NovelToon NovelToon
Musuh Tapi Menikah.

Musuh Tapi Menikah.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Menikah dengan Musuhku / Tamat
Popularitas:481.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: selvi serman

Apa jadinya ketika dua orang insan yang terkenal tidak pernah akur tiba-tiba menikah, imbas dari keisengan seorang gadis bernama Putri Inayah yang ingin membalas kekesalan pada musuh bebuyutannya Devano putra Fathariano.

Akankah pernikahan keduanya kandas atau justru waktu bisa menumbuhkan rasa cinta diantara keduanya???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Profesionalitas kerja.

"Lakukan nanti, saat ini nyawa papa yang terpenting!!." ujar Devano di saat pak Darwis hendak berdiri dari duduknya, seakan tahu apa yang akan di lakukan oleh pak Darwis.

Pak Darwis mengangguk paham.

Seorang perawat menghampiri Devano. "Semua persiapan operasi telah disiapkan, dok."

"Baiklah. pindahkan pasien ke kamar operasi!!!." perintah Devano pada perawat tersebut.

"Baik, dok."

"Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Tolong temani Inayah, dia sangat butuh support, pak!!!." pinta Devano.

"Baik, tuan." kata pak Darwis.

Devano merasa da_danya ikut sesak mendengar tangisan pilu istrinya.

Inayah terus mengikuti perawat yang mendorong brankar ayahnya, hingga terpaksa ia menghentikan langkahnya di saat perawat melarangnya untuk ikut masuk ke dalam kamar operasi. "Maaf Nona, anda tidak boleh masuk. Silahkan menunggu di luar." perawat kemudian menutup pintu.

Pandangan Inayah lantas beralih pada suaminya yang hendak memasuki kamar operasi. "Mas, aku mohon selamatkan papa!!!." dengan wajah memelas Inayah menggenggam erat tangan Devano.

Devano hanya mengulas senyum tipisnya tak berani menjanjikan apapun kepada istrinya itu, sadar betul bahwa nyawa manusia mutlak milik sang pencipta. Namun begitu sebagai seorang dokter tentu saja Devano akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasiennya.

 Setelahnya, Devano pun memasuki kamar operasi.

"Kami sudah memberikan obat anastesi sesuai dengan waktu yang anda butuhkan, dokter, Devano. Pasien akan berada di bawah pengaruh anastesi selama kurang lebih empat jam." terang dokter spesialis anastesi yang bertugas mendampingi Devano dalam proses operasi ayahnya Inayah.

"Baik, terimakasih, dokter." Jawab Devano.mengingat tindakan operasi yang akan di lakukan pada ayah mertuanya termasuk operasi besar maka waktu yang dibutuhkan oleh Devano pun cukup lama.

Sebelum melakukan proses operasi seperti biasa Devano beserta beberapa dokter umum serta perawat yang bertugas tak lupa berdoa bersama demi kelancaran proses operasi.

Di tengah kesibukan Devano yang kini telah memulai proses operasi, di depan kamar operasi Inayah nampak duduk bersandar pada tembok. dengan wajahnya yang nampak sembab, tak hentinya wanita itu memanjatkan doa untuk kelancaran operasi ayahnya.

"Nay..."

Ayu yang baru saja tiba, berlari kecil menghampiri Inayah. sebagai seorang sahabat tentu saja Ayu bisa merasakan kesedihan yang kini tengah dirasakan oleh Inayah.

"Papa...Yu.....papa...."

Ayu membawa tubuh rapuh Inayah ke dalam pelukannya. "Gue percaya Lo wanita yang kuat, Nay..." Ayu mengelus punggung Inayah.

 Beberapa saat kemudian Ayu memapah Inayah untuk pindah ke bangku besi.

Tak lama setelah kedatangan Ayu, kedua orang tua Devano yang baru mendengar kabar tentang kondisi besan mereka tersebut pun terlihat mendatangi rumah sakit.

"Sayang...." mama Fana langsung memeluk tubuh menantunya itu. meskipun tak sepatah katapun keluhan yang terucap dari mulut Inayah, namun mama Fana bisa merasakan kesedihan menantunya itu lewat air mata yang terus berlinang membasahi wajah cantik Inayah.

Mama Fana memberikan kasih sayang kepada menantunya itu layaknya memberi kasih sayang pada putri kandungnya sendiri. Mama Fana terus menemani Inayah hingga Devano terlihat keluar dari kamar operasi. Dari raut wajah putranya saat ini, mama Fana bisa menebak jika proses operasi yang baru saja dilakukan Devano cukup berat dan juga melelahkan. apalagi jika pasien merupakan anggota keluarga sendiri, seorang dokter pasti harus lebih pandai mengontrol emosionalnya agar tetap bisa melakukan kerjanya secara profesional.

Menyaksikan suaminya keluar dari kamar operasi, Inayah sontak menghampirinya.

"Bagaimana operasinya, mas???."

"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar, dan untuk beberapa saat papa masih harus berada di ruang pemulihan untuk memastikan kestabilan organ vitalnya, sebelum nantinya kembali dipindahkan ke ruangan ICU.

Mendengar operasi ayahnya berjalan dengan lancar, saking leganya tanpa sadar Inayah langsung memeluk tubuh suaminya. "Terima kasih, mas. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa papa." ujarnya di sela tangis haru.

Devano mengulas senyum. Sejujurnya pria itu cukup terkejut dengan tindakan tiba-tiba istrinya tersebut, apalagi di sana bukan hanya ada mereka berdua saja, tetapi kedua orang tua Devano serta pak Darwis pun ada di sana menyaksikan Inayah memeluknya dengan erat. "Waaaahhhhh....kalau semua keluarga pasien bertindak seperti ini, mas bisa menang banyak nih." Devano sengaja bergurau untuk mengurangi ketegangan serta kesedihan di hati istrinya.

Kalimat Devano barusan sontak mendapat cubitan kecil dari jemari mungil Inayah.

"Argh....sakit Nay....mas cuma bercanda, Putri Inayah." Devano berpura-pura meringis sambil memegang perut nya, padahal nyatanya jemari lentik istrinya sama sekali tidak memberi efek sakit di perutnya yang tercetak bak roti sobek.

Papa Riza dan mama Fana hanya bisa mengulum senyum melihat anak dan menantu mereka tersebut. Sebagai wanita yang telah melahirkan putranya itu ke dunia ini, mama Fana dapat melihat cinta dari sorot mata putranya ketika menatap wajah istrinya. Sementara pak Darwis, pria yang sudah puluhan tahun menjadi asisten pribadi ayahnya Inayah tersebut nampak terharu melihat perlakuan Devano terhadap Inayah. dari semua perlakuan serta tindakan Devano, pak Darwis yakin jika pria itu menyayangi dan mencintai putri dari tuannya itu.

"Tuan... sekarang putri anda sudah berada di tangan pria yang tepat." batin pak Darwis. Satu kenyataan yang tidak pernah diketahui oleh Inayah adalah ayahnya selalu berharap dan berdoa suatu saat nanti putrinya itu akan bertemu dan menikah dengan pria yang tulus mencintainya. Selama ini ayahnya Inayah memang sengaja tak menunjukkan kasih sayangnya terhadap putrinya tersebut karena tidak ingin sampai Inayah terus menjadi bulan-bulanan kecemburuan ibu tirinya. Di mana setiap kali Diana mengetahui jika ia memanjakan putrinya, wanita itu selalu saja merundung Inayah. Hanya pak Darwis satu-satunya orang yang menjadi tempat ayahnya Inayah mencurahkan isi hatinya.

"Kamu pasti belum makan????." tebak Devano.

"Aku nggak lapar, mas."

Devano menghela napas berat mendengarnya. "Nay...Kalau kamu nggak mau makan kamu bisa sakit, terus kalau kamu sakit lalu bagaimana kamu bisa merawat papa, Hem???."

"Apa yang dikatakan mas Deva benar sayang." mama Fana setuju dengan ucapan putranya.

"Baiklah." Berpikir jika apa yang dikatakan oleh suami serta ibu mertuanya memang benar, maka Inayah pun setuju untuk mengisi perutnya yang belum di isi sejak siang tadi tersebut.

"Kamu Nggak papa kan kalau ditemenin sama mama?? Soalnya mas masih harus memantau perkembangan papah, Nay." Devano terpaksa berdusta. Ia sengaja meminta ibunya menemani sang istri karena ingin bicara dengan pak Darwis.

"Iya, mas." jawab Inayah.

"Ayo, sayang!!!." Kini Inayah dan mama Fana beranjak menuju kantin rumah sakit. Ya, Inayah memilih mengisi perutnya di kantin rumah sakit saja untuk menghemat waktu, agar tak lama-lama meninggalkan ayahnya.

Kini tinggallah Devano dan pak Darwis setelah kepergian Inayah dan juga mama Fana, karena papa Riza pun baru saja meninggalkan rumah sakit hendak menghadiri meeting bersama dewan direksi di perusahaan.

"Sebelum mendapatkan bukti atas kecurigaan saya, tolong rahasiakan hal ini dari istri saya, pak!!!." pinta Devano kepada pak Darwis yang kini tengah duduk berdampingan dengannya di bangku panjang yang berada di depan kamar operasi. "Saya tidak ingin istri saya semakin kepikiran nantinya." sambung Devano.

"Baik, tuan." sahut pak Darwis, setuju dengan permintaan Devano. Tak lama kemudian pak Darwis pamit undur diri untuk melakukan sesuatu yang sudah seharusnya dilakukannya selaku asisten pribadi ayahnya Inayah, yakni mencari tahu kebenaran tentang insiden yang menimpa tuannya tersebut.

1
ira
hrsnya kau ceritanya nay biar Deva bisa membantu mu
ira
beraninya kau mengancam Inayah tunggu saja kehancuran sdh menuju dirimu
ira
sangat pantas lah itu kan harta dari pernikahan ayah dan ibunya Inayah tahu itu hanya menumpang dasar g tau diri huh😒🤪
ira
dasar g tau diri ular ini sdh selingkuh minta harta Gono gini lagi jelas lah g bakal d kasih kn itu haknya Inayah
ira
hrsnya d rekam tuh omongan ular ini
ira
dasar tukang drama 🤪😒
ira
apa gak ada cctv yg lainnya
ira
berarti ular ini menikahi papanya inayah hanya untuk balas dendam dong
ira
dan tanpa kalian duga cctv-nya berfungsi kembali dengan baik 🤣🤣🤣
ira
cih percaya diri sekali 😒
ira
siap-siap aja kalian berdua akan dipenjara
ira
bagus sekali hrs d selidiki sampai tuntas dn penjarakan aja 2 ular itu
ira
niatnya sih baik tpi tetap aja kasihan Inayah nya d abaikan bgtu
ira
bnr sekali dugaanmu Deva, mertuamu d dorong oleh dua ular
ira
itu karena ulah dari dua ular yang mendorong papamu jatuh dari tangga
ira
apa mungkin ayahnya Inayah didorong oleh dua ular itu
ira
Bagus sekali segera ceraikan Mak Lampir ini dn usir segera mereka berdua ini,serta itu lah balasan untukmu krna sdh mengabaikan anak sendiri
ira
bagus sekali langsung ketahuan dong dan dapat tamparan dari ayahnya Inayah🤣🤣🤣🤣
ira
ibu dan anak sama-sama jalang dn ayah kandungnya Inayah sungguh bodoh ular dan parasit seperti mereka ini malah ditampung anak sendiri diabaikan 😒😒
ira
knp tidak namanya sdh jodoh dn takdir mereka menjadi suami istri,dn kau mau apa🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!