Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 Misi Baru
Arka terkekeh pelan, menyesap kembali kopi hitamnya yang mulai hangat-hangat kuku.
Ia menatap balik mata tajam Wijaya Kusuma tanpa ada sedikit pun gestur ragu atau cemas.
"Pak Wijaya, orang seperti Anda pasti tahu kalau beberapa pertanyaan di dunia ini lebih baik dibiarkan tanpa jawaban," kata Arka tenang. "Tujuan saya simpel: saya tidak suka melihat orang mati sia-sia kalau sebenarnya mereka masih punya kesempatan untuk hidup."
Wijaya Kusuma menyandarkan tubuhnya, tertegun sejenak dengan kepribadian pemuda di depannya.
Tidak ada rasa canggung, tidak ada usaha untuk menjilat, sesuatu yang jarang sekali ia temui di kalangan orang-orang yang mendekatinya.
"Jawaban yang menarik," pangkas Wijaya dengan senyum tipis. Ia memberi kode pada pengawalnya.
Pengawal tegap itu langsung melangkah maju dan meletakkan sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan segel emas di atas meja, tepat di samping cangkir kopi Arka.
"Saya bukan tipe orang yang suka berutang nyawa," lanjut Wijaya, menepuk amplop itu pelan. "Di dalam situ ada cek dengan angka yang cukup untuk membuatmu hidup sangat nyaman di kota ini, plus sebuah kartu akses VIP Kusuma Group. Kartu itu bisa membukakan pintu di mana pun kamu butuh bantuan... baik itu fasilitas medis, keamanan, atau koneksi tingkat tinggi."
Arka melirik amplop hitam tersebut.
Arka meraih amplop itu, menimbangnya sebentar di tangan, lalu... menggesernya kembali ke arah Wijaya Kusuma.
Pengawal tegap di belakang Wijaya langsung menegang, matanya membelalak kaget.
Wijaya sendiri menaikkan sebelah alisnya, tidak menyangka hadiah bernilai fantastis itu ditolak begitu saja.
"Terima kasih atas niat baiknya, Pak Wijaya. Tapi kalau saya menerima uang ini, niat awal saya menyelamatkan Anda semalam jadi terasa seperti transaksi jual-beli nyawa," ujar Arka santai.
Ia kemudian mengambil hanya satu hal: kartu akses VIP bernuansa hitam-emas yang terselip di bagian luar amplop.
"Saya cuma ambil kartunya," sambung Arka sambil memasukkan kartu itu ke saku kemejanya. "Koneksi dengan orang sekelas Anda jauh lebih berguna daripada tumpukan kertas ini kalau sewaktu-waktu saya butuh akses cepat."
Wijaya Kusuma terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa lepas. Tawa yang sangat renyah dan penuh penghargaan.
"Luar biasa! Kamu benar-benar anak muda yang langka, Arka!" seru Wijaya, matanya memancarkan rasa kagum yang mendalam.
Ia mengambil kembali amplop hitamnya. "Baiklah. Kartu VIP itu adalah tanda bahwa Kusuma Group adalah sekutumu. Kapan pun kamu butuh sesuatu, sebut namaku."
"Satu hal lagi, Pak Wijaya," potong Arka tiba-tiba, matanya mengorbankan kilatan pendar medis yang hanya bisa dirasakan oleh nalurinya. "Luka dalam akibat kecelakaan semalam memang sudah stabil, tapi dalam tiga hari ke depan, hindari mengonsumsi obat penenang dosis tinggi yang biasa Anda minum sebelum tidur. Komposisinya bisa memicu reaksi berantai dengan obat jantung Anda."
Mendengar itu, Wijaya Kusuma membeku seketika. Ia bahkan belum sempat memberi tahu Arka mengenai riwayat obat tidur yang rutin ia konsumsi dari dokter pribadinya!
"Ka-kamu... bagaimana bisa tahu soal obat tidurku...?" bisik Wijaya takjub.
Arka hanya tersenyum misterius seraya berdiri dari kursinya. Ia merapikan kemejanya dan menepuk bahu sang CEO tua itu dengan pelan.
"Saya cuma 'membaca' apa yang tubuh Anda katakan, Pak. Sampai jumpa lagi. Senang berbisnis... maksud saya, berbincang dengan Anda."
Arka melangkah pergi meninggalkan kedai kopi, menyusuri trotoar jalanan kota yang kian ramai. Angin siang berhembus lembut, membawa petualangan baru di hidup keduanya.
[Ting!]
[Peringatan: Gelombang Misi Berikutnya Melibatkan Skala Kota Wabah Racun Tak Terdeteksi']
Arka mengerut keningnya sambil menatap layar transparan di depannya. "Wabah skala kota, ya? Baik... mari kita lihat seberapa jauh Sistem ini bisa membawaku."