NovelToon NovelToon
K.U.N

K.U.N

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Sudah Terbit / Eksplorasi-detektif / Komedi / Hantu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:13M
Nilai: 4.9
Nama Author: Gerimis Senja

WARNING!!
Segala bentuk penjiplakan bisa di laporkan yaaa, bijaklah dalam berkarya..

Berawal dari Agam, seorang murid baru yang mendapat tantangan dari Maxim untuk masuk ke dalam gudang angker di sebuah sekolah, menyebabkannya bertemu dengan hantu Kuntilanak Laki-laki dengan segala praharanya.

Hingga pada akhirnya masalah pelik mengikutinya, membuat Agam mau tak mau harus membantu Kuntilanak tersebut dalam mengungkap siapa dalang pembunuhannya.

Kasus 16 tahun lalu yang begitu kelam pun terbuka, dengan seorang tersangka yang harus di kuak oleh Agam dan teman-teman.

Namun sekali lagi, kepolisian, detektif, jurnalis dan keluarga dari pawang sekolah, harus mati karena berusaha ikut campur. Korban siswi sesuai dengan inisial nama de

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Nenek-Kakek

Mataku mulai mengawasi. Awalnya memang ku rasa tak ada yang aneh setiap kali kesini. Tapi kenapa, untuk kali ini aku merasa sedikit cemas dan gelisah? Seperti merasa sedang diikuti?

Apa mungkin karena Kun ikut?? Tapi tubuhku sudah menyesuaikan diri bersama Kun. Aku tak merasakan merinding atau sesuatu yang membuat hatiku tak nyaman jika bersamanya. Hanya ada saat-saat tertentu yang akan membuatku merinding dan takut padanya.

Tapi.. kenapa rasa ini sangat berbeda? Aku semakin gelisah. Bahkan aku sampai mengerjap lebih sering dari pada biasanya. Tengkukku mulai merasa panas, dan ku harap Kun tak menyadarinya.

"Tubuh kamu melemah?" Ucap Kun tak lebih dari sekedar pertanyaan. Aku hanya diam, takut-takut ketika menjawab aku akan terdengar gemetaran.

Ku lantunkan doa di dalam hati. Kun tak akan dengar kan? Karena ia tak mampu mendengar suara hatiku. Tapi ia terlihat gelisah setelah aku mulai berdzikir.

Meski tak bersuara, ternyata kekuatan dzikir itu mampu menembus gaib.. Ia nampak mengernyit dan meringis, pasti karena aku mulai membentengi diri. Apa dia kepanasan?

Ya, tahan dulu sebentar Kun, karena kita akan segera sampai.

. . .

Aku mulai masuk gang di perkampungan kakekku. Di depan gang ada masjid kecil dengan cat berwarna biru, dulu waktu masih kecil, aku, ayah, dan kakek suka pergi ke sana bersama untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Masjidnya tak nampak berubah sama sekali. Masih sama, hanya cat pagarnya yang sedikit mengelupas.

Di dekat rumah nenek pun banyak pohoh belinju, yang memisahkan antara rumah satu dengan yang lainnya. Ada beberapa rumah di sini, tapi berbeda sekali dengan di kota. Yang terkesan berhimpit antara pagar rumah satu dengan yang lainnya. Pagar mereka terkesan alami, pohon-pohon belinju, pohon cermai, pohon pete dan juga pohon kelor.

Space-nya masih banyak yang kosong, dan membiarkan rumput dan tumbuhan liar untuk hidup subur di sana.

Jalan setapaknya hanya dari tanah yang di lapisi daun kering yang berguguran, tak di lapisi tanah merah, batu kerikil, apalagi aspal. Kalau musim hujan, motor merahku ini pasti akan kotor karena becek.

Beberapa orang yang duduk di teras-teras rumah memandangiku bak lauk enak yang siap di santap. Aku memaklumi, karena begitulah pandangan mereka pada orang yang datang, namun tak mereka kenal.

Mereka terlihat duduk sambil membaca kertas bertulisan arab di atasnya. Ada yang duduk sambil mencari kutu di rambut anaknya. Ada yang membawa piring sambil makan di teras depan rumah. Hmm, jarang ku temui yang seperti ini di tempatku.

Aku lantas membuka kaca helm yang menutupi wajahku. Menunduk singkat bak memberi salam ramah sambil mengumbar senyuman.

Mereka terlihat senang. Ekspresi sinis mereka seketika berubah ramah. Mereka langsung melambaikan tangan sambil tersenyum memperlihatkan gigi-giginya. Bahkan ada yang sampai beranjak dari kursi hanya untuk melambaikan tangannya. Memang di pedesaan orang-orangnya akan ramah dan baik, kalau kita pun sopan dan baik pada mereka.

Kun hanya diam memperhatikan. Tangannya masih meremas tas gunung yang ku letakkan di belakang punggung.

Hingga kami sampai pada rumah dengan dinding dari batako putih tanpa di tutupi semen. Aku menengadah melihat ke atas. Atap dari daun kering kini berganti menjadi genteng merah yang telah tertutupi lumut.

Ini bukan ya rumah kakek nenek? Aku lupa, karena terakhir pergi ke sini saat aku masih kelas lima SD.

Sepertinya memang ini. Di depan rumahnya banyak di tanami bunga-bunga harum, seperti kenanga, mawar, melati, sedap malam dan banyak lagi yang tak ku ketahui namanya. Ibu senang menanam bunga, karena nenek pun senang melakukannya.

Kun pasti senang sekali ini, karena semua makanannya ada di sini. Bunganya banyak lagi.

Aku menghentikan laju motorku, mematikan mesinnya dan menyanggah dengan standar. Aku terdiam menatap lurus ke arah rumah. Aku menatap teras yang dipagari dengan dinding dari batako. Di atas pagar dengan tinggi sepinggangku ada daun seledri yang di tanam di dalam pot yang terbuat dari ember bocor.

Sedang asik mengamati, ku lihat tirai jendelanya nampak bergerak, mungkin nenek atau kakek sedang mengintip karena heran dengan bunyi motorku yang bak mesin balapan.

"Assalamualaikum!!" Seruku sambil tersenyum dan membuka helm. Meletakkan helm tersebut ke perutku, menanti seseorang datang dan menyambutku.

Tirai yang sedikit bergerak tadi kini terbuka seluruhnya. Menampakkan wajah kakek sambil memanggil seseorang yang masih di dalam. Tak lama nenek pun datang. Mereka mengernyit heran memandangiku dari dalam rumah.

"Nek.. Kek!!" Sapaku sambil melambaikan tangan ke arah mereka. Mereka nampak berdebat sambil mulai membuka pintu.

"Ken lah aku padah, itu pe cucuk aku!! (Kan sudah ku bilang, itu cucuku!!)" Ujar nenek dengan bahasa daerahnya, seraya menghampiriku bersama kakek yang berjalan tertatih-tatih.

Ku lihat nenek mengenakan jilbab terusan berwarna kusam, dan kakek mengenakan kaos singlet yang sudah nampak kumal karena dipenuhi noda. Seperti noda getah pisang. Kakekku kan suka berkebun.

Aku segera turun dari atas motor, meletakkan helm di kursi kemudi dan masuk ke pekarangan rumah yang di kelilingi tumbuhan berbunga dan juga pohon mangga. Aku berjalan menghampiri mereka dan menyalaminya.

"Nek.. Kek.." Ucapku ketika mencium tangan nenek dan kakek secara bergantian.

"Ini Agam kan? Cucu kakek?" Aku mengangguk sambil tersenyum. Menatap wajah rentanya dengan rambut yang memutih karena umur.

"Wah, udah besar cucuk kakek. Tambah ganteng kayak kakek!!" Ujarnya senang hingga senyumnya memperlihatkan gusi-gusi tanpa giginya. Gigi depan kakekku ompong.

"Datang sendirian ya cu?" Tanya nenekku juga sambil menatap ke arah motorku. Badan gemuknya menyamarkan kerutan di wajahnya.

"Iya nek."

"Ibu dan ayahmu mana??" Aku tertegun mendengar pertanyaan kakek.

"Gak ikut kek, kerja."

"Ada nitip apa sama kakek?" Aku langsung terbelalak. Pergi pun dalam keadaan buruk, sampai tak terpikirkan untuk membawa oleh-oleh pada mereka.

"Nitip...." Kakek menantikan ucapanku. "Salam kek." sambungku hingga terukir raut kecewa dari wajah rentanya.

"Nitip kok salam! Nitip uang kek, kue kek!" Gerutunya sambil berjalan tertatih masuk ke dalam teras. Aku hanya tersenyum dengan wajah getir. Tak enak hati rasanya.

"Ente ni hekenek becakap wah!! Cucuk lah datang jauh-jauh dak di huro ke uma!! (Kamu nih asal ngomong!! Cucu datang jauh-jauh gak di suruh masuk ke rumah!!)" Keluh nenekku pada kakek.

"Engka la wah nyuro die masok. Hame bai! (Kamu aja yang suruh masuk. Sama aja!!)" Balas kakekku sambil duduk di kursi plastik yang di letakkan di teras.

Aku langsung mengecek uang yang berada di dompetku. Karena tiap hari harus beli bunga, jadi selama satu minggu aku sering menarik uangku satu juta. Kemarin sudah ku pakai untuk beli melati, jadi masih tinggal sembilan ratus ribu lagi. Apa ku kasih mereka saja, nanti aku tinggal tarik dari Atm lagi.

"Yuk cu, masuk." Kata nenek sambil menuntunku.

"Oh ya nek, ini ada titipan dari ayah ibu.. dikit sih.. sembilan ratus ribu." Ucapku sambil menarik semua uang di dompetku dan memberikannya pada nenek. Nenek menatapnya datar, lalu tersenyum sendu.

"Bukan uang kamu??" Aku tersentak. Kok nenek bisa tahu?

"Bukan kok." Dalihku panik. Dari kejauhan, kakek nampak menguping sambil melihat-lihat ke arah kami. Nenek pun menerima uang pemberianku.

"Yati!! Ade ken uleh-uleh e ken aku? (Yati!! Ada ya oleh-olehnya untukku?)"

"Biseng ente ni wah!! Men ken duet kedenger bae!! (Berisik kamu ini! Kalau masalah uang, kedengeran aja!!)" Balas nenekku ketus. Mereka sering berantem kecil, tapi bagiku, itu jadi terlihat lucu, karena mereka hanya marahan sebentar, lalu melupakannya. Menyenangkan sekali ya bisa tua bersama pendamping hidup. Aku berharap ayah-ibu ku pun begitu.

"Yo *** masuk!" Ajak nenekku lagi.

"Mutor engka jang, pasok ke umah!! (Motor kamu, masukin ke rumah!!)"

"Iya kek, nanti aja!" Balasku sambil masuk ke teras rumah, diikuti oleh Kun dari belakang.

"Kaki kakekmu ada ulat gaib-nya!!" Gumam Kun padaku ketika ia melayang di samping kakek. Aku lantas menoleh ke kaki kakek yang sedikit bengkak.

"Kaki kakek kenapa?" Tanyaku sambil terhenti di dekatnya.

"Itu.. Minta batang ubi tapi orangnya lagi gak ada. Ternyata batang ubinya udah di syarat." Jelas nenek hingga membuatku mengernyit. Bahasa kami, ubi itu artinya singkong.

"Di syarat gimana nek?" Tanyaku bingung.

"Oh, orang kota gak bakalan tau yaa. Syarat itu, artinya kayak di doain, atau di sumpahin lah kasarnya, kalau ada yang maling buahnya, nanti perutnya besar. Atau kalau ada yang niat jahat, mau bunuh gitu biasanya disyaratin pakai berapa macam syarat, misalnya paku, gunting, terus di masukin ke kain hitam. Di tanam. Nanti kalau ada yang injak atau langkah, bakal kena syarat." Terang nenek hingga membuatku meringis.

"Santet?" Tanyaku.

"Beda lagi cu, ini syarat. Tapi sama-sama ilmu guna-guna." Jelas nenek, namun masih saja membuatku bingung. Pantas saja waktu datang ke sini Kun bilang di sini kental imu magisnya. Apa ini salah satu contohnya??

Aku menggeleng heran, bisa-bisanya mereka melakukan itu. Apa gak takut dosa?

"Gak di bawa ke dokter?" tanyaku polos dan realistis. Nenek dan kakek langsung tersentak dan terdiam. Mereka pun saling berpandangan satu sama lain, lalu tertawa mendengar ucapanku tadi. Kun yang tadinya diam pun ikut-ikutan menertawaiku.

"Agam bod*h yaa!" ucap Kun sambil terkikik geli.

"Kan bengkak, siapa tahu disengat kalajengking atau ketusuk duri." Sambungku lagi.

"Kamu gimana sih cu, ini kena syarat, bukan kena duri!" Sahut kakek sambil kembali menertawakanku. Aku mengernyit, aku kan tak percaya dengan yang begituan.

"Udah di jampi sama Abah." Sambung nenek. "Itu juga udah mau sembuh, ada ulat di dalam katanya." Terang nenek lagi.

Jadi benar apa kata Kun tadi. Ada ulat gaib di dalamnya.

"Itulah! Nanti bilang orangtua mu! Sering-sering datangin orang tua ke rumah! Bawa uang sama kue. Terus juga bawa batang ubi, jadi kakek gak bakal kena syarat di kebun orang!!" Ujar Kun seolah sedang menyeramahi aku.

"Lihat deh penampilan mereka!! Kusam dan kumal!! Padahal anak cucunya klimis dan banyak gaya! Tidak kasihan ya kalian?!" Sambungnya lagi. Terus terang saja, hatiku tercekat mendengarnya. Setan ini bijaksana juga. Sepulang dari sini, aku akan bilang ibu dan ayah untuk lebih memperhatikan kakek dan nenek. Kalau mereka tak mau dan sibuk, aku sendiri yang akan memperhatikan kakek-nenekku.

"Udah.. kamu masuk ke dalam dulu. Taruh barangnya di kamar.. Entar nenek panggil teman kamu dulu.." Aku yang hendak masuk ke dalam rumah langsung terhenti di tengah pintu dan menoleh ke arah nenek.

"Teman Agam??" Gumamku sambil melihat nenek memakai sandal jepitnya dan berjalan cepat ke belakang rumah. Daster panjangnya sampai melayang-layang.

"Ren... Iren... Ade Agam Ren.. Kawan engka!! (Ren... Iren... Ada Agam Ren, Teman kamu!!)" Pekik nenek seraya berjalan di sisi rumah.

"Pacar kamu Gam?" Tanya Kun kepo.

"Bukan.. Temen gue pas masih kecil, waktu gue sering libur ke sini." Kun terperangah.

"Gue manggilnya amoi!! Kulitnya putih, mukanya cantik, matanya sipit! Kalau senyum.. Matanya tinggal segaris!" Bisikku pada Kun sambil mendeskripsikan wajahnya. Kun hanya tertawa sambil menyimak kalimatku. Aku pun berjalan gontai masuk ke rumah, menampakkan kursi kayu dengan bantal duduk berwarna merah gelap yang tersusun menghadap ke sebuah meja kecil.

Di sudutnya ada bunga matahari dari plastik dengan pot segitiga berwarna pink cerah, senada dengan tirai yang di gantung di jendela dari kayu. Di bagian dinding, ada foto-foto pernikahan ibuku, dan juga foto pernikahan kakak ibu. Foto ku bersama kakek-nenek tentunya, dan di bagian atas, ada lukisan ka'bah.

Aku melewati ruang tamu kecil dan berjalan menuju kamar tanpa pintu dan hanya tertutupi tirai panjang menggantung di atas lantai. Aku berdiri di tengahnya, menatap dinding batako yang tertempel kertas huruf abjad, huruf iqro, dan beberapanya ada gambar buatanku semasa kecil.

Aku menatap ranjang sederhana dengan kasur kapuk di atasnya, letaknya di ujung kamar dekat jendela. Di samping ranjang ada lemari kayu tanpa pintu, hanya di tutupi dengan tirai di sisi kanan, dan sisi kirinya ada beberapa foto masa kecilku dan beberapa buku yang tampak berdebu. Aku berdecak kagum, bahkan kamar ini tak berubah sedikitpun sejak ku tinggalkan.

"Hihihi, foto Agam kecil!!" Gumam Kun sambil melayang ke dekat lemari dan menatap fotoku yang terbingkai rapi. Kelihatannya ia cuma tertarik dengan hal itu. Aku mendengus sambil meletakkan tasku ke dalam lemari.

"Agam telanjang juga ada!! Tit*tnya bagus!!" Pekik Kun lagi hingga membuatku mengernyit.

"Katanya bukan kunti bencong, tapi liat begituan di katain bagus!!" Keluhku ketus.

"Kan lucu, soalnya belum tumbuh bulu! Seperti saya." Ucapnya lagi. Buru-buru aku beranjak, dan menutup bingkai foto tersebut dengan cara mengambil dan meletakkannya ke dadaku.

"Sial*n!! Lupa gue kalau ada foto yang belum di sensor!" Sentakku sambil memasukkan foto bayiku ke dalam lemari.

Tiba-tiba senyum Kun sirna, ia beralih. Ku lihat Kun melayang ke arah tirai, dan tentu aku mengarahkan pandanganku sejurus dengannya.

"Assalamualaikum.." Sapa seorang perempuan hingga membuatku terbelalak. Aku melongo sesaat, melihat perempuan berkulit putih dengan hidung mancungnya. Ia tersenyum manis, membuat kedua matanya menjadi segaris.

"Iren?" Tanyaku ragu. Pasalnya dulu dia adalah temanku memanjat pohon jambu, mencari anak katak di comberan, dan mengejar layangan putus.

"Jawab dulu dong Gam salam gue." Ucapnya hingga membuatku tertegun.

"Waalaikumsalam." Singkatku sambil memandangnya dengan takjub.

"Kok lu jadi cewek Ren? Dulu kan lu laki!" Ucapku seenaknya.

"Enak aja lu!!" Bentaknya padaku.

Aku lumayan kaget melihat perubahannya. Kini ia berhijab dan mengulurkan jilbab panjang ke dada dengan gamis manisnya. Mau manggil amoy seperti dulu jadi tidak enak.

"Kenapa melongo? Gue cantik ya?!" Guraunya mencairkan suasana.

"B*dooo!!" Balasku sambil memasang wajah mengejek. Biasanya kalau ku lakukan itu, dia akan menjulurkan lidahnya dan dengan cepat membuang wajahnya dariku. Tapi sekarang, dia nampak anggun dan menjaga sikap.

"Lu ngapain gak sekolah? Ini kan hari selasa?" Sergapnya padaku.

"Lu juga kenapa? Jam sebelas udah pulang?" Balasku.

"Guru kami ada rapat tadi.. Jadi jam sepuluh gue udah pulang." Aku mengernyit, bukan karena mendengar jawaban Iren, tapi lebih pada melihat Kun yang berada di sisinya.

"Ini cantik, tapi sama kayak Dara." Ujarnya sambil menunjuk ke arah Iren. Aku mengernyit, tak tahu apa maksudnya.

"Biasa aja sama kamu.. Hihihiii..." Ucapnya terkikik. Senang sekali dia kalau ada perempuan yang tak menyukaiku. Apa karena jarang? Kan hampir semua perempuan akan menyukaiku kalau bertemu.

"Ngapain lu kesini?!" Bentakku pada Iren tanpa ku sadari, padahal aku bukan kesal padanya, tapi pada Kun.

"Kok nyolot sih!! Yaudah kalau gak mau di samperin!! Genei!! (Bod*h!!)" Bentaknya dengan ketus padaku. Aku menggaruk kepala karena bingung. Harus bilang apa nih?? Kenapa perempuan cepat sekali marahnya. Aku benar-benar tidak sengaja tadi.

"Gue ke sini rencananya mau ajak elu jalan, bareng kakek-nenek lu.. Ke tempet deket kota. Ada pantai, ada benteng!" Terangnya hingga membuatku tertegun.

"Naik apa?"

"Naik motor lah, masak terbang kayak kuntilanak!!" Sahut Iren ketus hingga membuat Kun terperangah.

"Itu saya!! Kenapa sebut-sebut?!" Keluh Kun dengan wajah kesalnya.

"Gue boncengin nenek lu, elu boncengin kakek lu." sambung Iren lagi.

"Motor gue gede!"

"Banyak alasan deh! Lu kan jarang-jarang datang ke sini! Jadi pengen gue ajak jalan-jalan." Aku memiringkan bibir sembari berpikir.

"Jam berapa?" Iren pun melihat jam yang ada di ponselnya.

"Sorean ya.. Abis ashar."

"Oke." Singkatku.

"Yaudah, entar gue ke sini bawa motor. Elu siap-siap yaa, gak usah dandan!"

"Lu kira gue banci?!" Balasku diiringi dengan tertawaannya.

"Emang benteng apaan sih, Ren?"

"Ada deh, benteng tua.. Bekas peninggalan belanda." Ucap Iren hingga membuat Kun tiba-tiba tersedak.

"Beneran mau ke sana?" Tanya Kun kaget, dan aku tak tahu apa yang membuatnya seperti itu.

"Baru di sebutkan saja, saya sudah merasakannya." Aku mengernyit sambil mengatakan 'Apa?' tanpa suara.

"Di sana... ada banyak!" Singkatnya. Dan entah kenapa, tiba-tiba kepalaku menjadi sedikit pusing mendengar perkataan tak jelas dari Kun.

Perasaan macam apa ini?

.

.

.

.

Bersambung...

.

.

.

Note author :

Jangan lupa yaa, hari ini update 2 bab..

jam 8, dan nanti siang jam 2, bakal update lagi..

Jangan sampai ketinggalan yaa...

Jangan lupa like dan komennya juga, serta vote dan rate5, biar author tambah semangat..

Terimakasih sudah mampir..

Happy reading!!! 🤗

Selamat hari raya idul adha bagi kalian yang merayakaaan~

1
Arlena Lena
cuman ada di cerita kun
Huda
Authorr.. izin tanyaa final season nya bisa di baca dimana yaa ? kalau memang udah terbit jdi novel dlm bentuk buku.. Saia akan pesan.. pliss thorr.. kasi tauu🙏😭 pengen banget tau ending nyaa
Huda
Alur cerita yang bener" ngajak mikir, banyak drama tapi gak dramatiss.. gak cuman hiburan tpi ada juga ilmunya..
Arlena Lena
Kun Kun bangkit 👻👻👻🌛🌜
zakia Aa
Jawa Jawa Jawa, selalu Jawa, tanah keramat emang, pasti identik sama hal hal yg berbau mistis dan horror..
zakia Aa
Hiks jadi ikut sedih juga,, aslinya Barend Otte itu baik... Buktinya dia gak mau jadikan keturunan laki lakinya tumbal untuk iblis itu karna pun dia aslinya sayang sama Kun yg emang notabennya anak kandungnya sendiri.. Cuma terpaksa aja karna emng resiko dari perbuatan dia yg bersekutu dengan iblis,, mengorbankan nyawa orang lain yg tak bersalah..bahkan pada akhirnya anaknya pun mati di tangannya sendiri,, dan dia menangis untuk itu.. RIP K.U.N ;;(
zakia Aa
Alah gaya lu Kun bilang aja karna ga mau ikut ngelindungin yg lain selain Agam, selama ini kan lu selalu pasang topeng dan pura pura di depan Agam, padahal aslinya lu sama sekali ga perduli sama mereka wkwk, lu cuma perduli sama Agam doang, niatnya sih udah berubah Kun tapi sifat lu masih sama wkwk
Rírís María
keren swkali thor 😍 dibalik ke jeniusan kun, agam dan maxim, author lahh yg paling jenius...
Rírís María
aku sampai menangis torr😭😭😭😭sad bangetttt
zakia Aa
Nah kan bener di sini Kun udh bener2 berubah, niatnya bukan lg memanfaatkan dan mengambil tubuh Agam sebagai wadah namun lambat Laun setelah kebersamaan mereka yg lama dan akrab membuat Kun mulai perlahan berubah, sekarang dia cuma mau sedikit lebih lama bersama dengan Agam, niatnya sih baik, cuma caranya salah. Kun sengaja bertele tele dan menghindari semua kemungkinan keberhasilan clue nya agar misi ini tidak cepat selesai, karna apa? Ya karna Kun ingin lebih lama bersama Agam, hanya dengan Agam yg sudah seperti saudara sendiri.. Terharu campur sedih sih sama keinginan Kun..tapi tetap aja,, Kamu jd terkesan egois dan mementingkan diri sendiri karna seolah tengah mempermainkan Agam dan kasus ini, padahal harusnya bisa langsung di tuntaskan saja karna Kun sendiri memang dari awal sudah tahu semuanya, tp balik lagi.. Dia gak mau semuanya cepat berakhir, karna setelah misi ini tuntas, tentunya dia akan kembali ke kodrat dan alamnya sendiri dan pergi meninggalkan Agam.. Oh..Kun..;'(((
zakia Aa
Iya seru bgtt udah jenius Sholeh LG masyaallah
zakia Aa
Oke fiks di sini Kun udah mulai berubah dan gak pura pura LG kyk dlu, niatnya bukan lg kyk dlu tp udh berubah ke arah yg lebih baik, ya..meski cuma buat Agam, dia GK berubah sama yg lain, masih pura2 di depan Agam dan cuma baik sama Agam aja..
Januar Kansil Harimisa
👍👍👍
zakia Aa
Owh disini Kun belum berubah ya dia masih ngungkit masalah tukaran ludah, berarti dia belum berubah dan masih pura pura hmm keren keren Thor keren bgtt ceritanya! love ittt😍
senja
idiih ga sadar diri.. lu juga cebol Kun🤣🤣✌️
Yosdi Hendra
lebih dr 1,tak lebih dr 2 dan kurang dr 3 (kalau ada jalan berliku kenapa harus jalan pintas)
Yosdi Hendra
ini kedua kali nya aku baca novel kun,tetap aja banjir air mata baca part ini
Arlena Lena
sy sudah berkali kali baca novel ini, Krn gabut, cumn jarang komen😁
Yosdi Hendra
hah??? sama dgn thn kelulusan gw
senja
udah ke 3 kali ini baca cerita k.u.n dan tetep masih bikin merinding pas baca😅🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!