Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Namun bagaimana jika seseorang di tuntut untuk selalu sempurna?
Arkabian Selat Muara. Ketua besar dari ALTARES Gang. Laki-laki yang memiliki paras hampir sempurna di SMANBA. Hal yang paling tidak ia sukai adalah, ada orang yang mengusik kehidupannya.
**
"Menurut lo cinta itu apa?"
"Cinta itu luka, cinta itu sakit. Dunia itu jahat Lun, kita dipertemukan oleh semesta tapi tidak ditakdirkan bersama."
Akankah kehadiran seseorang mampu membuat Arka berubah? Yuk baca dan pergi ke dunia Arka»
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ejubestie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Hari Nara dan Reza
Sebuah gedung cantik dengan hiasan serba pink, dan terisi penuh oleh orang-orang penting.
Tersaji banyak makanan yang terbilang cukup mewah. Jangan heran karena Reza termasuk golongan orang terkaya setelah orang tua Arka.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan saudara Reza Selaka Graha dengan Kianara Artalita dengan seperangkat alat sholat dan sejumlah uang seratus milyar serta satu unit apartemen dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Kianara Artalita binti bapak David dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," dengan sekali tarikan nafas Reza mengucapkan ijab qobul dengan lantang dan jelas.
"Gimana para saksi? Sah?"
"Sah."
"Alhamdulillah."
Semua yang hadir merasakan bahagia melihat pengantin baru di depan sana. Luna bahkan hampir menangis melihat sahabatnya sudah menjadi istri orang. Setiap orang pasti akan meninggalkan kita satu persatu, hanya saja prosesnya berbeda setiap orang.
Sekarang acaranya tinggal bersalaman dan makan-makan. Karlo cowok itu sudah mulai makan sedari tadi, bahkan saat penghulu mengucapkan ijab, Karlo sudah mulai makan.
"Hai bestie," teriak Luna memeluk Nara. "Cie udah jadi istri orang, selamat ya." kata Luna merasa terharu.
Nara melepaskan pelukannya, "Makasih, Luna. Oh ya disamping lo siapa?" tanya Nara saat melihat Luna datang dengan orang asing.
"Kenalin ini namanya Bayu." kata Luna lalu memperkenalkan sahabat nya, "Dan Bayu, kenalin ini sahabat gue namanya Nara."
Nara menyalami Bayu lalu belum lama tangannya di tarik oleh Reza yang sekarang notabenya suami gadis itu. "Kenapa, Za?" tanya Nara. Namun cowok itu hanya menatap tajam cowok di depannya.
Tiba-tiba dari belakang inti ALTARES lainnya menghampiri Nara dan Reza bermaksud untuk memberi selamat.
"Lo ngapain disini?" tanya Nisa tidak suka.
"Mau rencanain apa lagi lo buat ngalahin ALTARES?" kata Razi ikut-ikutan.
"Tunggu-tunggu ini maksudnya apa, gue nggak ngerti?" kata Nara bingung.
"Dia ketua DRAGON musuh dari ALTARES, dia juga yang nyulik Luna waktu itu." jelas Devano.
Bayu menatap mereka semua dengan malas, "Gue kesini cuman nemenin Luna, bahkan Luna sendiri yang ngajak gue."
Seakan tidak percaya, semua orang sekarang menatap Luna seakan menuntut penjelasan dari gadis itu.
Luna menghembuskan nafasnya pelan.
"Iya gue yang ngajak dia kesini." jawab Luna.
"Lo udah nggak waras ya, Lun." Nara menggelengkan kepalanya heran.
"Betul tuh. Bu bos nanti bisa dicelakai sama tuh cowok," ucap Karlo pada Luna.
Luna menggeleng, "Gue tau dalam diri Bayu, masih ada sisi baik yang dia punya. Nggak selamanya orang jahat bakalan tetap jahat kan?"
Bayu yang mendengar itu merasa tersentuh. Ia tidak pernah mendengar seseorang yang membela dirinya, Bayu merasa tidak pantas untuk sekedar menyukai gadis itu. Luna itu sempurna, gadis itu terlalu baik buat Bayu.
"Tapi ini Bayu, Lo—"
"Biarin dia mau sama siapa!"
Arka datang dan memotong ucapan Okta. Cowok itu berjalan menghampiri mereka dengan Lolly yang menggandeng lengannya. Cowok itu nampak melirik Luna sebentar lalu fokus pada ALTARES.
"Nggak usah ikut campur sama urusan tuh cewek. Biarin dia mau sama siapa aja, peduli apa kalian? Yang terpenting tuh orang nggak bakalan ganggu ALTARES lagi." kata Arka masih enggan menatap Luna.
"Tapi, Ka, dia Bayu. Dia bisa aja ngerencanain sesuatu di luar dugaan kita. Bisa aja dia—"
"Kenapa memangnya?" tidak, itu Luna yang memotong omongan Razi. "Kenapa kalau gue dekat sama dia? Karena dia punya masalah sama kalian, jadi kalian mikir yang jelek-jelek tentang dia, iya?"
Luna maju satu langkah dan menatap tepat di mata Arka. "Lalu apa bedanya dengan lo, Arka. Lo juga dekat sama Lolly, adik dari musuh bebuyutan lo. Apa Lo nggak curiga, kalau Lolly punya rencana buat ngehancurin ALTARES? Atau bisa saja Lolly adalah mata-mata dari geng nya Bayu."
Arka merasa tersudut dengan kata-kata panjang yang Luna ucapkan. Dirinya tidak berpikir sampai sejauh itu, sesaat cowok itu terdiam lalu melepas tangan Lolly yang masih menggandeng lengannya.
"Gimana, nggak bisa jawab kan?" baru pertama kali Luna berdebat panjang lebar dengan Arka. Luna hanya tak habis pikir tentang pola pikir mereka semua, bisa-bisanya mereka berpikiran seperti kanak-kanak.
"Nara, gue balik dulu ya. Sekali lagi selamat semoga langgeng sampai kakek nenek." kata Luna yang diangguki oleh Nara.
Luna lalu mengandeng Bayu, "Bayu, ayo kita pulang." Cowok itu nampak terkejut, namun setelahnya ia tersenyum pada Luna.
Arka. Cowok itu mengepalkan tangannya menandakan ia tidak suka. Arka pergi meninggalkan acara ini dan meninggalkan Lolly yang terus memanggil namanya Alfin.
"Arka, mau kemana?" teriak Lolly namun Arka berpura-pura tidak mendengar dan terus melanjutkan langkahnya. "Arka, Tunggu!" Lolly mengejar cowok itu.
"Arka, kenapa?" tanya Okta yang melihat cowok itu pergi begitu saja.
"Ciri-ciri orang cemburu tapi gengsi tuh," jawab Devano.
...*******...
Arka mengendarai motornya dengan kecepatan penuh dan meninggalkan Lolly sendiri. Dadanya naik turun menahan amarahnya. Banyak sekali umpatan dari pengendara lain karena Arka melaju secara ugal-ugalan.
"Argh, gue benci sama lo!" teriak Arka di sela-sela cowok itu menyetir.
"Arka, berhenti!" teriak Gilang yang entah dari mana datangnya. Cowok itu mencoba mengejar Arka yang gila saat berkendara.
Arka seakan tuli, cowok itu justru mempercepat laju motornya. Ia tidak peduli jika terjadi sesuatu pada dirinya nanti. Arka benar-benar gila.
Walaupun susah, akhirnya Gilang bisa menyalip Arka dan menghadang cowok itu. "Arka, turun." kata Gilang memerintah.
Arka melepaskan helmnya dan menuruti perintah Gilang. "Mau lo apa?"
"Bahaya kalau lo berkendara kaya gitu, Arka. Kalau ada masalah cerita nggak kaya gini." kata Gilang mencoba menenangkan Arka.
Arka tertawa mendengar itu.
"Cerita? Emang ada yang mau dengerin cerita gue?" Satu-satunya orang yang mau mendengarkan cerita Arka adalah neneknya tidak ada selain dia.
"Gue ini kakak lo, lo bisa cerita sama gue, Arka." kata Gilang. "Gue nggak mau lo kenapa-napa,"
"Kenapa?" Arka menaikan alisnya.
Gilang menepuk pundak Arka, "Karena gue sayang sama lo, Ka. Gue mau lo nganggap gue sebagai kakak lo."
Arka melepaskan tangan Gilang dengan kasar.
"Buat apa? Lo udah punya segalanya. Keluarga, prestasi, dan lo juga bakalan menjadi pewaris ayah." kata Arka tersenyum miris. Sejak kecil Arka memang kurang perhatian dari ayahnya, pria itu selalu memprioritaskan Gilang dari pada dirinya.
"Lo salah, Ka." kata Gilang lalu menundukkan kepalanya. "Jika lo lihat hidup gue enak, lo salah besar. Gue selalu di tuntut belajar sama ayah, gue nggak pernah di izinin main sama teman-teman gue, gue nggak bisa hidup bebas kayak lo."
"Dan satu lagi, gue pergi kuliah dan nerusin bisnis ayah itu karena lo, Arka. Gue nggak mau lo mikul beban ini, gue tau cita-cita lo tinggi dan nggak mungkin lo mau terperangkap dengan bisnis ayah selamanya kan." kata Gilang panjang lebar.
"Jadi?"
"Jadi gue ngelakuin ini semua demi lo, Arka."
semangat kak... ☺