"Aku bisa menjadi mommy-mu."
"Apa kau kaya?"
"Tentu saja! Aku sangat kaya dari para orang kaya di negara ini."
"Setuju, Mommy!"
Bukan kisah anak genius, melainkan kisah sederhana penguasa muda yang terlambat jatuh cinta. Melalui perantara manis, keduanya dipertemukan lagi sebagai sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juga Suka Oliver
"Mommy ... kau berjanji aku menjemputku, kan?" Liam tampak enggan untuk masuk ke lingkungan sekolah. Mereka hanya pergi berdua karena Tyler sudah pergi sejak pagi-pagi sekali karena meninggalkan pekerjaannya kemarin.
"Iya, aku berjanji!" Oliver sampai melingkarkan jari kelingking mereka untuk meyakinkan Liam.
"Goodbye, Mommy." Liam melambai dengan wajah lesunya. Oliver hanya menahan senyum sejak tadi. Oliver menunggu hingga anak itu menghilang dari pandangannya.
"Oliver," sapa seseorang kemudian. Oliver langsung menoleh ke asal suara.
"Joseph."
Pria itu tersenyum sumringah. Ia ingin memeluk Oliver lagi seperti terakhir kali, namun Oliver menolak halus dengan menyodorkan tangannya.
"Hai," sapanya.
"Oh, hai," balas Joseph sedikit canggung. "Jadi, putramu juga sekolah di sini?"
"Ya, dia baru saja masuk. Apa gadis kecil ini juga di sini?" Oliver sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyapa gadis kecil di samping Joseph. Ia menyadari gadis kecil ini terus saja menatapnya.
"Mera," sebut Joseph.
"Oh hai, Mera. Aku Oliver. Kita sudah bertemu kemarin." Mereka memang belum sempat berkenalan.
"Halo, Oliver," cicitnya sambil bersembunyi di belakang kaki sang ayah.
"Maaf, Oliver. Mera sangat pemalu," ujar Joseph tak enak.
"It's okay! Bagaimana dengan sepeda barumu?" Jeremy langsung membelinya semalam atas perintah Tyler. Pria itu cukup menyebalkan jika cemburu. Menyebalkan? Ya! Oliver masih hapal sekali dengan tingkah lakunya. Ia juga tahu jika Tyler cemburu saat itu.
"Bagus. Aku menyukainya," jawab Mera dengan suara kecil.
"Kenapa kau bersembunyi? Apa aku mengerikan? Kemarilah dan lihat apa yang ku punya." Oliver berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan Mera. Gadis itu terlihat malu, namun tetap mendekat perlahan.
"Permen," ucap Mera mulai tersenyum. Oliver juga tersenyum sambil mengelus kepalanya.
"Kau bisa memakannya saat istirahat."
Gadis itu tersenyum lebar, kemudian memeluk lehernya tiba-tiba. "Thanks, Oliver!" katanya senang. "Daddy selalu melarangku makan permen," bisiknya, lalu melepas pelukannya.
Oliver melirik pada Joseph yang terlihat kebingungan. Sepertinya tidak tahu harus melarang atau tidak, apalagi itu pemberian seseorang, kan?
"Kalo begitu makanlah sepuasmu," bisik Oliver.
"Baiklah, sudah waktunya masuk, Mera." Joseph mengingatkan. Gadis itu mengangguk cepat sambil berlari ke dalam gerbang.
"Hati-hati," tegur Joseph. Anak itu lincah sekali.
"Ok, Daddy!" teriaknya, namun tak lama ia berhenti, membuat Joseph dan Oliver mengernyit bingung. "Daddy, aku juga suka Oliver," pekiknya lagi, membuat Joseph salah tingkah begitu Oliver menatapnya.
"Juga?" Oliver memicing dan bersilang dada. "Apa yang kau katakan pada anak kecil itu, Joseph?" tanya Oliver curiga dengan nada rendah. Tidan ada lagi Oliver yang manis dan lembut seperti barusan.
"Ini baru lah, Oliver," katanya pasrah. Rasanya aneh melihat Oliver tersenyum terlalu sering seperti saat bersama Mera. Jangan lupa wanita itu memiliki sifat temperamental yang bisa berubah-ubah di setiap situasi. Joseph mengetahui itu dengan baik.
"Aku bilang, aku pernah menyukaimu dan masih menyukaimu saat bertemu kemarin," ungkap Joseph. Oliver tersenyum dingin, masih dengan tatapan mengintimidasi miliknya.
"Joseph ... dia memiliki ibu, kan?"
"Tentu saja," jawabnya gugup.
"Lalu, bagaimana bisa kau mengatakan pada anak perempuanmu bahwa kau masih menyukai wanita lain selain ibunya?"
Puk! Tubuh Joseph tersentak kaget saat Oliver menepuk pundaknya. "Putraku sangat cemburuan. Jangan sampai dia mengetahui ada pria lain yang menyukaiku." Bukan hanya putranya, namun pria dewasa yang mirip anak itu akan lebih parah dari pada putranya sendiri. Putranya? Tidak perlu di koreksi lagi, kan? Oliver sudah menerima nasib barunya ini.
"Dan jaga perasaan wanitamu!" tekan Oliver masih dengan nada rendah. Tanpa berkata apapun lagi, Oliver berbalik menuju mobilnya dan pergi.
...***...
Flashback
"Kau pergi dengan siapa? Sudah kubilang beritahu aku apa yang kau inginkan," desak Tyler.
"Joseph Campbell. Kami hanya kebetulan bertemu di toko buku," kata Oliver sambil melepas satu-persatu pakaiannya untuk berganti dengan piyama. Tyler memperhatikan dengan raut kesal.
"Ck! Dia laki-laki yang di dekati oleh Caitlin, kau lupa?" Pria yang membuat keduanya putus! Namun, bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah Oliver mulai dekat dengan laki-laki itu juga!
"Tidak ada hubungannya dengan itu, Tyler. Lagipula Caitlin sedang tergila-gila lagi padamu. Sampai kapan kau abaikan dia?" Oliver telah selesai dengan pakaiannya.
Joseph bukan lagi prioritas Caitlin sejak dirinya dan Tyler menjalin hubungan palsu ini. Bahkan Caitlin telah terang-terangan ingin merebut Tyler lagi, namun anehnya, Tyler belum ingin berhenti dari sandiwara mereka.
"Biarkan saja dia. Aku masih kesal padanya," ketus Tyler. Lihat? Ini terjadi setiap ia mengingatkannya akan Caitlin.
"Kau pasti lapar. Makanlah dulu. Aku membeli makanan yang kau sukai," pinta Oliver.
"Makan bersama," katanya sambil meraih sebelah tangannya.
"Aku sudah makan bersama Joseph."
"Kalian bahkan makan bersama?!" pekik Tyler semakin kesal. "Aku tidak mau makan!" Pasti laki-laki itu yang membelikannya untuk Oliver.
"Aku membelinya sendiri, Tyler." Oliver langsung paham isi kepalanya laki-laki ini.
Terdengar decakan dari laki-laki itu, namun Tyler tetap pergi menuju dapur. Oliver hanya tersenyum tipis melihatnya.
Mereka telah terbiasa bersama. Hubungan ini— terkadang membuat Oliver lupa jika mereka bukanlah pasangan asli, namun asli atau bukan, tidak akan ada bedanya menurut mereka.
Beberapa saat berlalu, Tyler telah selesai dengan makan siangnya. Pria itu kembali ke kamar untuk melihat Oliver, namun gadis itu sudah menghilang dari sana. Ada satu tempat di apartemen ini yang sering di datangi Oliver sehingga tidak akan sulit menemukannya.
Ia melihatnya— duduk di depan jendela yang terbuka dengan kuas dan cat di tangannya. Rambutnya yang di cepol asal bergerak tertiup angin. Tyler seolah terhipnotis oleh sosok cantik itu.
"Ollie," panggilnya. Gadis itu segera menoleh padanya.
"Sudah selesai? Kemarilah. Bagaimana menurutmu?" tanya Oliver. Tyler hampir tidak memperhatikan lukisan yang Oliver buat karena terpukau pada penciptanya.
"Itu aku?" Tyler memastikan.
"Apa tidak mirip? Aku memang agak kesulitan membuatnya." Entah mengapa ingin melukis wajah Tyler hari ini dan ia benar-benar melakukannya.
"Ini luar biasa, Ollie. Kau sangat berbakat," puji Tyler bangga, membuat Oliver merasa tenang.
"Syukurlah." Oliver kembali pada lukisannya dengan rasa senang. Tyler tidak mengusiknya selama ia melukis. Laki-laki itu cukup perhatian dalam hal ini juga, namun pandangannya cukup menganggu Oliver.
"Sampai kapan kau mau menatapku?" tanya Oliver tanpa mengalihkan pandangannya dari kanvas.
Tyler tersenyum malu. Pria itu semakin mendekat padanya, lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Oliver.
"Gawat. Bagaimana jika aku jatuh cinta padamu?" canda Tyler sambil terkekeh pelan. Oliver ikut terkekeh sambil mengelus rahang tegasnya.
"Itu masalahmu," kata Oliver.
Flashback off
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...