar namanya di panggil dan tangannya di sentuh dengan lembut oleh seseorang.

Matanya terbuka sempurna dan mendapati seorang wanita berhijab berjongkok di hadapannya, menatapnya lembut dan hangat.

"Kenapa tidur di sini, hm? Lantai nya dingin. Kamu bisa masuk angin." Ujar Dokter Aisyah lembut.

Hal yang selalu Krystal lakukan jika mengunjungi Keyzia. Duduk di sudut ruangan dengan kedua kaki yang di tekuk, termenung beberapa saat dengan mata kosong memandangi Keyzia. Entah Keyzia dalam kondisi sadar ataupun tidak. Krystal akan tetap melakukan itu. Lalu lama kelamaan Krystal akan tertidur, dengan memeluk kedua kakinya.

Tidak tahu sudah berapa lama tertidur. Yang jelas rasa dingin memang menjalar ke seluruh Krystal sekarang.

"Kamu kabur ya dari asrama?" Tebak Dokter Aisyah yang tepat sasaran.

Krystal mengangguk samar.

"Udah makan, hm?"

Krystal menggeleng.

"Kita makan dulu yuk. Di ruangan Dokter, di sana ada penghangat ruangan."

Krystal menolak ajakan lembut Dokter Aisyah tersebut.

"Krystal makan di sini aja boleh, Dok?"

"Keyzia mungkin sebentar lagi akan bangun. Dan akmu tahu kan, setiap bangun tidur dia akan lost control lagi. Dokter tidak ingin jika nanti salah satu serangannya mengenai kamu, Krys."

"Nggak papa, Dok. Udah biasa kok. Udah nggak berasa." Krystal tersenyum tipis.

Dokter Aisyah terdiam cukup lama. Menatap mata Krystal lamat-lamat. Terlihat jelas jika Krystal baru saja selesai menangis. Bahkan wajah Krystal yang sedikit pucat, terlihat sangat berantakan sekarang.

"Ya sudah, nanti Dokter anter makanan ke sini. Kamu tetap di sini jangan coba untuk mendekati brankar Keyzia kalau dia bangun." Dokter Aisyah mengusap kepala Krystal lembut, sebelum beranjak pergi.

"Dokter..."

"Iya?" Dokter Aisyah menoleh.

"Krystal minta tolong, jangan beritahu siapapun kalau aku di sini. Termasuk Carletta sama Sasa." Dokter Aisyah termangu, tidak berkedip menatap Krystal.

"Are you okay?"

Mematung. Krystal terdiam cukup lama. Matanya kembali berkabut dan bibir kembai mengulas senyuman yang getir. Krystal selalu bingung bagaimana caranya menjawab pertanyaan sesimpel itu. Apakah di baik-baik saja?

Krystal tidak ahu, bagaimana lagi dalam hidupnya yang bisa dikatakan baik-baik saja. Dari sudut manapun jika dilihat, tidak ada yang bisa di banggakan dari hidup seorang Krystal Berliana Zourist. Sudah terlalu banyak di kecewakan oleh keadaan, membuat Krystal mulai merasakan lelah. Lelah berdiri dan mengangkat dagu lagi untuk menantang dunia. Namun, sampai sekarang Krystal masih mengumpulkan keberanian untuk mengakhiri hidupnya.

Untuk sementara, Krystal hanya ingin percaya pada dirinya saja. Tak ingin menaruh percaya dan harapan lagi pada orang lain. Karena jatuhnya tetap saja terasa sakit.

Meski tak mengatakannya secara gamblang. Tapi ucapan Devano siang tadi di Aula, sudah menggambarkan bahwa pembuat masalah tidak akan pernah omongannya bisa di percaya. Sekalipun ia berkata benar.

Tak lagi ingin menangis, Krystal mengenyahkan semua pikiran itu. Ia bangkit dari duduknya, lantas berjalan keluar ruangan Keyzia. Ia bermaksud untuk ke ruangan Dokter Aisyah. Namun, langkahnya terhenti, dahinya mengernyit saat melihat ke bawah dari gerbang utama Rumah Sakit Jiwa Pelita ini beberapa mobil sedan hitam mengkilat masuk dan keluarlah begitu banyak laki-laki berbadan kekar yang jumlahnya tidak terhitung oleh Krystal.

"Cepat! Cari ke setiap sudut rumah sakit ini! Nona Muda Krystal pasti terlihat di sekitar."

Degh!

Jantung Krystal berdebar cepat. Apakah itu orang-orang suruhan Devano? Oh god! Kenapa Krystal bisa lupa jika suaminya adalah seorang keturunan Mafia.

Tidak. Krystal belum siap untuk bertemu dengan Devano. Artinya sekarang, ia harus melarikan diri.

Krystal kembali masuk ke dalam ruangan Keyzia. Mengacak-ngacak isi laci meja nakas dan menemukan masker yang dicarinya. Untung Krystal menggunakan hoodie, jadi ia bisa menggunakan tudung nya untuk menutupi setengah wajahnya yang tidak tertutupi masker.

Lalu melalui jendela kamar rawat Keyzia, Krystal melompat keluar. Sebelum itu, kaki Krystal tanpa sengaja menginjak sebuah kalung. Karena tidak punya banyak waktu, ia memilih memungut kalung tersebut dan memasukkannya ke saku hoodie.

Sialnya! Pendaratan Krystal kali ini tidak mulus. Kaki kanannya keseleo, bunyi kretek terdengar dan Krystal dengan cepat membekap mulutnya agar tidak menjerit. Terpaksa, ia menyeret kaki nya sekarang.

Menaikkan tudung hoodie serta maskernya. Wajahnya tertutup dengann sempurna, tak seorang pun akan mengenalinya. Namun, untuk berjaga-jaga Krystal berjalan diantara kerumunan orang-orang yang lalu lalang di rumah sakit ini, entah itu suster, pasien sakit jiwa atau pengunjung lain.

Berhasil, terakhir Krystal berhasil melewati seorang pria paruh baya yang sepertinya pimpinan dari bodyguard lain. Karena dia yang terlihat mengomando.

Krystal bersembunyi di balik sebuah mobil ketika melihat beberapa mobil Ferrari memasuki perkarangan RSJ Pelita disusul satu motor sport belakangnya.

Satu persatu orang di dalam mobil Ferrari itu keluar.

Rangga, Iqbal, Dimas dengan Zoey, lalu Devano. Suaminya terlihat turun dengan gagahnya dari mobil, dengan ekspresi wajah yang datar, namun sangat mencekam.

Dan pengendara motor di belakang adalah Carletta dan Sasa diboncengan.

Mengendap-endap Krystal berhasil lolos dai RSJ Pelita. Dengan menahan sakit di pergelangan kaki kanannya, Krystal terus menyusuri jalan rasa. Meski tidak ahu harus kemana, Krystal hanya terus berjalan, ia hanya ingin menghindar dari semuanya untuk sementara waktu. Bahkan tidak siap untuk bertemu Carletta dan Sasa. Ia memang sengaja meninggalkan ponsel di asrama.

Untuk pertama kalinya, Krystal merasa benar-benar seperti pecundang yang pengecut.

"Krystal Berliana Zourist." Krystal menoleh ketika merasa namanya di panggil oleh sebuah suara berat.

Seorang pria berbadan besar, sangar berpakaian hitam-hitam, sama persis dengan orang-orang yang menyebar di rumah sakit tadi untuk mencarinya. Apa pria ini salah satu orang Devano juga?

Krystal mengambil sikap waspada dengan mundur satu langkah demi satu langkah. namun, tak lama punggungnya justru menabrak sesuatu. Ia reflek memutar poros tubuh. Satu pria badan kekar lainnya dengan seringain. Kesekian kalinya Krystal memutar poros tubuh dan semakin banyak orang yang mengepungnya.

"Kalian siapa? Mau ngeroyok gue, hah? Nggak malu sama badan karena ngeroyok cewek?! Cecar Krystal tanpa rasa takut.

Tak ada respon dari sepuluh pria yang mengepungnya.

"Nantangin nih manusia-manusia! Ayo sini maju lawan gue!! Gue nggak taku!!" Gertak Krytal galak.

Bukannya takut, kesepuluh pria itu justru terkekeh pelan. Dan itu membuat Krystal cukup naik pitam, karena merasa diremehkan.

"Wah, ngeremehin gue ni Om-Om bau tanah! Sini maju! Kenapa nggak maju-maju sih dari tadi?! Gue udah lama nggak berantem! Ayo!!" Memasang kuda-kudanya, Krystal menaikkan lengan hoodienya.

Salah seorang yang paling datar dan badannya besar, menyentuh earphone di daun telinganya. Suara di seberang terdengar.

"*Cute girl. Jangan sakiti apalagi tembak. Cukup bius dan bawa. Selesaikan dengan cepat. Devano dan orang-orang nya sedang mendekat*."

Instruksi yang cukup jelas. Melalui sorot mata, pria itu melayangkan hoodie kepada rekan-rekannya untuk segera bergerak.

"KRYSTAL!!"

Suara teriakan sekaligus deru motor mendekat itu memecah perhatian Krystal. Padahal sudah tahu siapa pemilik suara itu. Namun Krystal tetap menoleh dan alhasil saat itulah dimanfaatkan oleh orang-orang itu untuk membiusnya.

"Eghhh..." Lenguhan Krystal tertahan, merasakan sesuatu menancam di pundaknya.

Hanya dalam hitungan detik kepalanya pusing, tubuhnya lemas tak bertenaga seakan cairan yang baru saja di suntikkan padanya adalah menyedot seluruh energi dalam tubuhnya. Tubuh Krystal limbung, jatuh ke dalam dekapan seseorang.

Pandangan Krystal mulai mengabur. Sebelum hilang sempurna, ia bisa melihat suasana jalanan yang berubah sangat ramai dengan orang-orang yang saling baku hantam. Juga terdengar suara tembakan yang saling bersahut-sahutan.

Ada apa ini?

Krystal merasa tubuhnya melayang. Kali ini wangi tubuhnya berbeda. Wangi tubuh orang yang menggendongnya sekarang sudah tidak asing untuk Krystal.

Ini---Devano. Orang yang Krystal sangat hindari sekarang.

DOR!

Langkah Devano terhenti, menoleh pada pundaknya yang baru saja mendapatkan satu tembakan di sana. Tubuhnya tetap tegap seakan tidak terjadi apa-apa. Wajahnya tetap datar dan dingin.

Ia memutar poros tubuhnya. Melirik istrinya yang sudah terkulai tak sadarkan diri karena obat bius yang di suntikkan, di dalam gendongannya. Lalu pandangannya berpindah pada pria yang menodongkan pistol di depannya.

"Lepaskan gadis itu!" Titah pria yang menodongkan pistol.

Yang di balas tawa yang sungguh mengerikan oleh Devano.

"Kau! Ingin aku melepaskan istriku, hm? Kenapa aku harus melepaskannya untukmu?"

Devano membawa langkahnya mendekat. Rangga yang melihat itu menahan langkah Devano, melindungi dari depan.

"Bawa Krystal. Ini biar gue yang urus." Ujar Rangga datar.

"Tidak untuk satu ini." Rangga spontan menoleh pada Devano atas jawaban singkat itu. Belum sempat bersuara, Krystal sudah berpindah tangan padanya.

Pintar dalam membaca situasi. Rangga dengan dengan cepat melesat pergi, membawa Krystal bersamanya. Beberapa kali mobilnya terkena tembakan, namun untungnya mobil ini memang sudah di modifikasi anti peluru.

Jalanan itu sudah terlihat sangat kacau dengan orang-orang yang saling menyerang. Dan satu dari orang-orang itu adalah Devano di tengah-tengahnya.

Gerakan santai, namun gesit dan mematikan. Hanya butuh dua kali serangan saja. Devano bisa menghabisi tiga lawannya sekaligus. Sekarang, ia sedang mematahkan leher lawannya hingga loongan menyakitkan terdengar panjang. Sebagai sentuhan terakhir, kakinya menginjak kepala lawannya.

Iblis? Devano lebih daripada itu.

Wajah tampannya yang sudah dipenuhi cipratan darah tetap terlihat tenang tanpa ekspresi. Hanya sedikit menyekanya. Di raihnya earphone yang di yakininya masih tersambung itu.

Terkekeh pelan. Devano menyapa orang di seberang sana yang mungkin sedang memonitor kejadian sekarang.

"*Hai brother. Nice to meet you! Ck! Masih hidup, hm? Akhirnya ya, bangun juga dari tidur panjangnya*."

"Lepasin dia! She's mine!" Desis suara di seberang sana.

"*No, no, she's mine, bro. She's my wife. Sekarang dan selamanya. Tolong jangan lupakan fakta itu. Lo telat." Seringai Devano*.

"Lo licik, Dev!" Desis suara itu lagi, kai ini disertai geraman tertahan.

"*Yes, it's me*."

"Saat ingatan Krystal kembali! Lo juga akan berakhir, Dev!"

Kembali terkekeh bak psychopat. Devano menyeka darah di wajahnya.

"*Sayangnya ingatan Krystal tidak akan pernah kembali selamanya! Terus lah bermimpi! Dan gue akan tetap menghancurkan mimpi lo seperti satu tahun yang lalu, Rafael!" Ucap Devano, sebelum akhirnya menginjak earphone itu hingga hancur*.

1
Iki Agustina
Coba zoey juga nikah kuy kuy sama dimas❣️
Adinda
mungkin yang membuat keyzia kecanduan obat william atau ambar
Adinda
sepertinya William selingkuh dan kemungkinan Nyokapnya meninggal Karena tau perselingkuhan suaminya Dan mungkin juga ambar mempengaruhi william untuk membenci anaknya
Adinda
keyza sama Rafael thor
Adinda
sepertinya papanya Krystal dipengaruhi oleh istri mudanya agar membenci anak anaknya atau kematian orangtuanya ada hubungannya dengan ambar
Adinda
ceritanya bagus semangat thor
Icut Manis: Makasih kak udah mampir 🤗

Salam dari Author 🙏
total 1 replies
Adinda
berarti papanya Krystal selingkuh makanya mamanya kecelakaan
Iki Agustina
Kenapa belum up laginka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!