Satu tubuh, dua jiwa. Satu manusia biasa… dan satu roh dewa yang terkurung selama ribuan tahun.
Saat Yanzhi hanya menjalankan tugas dari tetua klannya untuk mencari tanaman langka, ia tak sengaja memicu takdir yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah segel kuno yang seharusnya tak pernah disentuh, terbuka di hadapannya. Dalam sekejap, roh seorang dewa yang telah tertidur selama berabad-abad memasuki tubuhnya. Hidupnya pun tak lagi sama.
Suara asing mulai bergema di pikirannya. Kekuatan yang bukan miliknya perlahan bangkit. Dan batas antara dirinya dan sang dewa mulai mengabur.
Di tengah konflik antar sekte, rahasia masa lalu, dan perasaan yang tumbuh antara manusia dan dewa… mampukah Yanzhi mempertahankan jiwanya sendiri?
Atau justru… ia akan menjadi bagian dari sang dewa selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cencenz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Gerak di Balik Diam
Sekte Tianhan tidak tidur malam itu.
Murid-murid berkumpul dalam kelompok kecil, berbisik pelan. Tidak ada yang berani mendekati menara, tapi tidak ada pula yang bisa benar-benar menjauh.
"Katanya Yanzhi langsung disegel," bisik seorang murid. "Tanpa pengadilan."
"Aku dengar keputusan itu terlalu cepat," sahut yang lain lirih. "Biasanya… Guru Lu Ming selalu ikut bicara."
Nama itu membuat beberapa orang terdiam.
"Justru itu," suara lain menyela, hampir tak terdengar. "Kalau beliau ada, ini tidak mungkin terjadi."
"Lalu… ke mana Guru Lu Ming?"
Tak ada yang menjawab.
Angin malam membawa bisikan itu pergi, tanpa arah, tanpa kepastian.
Mo Ran berdiri di pinggir halaman latihan, tangan terkepal. Ia menatap menara dari kejauhan, rahangnya mengeras.
"Ini tidak masuk akal," gumamnya.
Mei Jiu mendekat. "Kau mau apa, Mo Ran? Jangan cari masalah."
Mo Ran menoleh tajam.
"Kalau besok giliranmu yang dituduh," katanya pelan, "kau juga akan diam?"
Mei Jiu menelan ludah.
"Tidak ada yang mau melawan tetua," jawabnya lirih.
Mo Ran tertawa pendek, pahit.
"Dan itu sebabnya semua orang pura-pura tidak peduli."
Ia kembali menatap menara, lalu ke arah lain. Ke lorong-lorong gelap sekte yang jarang dilewati malam hari.
"Kalau Guru Lu Ming ada," lanjutnya, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, "Yanzhi tidak akan diseret seperti ini."
Mei Jiu ragu. "Kau mau ke mana?"
"Mencari tahu," jawab Mo Ran singkat. "Karena seseorang menghilang… dan terlalu banyak yang berpura-pura tidak melihat."
Ia melangkah pergi, kali ini tanpa ragu.
> Yanzhi bukan orang seperti itu, pikirnya.
Kalau dia bisa disingkirkan begitu saja… siapa pun bisa.
Dan kalau Guru Lu Ming benar-benar lenyap, maka sesuatu di Sekte Tianhan sudah jauh lebih busuk dari yang mereka kira.
......................
Di sisi lain sekte, Han Ye dan Yi bergerak cepat melewati koridor batu.
"Guru Lu Ming belum terlihat?" tanya Yi.
Han Ye menggeleng.
"Tidak sejak rapat selesai."
Yi menggigit bibir.
"Padahal… ini soal Menara Penyegelan."
Han Ye tidak menjawab.
Ia berhenti di persimpangan koridor, menatap lorong kosong di depan mereka.
"Aku bertanya ke beberapa tetua," katanya akhirnya. "Tidak satu pun yang melihat hari ini."
Yi terdiam.
"Seolah," lanjut Han Ye pelan, menghilang tanpa jejak.”
Udara terasa lebih dingin.
"Han… suara Yi menurun. "Ini tidak wajar."
"Tidak," jawab Han Ye singkat.
Mereka saling pandang.
"Kalau begitu," kata Yi, "kita tidak bisa hanya menunggu."
Han Ye menatap ke arah Menara Penyegelan yang menjulang di kejauhan.
> Bertahanlah, Yanzhi, pikirnya.
Jangan biarkan mereka menentukan akhir ceritamu.
......................
Pagi hari di Sekte Tianhan tidak membawa ketenangan.
Kabut tipis menggantung di halaman utama. Murid-murid tetap berlatih, tapi gerakan mereka kaku, pandangan terus melirik ke arah Menara Penyegelan yang menjulang di kejauhan.
Wei Ren berdiri di paviliun samping aula tetua. Sinar matahari pagi menyentuh jubahnya, terlalu terang untuk suasana hati siapa pun hari itu.
Han Ye dan Yi mendekat.
"Wei Ren," sapa Han Ye.
Wei Ren menoleh perlahan. Senyum tipis terpasang, dingin dan terukur.
"Oh," katanya. "Kalian."
Nada itu datar, bukan ramah, bukan heran. Seolah kehadiran mereka hanya gangguan kecil.
Yi menarik napas, menahan diri.
"Kami ingin bertanya."
Wei Ren mengangguk ringan. "Tentu. Selama itu bukan tuduhan."
Kata terakhirnya disengaja.
Han Ye mengepalkan tangan di balik lengan jubah, lalu membuka kembali jarinya.
"Guru Lu Ming," katanya, suaranya ditekan rendah. "Biasanya ikut mengawasi keputusan yang menyangkut Menara Penyegelan."
Wei Ren menatapnya sejenak. Lama.
Lalu tersenyum.
"Benar," jawabnya. "Dan?"
Yi menyela cepat, sebelum Han Ye melangkah terlalu jauh.
"Sejak rapat para tetua berakhir," katanya, suaranya ditekan,
"tidak ada yang melihat Guru Lu Ming."
Hening sesaat.
Wei Ren menghela napas pelan, seolah pertanyaan itu melelahkan.
"Aku sudah mendengarnya berkali-kali," katanya. "Dan jawabanku tetap sama, aku tidak tahu."
Han Ye menatapnya lurus.
"Tidak ada yang tahu?"
Wei Ren mengangkat bahu tipis.
"Sepertinya begitu."
Nada itu santai. Terlalu santai.
Yi menggertakkan gigi.
"Keputusan itu," katanya, suaranya ditekan keras,
"diambil terlalu cepat."
Wei Ren akhirnya menoleh penuh. Senyumnya tidak hilang, justru menajam.
"Cepat menurut siapa?" tanyanya.
"Kalian?"
Tatapannya beralih ke Han Ye.
"Atau menurut seseorang yang sejak awal tidak sepakat?"
Udara menegang.
Han Ye melangkah setengah langkah ke depan, lalu berhenti.
Ia tahu.
Satu langkah lagi, dan Wei Ren menang.
"Yang kami pertanyakan," katanya dingin,
"adalah keputusan yang diambil tanpa semua orang di tempatnya."
Wei Ren mendekat setengah langkah, cukup dekat untuk membuat tekanan terasa.
"Dan aku hanya mengingatkan," ucapnya pelan,
"bahwa emosi sering membuat orang lupa tempatnya."
Ia mundur kembali, seolah tak terjadi apa-apa.
"Jika tidak ada bukti," lanjutnya ringan,
"pertanyaan kalian hanya terdengar seperti ketidakpuasan pribadi."
Yi menahan napas.
Han Ye menunduk sedikit, bukan tunduk, tapi menahan diri.
Saat mereka berbalik pergi, Wei Ren menambahkan, suaranya datar tapi disengaja.
"Han Ye."
Han Ye berhenti, tapi tidak menoleh.
"Jangan biarkan rasa ingin menyelamatkan seseorang," lanjut Wei Ren,
"membuatmu ikut tenggelam bersamanya."
Langkah Han Ye kembali bergerak.
Rahangnya mengeras.
Dan Wei Ren tahu, umpannya mengenai sasaran, hanya belum ditarik.
......................
Pagi itu berjalan seperti biasa, setidaknya dari kejauhan.
Cahaya matahari menyusup di sela atap bangunan sekte, jatuh di lantai batu yang masih dingin oleh sisa embun malam. Jadwal tetap dijalankan. Murid-murid bergerak sesuai kebiasaan.
Namun ada celah-celah kecil yang tidak kembali ke tempatnya.
Beberapa pos jaga berganti lebih lambat.
Beberapa lentera belum diganti minyaknya.
Dan lorong-lorong tertentu terasa… terlalu lengang untuk jam yang seharusnya sibuk.
Tidak ada yang berani menyebutnya keganjilan.
Tapi beberapa orang merasakannya.
Salah satunya adalah Mo Ran.
Mo Ran tidak berniat mencari masalah.
Ia hanya… memilih tidak ikut jadwal hari itu.
Latihan pagi sudah dimulai, tapi langkahnya justru menjauh dari halaman utama. Ada sesuatu yang mengganjal sejak malam dan rasa itu tidak menghilang saat matahari terbit.
Halaman arsip bagian luar sepi. Terlalu sepi untuk jam segini.
Biasanya masih ada murid jaga, atau setidaknya satu lentera tambahan.
Mo Ran berhenti.
Satu lentera di sudut lorong mati.
Bukan padam.
Tapi dipadamkan.
Ia mendekat, berjongkok.
Tidak ada bekas angin. Sumbu masih utuh, tetapi minyaknya hampir habis, tidak wajar untuk jadwal patroli.
"Aneh," gumamnya.
Ia menoleh ke arah pintu samping aula tetua.
Jejak kaki di lantai batu belum sepenuhnya hilang.
Bukan jejak banyak orang, hanya dua, mungkin tiga.
Dan semuanya mengarah ke satu jalur yang sama.
Lorong belakang.
Bukan menuju Menara Penyegelan.
Bukan pula ke asrama.
Mo Ran berdiri perlahan.
Ia tidak tahu apa artinya semua ini.
Tapi satu hal jelas.
Jika Guru Lu Ming benar-benar menghilang tanpa jejak, maka seseorang sudah memastikan tidak ada yang memperhatikannya.
Mo Ran menarik napas dalam.
Ia melangkah pergi, bukan ke asrama,
melainkan ke arah berlawanan.
...****************...
ya sdh, smoga berhasil, jgn bikin kecewa roh api yg mendiami tubuhmu