Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...
INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Happy Reading..
.
.
.
Citra mengulurkan sebuah surat kepada Rora. Dengan sedikit ragu Rora mengambil surat itu." Kamu baca ini dulu." Ucap Citra yang di turuti oleh Rora.
Rora membuka surat yang sudah berada di tangannya lalu membacanya perlahan.
Untuk kesayangan Dika...
Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak berada disisi kamu lagi.
Entah kenapa aku tiba- tiba merasa takut. Aku takut bahwa aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan kamu.
Jadi aku memutuskan untuk menulis surat ini untuk kamu.
Rora, terima kasih.
Terima kasih untuk semuanya yang sudah kamu berikan untukku. Terima kasih karena sudah mau menerimaku. Terima kasih karena sudah menjadi penyemangat untukku.
Tapi meskipun aku menuliskan kata terima kasih beribu- ribu kali untuk kamu itu tidak akan cukup.
Ra, apapun nanti yang terjadi kepadaku. (Semoga semuanya baik- baik saja dan ini semua hanya ketakutanku saja.)
Aku titip papa dan mamaku ya. Tolong gantikan aku untuk menjaga mereka.
Ingatkan papaku supaya meluangkan waktu untuk mamaku, jangan sibuk bekerja terus.
Ingatkan juga untuk mamaku supaya makan tepat waktu dan jangan terlalu banyak mengalah pada keluarganya.
Ra, aku tidak tahu pasti kedepannya nanti akan seperti apa. Tapi berjanjilah padaku bahwa kamu akan baik- baik saja. Kamu harus bahagia meskipun itu bukan denganku.
Aku sayang kamu Ra, sungguh.
Dari Dika.
Setelah membaca surat dari Dika, Rorapun menangis. Bagaimana mungkin dia bisa bahagia dengan orang lain sedangkan kebahagiaannya itu ada pada Dika? Bagaimana dia bisa menjaga kedua orang tua Dika jika saat ini saja ia merasa sangat rapuh? Ia harus apa sekarang? Disaat orang yang mulai ia jadikan sandaran telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama- lamanya.
"Sayang.." Panggil Citra. "Tante ingin kamu tetap melanjutkan pernikahan yang sudah di persiapkan Dika.."
"Tetap melangsungkan pernikahan. Apa kalian semua sudah gila?" Ucap Laura. "Apa mau kalian nikahkan dengan jenazah.."
"Mbak.." Potong Elina.
"Sayang.. Tante mohon dengarkan tante." Mohon Citra. "Ini semua permintaan Dika sebelum dia meninggal."
FLASH BACK ON
Jari- jari Dika bergerak saat Citra menggenggam tangan anak lelaki kesayangannya.
"Dik.. Dika.." Panggil Citra yang membuat yang lainnya langsung berjalan mendekat. Jari jari Dika kembali bergerak, Ia berusaha untuk membuka kedua matanya.
"Dika. Sayang. " Panggil Citra sambil mengusap punggung tangan Dika.
"Ma.. Mama.. " Panggil Dika lirih. "Rora.."
"Rora ada dirumah sayang. Apa kamu ingin bertemu Rora?" Tanya Elina.
Dika menggelengkan kepalanya. "Bar.. Bara.." Panggil Dika sambil berusaha mengulurkan tangannya.
Bara meraih tangan Dika lalu menggenggamnya. "Aku disini." Ucanya.
"Tolong.. Tolong bantu aku.. Bantu aku untuk melindungi dan menjaga Rora." Pinta Dika sambil sedikit terbata- bata. "Ganti.. Gantikan aku.. Nikahi Rora.. Aku mohon.."
"Kamu bicara apa? Kenapa aku? Kamu akan sembuh.. Tidak.. Kamu harus sembuh.. Kamu yang mencintainya, maka kamu yang harus menjaganya sendiri." Ucap Bara.
"Waktuku tidak banyak." Ucap Dika semakin lirih. "Aku mohon gantikan aku.. Dan satu lagi, ma. Tolong donorkan mataku untuk Rora." Setelah mengatakan itu Dika memejamkan matanya sambil menahan sakit di dadanya.
"Tolong panggilkan dokter." Ucap Citra.
Bara bergegas menekan nurse call. Tidak menunggu lama suster datang bersama dokter. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan permintaan maaf.
FLASH BACK OFF
Rora menggelengkan kepalanya. "Rora tidak bisa tante." Ucap Rora sambil menitikan air matanya. Sungguh hatinya terasa semakin sakit. Apalagi saat mengingat kepergian Dika yang bahkan belum empat puluh hari. Dan apa ini mereka memintanya untuk tetap melanjutkan pernikahannya.
"Sayang.." Panggil Elina sambil mendekat.
Rora tetap menggelengkan kepalanya. "Rora tidak bisa tante.. Rora mohon jangan paksa Rora. Rora tidak bisa."
"Tolong pikirkan lagi sayang. Jika boleh jujur tante juga tidak ingin memaksa kamu. Tapi di satu sisi tante juga tidak bisa mengabaikan perjuangan anak tante saat menyiapkan semuanya ini. Dika sudah berusaha menyiapkan semuanya yang terbaik hanya untuk kamu.. "
"Tapi kenapa harus dengan Bara?" Potong Laura lagi. "Kenapa harus dengan keluarga kalian? Sudah cukup kamu menguasai Rora selama ini. Sudah cukup juga aku dan keluargaku mengalah.."
"Mengalah!!" Potong Elina. "Apa mbak lupa mbak sendiri yang mengizinkan aku untuk membawa Rora. Mbak yang sudah.."
"Kamu yang memintanya untuk menjadi jaminan." Sekali lagi Laura memotong tapi kali ini dengan emosi.
"Dan belum sepeserpun mbak menyicil hutang mbak." Elina mengingatkan. "Dan aku ingatkan sekali lagi." Ucap Elina penuh penekanan sambil menunjuk wajah Laura. "Aku meminta mbak kesini hanya untuk memberitahu mbak tentang pernikahan Rora. Dan bukan untuk meminta pendapat mbak."
"Tapi diantara kita semua akulah yang lebih berhak atas dirinya dari pada kalian semua yang ada disini." Balas Laura sambil menatap tajam Elina. "Karena aku keluarganya."
"Keluarga apa yang menjadikan keluarganya sendiri sebagai jaminan...."
"Cukup... Cukup... Cukup.." Potong Rora sambil menutup kedua telinganya menggunankan kedua tangannya. "Rora mohon cukup." Ucapnya lagi.
"Dasar gadis penuh drama." Ucap Daniah pelan tapi Elina masih bisa mendengarnya. "Apa?" Tanya Daniah saat mendapatkan tatapan tajam dari Elina. "Bukankah ucapanku benar." Ucapnya lagi tanpa rasa takut sedikitpun. "Kamu." Ucap Daniah kali ini kepada Rora. "Bukankah kamu seharusnya bersyukur bukan malah banyak berdrama seperti sekarang. Lihatlah berapa banyak pengorbanan keponakkanku untuk kamu. Bahkan disaat- saat terakhirnya dia masih memilih untuk mengorbankan kedua matanya untuk kamu. Dan sekarang saat calon suami kamu meninggal, kamu langsung mendapatkan calon suami baru tanpa perlu mencari."
"Sekali lagi mbak mengeluarkan suara, Aku benar- benar akan mengusir mbak dari sini." Ancap Elina.
"Kamu selalu saja membelanya. Seharusnya sekarang kamu sadar bahwa gadis itu pembawa sial." Ucap Daniah yang langsung di setujui oleh Ratna. Ia menatap Elina. "Aku heran kenapa kamu tidak menentang pernikahan ini. Apa kamu ingin Bara mendapatkan sial juga sama seperti Dika."
"Mbak.." Kali ini Citra yang menegurnya. "Dika seperti ini karena takdir. Bukan karena Rora. "Citra beralih menatap Rora. "Jangan dengarkan omongan tante Daniah. Tante mohon kamu pertimbangkan lagi. Demi Dika."
Rora tetap menggelengkan kepalanya. "Maaf tante.. Rora tidak bisa.. Rora tidak mau hanya untuk memenuhi permintaan Dika kita mengorbankan perasaan Bara.."
"Apa maksudmu dengan hanya untuk memenuhi keinginan Dika?" Tanya Ratna. "Yang kamu sebut dengan hanya itu yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu. Yang kamu sebut hanya itu yang sudah mengorbankan kedua matanya untuk kamu.. "
"Maksud Rora bukan seperti itu nek." Ucap Rora sambil menggelengkan kepalanya. "Rora hanya..."
"Hanya.. Hanya.. Hanya.. Hanya saja bisanya kamu." Potong Ratna tidak terima.
"Nek." Tegur Bara. Ia yang sedari tadi terdiampun akhirnya membuuka suara. Ia menatap Rora dan ternyata Rora juga sedang menatapnya.
"Aku tidak ingin Bara mengorbankan perasaannya. Ia berhak mendapatkan wanita yang lebih baik. Ia berhak menikahi wanita yang ia cintai. Bara juga berhak untuk bahagia tante." Ucap Rora. Sungguh Rora tidak ingin pernikahan ini terjadi. Ia tidak akan membiarkan Bara berkorban untuk menikah dengannya.
"Sepertinya keluarga kamu banyak yang menentang jika Bara menikah dengan Rora." Ucap Laura pada Elina sambil tersenyum sinis. "Jadi bagaimana jika Rora aku nikahkan saja dengan lelaki pilihanku." Tawar Laura.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak...
beautiful story
karena ini kan bukan yg pertama kali di kecewakan
dan si Aluna Aluna itu juga belum kelar.
masa ga dibikin bahagia dikit 😭
apa dulu naksir Ama bapaknya ga kesampaian 🤣🤣.jadinya benci Ama Mak nya
trus ke rora😔
ada yg bisa dimaki maki🤣🤣
seru kali yaaa
beresin dulu lah si Aluna Aluna itu
kalau ga
sampai kapanpun rora ga bakalan mau balik sama lu
apapun alesan nya
gw juga ogah
atau emang asal nya dr kota batu,malang kah?
lu nya aja plin plan
heran aku mah
karena bukan dia yg di pelaminan 🥹🥹
wah rame lagi ini ntar
perasaan ku udah ga enak 😭😭
Dika kah yg meninggal 😭😭
ga, bukan Dika yg JD pendonor nya
karena ga bisa diselamatkan 🥹