Kisah ini menceritakan tentang Adela Putri Wijaya (19) yang sebelum pendakian bersama teman-temannya ke salah satu Gunung, merasa hidupnya baik-baik saja dan tentram. Namun, setelah itu banyak kejadian-kejadian janggal yang terjadi hingga membuat penyakit jantung bawaan dari lahirnya sering kambuh.
Adel sering disapa seperti itu, bertekad untuk mengungkap semuanya sebenarnya siapa dibalik kejadian janggal yang terjadi dalam hidupnya.
Bersamaa dengan hal itu, Adel juga bertemu dengan Tomi Bagus Alamsyah dokter baru yang memiliki wajah tampan yang membuatnya merasakan cinta pada pandang pertama. Tapi siapa sangka umurnya terpaut jauh dari Adel.
***
"Dokter, nikah yuk!"
"Saya nggak suka bocil."
"Tapi aku suka sama dokter, gimana dong?"
"Yaudah nikahin aja dokter yang lain. Masih banyak kok, dokter yang jomblo di rumah sakit ini."
"Ih, maksud aku dokter Tomi. Aku maunya nikah sama Dokter Tomi."
"Maaf bocil, saya nggak denger ucapan kamu. Tiba-tiba kuping saya budeg."
"Yah, dokter Tomi jangan pergi!"
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asazya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Tidak mau saling menyakiti
Tomi menyuruh Adel untuk memasuki mobilnya. Tomi pikir suasana caffe itu tidak cocok untuk dirinya yang sudah berumur kepala tiga. Jadi Tomi akan membawa Adel ke sesuatu tempat yang dari kemarin ingin dikunjunginya namun terhalang karena sibuk bekerja.
"Kita mau kemana?" tanya Adel penasaran.
"Ikut aja."
"Tapi Pak Mamat gimana?" tanya Adel khawatir juga dengan supirnya, beliau pasti sedang menunggunya diparkiran.
"Suruh dia pulang duluan, biar kamu nanti pulang sama saya," balas Tomi seraya menutup pintu mobil. Setelah itu berjalan menuju pintu kemudi.
Adel terlihat sedang mengetikan sesuatu di ponselnya dan mobilpun mulai berjalan meninggalkan parkiran.
Mobil dalam keheningan, Tomi memutar radio yang berada di mobilnya agar suasana tidak terlalu canggung, sebenarnya Tomi juga bingung untuk memulai pembicaraan.
Radio itu mulai mulai mengalun lagu yang bawakan oleh Melly Guslaw dan Andhika Pratama, lagu legend yang menjadi favoritnya. Nadanya memang terdengar sendu tapi entah kenapa membuat Tomi jadi senyum-senyum sendiri. Mungkin, karena lagu ini sering menjadi lagu sasaran duet Tomi ketika bersama Kayla. Ah, kenangan yang begitu manis.
Ketika waktu mendatangkan cinta
Aku putuskan memilih dirimu
Setitik rasa itu menetes dan semakin parah
Suara dari Melly mengawali, liriknya begitu pas dengan kisahnya bersama Kayla.
Bisa kurasa getar jantungmu
Mencintaiku apa lagi aku
Jadikanlah diriku pilihan terakhir hatimu
Butterfly terbanglah tinggi
Setinggi anganku untuk meraihmu
Memeluk batinmu yang sempat kacau karna merindu
Butterfly fly away so high, as high as hopes I pray
To come and reach for you, rescuing your soul
That previous messed up touching me and you
Jalan ini jauh namun kita tempuh
Bagai bumi ini hanya milik berdua
Biarku berlebihan mendekatimu
Namun ku tulus
Butterfly terbanglah tinggi
Setinggi anganku untuk meraihmu
Memeluk batinmu yang sempat kacau karna merindu
Butterfly fly away so high, as high as hopes I pray
To come and reach for you, rescuing your soul
That previous messed up touching me and you
Sampai lagu itu brakhir, Tomi masih menikmati dan dia merasa sekarang Kayla berada di sisinya.
Sementara Adel selama lagu berputar hanya menatap Dokter Tomi dengan pandangan kagum, senyumnya sungguh memikat. Iya, mendengarkan lagu ini membuat suasananya semakin membuat Adel tidak henti-hentinya terpesona.
Adel memang tidak tahu siapa penyanyinya dan baru kali ini mendengarnya. Tapi, sepertinya lagu ini akan menjadi lagu favoritnya.
"Lagu dulu, ya? Adel baru denger."
Tomi menoleh ke arah Adel, seraya tersenyum. "Iya, lagu yang dinyanyikan Melly Guslaw dan Andhika Pratama. Sebenernya saya dulu juga nggak tahu tentang lagu ini, tapi seseorang mengenalkannya kepada saya. Ternyata lagunya enak untuk didengar."
"Bener, lagunya bikin terhanyut. Adel juga suka."
"Nggak heran sih, selera dia emang bagus."
"Dia?" Adel bertanya, ia juga ingin tahu siapa yang merekomendasikan lagu ini pada Dokter Tomi.
"Dia itu mantan istri saya."
"Oh." Adel menalan ludah kelu, pantas saja Dokter Tomi dari tadi senyum-senyum terus. Batinnya berkata.
"Oiya, tentang rencana pernikahan itu, akan Adel batalkan."
Ckitt!
Mobil tiba-tiba berhenti mendadak, Tomi memejamkan matanya, kaget. Untung tidak ada mobil di depannya. Pernyataan Adel benar-benar membuatnya terkejut.
Tomi mencoba tenang dan mulai melajukan mobilnya kembali, mungkin tidak akan baik membahas hal seperti ini di dalam mobil. Apalagi emosinya memang sedang tidak stabil semenjak masalah tentang ayahnya timbul ke permukaan.
"Bisa nanti kita bicara tentang ini, saya lagi nyetir," balas Tomi dengan nada datar.
Sementara Adel hanya terdiam, dia juga sempat terkantuk ke dashboard mobil. Adel tidak tahu jika respon Dokter Tomi alan seperti ini.
***
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, ternyata dokter Tomi membawanya ke sebuah komplek perumahan. Adel tidak mengerti kenapa Dokter itu malah membawanya kesini.
"Dokter Tomi mau pindah?" tanya Adel ketika Dokter itu menemui salah satu agen penjual rumah, mereka terlihat saling menyapa dan agen tersebut menyuruh Dokter Tomi dan dirinya untuk masuk ke dalam rumah itu.
"Kita yang akan pindah."
Bibir Adel menganga karena terkejut. "Serius, tapi pernikahan itu__"
Tomi buru-buru menempelkan jari telunjuknya di bibir Adel. Seolah meminta Adel untuk tidah membahas masalah itu. "Ayo kita lihat rumahnya!"
Tubuh Adel terasa kaku saat Dokter Tomi menarik tangannya, bahkan menggenggamnya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Untung pendeteksi detak jantungnya tidak dipakai. Mungkin, jika dipakai Dokter Tomi akan menyadari kalau Adel benar-benar gugup sekarang.
"Nah, pak ada tiga kamar di sini. Kamar utama dibawah dan dua lagi di atas. Ada dua kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan halaman belakang. Rumahnya memang terlihat lebih kecil dan sederhana tapi saya jamin pasti nyaman sekali apalagi untuk pasangan yang baru menikah," jelas agen itu.
Tomi mengangguk, kemudian meminta pada agen itu untuk melihat ruangan. Rumahnya masih kosong, belum ada perabotan. Tomi sengaja memilihnya supaya nanti bisa menata sesuai keinginan, apalagi sekarang ada Adel dia juga harus berperan dalam pemilihan dekorasi rumah.
Meski Tomi tahu pernikahan ini disepakati bukan karena cinta, hanya sebatas dua orang yang tinggal di satu rumah dengan status halal. Tomi akan mencoba menjadi suami yang baik, namun tidak ingin terlalu melibatkan perasaan. Untuk ke depannya biarkan waktu yang menjawab, Tomi sudah memutuskan untuk menjalaninya.
"Gimana rumahnya?" tanya Tomi pada Adel yang di sampingnya. Perempuan itu terlihat sedang menilai ruangan.
"Bagus," Adel mengangguk. "Tapi kayaknya Adel nggak bisa tinggal di sini."
"Del." Tomi menghadap Adel, di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Agen yang tadi menawarkan berada di ruang lain.
"Kita jalani sama-sama, oke?"
Adel menggelengkan kepalanya. "Nggak bisa, Dok."
"Kenapa, bukannya ini yang kamu mau? Menikah dengan saya?"
Adel mendongkak, menatap mata Tomi yang hitam legam itu. "Adel nggak bisa menikah dengan orang yang nggak mau membuka hatinya buat Adel. Percuma hanya akan saling menyakiti."
Tomi menghela napas, kemudian mengangguk paham. Iya, Tomi mengerti. Sejujurnya dia pun tidak mau, tapi apa Adel tahu ada hal yang lebih penting dari urusan cinta.
"Kamu tahu, ini keputusan besar untuk saya. Anggap saja kita menikah hanya untuk syarat dan saya janji tidak akan melarang kamu menemukan seseorang yang mencintai kamu. Kamu bebas memilih, lalu setelah mendapatkannya kamu bisa lepas dari saya."
Plak!
Adel memenatap Tomi tidak percaya, matanya terlihat berkaca-kaca."Dokter Tomi bisa-bisanya ngomong gitu di depan Adel! Adel nggak nyangka, padahal Dokter Tomi udah berpengalaman! Bagi Adel pernikahan itu bukan sesuatu yang main-main!"
"Del! Apa saya salah mencoba melindungi keluarga saya?"
"Lalu apa Adel salah ingin menyelamatkan hati Adel sebelum semakin hancur?"
"Del, jangan egois! Saya mohon sama kamu, turuti saja apa yang papah kamu katakan!"
Adel menatap Tomi dengan pandangan kecewa. Adel tidak menyangka sosok yang dikagumi karena kebaikan dan ketulusannya ternyata memandang pernikahan sebagai sesuatu yang tidak penting. Munhkin ini alasan Dokter Tomi bercerai dengan istrinya.
"Adel nggak bisa, Dok." Adel tetap kekeh dengan pendapatnya. "Untuk masalah papah Adel bisa mengatasi semuanya."
"Del!"
Tomi mencoba mengejar Adel yang malah berjalan keluar ruangan.
Hap!
Tangan Adel ditangkapnya, Tomi mencengkramnya lumayan kuat hingga membuat Adel meringis. "Saya sudah janji pada Om Alfa bahwa saya akan menikahi kamu!"
"Tidak mudah untuk mengikarinya!"
"Iya ketika saya mengingkarinya, keluarga saya akan hancur! Apa kamu tahu tentang masalah ini?"
Adel diam, siapa yang rela keluarganya hancur? Tidak ada! Tapi Adel juga ingin melindungi dirinya sendiri.
"Saya tidak mau, keluarga saya hancur. Tolong pahami, saya mohon sama kamu," ucapnya dengan nada lirih. Tomi hanya ingin pengertian, dia melakukan ini demi keluarganya. Mungkin, di sini mereka berdua sama-sama egois. Tapi Tomi hanya minta, sekali ini saja Adel mengalah.
Adel menatap Dokter Tomi dengan pandangan tak kalah sedih. "Adel tetep nggak bisa, Dok!"
"Maaf..."
Adel menghentakkan tangan Dokter Tomi yang berada di lengannya. Dia berlari keluar, setidaknya jangan sampai lelaki itu tahu bahwa hati Adel sedang terluka, dia berada diposisi yang serba salah. Adel tidak mau hatinya semakin tersakiti, tapi sebenarnya dalam lubuk hati yang terdalam, siapa yang tidak mau menikah dengan seseorang yang dicintainya? Adel akan menjawab, mau.
Untuk urusan perjanjian antara papah dan Dokter Tomi Adel bisa mengatasinya, tapi untuk hatinya sendiri Adel belum tentu bisa mengatasinya.
Adel berada di luar gerbang, dia bingung sekarang ada di daerah mana, dia mencoba untuk memesan gojek tapi tiba-tiba seseorang yang berada di samping gerbang terlihat sedang mengawasinya dari balik helm.
Adel mengira dia sedang menunggu agen penjual rumah, bisa saja gojek kan? Namun saat orang itu membuka helmnya Adel melotot tidak menyangka. Kenapa lelaki tidak jelas itu ada di sini?
"Butuh tumpangan?" katanya seraya tersenyum manis.
Belum sempat Adel menolak, Dokter Tomi yang mungkin sudah selesai berbicara dengan agen penjual rumah datang menghampirinya.dia memanggil nama Adel beberapa kali.
Adel tidak bisa pulang dengan Dokter Tomi. Langkahnya mau tidak mau berjalan cepat ke arah lelaki itu. Sumpah, Adel terpaksa menaiki motor beatnya.
"Cepet pergi!" Adel menepuk bahunya, membuat lelaki itu langsung menggas motor dan meninggalkan Tomi yang berdecak kesal. Tanpa menunggumu lama Tomi langsung masuk ke mobilnya dan menyusul motor itu.
Tomi khawatir terhadap Adel, dia takut perempuan itu dijahati.
mbok satu2 konflik di beresin moso digantung trus dan nambah konflik trus
hadeh lama2 jenuh jg ,kpn endingnya🤔🤔🤔