Aluna terpaksa harus menikahi seorang Pria dengan orientasi seksual menyimpang untuk menyelamatkan perusahaan sang Ayah. Dia di tuntut harus segera memiliki keturunan agar perjanjian itu segera selesai.
Namun berhubungan dengan orang seperti itu bukanlah hal yang mudah. Apa lagi dia harus tinggal dengan kekasih suaminya dan menjadi plakor yang sah di mata hukum dan Agama.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Baca terus ya, semoga suka! Dan maaf jika cerita ini agak kurang mengenakkan bagi sebagian orang🙏
Warning!
"Ini hanya cerita karangan semata. Tidak ada niat menyinggung pihak atau komunitas mana pun"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Rumah Jeff
Setelah berjam-jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Nyonya Riana yakni Ibunya Jeff.
“Selamat datang Jeff, kau tampak kurus nak,” Ucap sang Ibu sembari menyentuh pipi Jeff.
“Jika tidak kurus, aku tak mungkin laku Bu,” kekehnya.
“Kau ini, tapi jika terlalu kurus kau akan sakit. Oh halo Dean, apa kabarmu?” sapaannya beralih pada Dean.
“Aku baik Bibi,” sahut Dean sopan.
“Oh... Dan siapa gadis cantik ini?” matanya berbinar kala melihat Luna.
“Dia Luna, temanku,” Jeff memperkenalkan.
“Salam Bibi,” sapa Luna.
“Iya salam juga. Akhirnya Jeff, kau punya teman gadis juga,” ucapnya sambil mencubit perut Jeff.
“Aww, sakit Bu,” protes Jeff.
“Ayo, silahkan masuk Nak, kalian pasti lelah kan Ibu akan masak untuk kalian. Alex, bawa kan mereka minum.” teriaknya.
Seorang remaja pria turun dari lantai dua rumah kayu ini, tatapannya menyorot sinis kearah Jeff dan yang lainnya.
“Hay Alex,” sapa Jeff canggung.
“Aku pikir kau sudah lupa jalan pulang,” ucapnya.
“Mana mungkin aku lupa, aku hanya sedang sibuk jadi tidak ada waktu untuk kembali. Perjalanan kemari cukup jauh aku tidak bisa pulang pergi dalam sehari,” sahut Jeff membela diri.
Alex berdecih sembari membuang muka kearah lain.
“Kau bawa orang baru rupanya, siapa dia. Pacarmu?” tanya Alex tanpa ragu.
“Hey, tentu saja bukan, dia temanku,” jelas Jeff.
“Oh, aku pikir kau sudah berubah, ternyata sama saja,” ucap Alex malas, dia pun lantas pergi ke dapur.
“Apa dia tahu soal kalian?” tanya Luna penasaran.
“Ya, dia tahu. Itu sebabnya dia sangat membenciku,” Dean yang menyahuti.
Ya, sejak pertama kali bertemu Alex dia memang tak memberikan tatapan bersahabat pada Dean, dia menunjukkan dengan jelas bahwa dia tak suka padanya.
Alex kembali dengan tiga cangkir teh di atas nampan, dia hanya menaruhnya begitu saja tanpa mempersilahkan tamunya untuk meminumnya.
“Terimakasih Adikku, sayang!” Jeff mengusap kepala remaja pria itu sambil tersenyum.
“Singkirkan tanganmu dari kepalaku!” ucapnya bergeming.
“Hehe iya iya, kau galak sekali.” keluh Jeff sambil kembali menarik tangannya dari kepala Alex.
Lagi-lagi dia melayangkan tatapan permusuhan pada Dean, dan yang membuat Luna terkejut adalah, dia menunjukkan jari tengahnya sambil berlalu.
“Ish, anak itu,” keluh Jeff.
Luna hanya mengulum senyum, dia melirik air muka Dean dari ujung matanya. Dia sedikit puas melihat rasa tak berdaya di wajah pria itu, hanya di depan Alex Dean kehilangan suaranya.
Seorang Pria paruh baya masukan dengan pakaian kerja dan topi koboinya.
“Oh Jeff kau sudah kembali!” sapanya dengan binar senang.
“Ya Ayah, aku baru saja sampai,” sahut Jeff sambil memeluk Ayahnya sekilas.
“Kau Dean kan? Dan dia?” pertanyaannya merajuk pada Luna.
“Dia temanku namanya Luna,” ucap Jeff memperkenalkan diri.
“Oh halo Luna, kau baru pertama kali kemari. Semoga kau betah disini, anggap saja rumah sendiri.” Ujarnya.
“Terimakasih paman, maaf sudah merepotkan,” ucap Luna.
“Tidak sama sekali, aku justru senang karena putraku membawa teman-temannya kemari.” ucapnya sambil memulas senyum ramah di bibir.
“Jeff, mari kita makan!” panggil Nyonya Ariana dari arah dapur.
Mereka mengobrol hangat sambil menikmati makanan yang Nyonya Ariana suguhkan.
“Berapa lama kau disini Jeff?” tanya Ibunya.
“Kenapa Bu, kau ingin aku segera pergi?”
“Apa yang kau katakan, Ibu hanya bertanya,” kesalnya.
Luna juga mendengar decakan lidah dari Alex.
“Hehe tiga hari Bu. Ada banyak pekerjaan, kami tidak bisa tinggal lama-lama,” sahut Jeff.
“Baiklah kalau begitu,” ucap Nyonya Ariana dengan wajah sedih.
“Ck, ayolah Bu. Jangan memasang wajah seperti itu, kau tahu anakmu ini sedang berjuang demi masa tuanya.” keluh Jeff.
“Iya Ibu tahu Nak, ayo makan yang banyak.”
“Tidak, tidak, terakhir kali aku makan banyak disini beratku naik tiga kilo,” tolak Jeff.
“Ck, kau ini laki-laki lihat Dean, tubuhnya tegap berisi dia terlihat kuat, sedang kau kurus kering seperti ini, standar hidup macam apa itu,” keluh Ibunya.
“Bu, tubuhku ini bernilai ratusan juta loh, aku tidak akan bisa bekerja jika aku gemuk.” Protes Jeff.
Jadilah mereka berdebat tentang gemuk dan kurus, sedang yang lain hanya diam menyimak sambil sesekali tertawa melihat tingkah Jeff dan Ibunya. Luna tahu mereka membahas hal seperti itu karena saling merindukan satu sama lain.
Luna berjalan keluar rumah. Sekarang dia baru bisa melihat tempat ini dengan jelas. Hamparan ladang membentang sepanjang mata memandang di bingkai tebing-tebing tinggi di sekelilingnya, tempat ini terlihat seperti lembah, nampak indah dan menyejukkan mata. Tak banyak rumah penduduk sepanjang yang Luna lihat, disini juga hanya ada rumah orang tua Jeff, desain rumah kayu modern yang cukup nyaman.
“Indah kan,” ucap Jeff yang baru saja keluar.
“Ya, sangat indah. Apa itu ladang milik orang tuamu Jeff?”
“Ya, orang tuaku petani sayuran. Jika aku sudah tidak laku, mungkin aku juga akan memilih tinggal disini dan bertani,” kekehnya.
Luna menangkap kedatangan Dean dengan ujung matanya, tampaknya dia mendengar kalimat terakhir yang Jeff ucapkan barusan.
“Oh, kenapa?” Luna sedikit tertarik.
“Tempat ini begitu tenang dan udaranya sejuk, siapa yang tidak betah coba.”
“Haha, iya kau benar.”
‘Ck, Dean Dean, apa kau tidak bilang dulu pada Jeff tentang rencanamu membawanya pindah ke Jerman dan menetap disana?’
wkwkwkwkwk
jadi ingat dulu pernah baca hubungan poliandri tahun 2019
apa cuma satu