Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. FAJAR MEMBAWA JAWABAN
..."Di ujung malam yang panjang, ketika kegelapan hampir mencekik harapan, fajar datang membawa jawaban."...
...---•---...
Ia terbangun ketika ayam baru berkokok pertama kali.
Langit masih gelap, hanya ada sedikit cahaya kebiruan di ufuk timur. Tubuhnya masih lelah, otot-otot kaku, punggung nyeri. Tapi ada dorongan kuat yang tidak bisa diabaikan.
Mbok Supi. Dua puluh empat jam sudah hampir lewat.
Ia harus tahu. Sekarang.
Doni bangkit diam-diam, tidak ingin membangunkan Pak Karso dan keluarganya yang masih tidur. Tapi ketika ia keluar, ia menemukan Karyo sudah duduk di teras, tampak seperti baru bangun juga. Atau mungkin tidak tidur sama sekali.
"Aku tahu kau akan bangun pagi." Karyo tersenyum tipis, lelah. "Ayo, kita periksa Mbok Supi bersama."
Mereka berjalan cepat melewati kampung yang masih tidur. Hanya beberapa gubuk yang sudah ada cahaya pelita, orang-orang bangun paling pagi untuk mulai bekerja di sawah. Asap tipis mengepul dari tungku-tungku, aroma kayu bakar bercampur embun pagi.
Rumah Pak Wiryo sudah terang benderang meskipun masih dini hari. Jelas tidak ada yang tidur semalam.
Ketika Doni masuk, Pak Warjo masih duduk di samping istrinya, posisi yang sama sejak kemarin malam. Mata merah sembab tapi masih terjaga. Jiman tertidur di pojok, tubuh meringkuk di atas tikar tipis.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Doni sambil mendekat, jantung berdegup lebih cepat.
Pak Warjo menoleh. Kelopak matanya bergetar. Bahu terkulai. Tapi bibirnya tertarik tipis, gemetar. Ada senyum di sana.
Senyum harapan.
"Demamnya mulai turun sejak tengah malam." Suaranya serak tapi ada nada lega. "Dia sempat buka mata tadi, panggil namaku. Suaranya lemah, tapi dia kenal aku."
Doni sentuh dahi Mbok Supi.
Masih hangat, tapi tidak seperti membakar kemarin malam. Perbedaannya jelas, seperti perbedaan antara bara dan api. Mungkin sekitar tiga puluh delapan derajat. Turun dua derajat.
Itu pertanda sangat bagus.
Ia raba nadi di pergelangan tangan. Masih cepat, tapi tidak seperti kuda lari. Mungkin sembilan puluh per menit. Turun dari seratus dua puluh semalam. Sistem kardiovaskular mulai stabil.
Doni buka perban hati-hati untuk periksa luka.
Bau busuk yang menusuk sudah tak tercium lagi. Yang tersisa hanyalah aroma daun sirih yang samar. Kemerahan di sekitar luka mulai memudar, berubah dari merah pekat menjadi merah muda pucat. Tak ada nanah baru yang keluar, juga tak ada cairan berbau. Garis-garis merah tanda infeksi di pembuluh getah bening masih tampak, namun tak lagi memanjang, malahan tampak mulai memudar.
Tepi luka yang dibersihkan kemarin terlihat jauh lebih sehat. Mulai tumbuh jaringan granulasi tipis, berwarna merah muda dan bertekstur kasar, pertanda pertama bahwa tubuh mulai menyembuhkan diri.
"Ini bagus." Doni tidak bisa tahan senyum. "Sangat bagus. Infeksinya mulai terkendali. Ramuan dan pembersihan luka kemarin berhasil. Sistem imunnya menang."
Pak Warjo langsung rebahkan kepala ke lantai dalam sujud syukur yang dalam. Tubuhnya bergetar seluruhnya. Suara isakannya pecah, suara yang terlalu lama dikubur, terlalu lama ditahan agar terlihat kuat.
"Terima kasih... terima kasih. Kau sudah selamatkan istriku dua kali."
Air mata mengalir di pipi berkerut. Tangan tua itu cengkeram lantai, buku jari memutih. Tangis lega. Tangis syukur. Tangis lelah dari malam yang panjang.
"Belum selamat sepenuhnya," Doni ingatkan, suaranya lembut. Ia sentuh bahu Pak Warjo, gerakan kecil tapi penuh empati. "Dia masih harus lewati fase penyembuhan. Infeksi bisa kembali kalau perawatannya tidak konsisten. Tapi yang paling berbahaya sudah lewat. Fase kritis sudah terlampaui."
Jiman terbangun karena suara tangis ayahnya. Matanya yang masih sembab langsung buka lebar. Lihat ekspresi Doni, ia langsung mengerti. "Ibu akan baik-baik saja?"
"Kemungkinan besar, ya." Doni tersenyum. "Dia lewati malam paling berat. Sekarang tubuhnya sudah mulai menang lawan infeksi."
Pemuda itu langsung peluk ayahnya, pelukan erat, putus asa, lega. Mereka berdua menangis bersama, tangis yang tidak malu, tidak ditahan. Karyo berdiri di samping Doni, tepuk bahunya bangga.
"Kau lakukan lagi," bisik Karyo.
Doni geleng. "Bukan aku. Tubuhnya sendiri yang berjuang. Aku hanya beri kesempatan bagi sistem imunnya untuk menang."
Tapi Karyo tetap menatapnya dengan kagum.
...---•---...
Berita tentang pemulihan Mbok Supi menyebar secepat berita tentang sakitnya, mungkin lebih cepat. Sebelum matahari terbit penuh, sudah ada sekelompok orang di luar rumah Pak Wiryo.
Ketika Doni keluar, mereka langsung mendekat, wajah bersemangat.
"Benarkah dia sudah membaik?"
"Infeksi seberat itu bisa sembuh?"
"Bagaimana caranya?"
Doni angkat tangan minta ketenangan. "Mbok Supi sudah lewati fase kritis, tapi masih butuh perawatan intensif beberapa hari ke depan. Jadi tolong jangan terlalu ramai di sini. Biarkan dia istirahat. Ketenangan juga bagian dari penyembuhan."
Orang-orang mengangguk mengerti, meski tidak langsung bubar. Mereka bertanya tentang berbagai penyakit, minta saran, bahkan ada yang langsung tunjuk luka atau keluhan mereka.
"Hari ini aku masih akan di balai kampung," Doni umumkan dengan suara lebih keras. "Kalau ada yang sakit, datang ke sana. Akan lebih tertib."
Kerumunan akhirnya bubar. Doni tangkap sebagian pembicaraan mereka:
"Dia benar-benar punya ilmu tinggi."
"Aku dengar dia bisa lihat penyakit di dalam tubuh tanpa buka kulit."
Spekulasi-spekulasi itu bikin Doni tersenyum geli.
Kalau saja mereka tahu kebenarannya.
Pak Wiryo keluar, wajahnya segar. "Hari ini akan lebih ramai lagi di balai. Aku dengar ada rombongan dari kota akan datang. Mereka dengar tentang tabib ajaib yang bisa sembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan orang lain."
Tabib ajaib.
Julukan itu makin melekat. Doni tidak yakin ia suka, buat ekspektasi terlalu tinggi, buat orang pikir ia bisa sembuhkan segalanya. Tapi ia juga tidak bisa tolak. Julukan datang dari orang-orang, bukan dari dirinya sendiri.
Dan di dunia ini, reputasi adalah kekuatan. Tapi juga bisa jadi belenggu.
"Kalau begitu kita harus lebih siap," katanya. "Apa persediaan obat-obatan masih cukup?"
"Istri dan anak-anakku sudah kumpulkan berbagai tanaman obat sejak kemarin sore," jawab Pak Wiryo. "Dan beberapa orang kampung juga sumbang. Ada yang bawa madu dari sarang lebah hutan. Ada yang bawa rempah-rempah, jahe merah, kunyit. Mereka ingin bantu."
Hati Doni tersentuh. Orang-orang miskin ini, yang sendiri hampir tidak punya apa-apa, rela berbagi dengan sesama yang lebih butuh.
"Sampaikan terima kasihku pada mereka semua," katanya tulus. "Katakan aku sangat hargai bantuan mereka."
...---•---...
Matahari sudah sepenuhnya terbit ketika mereka tiba di balai kampung. Dan Pak Wiryo benar, hari ini jauh lebih ramai. Antrian sudah mengular keluar dari teras, sampai ke jalan, bahkan sampai pohon beringin besar di ujung kampung. Ada orang-orang dengan pakaian sedikit lebih baik, bukan petani atau buruh kasar. Kain batik lebih halus, rambut disisir rapi. Kemungkinan pedagang atau pegawai rendahan dari kota.
Bambang sudah di sana dengan buku catatannya, coba atur antrian. Tapi ia terlihat kewalahan, wajahnya berkeringat, suara mulai serak.
"Kang Doni!" Ia lambaikan tangan lega. "Sudah dari subuh orang-orang datang. Bahkan ada yang dari kota sebelah, jalan kaki sejak tengah malam. Aku hampir tidak bisa atur semuanya sendiri."
"Aku bantu." Karyo langsung ambil alih, suaranya keras tegas. "Tertib! Semua harus tertib! Yang sudah daftar kemarin tapi belum sempat diperiksa, duluan! Yang baru datang hari ini, tunggu di belakang! Tidak ada yang boleh serobot!"
Ada beberapa protes, terutama dari orang-orang berpakaian lebih baik yang merasa seharusnya didahulukan. Tapi otoritas dalam suara Karyo dan dukungan Pak Wiryo buat orang-orang patuh. Perlahan antrian jadi lebih teratur.
Doni masuk ke ruang pemeriksaan. Istri Pak Wiryo sudah siapkan semua ramuan dasar dengan rapi, deretan mangkuk berisi rebusan berbagai tanaman, kain-kain bersih dilipat rapi, air bersih dalam kendil. Bahkan ada beberapa botol kecil kosong untuk kemas ramuan bagi pasien yang perlu bawa pulang.
"Terima kasih, Bu." Doni berkata penuh syukur. "Kalian semua sangat bantu. Tanpa kalian, aku tidak bisa lakukan ini."
Perempuan itu tersenyum, senyum ibu yang tulus. "Ini yang seharusnya kami lakukan. Kau sudah tolong banyak orang. Ini giliran kami tolongmu. Dan lagi, lihat orang sembuh itu bikin hati senang. Itu sudah bayaran bagi kami."
Doni duduk di bangku kecil, ambil napas dalam.
Hari yang panjang lagi dimulai. Tapi entah kenapa, meskipun lelah, aku merasa lebih hidup dari sebelumnya. Lebih berguna. Lebih bermakna.
Ini tujuannya. Ini mengapa aku jadi dokter sejak awal.
Bukan untuk uang banyak, bukan untuk status tinggi, tapi untuk momen-momen seperti ini. Ketika aku bisa buat perbedaan nyata dalam hidup orang lain. Ketika pengetahuanku bisa selamatkan nyawa. Ketika tanganku bisa ringankan penderitaan.
Di dunia modern penuh teknologi, kadang aku lupa perasaan ini. Terlalu banyak prosedur, terlalu banyak birokrasi, terlalu fokus pada efisiensi dan profit.
Tapi di sini, di kampung sederhana ini, aku temukan kembali esensi murni dari profesinya.
"Bambang," ia panggil. "Panggil pasien pertama."
Dan pertarungan lawan penyakit di kampung kecil ini pun berlanjut.
...---•---...
Di rumah Pak Wiryo, Mbok Supi buka mata perlahan. Pandangan masih kabur, kepala masih pusing, tapi demam sudah jauh berkurang. Ia lihat suaminya tertidur di sampingnya, kepala sandar ke dinding, tangan masih genggam tangannya.
Ia tersenyum lemah.
Masih hidup.
Masih bisa lihat matahari pagi.
Masih bisa rasakan kehangatan tangan suaminya.
Itu sudah cukup.
Tapi di ujung antrian panjang yang menunggu di balai kampung, dua orang berdiri dengan tatapan yang berbeda dari yang lain.
Seorang pedagang kaya dengan pakaian rapi, membawa anak yang sakit parah.
Dan seorang mandor Belanda dengan mata tajam seperti es.
Hari ini, takdir akan berbelok ke arah yang tidak pernah Doni bayangkan.
...---•---...
...Bersambung...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲