Latizia adalah wanita yang bersuami. Parasnya yang cantik dan nyaris sempurna melekat tapi tak bisa merubah kenyataan rumah tangganya.
Ia harus menerima kepahitan saat melihat suaminya bercinta dengan wanita lain di kamarnya sendiri.
Tibalah suatu malam Latizia tak sengaja menyaksikan hubungan panas kakak iparnya bersama istri pria itu.
"Kau pasti juga ingin merasakannya, bukan?!" Desis sesosok pria bertubuh kekar tinggi yang tengah membekapnya dalam kegelapan.
Sejak saat itu Latizia terlibat hubungan terlarang dengan kakak iparnya yang bahkan lebih bengis dari sang suami. Pria itu menekankan jika hubungan mereka hanya sekedar saling memuaskan dan terlepas dari masalah apapun, pria itu tak ingin ikut campur.
Bagaimana nasib Latizia selanjutnya?! Mampukah ia terus bertahan dengan hubungan terlarang dirinya dengan pria bangsawan itu?!
......
Tinggalin like, komen and subscribe-nya ya say..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukankah kau depresi?
Siang ini adalah tepatnya peringatan hari pernikahan Raja Barack dan Ratu Clorris. Kerajaan seketika di sulap bak negeri dongeng dimana Madison yang terkenal dengan kemegahan dan tanah batunya yang mahal di pertontonkan pada tamu yang hadir.
Berbagai keluarga bangsawan lain datang. Mereka tak berhenti memasuki gerbang yang sudah di bentang karpet merah bertabur bunga dan mulai berkumpul di aula istana yang megah.
Semua keluarga yang hadir sibuk memberi selamat pada Raja Barack dan Ratu Clorris yang tengah menyapa para kerabat dekat kerajaan.
"Raja Barack! Selamat atas hari pernikahanmu!"
"Terimakasih! Nikmati pestanya!" Ucap Raja Barack beradu gelas dengan para utusan kerajaan terdekat dan beberapa teman lamanya.
Ratu Clorris terlihat bercengkrama elegan bersama salah seorang Ratu dari kerajaan Artefea yang termasuk orang penting bagi mereka.
"Ratu Artefea! Sepertinya putramu baru kali ini datang ke kerajaan kami," Ucap Ratu Clorris menatap seorang wanita paruh baya yang tampak memperkenalkan putranya.
"Yah, ini Ximus! Dia memang jarang ikut dalam acara seperti ini tapi, karna Ratu Clorris sendiri yang mengundang akhirnya dia rela datang!"
"Ouhh, manis sekali," Jawab Ratu Clorris menatap ramah Ximus pria dengan perawakan tinggi dan rambut pirang keemasan senada dengan warna matanya yang khas melambangkan orang dari kerajaan Artefea.
Pria itu terlihat seusia dengan Delvin. Dari segi jas mahal dan kerapian rambutnya, ia adalah pria perfeksionis dan teratur.
"Ximus! Jika aku punya putri perempuan, pasti sudah-ku kenalkan padamu, nak! Kau terlihat sangat dewasa dan bijaksana!"
"Terimakasih!" Singkat Ximus seadanya. Ia termasuk pria ramah tapi juga pemikir.
Sedari tadi ia mengamati kerajaan Madison yang memang sangat besar dan penuh kesempurnaan.
Ximus saling pandang dengan Raja Hanzo yang merupakan ayahnya. Tatapan yang hanya bisa di pahami oleh ayah dan anak.
"Mom! Aku akan menyapa yang lain!" Pamitnya pada sang ibu dan Ratu Clorris yang menganggukinya.
Ximus berjalan mendekati Delvin yang tengah bicara dengan beberapa tamu ayahnya.
"Permisi!" Sapanya dan tentu Delvin langsung memandangnya.
"Kau.."
"Ximus! Kerajaan Artefea!" Sela Ximus mengulurkan tangan. Delvin tak segan untuk menjabat dengan akrab karna ia kenal dengan kerajaan besar penghasil mutiara terbaik ini.
"Delvin! Senang berkenalan dengan pangeran dari kerajaan besar sepertimu."
"Yah, aku dengar hari ini pengumuman putra mahkota Madison, benar?" Tanya Ximus melepas jabatan tangannya dengan Delvin yang mengangguk.
Ia memindai penampilan Ximus dari atas sampai bawah dan semuanya menunjukan kelas yang tinggi.
"Yah, dan aku rasa kau tahu putra mahkota yang di maksud, hm?"
"Ouh, yah! Tentu," Jawab Ximus mengangguki itu. Ia melihat Delvin tak begitu pandai membaca niat seseorang. Pria ini terlalu buru-buru dan ceroboh, tapi itulah bagian intinya.
Ximus terus diam mengamati interaksi Delvin dengan orang-orang di sekitarnya sampai pandangan Ximus tertuju pada satu sosok yang sedari tadi memang sangat mendominasi tapi tak berani di dekati.
"Bukankah dia putra pertama Raja Barack?!" Batin Ximus melihat Milano yang duduk di kursi paling sudut di dampingi minuman di tangannya.
Wajah tampan pria itu terlihat kurang bersahabat bahkan sangat tidak ramah. Beberapa orang di sekitar kursi itu sampai menjauh karna hawa di sekitar Milano membuat jantung manusia tak nyaman.
Ximus cukup merasa penasaran. Ia mengambil satu gelas di nampan satu pelayan yang lewat di dekatnya, lalu mendekati Milano yang tampak duduk bertopang kaki angkuh dengan tatapan datar tak berminat pada siapapun.
"Permisi!"
Sapanya dengan kehangatan menyebar. Milano tak memandang Ximus bahkan ia hanya fokus pada gelas minumnya.
"Keangkuhan pria ini sangat mendominasi. Dia juga punya aura yang kuat. Berbeda dengan Delvin," Batin Ximus melirik Delvin yang tengah sibuk menjadi penjilat.
"Kau sepertinya tak nyaman dengan pesta ini. Aku juga!" Ucap Ximus ingin duduk di kursi dekat Milano tapi lirikan mata tajam dan mematikan itu membuat Ximus terhenti bergerak.
"Kau..sungguh sulit di dekati."
Milano tak tertarik untuk menjawab. Ia banyak diam tapi tak dipungkiri Ximus sulit membaca karakter dari dirinya.
"Aku dengar nanti akan ada pengumuman putra mahkota penerus tahta. Menurutmu, siapa yang akan naik?"
"Tingkatkan lagi cara menggali informasi-mu," Datar Milano menegguk gelas terakhirnya dengan wajah sangat stabil penuh pengendalian.
Ximus diam. Ia tersenyum kecil seraya menikmati wine di gelasnya. Ia menatap orang-orang di sekitar mereka lalu kembali melihat Milano yang tak bisa di kibuli.
"Aku rasa tahta itu milikmu!"
"Sayang!"
Putri Veronica yang datang berjalan mendekat ke sini. Ximus melihat Milano tak begitu merespon bahkan pria ini masih tetap begitu dingin dan sangat acuh.
"Rumah tangga yang membosankn," Bisik Ximus pada Milano. Ia tersenyum menyambut putri Veronica yang langsung memeluk lengan Milano mesra.
"Pangeran Ximus?"
"Yah, pemburu wanita cantik," Kelakar Ximus tersenyum agak nakal untuk melihat respon Milano dan pria itu masih tetap setia dengan wajah bekunya.
Putri Veronica yang tertarik dengan Ximus segera mengulur tangan lebih dulu.
"Veronica dari kerajaan Sauveron!"
"Ouh, nama yang cantik dan penuh keindahan!" Puji Ximus menjabat tangan putri Veronica yang tersenyum puas akan pujian yang di lontarkan Ximus.
Milano diam tapi sudut bibirnya tertarik sempit seperti mengejek perkataan Ximus barusan.
"Sayang! Ayo bergabung dengan keluargaku!"
"Minuman ini cukup nikmat," Gumam Milano berdiri ingin pergi ke lain arah tapi tiba-tiba saja terdengar suara riuh di depan aula.
Media yang tadi tengah sibuk mengabadikan momen pesta ini mulai bergejolak. Mereka seperti memburu sosok yang baru datang bahkan para tamu undangan yang ada di depan tampak berbisik.
"Bukankah itu Putri Latizia!"
"Tapi, rumor menyebar dia dalam keadaan depresi!"
Ucap mereka kebingungan. Milano tertahan untuk tetap disini. Matanya terus memandang seakan mencari cela diantara orang-orang yang tengah berdesakan.
"Tapi..tapi dia sangat cantik!"
"Lihatlah, aku tak pernah melihatnya secara langsung dan ternyata ini gila!!"
Decah para laki-laki yang ada bahkan wanita yang melihat sosok itu sampai ikut penasaran.
Milano diam terpaku kosong kala kaki jenjang seseorang sudah mengibaskan bawahan gaunnya dengan sangat elegan melangkah masuk di tengah-tengah semua tamu undangan.
Delvin terperangah tak percaya melihat Latizia datang dengan tampilan berbeda. Dia hadir seperti pertama kali bertemu dulu.
Putri kerajaan Garalden yang terkenal akan kecantikan dan keindahan sesuai keunggulan wilayahnya.
Latizia berdiri di dampingi dua pria paruh baya yang tak asing. Itu adalah dua orang kepercayaan Raja Garalden dan tampak bersiaga.
"Putri!"
"Dia putri Latizia!"
Syok mereka tak bisa mengerti ini. Latizia yang tampak sangat cantik dengan gaun berwarna merah panjang tanpa lengan itu bagai sekuntum mawar yang tengah menjadi rebutan.
Tatapan ungu mistik itu semakin beraura dalam penuh daya pikat. Latizia tak pernah merias diri sampai seserius ini. Ia menonjolkan setiap sisi di tubuhnya tapi juga menggunakan mantel bulu yang tak sepenuhnya ia kenakan.
Hanya sebagai pelengkap di kedua lengan dan punggungnya seakan memamerkan garis bahu dan kulit mulus yang mengagumkan.
"Putri Latizia!"
"Sudah lama tak melihat anda. Bagaimana kabarmu?"
"Apa benar kau mengalami masa depresi yang berat? Malam ini kau sungguh luar biasa."
Tanya para media mengarahkan kameranya ke arah Latizia yang tersenyum. Sebelum menjawab ia lebih dulu menatap Delvin beralih pada Raja Barack lalu Ratu Clorris yang masih mematung.
"Massa depresi. Apa aku pernah mengatakan itu?" Tanya Latizia dengan gestur yang sangat halus dan penuh didikan.
"Tapi, suamimu mengatakan jika kau mengalami depresi berat atas kematian kedua orang tuamu."
"Benarkah? Aku tak tahu soal itu. Selama ini aku merasa cukup baik dan sehat," Jawab Latizia saling pandang bingung dengan dua pria di dekatnya.
Delvin mulai merasa terancam akan jawaban Latizia. Ia tak sengaja menatap Milano yang tampak tersenyum kecil tapi tatapan mata pria itu tak berkedip memandang nona depresinya yang sedang membuat kejutan.
"Ini pasti ulahnya," Geram Delvin ingin mendekati Milano tapi Latizia langsung memanggilnya.
"Suamiku!"
Delvin langsung memasang wajah hangat. Ia berjalan mendekati Latizia yang segera menggandeng lengan Delvin mesra.
"Aku tak mengerti yang mereka bicarakan. Bukankah selama ini aku baik-baik saja dan kau tahu itu, lalu kenapa kau mengatakan aku depresi?"
"Sayang! Aku tahu batinmu dan tak akan pernah membiarkan kau mengalami masa sulit," Jawab Delvin mengusap pipi Latizia lembut.
Latizia masih tampak tenang tetapi tidak dengan Milano. Raut wajahnya langsung berubah pias dan padam saat pipi mulus wanita itu di sentuh mesra di hadapan banyak orang.
Ximus bisa melihat perubahan Milano. Jika dengan Veronica pria ini tak peduli tapi Latizia?.. emm ini sangat menarik, pikir Ximus tersenyum tipis menegguk wine di gelasnya.
....
Vote and like sayang..