NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan Yang Mustahil

Emma dan Ella masih berdiri mematung di koridor kapal pesiar.

Tak satu pun dari mereka bergerak.

seolah waktu berhenti berjalan.

Beberapa penumpang melintas sambil sesekali melirik ke arah dua wanita yang memiliki wajah yang memang sangat identik itu.

letak perbedaan hanya ada pada potongan rambut saja dan cara berpenampilan.

Emma akhirnya berdeham pelan.

"Baiklah kurasa... kita sebaiknya duduk terlebih dahulu untuk menenangkan rasa keterkejutan yang sangat langka ini."

Ella mengangguk.

"Aku juga berpikir begitu."

Mereka berjalan menuju sebuah kafe di dek yang letaknya berada dibelakang kapal.

Tempat itu lebih sepi dibanding restoran utama. Hanya terdengar suara ombak yang menghantam badan kapal dan alunan musik lembut dari kejauhan.

Seorang pelayan menghampiri sambil tersenyum kecil kepada keduanya.

"Buatkan aku kopi hitam."

Emma memesan tanpa membuka buku menu.

Ella tersenyum kecil.

"Teh chamomile hangat, untuk sementara kami memesan itu dulu.Terima kasih."

Perbedaan kecil itu saja sudah menunjukkan betapa berbeda kehidupan mereka.

Begitu pelayan pergi, suasana kembali sunyi.

Emma menatap wanita di depannya tanpa berkedip.

"Jujur saja... ini sangat aneh. Dan rasanya mustahil ada orang asing yang sangat mirip demgan ku."

Ella terkekeh pelan.

"Ya tentu saja sangat aneh."

"Kau benar-benar mirip denganku."

"Begitu juga denganmu."

Emma menyandarkan tubuhnya.

"Namamu Ella?"

"Ya."

"Siapa nama belakangmu?"

Ella terdiam sesaat.

"Alexander."

Emma mengernyit.

"Itu nama suamiku."

Emma mengangguk pelan.

"Oh jadi kau sudah menikah rupanya."

Ella hanya mengangguk.

"Kau sendiri bagaimana?"

"Aku masih lajang karena aku menyukai kesendirian."

Ella tersenyum tipis.

"Entah kenapa aku tidak terkejut."

Emma mengangkat sebelah alis.

"Itu terdengar seperti sindiran bagiku."

"Bukan."

Ella tertawa pelan.

"Hanya firasat."

Untuk pertama kalinya sejak naik ke kapal itu, Emma mulai tersenyum dan juga merasa aman dengan lawan bicara.

Mereka mulai berbincang ringan sambil minum teh.

Tentang usia.

Tentang pekerjaan.

Tentang negara tempat tinggal.

Emma tinggal di New York bersama ayahnya.

Ella tinggal di Inggris bersama suaminya.

Semakin banyak mereka berbicara, semakin banyak pula kesamaan yang mereka temukan.

Usia mereka sama.

Tanggal lahir mereka sama.

Bahkan jam kelahiran mereka pun sama.

Emma mulai merasa bulu kuduknya berdiri.

"Ini tidak mungkin."

Ella menggigit bibir bawahnya.

"Maaf sebelumnya apakah aku boleh bertanya sesuatu yang mungkin sedikit membuatmu tidak nyaman?"

"Tentu saja. Tanyakanlah."

"A..aku sangat penasaran apakah orang tuamu juga bercerai?"

Emma langsung membeku.

"Ya. Saat kecil ayah dan ibuku bercerai."

Ella menunduk.

"Sama ibuku dan ayahku juga."

Emma menatapnya tajam.

"Ayahku bilang... ibuku menikah lagi setelah perceraian dan aku masih kecil dan akhirnya ia pindah ke negara lain tapi aku sungguh tidak perduli dengan hal itu."

Ella perlahan mengangkat wajahnya.

"Ibuku juga mengatakan ayahku menikah lagi."

Sunyi.

Tak ada lagi suara selain debur ombak.

Emma merogoh dompetnya.

"Ayah selalu menyimpan foto ini."

Ia mengeluarkan sebuah foto lama yang mulai memudar.

Foto seorang pria muda yang menggendong bayi perempuan.

Di sisi paling ujung tampak potongan gaun seorang wanita dan sebagian tubuh bayi lain yang sengaja terpotong.

"Ayah bilang bayi itu sepupuku yang belum pernah aku jumpai."

Ella langsung memucat.

Tangannya gemetar saat membuka dompet miliknya.

"Aku juga memiliki foto yang hampir sama denganmu..."

Ia mengeluarkan foto yang serupa.

Kali ini terlihat seorang wanita muda menggendong bayi.

Di sisi lain terdapat bahu seorang pria yang terpotong bersama sebagian tubuh bayi lain.

Emma perlahan mengambil kedua foto itu.

Lalu menyatukannya.

Potongan-potongan yang hilang saling melengkapi.

Kini terlihat jelas.

Seorang ayah.

Seorang ibu.

Dan...

Dua bayi perempuan dengan pakaian yang sama persis dan juga wajah yang tidak bisa dibedakan.

Air mata Ella jatuh lebih dulu.

"Jadi..."

"Sekarang aku mengerti..."

Suara Emma terdengar lirih.

"Kita mungkin bukanlah orang asing yang kebetulan mirip."

Ella menutup mulutnya sendiri.

"Kita..."

Emma menatap mata wanita di depannya.

"Kita adalah kembar."

Tangis Ella pecah.

Dua puluh tahun.

Dua puluh tahun mereka hidup tanpa mengetahui bahwa belahan hidup mereka masih ada.

Emma tidak pandai menghibur orang.

Namun kali ini ia bangkit, berpindah kursi, lalu memeluk Ella.

Pelukan pertama mereka.

Pelukan yang terlambat selama puluhan tahun.

Sore berganti malam.

Panas berganti dingin.

Mereka terus berbicara tanpa berhenti.

Tentang masa kecil.

Tentang kehidupan masing-masing.

Meski hanya sebatas gambaran besar.

Emma juga menceritakan pekerjaannya di perusahaan internasional, sifatnya yang sulit mengendalikan emosi, dan hubungannya yang canggung yang berlangsung sejak ia kecil dengan ayah serta ibu tirinya.

Ella bercerita tentang pernikahannya yang dingin karna perjodohan, rumah besar yang terasa sepi, serta kehidupannya sebagai istri seorang bangsawan Inggris.

Semakin lama berbicara, semakin besar rasa penasaran mereka terhadap kehidupan yang tidak pernah mereka jalani.

"Aku sering bertanya-tanya..." gumam Ella.

"Bagaimana rasanya hidup bersama Ayah. Apakah ayah masih mengingatku atau sudah mengganggap ku tidak ada?"

Emma menatap laut.

"Aku juga sering berpikir seperti itu."

"Aku sangat ingin mengenal Ibu karna waktu itu kita masih sangat kecil saat terpisah dan memori tentang sosok ibu tidak teringat bahkan terhapus."

Keduanya kembali diam.

Lalu Emma berkata pelan,

"Kalau saja..."

Ella menoleh.

"Kalau saja apa?"

Emma tersenyum tipis.

"Kalau saja kita bisa saling bertukar sebentar. Aku ingin mengenal Ibu dan bertanya banyak hal padanya. Mungkin itu bisa menyembuhkan rasa marah yang ada di hatiku."

Ella terkekeh.

"Itu mustahil Emma."

"Kenapa?"

Ella memandang wajah Emma.

Semakin lama, semakin sulit menemukan perbedaan di antara mereka.

Hanya rambut.

Cara berpakaian.

Dan cara berbicara.

"Tidak ada yang tahu kita kembar, bukan?"

Emma menggeleng.

"Papa bahkan tidak pernah menceritakannya."

"Ibu juga."

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Kali ini bukan karena canggung.

Melainkan karena sebuah gagasan yang perlahan tumbuh di benak keduanya.

Emma bersandar ke depan.

"Bagaimana kalau..."

Ella menatapnya penuh tanya.

"...kita benar-benar bertukar kehidupan? Agar bisa bertemu ayah dan kau bertemu ibu?"

Jantung Ella berdegup lebih cepat.

"Itu gila."

"Mungkin."

"Kalau ketahuan?"

"Kita hanya kembali setidaknya hanya sebentar untuk mengenal mereka."

Ella menggigit bibirnya.

"Itu bukan hanya bertukar rumah Emma artinya kita bertukar takdir dan seluruh hidup dan itu sangat rumit."

"Aku tahu."

"Itu berarti menjadi dirimu."

Emma mengangguk.

"Dan aku menjadi dirimu."

Mereka saling menatap lama.

Lalu, perlahan...

Ella mengulurkan tangannya.

"Kalau begitu..."

Emma menyambut uluran tangan itu.

"...mari kita lakukan."

Dua tangan yang baru dipertemukan takdir akhirnya saling menggenggam, tanpa menyadari bahwa keputusan nekat itu akan menyeret mereka ke dalam rahasia, cinta, dan pengkhianatan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

1
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!