NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:890.3k
Nilai: 5
Nama Author: Im Human

Aku dinikahi orang yang baru kukenal, dan jarak usia kami 14 Tahun!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Human, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu

“Aku turun dulu, ya.”

“Aku ikut,” selaku cepat.

“Tapi kamu harus banyak istirahat, kamu dengar, kan kata dokter tadi?” cegahnya lembut tak memengaruhiku sedikit pun.

“Sekarang rasa kepoku lebih tinggi dari pada keinginan untuk istirahat.” Aku segera turun dari ranjang dan mendahului Adrian untuk turun, melihat siapa tamu yang dimaksudkan Mba Puput.

“Beliau sudah duduk di sofa depan. Saya belum sempat bicara apa-apa, beliau sudah menyuruh saya untuk memanggilkan anda. Sepertinya rekan dekat Tuan.” Mba Puput menunduk.

Rasa penasaranku semakin meningkat, ditambah dengan Adrian yang juga tak merasa memiliki janji dengan siapa pun hari ini. Kami lantas berjalan ke lobby depan di sisi sebelah kiri. Di sana, tampak seorang laki-laki duduk santai dengan melipat kaki kanan di atas kaki kirinya. Pandangannya mengarah pada jendela yang menghadap luar.

“Assalamu’alaikum!” ucapnya begitu melihat kedatangan kami berdua.

“Wa’alaikumsalam,” jawab kami hampir bersamaan.

Laki-laki itu memandangiku dari atas hingga ke bawah kemudian beralih menatap Adrian. “Apa kabar?” tanyanya mengulurkan tangan pada Adrian seraya tersenyum menampakkan gigi-gigi putihnya.

“Mohon maaf, ada keperluan apa sehingga memaksa anda datang ke rumah kami?” tanya Adrian dingin.

“Sepertinya saya belum sempat memperkenalkan diri secara resmi. Saya Garrin Wijaya, tetangga sebelah rumah anda,” ucapnya diikuti senyuman bangga.

Aku melotot seketika mendengarnya mengucapkan kalimat itu. Aku tahu Adrian juga pasti sangat terkejut, tapi ia mampu menutupi keterkejutannya dan memasang ekspresi datar. Tapi tentunya ini bisa jadi sebuah permasalahan yang semakin panjang kalau benar Garrin tinggal di sebelah rumah ini. Cukup sekali itu aja Garrin jadi akar masalah antara aku dan Adrian di rumah ini!

“Selamat datang, kalau begitu. Semoga betah tinggal di sini.”

“Terima kasih. Tentunya saya akan betah tinggal di sini, karena bertetangga dengan orang-orang baik seperti anda dan istri anda.”

“Oh, ya. Ini ada sedikit bingkisan sebagai ucapan semoga kita bisa bertetangga dengan baik ke depannya.” Garrin menyerahkan sekeranjang buah-buahan dan satu kotak kira-kira berukuran 30cm³.

“Kalau begitu saya pamit. Silakan datang ke rumah saya kalau ada perlu dengan saya. Inshaa Allah rumah saya selalu terbuka untuk anda berdua. Saya permisi, Assalamu’alaikum warahmatullah.” pamitnya meninggalkan kami dalam ketidak tahuan tentang suasana ini.

“Wa’alaikumsalam warahmatullah.”

Sepeninggal Garrin dari hadapan kami, Adrian mengantarkannya sampai ke depan pintu. Aku yang hanya mengikutinya dari belakang jadi tak enak hati dengan Adrian. Memang bukan salahku, tapi rasanya aku punya andil besar yang hanya membuat Adrian semakin menekan rasa tak sukanya.

Adrian melihat Garrin yang berjalan keluar dari pekarangan rumah. Garrin melewati dua security yang berdiri menatapnya tak suka hingga manusia itu benar-benar keluar dari pekarangan rumah. Aku mengajak Adrian kembali masuk ke dalam rumah setelah beberapa saat ia hanya berdiri menatap ruang hampa, dengan kedua tangannya menggenggam di bawah sana.

"Ayo masuk." katanya kemudian seraya merangkulku kembali ke dalam rumah.

*****

Setelah weekend yang kami lalui dengan berbelanja, jalan, dan lain-lain, juga Adrian yang sesekali masih harus menyelesaikan kerjaan kantornya, akhirnya kami kembali ke hari aktif. Hari di mana Adrian meninggalkanku di rumah besar nan sepi itu bersama Mba Puput dan Mba Rina hingga sore hari.

Hari itu, Adrian pulang sekira pukul lima sore, tapi mood nya tampak kurang baik. Kebaikan dan perhatianku padanya pun dengan mudah diabaikan. Dari wajahnya mengatakan bahwa Adrian sedang bermasalah, tapi karena ia tak mau membaginya denganku, aku hanya bisa diam setelah berkali-kali tak mendapat jawaban darinya.

Kejadian seperti itu berulang setiap hari selama dua minggu. Jujur saja, sikapnya juga semakin aneh karena ia bahkan jarang sekali menyentuhku. Pulang dari kantor, ia pasti akan segera mandi dan tidur tanpa banyak bicara. Tak jarang ia tidur memunggungiku, dan tak membangunkanku ketika subuh tiba.

“Assalamu’alaikum.” ucapnya memasuki rumah hari itu.

“Wa’alaikumsalam … udah pulang, Sayang,” sambutku tak diindahkannya.

Aku menyusul langkah cepatnya menuju ke kamar. Sekali lagi ia mengacuhkanku tanpa alasan yang jelas seperti hari-hari sebelumnya. Harus seberapa keras aku memutar otak mencari ide agar Adrian kembali jadi Adrian yang dulu. Rasanya seperti ingin menangis saja setiap melihat sikap Adrian yang berubah dingin akhir-akhir ini. Apakah ada hubungannya dengan kepindahan Garrin Wijaya di sebelah?

“Kamu kenapa?” tanyaku menyambut Adrian keluar dari kamar mandi.

“Nggap ada apa-apa, kok.”

“Kalau kamu nggak apa-apa, kamu nggak akan kayak gini, kan aku udah pernah bilang untuk kita saling jujur aja,” terangku lembut mencoba meraih hatinya.

“Iya maaf, Sayang, hari ini aku cape banget. Besok aja, ya, aku ceritanya, sekarang kita tidur. Jangan sampai kamu kurang istirahat kaya waktu itu lagi.” ujarnya melunak.

Dasar wanita, hanya dengan omongan seperti itu saja bisa luluh dan menganggap bahwa sebelumnya tak terjadi masalah apa-apa antara aku dan Adrian. Kami tidur hingga menemui pagi cerah seperti sebelum suasana dingin antara kami terbangun.

Dengan terburu, Adrian menanting zenbook nya pergi meninggalkan meja makan. Aku mengantarnya hingga luar pagar, melihat hingga mobil itu pergi membawanya menjauh. Kukira setelah ucapannya semalam, ia tak akan mengabaikanku, tapi rupanya ia masih sama seperti Adrian yang kemarin.

“Nganterin suaminya sampai depan rumah doang?” teriak tetangga sebelah terdengar jelas hingga telingaku.

“Nggak ada morning kiss?” teriaknya lagi tanpa malu. Aku yang mendengarnya hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap Garrin yang kekanakan itu.

“Tetangga mau silaturrahmi nih, boleh nggak?” teriaknya yang kini manusia itu telah berdiri di dekat pagar rumah.

“Maaf, suami saya sedang tidak ada di rumah, saya tidak bisa menerima tamu laki-laki yang bukan mahram,” tegasku lugas kemudian meninggalkannya masuk kembali ke dalam rumah.

“Mba Rina, hari ini biar aku bantu masak buat makan malam, ya. Siapin aja bahan-bahan yang aku minta,” pintaku pada Mba Rina yang baru selesai membersihkan ruang makan.

“Baik, Nyonya,” balasnya merunduk setuju.

Puas membaca dan mempelajari buku-buku kuliah milik Adrian siang itu, aku duduk di sofa ruang tengah dan kembali membagi cerita dengan Mba Puput dan Mba Rina tentang apa pun. Cerita-cerita yang mereka bagi sesekali mengundang rasa penasaran, hingga tawa kami meledak.

Pembicaraan kami terpotong saat bell pintu terdengar ditekan beberapa kali. Mba Puput dengan tanggap berdiri membukakan pintu, sementara aku masih menunggu di sofa. Beberapa saat, Mba Puput datang setengah berlari menuju ke arahku.

“Nyonya, ada Ayah dan Ibu anda datang, saya menyilakan mereka duduk di ruang tamu,” ucapnya lugas.

Aku segera bangkit menuju ruang tamu, menyalami dan menyambut kedatangan Ayah dan Bunda. “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam, gimana kabar kamu, Hann?”

“Baik, Yah, ke sini sama siapa? Berdua aja?”

“Iya, berdua aja. Sekalian nganterin Ayah kamu beli makanan kucing.”

“Kucing Ayah masih ada? Kemarin waktu Hanna ke rumah kok nggak lihat?”

“Kemarin di kandangin.”

“Adrian kerja, ya?”

“Iya, Yah. Biasanya baru pulang sore sih.”

“Ah, ini sebenarnya Ayah sama Bunda ke mari cuma mau ngantar baju kamu sama Adrian, ketinggalan di kamar kamu, kan kemarin.” Bunda menyerahkan tote bag padaku.

“Ya Allah, Hanna ceroboh banget ya, baju aja sampai ketinggalan. Makasih Bun, maaf jadi numpang nyuciin baju Hanna.”

“Nggak apa-apa … toh yang nyuci juga bukan Bunda.”

“Hmm … Ayah sama Bunda belum makan siang, kan? Sebentar lagi jam makan siang, Ayah sama Bunda makan di sini, aja ya?” tawarku agak memaksa keduanya.

“Sebenernya kita buru-buru mau ke rumah Nenek kamu, Hann”

“Ayolah, Ayah sama Bunda kapan lagi main ke sini?”

“Ya sudah, bolehlah kalau nggak merepotkan,”

“Nggak repot kok, Bun.”

Selagi menunggu tibanya waktu makan siang, sekaligus menunggu Mba Rina dan Mba Puput selesai menyiapkan makan siang, aku memberitahu Adrian tentang kedatangan Ayah dan Bunda ke rumah. Dari responsnya yang terdengar datar, membuatku tak banyak berharap ia akan pulang lebih cepat dan bergabung dalam acara makan siang dadakan kami.

“Silakan makan, Yah, Bun,” ucapku menyilakan.

“Assalamu’alaikum.” Suara Adrian diikuti suara alarm pintu terdengar memasuki rumah.

“Wa’alaikumsalam …” jawab kami bersamaan.

“Ayah, Bunda, udah lama?” sapanya seraya menyalami keduanya.

“Belum lama kok, kamu kenapa udah pulang? Kata Hanna, biasanya kamu pulang sore.”

“Iya Yah, barusan Hanna yang telepon Adrian katanya Ayah sama Bunda datang ke rumah, jadi Adrian buru-buru pulang,” tuturnya mencium keningku dan mengambil duduk di sebelahku.

“Kalian ini, padahal yang datang cuma Ayah sama Bunda. Kerjaan Adrian jadi keganggu kalau begini.”

"Nggak kok, Yah. Masih ada asisten Arian juga di kantor."

“Sekalian saja kita makan siang sama-sama. Ya, kan?” timpalku.

“Iya … mikirin kerjaan terus juga pusing jadinya.”

Meja makan menjadi tempat kami memecah tawa selagi menikmati hidangan buatan Mba Rina dan Mba Puput. Sikap Adrian yang sedikit lebih tenang dan hangat di depan Ayah-Bunda membuatku bisa bernapas lega sesaat.

Apakah kemarin-kemarin hanya akting? Ataukah sekarang ini Adrian sedang bersandiwara?

1
Atik Dm
Lumayan
Mis Miftahul huda1976
o ,
v
Heri Sutiawan
kirain aku aja yg gak ngerti bahasa itu
Nurmalina Gn
auto kaget
Buk as Ninon
_ /

/_
Imas Sarifah
duh jngn sampai poligami atuh thor
Imas Sarifah
duh hati ku tercubit😔
claa
tolong lanjutin ato bikin novel sekuelnya dong thorrr
masih kurang puas nih
Puja Erza
thor ish kok cerita nya kemana2 ini hahahahhahahaha
Gusti Ngurah
Garrin gmn? Wkwkwkkkw yahhh hampir sama dengan nasib saya, siapa cepat dia dapat
Elena A W
agak sedih sih ternyata endingnya Adrian meninggal. ngga ada kisah romansa lagi. tapi semoga authornya bikin cerita baru tentang ketiga anaknya. atau at least kisah cintanya si asyqar ajaa
shofiarouf
brrti bukan aq aja ya yg agak bingung sama flashback nya 😅
Norintan Nazmie Tim's Sha
Syukurlah alhamdulillah hanna dah hamil
Norintan Nazmie Tim's Sha
astagfirullahadzim menyesalnya aku membaca nya, poligami, sesak nya Dada ku
Norintan Nazmie Tim's Sha
masih hot bah usia jarak jauh, so sweet 😍😍😍
ae🥳
kpn senenge jd hanna🤧🤧
sedih mulu
Rini Haryati
keren
Kak Riya
kyak khadijah suka deh sama gariiin
Svwalad Amanah
ceritanya bgs bgt thor,byk pelajaran fositifnya,terutama tentang agama,mksh thor,dan semangat trs untk karya yg lainya
Ida Mom's Deden
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!