Warning!
(Kram perut yang disebabkan membaca cerita ini tidak ditanggung BPJS, Jika gejala berlanjut hubungi Otor)
Bianca Nataniasunny seorang gadis mandiri dan sedikit arogan harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria bernama Skala Prawira yang tak kalah arogan seperti dirinya. Kedua mahkluk itu sama-sama mengincar warisan dari keluarga mereka dan sepakat untuk melakukan kerjasama.
Menikah tidak membuat mereka lantas dengan mudah saling mencintai. Pertengkaran yang berujung kekonyolan menjadi santapan mereka sehari-hari.
"Kalau gue Anaconda loe Piranha Amazon," ~ Ska.
"Hah...ogah gue sehabitat sama loe," ~ Bian.
Tanpa Skala dan Bianca sadari jeratan takdir masa lalu telah mengikat keduanya.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Hati yang Meronta
Alih-alih kembali ke kamarnya. Bian memilih untuk membuka kado itu satu persatu di kamar ganti, ia hanya membuka bungkusan sampai melihat kartu ucapan si pemberi, Bian sama sekali tak berniat melihat isinya karena yang ia cari hanyalah kado dari Juan.
Rona kesedihan terpancar dari wajahnya, Bianca baru ingat bahwa laki-laki itu tidak hadir di pesta pernikahannya. Gontai, ia meninggalkan tumpukan kado itu begitu saja, Ska yang ternyata tengah berbaring di ranjang markas menatap heran ke arah Bian yang berjalan berlalu keluar dari sana.
Laki-laki itu memilih mengekor istrinya yang menuruni anak tangga, Bian duduk di mini bar dan langsung meletakkan kepalanya di meja, hembusan napas lelah terdengar dari bibir tipisnya.
"Kenapa? Kayaknya loe kecewa?" Skala duduk di samping Bian yang merespon dengan gelengan kepalanya di atas meja.
"Gue cuma lupa, orangnya ga datang ke pesta, jadi kado darinya juga ga ada."
"Siapa? Eric?"
"Bukan, elo kan tahu Eric datang, orang itu lebih gue sukai dari pada Eric."
"Cih, apa loe mau bilang ke gue secara ga langsung kalau loe sebenarnya suka sama Eric."
Entah kenapa Skala merasa hatinya mencelos mendengar jawaban dari istrinya.
Melihat Ska yang tidak tidur dan malah memilih duduk bersamanya Bian mengernyitkan dahi. Menegakkan badan, Bian menyangga dagunya sambil menatap ke arah suaminya. "loe pasti ga istirahat semalaman, kenapa ga tidur?"
Ska menggeleng, bukannya tak lelah dan tak ingin pergi tidur, ia tengah memikirkan keadaan para karyawannya yang masih terbaring di rumah sakit.
"Gue ga pengen bilang kayak gini ke loe Ca karena gue takut loe hina-hina, tapi gue ga bisa tidur karena masih banyak karyawan yang masih berada di rumah sakit, gue ga bisa bayangin kalau kemarin sampai ada korban jiwa."
Reflek Bian menempelkan tangannya di pundak suaminya, menepuk lembut pundak itu berkali-kali.
"Gue ikut prihatin sama musibah ini, tapi sebagai direktur loe ga boleh berlarut-larut sama rasa bersalah loe ke mereka, sekarang tugas loe lebih berat, loe harus balikin citra pabrik dan harus cari pelaku dibalik musibah ini."
"Kadang gue takut untuk terlalu berambisi menjadi pewaris PG group, hal kayak gini aja ngebuat gue merasa amat sangat bersalah dan pengen banget mundur dari posisi gue." Menunduk, jelas Ska tengah merasa benar-benar terpuruk.
"Gimana kalau besok kita ke rumah sakit buat jenguk karyawan-karyawan loe yang masih di sana?" Bian menunjukkan senyuman manisnya, berusaha membuat laki-laki yang tengah dirundung kesedihan itu sedikit bersemangat.
"Kenapa loe mau bantuin gue sampai kayak gini?"
Pandangan mata Ska saat ini benar-benar sendu, entah kenapa sorot mata itu malah membuat dada Bianca berdetak tak karuan, ia mendapatkan dua asumsi di dalam pikirannya. Pertama, Ska ternyata punya sisi lemah juga. Kedua, ia menaruh simpati ke suaminya. Bian tiba-tiba merasa ingin memeluk si badak Afrika saat itu juga.
Tersadar dari pikirannya, Bian menepuk pundak Skala sedikit kencang. "Di kontrak jelas tertulis kita harus saling bantu jika menyangkut urusan bisnis, loe lupa?"
Ska menatap Bian dengan pandangan setengah tak percaya, matanya benar-benar berbeda dari biasanya, seolah ingin bertanya " yakin hanya itu? gue berharap lebih." Membuat Bian semakin salah tingkah.
"Kalau loe sampai masuk penjara, gue yang rugi juga, kalau gue cerai sama loe ntar gue jadi janda rasa perawan donk." Bianca yang awalnya bercanda merasa keceplosan, seketika ia diam seribu bahasa, ingin sekali tangannya melayang memukul mulutnya sendiri, bagaimana mungkin dia menyebutkan kata perawan di depan laki-laki yang jelas berstatus suaminya.
Skala tertawa melihat pipi istrinya yang memerah, jelas Bian sedang malu. Dada gadis itu semakin berdenyut tak karuan saat tangan Ska mengusap rambut di pucuk kepalanya, laki-laki itu melengkungkan bibirnya membuat seulas senyuman manis yang membuat hati Bian kian meronta.
"Gue lapar Ca, kita pesen makan yuk, loe mau apa? gue yang traktir," ucap Ska sambil berlalu naik ke atas untuk mengambil ponselnya.
Bian terdiam, masih terpaku di kursinya, memegangi dadanya yang berdetak kencang, jelas hatinya tengah tak sejalur dengan logikanya.
"Stop! gue bilang stop!" ucap Bian sambil menunjuk dadanya sendiri seperti orang gila.
***
Ska merasa nyaman bercerita kepada Bian yang sudah menyelamatkan hidupnya dengan mengerahkan ibu-ibu komplek pagi tadi. Mereka berbincang di meja makan seperti sahabat setelah menyantap habis nasi goreng yang Skala pesan dari layanan pesan antar makanan satu jam yang lalu.
"Nuna bilang elo ga suka es krim, kok bisa sih?aneh banget tau ga."
"Elo mau tahu alasannya?" Bian memainkan gelas bekas minumnya yang berada di atas meja, lalu mulai bercerita tentang kenangannya saat berumur sembilan tahun, dimana ia di bully habis-habisan oleh teman sekolahnya, mereka beramai-ramai dengan sengaja menjatuhkan es krim ke rambut Bian sambil mengucapkan kalimat yang tak sepantasnya anak kecil ucapkan.
"Ayo kapan-kapan kita pergi makan es krim bersama!"
Ucapan spontan Ska yang mengajaknya pergi makan es krim terdengar seperti sebuah ajakan berkencan di telinga Bian, lagi-lagi sesuatu yang asing menggelitiki dadanya. Aneh, kenapa melihat Skala bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk bisa membuat dirinya berdebar sampai sekarang. Mesum, begitu pikirnya.
"Oh ya, sebagai ucapan terima kasih besok pagi aku akan meminta Tama mentup PG plaza selama setengah hari, ajak ibu-ibu yang tadi pagi ke kantor polisi membantuku ke sana, biarkan mereka berbelanja sesuka mereka, semua tagihan aku yang bayar," ucap Skala santai bak tak memiliki beban hidup.
"Ish, mereka sudah tajir, tidak perlu sampai seperti itu," bantah Bian.
"Setajir apapun orang jika diberi sesuatu apalagi dengan ketulusan hati pasti bahagia Ca." Memberi nasihat, Ska menjadi pribadi yang sangat bijaksana malam itu.
Mereka berbincang sampai lupa waktu, hingga Bian terlihat beberapa kali menguap barulah keduanya memilih naik ke lantai atas untuk tidur. Seolah masih enggan untuk tidur, Ska malah menyalakan televisi di markas, membuat Bian yang juga tengah mengambil baju ganti di sana mengernyitkan dahi.
"Ya elah Ska, bukannya tidur," oceh Bian.
"Gue mutusin besok ga masuk kerja, jadi besok gue bisa tidur seharian."
Membiarkan apapun yang suaminya inginkan, Bian memilih cuek dan langsung pergi dari sana, meskipun sebenarnya ia ingin memaksa Skala untuk beristirahat.
Di dalam kamar berukuran besar itu mata Ska menatap layar televisi. Namun, pikirannya sedang berkelana, memikirkan beberapa nama yang dia curigai sebagai dalang di balik kekacauan di pabriknya.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
Komen and like Thank you 🙏
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
cemburu Bi... c e m b u r u
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😍😍😍