Abizar dan Annisa menikah atas dasar perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ayah Abizar sengaja menikahkan Abi dengan wanita pilihannya agar Abizar bisa berubah.
Setelah menikah, Abizar diminta sang ayah untuk mandiri. Bahkan orang tuanya memutus semua fasilitas yang pernah mereka berikan agar Abi tidak bermalas-malasan lagi. Annisa menerima pernikahan tersebut dengan ikhlas, walau suaminya jatuh miskin.
Bagaimana cara Abi untuk bertahan hidup bersama istrinya? Akankah tumbuh perasaan cinta di antara Abi dan Nisa seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diremehkan
"Mas Abi," panggil Annisa.
"Sayang, sini aku kenalin sama teman kerja aku. Annisa ini Nikita. Nikita ini istriku Annisa."
Nikita terkejut ketika Abizar mengakui wanita yang berada di sampingnya itu adalah pasangan hidupnya. 'Ternyata Mas Abi sudah menikah,' gumam Nikita dalam hati. Sejujurnya dia kecewa karena laki-laki yang menjadi incaran malah sudah dimiliki oleh wanita lain.
"Saya kebetulan tinggal di dekat sini. Jadi tadi sore Mas Abi naik mobil ini apa naik taksi online?" tanya Nikita mengalihkan rasa cemburunya.
"Maafkan aku Nik, aku naik mobil ini. Sebagai karyawan biasa aku tidak mau orang-orang menilaiku sombong. Jadi aku terpaksa berbohong padamu," jawab Abizar dengan jujur.
"Mas, sebaiknya kita pulang bukankah sudah malam," ucap Annisa dengan lembut. Sungguh dia tidak mau jika ketahuan cemburu pada suaminya.
"Kami pamit ya Nik. Oh iya aku minta tolong padamu untuk merahasiakan hal ini. Di kantor aku hanya karyawan biasa." Nikita tersenyum simpul.
Annisa melirik Nikita dan memberikan senyuman perpisahan walau sebenarnya dia menaruh curiga jika wanita itu ingin mendekati suaminya. "Mas apa kalian akrab di kantor?" tanya Annisa.
"Apa kamu cemburu?" tanya Abizar secara terang-terangan.
"Tentu saja. Bukankah wajar jika aku cemburu pada wanita yang mendekati suamiku? Kalau aku tida cemburu tandanya aku tidak peduli padamu."
Abizar mengusap kepala Annisa. "Tenang saja aku tidak akan macam-macam di kantor. Dia hanya rekan kerja satu bagian denganku. Dia hanya membantuku menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang belum aku mengerti. Itu saja." Abizar mengangkat sebelah tangan Annisa lalu menciumnya.
Annisa menjadi lega. "Aku pegang janji kamu ya Mas." Abizar mengangguk.
Sesampainya di rumah, Annisa segera menyiapkan air hangat untuk mandi. "Airnya sudah siap, Mas." Annisa melapor pada suaminya.
Abizar yang usil merangkul pinggang istrinya. "Sudah berapa lama kita tidak mandi bersama?" goda Abizar. Wajah Annisa bersemu merah.
"Mas, jangan begini. Aku sudah mandi tadi sore," tolak Annisa.
Abizar mengendus bau badan istrinya. "Tapi kamu masih bau," ucap Abi berpura-pura. Padahal Annisa tidak berkeringat sama sekali.
Tak sabar menunggu jawab istrinya. Abizar langsung menggendong Annisa. "Mas, turunkan aku!" Annisa memukuli dada bidang suaminya.
"Kalau tidak mau kamu mau apa?" Lagi-lagi Abizar menggoda istrinya. Annisa reflek berpegangan pada leher suaminya.
"Kamu ini sukanya memaksa," keluh Annisa tapi dia sedang menahan senyum.
Cukup lama mereka berdua berada di kamar mandi. Setelah satu jam lamanya, Annisa dan Abizar keluar. "Sini aku bantu keringkan rambutmu." Abizar menyalakan hairdryer kemudian membantu Annisa mengeringkan rambutnya.
"Sudah cukup, Mas. Terima kasih banyak. Aku akan ganti baju," ucap Annisa beranjak dari tempat duduknya.
Abizar menarik tangan Annisa. "Untuk apa pakai baju?" Abizar menyandarkan dagunya di bahu sang istri. Lalu dia berbisik. "Bagaimana kalau kita habiskan malam ini berdua?"
"Apa kamu tidak capek Mas? Bukankah tadi kamu bilang hari ini tenagamu sudah habis?" tanya Annisa.
"Aku sudah mencharger dengan tidur sebentar di mobil."
"Apa betul Nikita itu tinggal di sana?" Entah kenapa firasatnya sebagai seorang wanita mengatakan kalau Nikita berharap lebih pada suaminya.
Abizar membalik tubuh Annisa. "Sayang, kenapa kamu mencurigaiku?" tanya Abi. "Aku hanya mencintai kamu."
"Benarkah?" Abi mengangguk. Kemudian dia mengikis jarak di antara keduanya. Abi mencium Annisa dengan lembut. Annisa pun membalas ciuman suaminya. Annisa ingin membahagiakan suaminya.
Di tempat lain, Nikita memukul ranjang yang dia duduki. "Kenapa dia sudah menikah duluan sih? Padahal aku menyukai laki-laki itu." Nikita kesal sekali. Dia juga merasa malu karena sengaja mendekati Abi untuk tujuan tertentu.
"Niki, kamu kenapa Nak?" tanya sang ibu yang melihat anaknya murung ketika dia masuk ke kamar Nikita.
Nikita menangis memeluk ibunya. "Aku menyukai seseorang tapi ternyata dia sudah menikah, Ma," ungkap Nikita sambil menangis sesenggukan.
"Jangan teruskan, Nak. Merusak rumah tangga seseorang itu tidak baik. Mama tahu bagaimana rasanya dikhianati. Mama minta kamu jangan jadi seorang pelakor."
"Mama apaan sih? Aku baru mengenal dia hari ini tapi entah kenapa dia sangat menarik. Eh nggak tahunya dia sudah menikah."
"Makanya jangan mudah jatuh cinta pada seorang pria yang baru kamu kenal. Kalau ingin menjalin hubungan dengan laki-laki kamu harus menyelidikinya dulu latar belakangnya."
"Iya, Ma. Aku akan ingat pesan mama." Nikita pada dasarnya gadis yang penurut. Dia juga tidak berniat mengganggu rumah tangga Abizar.
Keesokan harinya, ketika Nikita berpapasan dengan Abizar. Dia sengaja menghindar. "Niki kenapa ya? Padahal aku ingin bertanya tentang pekerjaan yang aku tidak mengerti," gumam Abizar.
"Abi, kenapa kamu berdiri di sini?" tanya Beni dengan nada datarnya.
"Oh, aku ingin meminta bantuan Nikita tapi dia menghindar," jawab Abi dengan jujur.
Beni mengerutkan keningnya. "Mana yang kamu tidak bisa. Lain kali kamu bisa tanya ke saya langsung. Pak Zidan memberitahu saya agar terus mengawasi kamu. Jadi jika kamu butuh bantuan kamu bisa bertanya pada saya."
"Oke."
Saat jam istirahat, seperti biasa Abizar selalu menyendiri dan memakan bekal buatan Annisa. "Boleh saya duduk di sini?" tanya Beni. Abizar mengangguk.
"Saya perhatikan kamu sering makan bekal yang kamu bawa dari rumah. Apakah itu buatan istri kamu?" tebak Beni.
Abizar tersenyum. "Tebakan yang tepat. Padahal waktu itu seseorang yang duduk di depan saya tidak tahu kalau bekal ini adalah buatan istriku." Abi mengingat saat pertama kali Nikita memperkenalkan diri.
"Apa orang itu Nikita?" tanya Beni. Abizar mengangguk.
"Sepertinya kamu tidak suka apabila aku mendekati dia? Apa kamu menaruh perasaan padanya?" tebak Abi.
Beni tersenyum miring. "Kamu tidak perlu tahu," jawab Beni dengan ketus.
"Dilihat dari ekspresi wajahmu, sepertinya kamu tidak pernah pacaran," ledek Abi sambil diiringi tawa mengejek.
Brak
Beni menggebrak meja. "Sopan sedikit!" bentak Beni.
"Santai, Bro. Aku hanya becanda," ucap Abi dengan tenang.
"Aku ini atasan kamu." Beni menyombongkan diri. Abizar tersenyum miring.
"Terus kalau gue bilang gue ini anak pemilik perusahaan apa elo percaya?" ucap Abi dengan pelan tapi membuat Beni berpikir panjang.
"Dasar pembual!" umpat Beni.
...♥️♥️♥️...
Author mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H bagi yang merayakan. Minal aidzin wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin ya para reader ku tercintah 😘
sampe sini aku gk tela klo bsi annisanya berakhir nikah sm laki² lain,,gk tau knpa tp gk suka aj,,klo suaminya baik trus meninggal dn istri nikah lg atau sebaliknya 😁😁