Semua bermula dari keisengan dan kenakalan remaja SMA, sosok Pandu lelaki badboy terpaksa menikahi teman wanita yang sering ia bully.
Pernikahan yang tidak dilandasi rasa cinta melainkan karena sebuah tanggung jawab karena Pandu telah membuat gadis tersebut buta untuk selamanya.
Akankah kedua musuh ini akan menemukan cinta setelah menikah? Dapatkah Pandu mencintai gadis yang telah di buat buta olehnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keceplosan Sendiri
Dewi berencana akan kembali lagi ke rumah sakit malam harinya. Namun ketika sedang bersiap pergi, Rahmat datang ke rumahnya.
Bik Asih yang sudah membukakan pintu kemudian menyuruhnya masuk, sebenarnya Bik Asih ingin sekali langsung mengusirnya tetapi apa daya dia hanyalah pembantu yang tidak punya hak untuk mengusir, kecuali jika sebelumnya Dewi sudah menyuruhnya untuk mengusir.
Tetapi sebelum Bik Asih masuk kedalam dan memanggil Dewi, Wanita itu sudah berjalan ke depan dan membawa Tas.
Dewi terkejut dengan kedatangan Rahmat, apalagi posisinya dia sedang tidak membawa tongkat. Dengan cepat Dewi menyadari tingkahnya dan berpura-pura tidak dapat melihat
"Siapa yang datang Bik?" tanya Dewi pura-pura tidak tahu
Belum saja Bik Asih menjawab, Rahmat sudah menyelanya, "Mau kemana Wi? Aku antar ya?" tanya Rahmat kemudian menawarkan diri untuk mengantarnya
"Oh Kamu Mat, enggak deh nanti yang ada kamu manfaatin kekurangan aku lagi," terka Dewi
"Astaga, susah ya mau jadi orang baik. Aku serius mau antar kamu, sekaligus ada yang mau aku omongin," ucap Rahmat
"Jadi kamu mengakui kalau kamu selama ini jahat dan udah melecehkan aku?"
"Bukan gitu, makannya kita perlu bicara," ucap Rahmat
"Yaudah masuk, kita bicara sebentar aja karena aku mau pergi," ucap Dewi kemudian duduk dan berjalan perlahan agar tidak ketahuan.
"Disini?"
"Ya disini emang dimana lagi?"
"Tapi aku mau bicara berdua aja,"
"Bik, bisa kedalam sebentar?" pinta Dewi
"Oh iya Non," ucap Bik Asih
"Makasih ya bik," ucap Dewi seraya mengkode Bik Asih saat Rahmat sibuk melepas sepatunya. Bik Asih yang memperhatikan kode dari Dewi lantas menurutinya, ia mengambil handphone dan bersiap merekam dari jauh dengan bersembunyi di balik dinding.
Rahmat masuk, dia seperti melihat ke dalam mengamati jika sekitarnya aman, lalu duduk di samping Dewi dan menggenggam tangan Dewi yang ada di pangkuan Dewi sendiri.
"Jangan sentuh aku," ucap Dewi menepis tangan Rahmat
"Saat itu, aku sama sekali gak bermaksud melecehkan kamu Dewi...Kamu harus percaya sama aku,"
"Trus kamu pikir, Pandu sedang mengada-ada? Hah?"
"Karena dia gak tahu duduk permasalahannya, kamu pusing saat itu trus pingsan jadi aku bawa kamu masuk ke dalam. Kebetulan disana ada tempat tidurnya. Baru aja rebahan kamu si Pandu ini datang dan salah paham langsung tonjok aku Dew,"
"Itu bengkel kan katamu? Tapi kenapa ga ada peralatan bengkel,"
"Siapa bilang? Itu beneran bengkel,"
"Lalu di jalan apa lokasi bengkel itu?" tanya Dewi
Rahmat tak langsung menjawab
"Kenapa gak bisa jawab?"
"Ya aku gak tahu alamatnya," ucap Rahmat
"Aku punya saksi yang saat itu datang ketempat lokasinya, Dia adalah sopir taksi dan dia sudah bercerita hal sebenarnya. Ada riwayat dimana dia berhenti di depan rumah kamu. Itu rumah lama kamu kan, rumah lama orang tua kamu yang kosong karena rumah itu mau disewakan. Jangan nipu aku deh mentang-mentang aku gak bisa lihat trus kamu masukin sesuatu ke minuman aku,"
"Aku gak masukin obat tidur ke minuman kamu Dewi,"
"Hah kamu ngaku juga akhirnya,"
"Apanya yang ngaku? Kan aku udah bilang ini kesalahpahaman. Itu beneran bengkel kok! Lihat aja kesana, itu bengkel dan ada peralatannya juga,"
Setelah ini aku harus beli perlengkapan bengkel di sana, batin Rahmat
"Aku gak pernah bilang apa yang di masukkan ke minuman aku, tapi kamu dengan sendirinya bilang kalau kamu gak masukin obat tidur didalam minuman aku. Kamu loh yang bilang obat tidur. Itu artinya kamu keceplosan dengan sendirinya. Dan kamu jangan coba-coba bilang itu bengkel, Temennya Pandu udah datang kesana, foto lokasinya, dan juga mencari tahu ke tetangga jika itu rumah milih Orang tua kamu. Aku yakin setelah ini kamu pasti cari peralatan bengkel disana kan? atau sewa orang beserta peralatannya," ungkap Dewi dengan segala terkaannya
Rahmat bungkam.
"Aku cuma mau kamu jujur, aku bisa kok maafin kamu," sahut Dewi sengaja memancing Pengakuan Rahmat. Sementara Bim Asih telah merekam semuanya
"Kamu... Kamu mau maafin aku Dew?"
"Ya selama kamu jujur," ucap Dewi
"Aku... minta maaf Dewi... Jujur saja aku beneran sayang sama kamu, kamu cantik dan aku kepengen nikah sama kamu. Tapi kamu malah nikah sama Pandu. Saat ada kesempatan, aku pengen bikin kamu jadi milikku seutuhnya, entah apa yang merasuki aku saat itu. Intinya aku ingin Pandu menceraikan kamu kalau tahu kamu udah tidur sama aku," Aku Rahmat
"Jadi kamu mengakui kalau kamu buka baju aku dan berkeinginan untuk meniduri aku begitu?" ucap Dewi marah
Rahmat mengangguk,
Plaaak.
Dewi menampar Rahmat dan mengakhiri sandiwaranya
"Ahh sakit Dew! Kok kamu nampar aku sih, Kamu bilang mau maafin aku?" ujar Rahmat
"Kamu brengsek dan pantas mendapatkannya! Siapa yang mau maafin pria mesum kayak kamu!" pekik Dewi sembari berdiri menunjuk dirinya
"Kamu bisa melihat? Kamu bohong ya kamu selama ini bisa melihat?"
"Aku baru bisa melihat lagi sejak kejadian tabrakan itu,"
"Aku terima tamparan kamu, tapi Aku harap kamu nepatin janji kamu Dew, kamu bilang mau maafin aku. Aku bakal tunggu hal itu. Aku turut senang dibalik tabrakan itu kamu jadi bisa melihat, semoga aja pengemudi mobil yang udah nabrak kamu itu ketangkep ya," ucap Rahmat
"Hah tahu dari mana kalau kecelakaan itu karena di tabrak mobil? Aku harap pengemudi yang melarikan diri itu segera masuk kedalam tahanan," ucap Dewi yang sangat yakin kalau Rahmat adalah pelaku sebenarnya
"Aku tahu dari teman-teman, makannya aku juga tahu kalau Pandu di rawat. Ya semoga pelakunya tertangkap," ucap Rahmat menambah kebohongannya
Dewi merasa tidak pernah memberitahukan kecelakaan itu pada temannya, tapi Dewi belum bertanya pada bik Asih. Usai Rahmat pulang, Dewi langsung menanyakannya.
"Bik, apa bibik cerita ke teman-teman Dewi kalau Pandu dan Dewi kemarin kecelakaan?" tanya Dewi
Bik Asih menggeleng, "Enggak non, nomer telepon teman-teman non saja bibik tidak tahu. Yang menelepon ke rumah juga tidak ada,"
"Dasar Rahmat pembohong," gumam Dewi
Setelah itu Dewi dan Bik Asih pergi ke rumah sakit untuk menemani Pandu.
/Facepalm/
/Facepalm/
/Facepalm/
/Facepalm/
terima kasih banyak buat novelnya /Kiss/