NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Keanehan yang Lainnya

Bumi langsung memutar anak kunci dan membuka pintu triplek kamarnya. Begitu pintu terbuka, sosok Alya sudah berdiri di sana dengan senyuman manisnya yang khas. Tanpa perlu disuruh atau dipersilakan masuk oleh Bumi, gadis itu dengan santai langsung melangkah melewati ambang pintu dan masuk ke dalam kamar kos petak yang sempit itu.

Tangan kirinya membawa sebuah wadah makanan yang dibungkus kertas minyak tebal yang aroma gurihnya langsung menyeruak memenuhi ruangan, sementara lengan kanannya tampak mendekap erat beberapa buku tebal kuliah ber-cover tebal.

"Nih, Mas Bumi! Saya bawain makan siang sekalian makan malam biar kamu gak usah repot keluar-keluar lagi," kata Alya sambil menaruh bungkusan makanan itu di atas satu-satunya barang di kamar tersebut, yaitu kasur busa pemberiannya itu.

Bumi yang melihat hal itu langsung menggaruk tengkuknya, wajahnya menunjukkan rasa tidak enak hati yang amat sangat. "Aduh, Mbak Alya... kok malah repot-repot bawa makanan ke sini lagi sih? Padahal tadi pas selesai mandi, rencana saya emang mau langsung jalan ke warung Ibu buat makan malam di sana sekalian bayar pake upah panggul siang ini."

Alya langsung berbalik dan berkacak pinggang, menatap Bumi dengan mata menyipit. "Udah deh, gak usah banyak protes! Ini ibu yang nyuruh kok, katanya takut kamu masih lemes setelah pingsan subuh tadi. Terus ini saya sekalian mampir, soalnya habis dari kosan kamu ini saya mau langsung pergi ngerjain tugas kelompok sama temen di komplek perumahan deket ujung pasar itu. Makanya saya sekalian bawa buku-buku ini."

Alya mendudukkan dirinya di sudut kasur sambil meletakkan tumpukan buku kuliahnya yang tebal di samping paha. Bumi ikut duduk bersila di lantai semen, matanya secara tidak sengaja melirik ke arah tumpukan buku yang dibawa Alya. Buku paling atas memiliki cover berwarna biru tua dengan tulisan tebal berwarna emas dalam bahasa Inggris.

Principles of Corporate Finance and Strategic Business Management.

Mata Bumi mendadak terpaku. Sesuatu yang sangat aneh kembali terjadi di dalam kepalanya. Tanpa perlu berpikir keras atau mengeja kata demi kata, otaknya secara otomatis langsung menerjemahkan dan mengerti arti dari judul yang tertera di sana dengan sangat fasih, seolah-olah bahasa asing itu adalah bahasa ibunya sehari-hari.

"Prinsip Keuangan Perusahaan dan Manajemen Bisnis Strategis..." ucap Bumi tanpa sadar, membaca judul buku tersebut dengan pelafalan bahasa Inggris yang sangat fasih dan lancar, jauh dari logat anak desa yang biasanya kaku.

Alya yang sedang merapikan tali sandalnya langsung tersentak kaget. Ia menoleh ke arah Bumi dengan mata terbelalak lebar, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.

"Loh? Mas Bumi... kamu bisa baca judul buku ini?" tanya Alya dengan nada suara penuh keterkejutan. "Gak cuma bisa baca, tapi pelafalan bahasa Inggris kamu barusan... kok bagus banget? Terus kamu tahu artinya?"

Bumi sendiri langsung tersentak, tersadar dari lamunannya. Ia menatap kedua tangannya dengan bingung. "Eh? I-itu... artinya Prinsip Keuangan Perusahaan dan Manajemen Bisnis Strategis kan, Mbak? Saya juga gak tahu, Mbak. Pas liat tulisan itu, tiba-tiba di kepala saya langsung muncul artinya gitu aja."

Alya menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak percaya. "Ih, kok aneh sih? Setahu saya Mas Bumi kan bilang cuma tamatan sekolah dasar di desa dan kerjanya serabutan di ladang. Ini buku kuliah semester atas loh, bahasanya tinggi banget. Saya aja yang tiap hari kuliah kadang masih pusing lihat istilah-istilah di dalam buku ini."

"Boleh... boleh saya lihat bukunya sebentar, Mbak?" tanya Bumi penasaran, rasa ingin tahunya mendadak bergejolak tinggi.

"Boleh, nih, coba kamu lihat," kata Alya sambil menyodorkan buku tebal tersebut ke tangan Bumi.

Bumi menerima buku tebal berbahasa asing itu. Dengan perlahan, ia mulai membuka lembaran-lembaran halaman pertama. Begitu matanya membaca sekilas untaian kalimat-kalimat panjang, tabel akuntansi, dan grafik analisis bisnis di setiap halaman, keajaiban luar biasa kembali terjadi. Otaknya seperti alat pemindai canggih. Hanya dengan sekali baca secara cepat, Bumi langsung bisa menghapal setiap kata, memahami konsep teori ekonomi makro yang rumit, dan mengerti seluruh isi halaman tersebut secara instan tanpa ada yang terlewat.

Sret... sret... sret...

Bumi terus membalik halaman demi halaman dengan kecepatan yang tidak wajar. Alya yang duduk di sampingnya hanya bisa melongo memperhatikan gerakan tangan Bumi.

"Mas Bumi, kamu itu beneran lagi membaca atau cuma lagi nyari gambar sih? Cepet banget membalik halamannya kayak orang lagi main-main," tegur Alya heran.

Bumi menghentikan tangannya di halaman tiga puluh, lalu menatap Alya dengan pandangan serius. "Mbak Alya, di halaman ini dijelaskan tentang rumus perhitungan nilai waktu dari uang, termasuk cara menganalisis risiko investasi jangka panjang perusahaan menggunakan metode Net Present Value. Semuanya masuk akal banget di otak saya, Mbak."

Alya langsung merebut buku itu dari tangan Bumi, lalu mencocokkan halaman tiga puluh dengan ucapan Bumi barusan. Begitu melihat isinya yang persis seratus persen dengan penjelasan Bumi, wajah Alya langsung pucat pasi karena syok.

"Demi apa... kok kamu bisa langsung paham, Mas?! Ini gila banget tahu!" seru Alya dengan suara tertahan. "Saya aja sengaja mau ke rumah temen siang ini karena pusing banget gak ngerti sama tugas bab ini! Makanya kita mau kerja kelompok biar tugasnya kerasa lebih ringan karena dikerjain bareng-bareng. Tapi kamu... kamu baru buka semenit langsung bisa ngejelasin semuanya?!"

Bumi hanya bisa ternganga, bingung harus menjawab apa. "Saya... saya juga bingung, Mbak. Pas saya baca tulisan bahasa asing ini, rasanya gampang banget dipahami. Semuanya langsung nempel di kepala saya."

Alya yang dasarnya cerdas langsung mengambil sebuah buku catatan bergaris dan selembar kertas soal tugas kuliahnya dari dalam tas. "Bentar, Mas Bumi. Kalau kamu emang beneran paham, coba kamu lihat soal tugas mandiri saya yang ini. Dari kemarin saya sama temen-temen sekelas gak ada yang nemu jalan keluarnya karena rumusnya rumit banget."

Alya menyodorkan kertas soal berisi studi kasus laporan keuangan sebuah perusahaan yang mengalami defisit modal, lengkap dengan beberapa pertanyaan analisis strategis yang panjang.

Bumi menerima kertas soal tersebut. Begitu matanya memindai angka-angka defisit dan modal di atas kertas, tumpukan angka-angka dan rumus-rumus misterius yang sempat memenuhi otaknya sehabis mandi tadi mendadak langsung tersinkronisasi dengan sempurna. Tanpa sadar, Bumi mengambil pulpen milik Alya yang tergeletak di kasur.

Tangannya bergerak dengan sangat cepat dan akurat di atas buku catatan Alya. Sret... sret... sret...

Bumi mulai menuliskan deretan rumus akuntansi, menghitung proyeksi modal, hingga menyusun poin-poin strategi pemulihan bisnis perusahaan tersebut dalam coretan yang sangat rapi. Gerakan pulpennya sama sekali tidak berhenti untuk berpikir, mengalir begitu saja seolah-olah ia sudah menjadi seorang profesor ekonomi selama puluhan tahun.

"Nah, ini selesai, Mbak Alya. Total defisit modalnya bisa ditutupi kalau perusahaan melakukan restrukturisasi aset di bagian ini, terus rumus penyusutannya harus pakai metode yang ini supaya pajaknya lebih efisien," kata Bumi santai sambil meletakkan kembali pulpennya dan menyodorkan buku catatan itu kepada Alya.

Alya mengambil buku catatannya dengan tangan yang gemetar. Ia membaca baris demi baris jawaban yang ditulis oleh Bumi. Matanya makin melebar, dan mulutnya sedikit terbuka karena tingkat keterkejutan yang sudah mencapai puncaknya. Jawaban Bumi tidak hanya cepat, tapi sangat akurat, logis, dan bahkan jauh lebih detail daripada materi yang pernah diajarkan oleh dosennya di kampus.

"Mas Bumi... kamu... kamu beneran manusia kan?" bisik Alya dengan wajah syok yang sangat kentara, menatap Bumi seolah pemuda di depannya ini adalah makhluk asing dari planet lain. "Ini semua bener semua jawabannya! Rumus yang paling susah aja bisa kamu selesaiin gak nyampai lima menit tanpa pake kalkulator! Ini luar biasa banget, Mas!"

Bumi ikut terkejut dan tertegun menatap hasil tulisannya sendiri di atas kertas. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa tidak percaya atas kemampuan dahsyat yang baru saja ia tunjukkan secara spontan tanpa disadarinya.

"Gua... kok gua bisa sepinter ini sekarang?" batin Bumi dengan kebingungan yang amat sangat.

Di tengah keheningan kamar kos petak yang sempit itu, ingatan Bumi mendadak berputar kembali ke kejadian kritis kemarin malam di lorong sepi samping gudang tua. Di dalam benaknya, bayangan sosok kakek misterius berambut putih panjang dengan pakaian kain hitam polos kembali muncul dengan sangat jelas. Ia teringat rasa pahit bercampur hangat yang luar biasa dahsyat saat cairan ramuan herbal dari botol tanah liat milik kakek itu mengalir masuk ke dalam tenggorokannya tepat sebelum ia pingsan total.

"Ramuan itu..." gumam Bumi lirih, matanya menatap kosong ke lantai semen.

Alya yang masih sibuk mengagumi jawaban di buku catatannya menoleh. "Hah? Ramuan apa, Mas Bumi?"

Bumi langsung tersadar dan buru-buru menggelengkan kepala untuk menutupi rahasianya. "Eh, enggak, Mbak. Maksud saya... ramuan obat turun panas dari Mbak Alya kemaren emang manjur banget, makanya pikiran saya jadi seger banget sekarang sampai bisa bantu Mbak ngerjain tugas."

Alya mendengus remeh namun sambil tertawa kecil. "Ah, mana ada obat parasetamol bisa bikin orang langsung jago akuntansi tingkat dewa begini! Mas Bumi pasti sengaja ya aslinya emang pinter tapi pura-pura jadi kuli biasa aja."

"Hahaha, beneran, Mbak, saya gak bohong," sahut Bumi mencoba mengalihkan pembicaraan sambil meraih bungkusan makanan yang dibawa Alya tadi. "Udah, Mbak, mending sekarang saya makan dulu nih nasi bungkusnya, keburu dingin nanti gak enak. Mbak Alya juga katanya mau pergi ngerjain tugas sama temen kan?"

"Oh iya, ampun! Saya sampai lupa gara-gara keasikan lihat kamu ngerjain tugas ini!" pekik Alya sambil menepuk jidatnya sendiri. Ia buru-buru memasukkan kembali buku tebal dan catatannya ke dalam tas dengan wajah yang sangat semringah. "Wah, kalau gitu saya pamit pergi dulu ya, Mas Bumi! Makasih banyak banget ya! Gara-gara kamu, tugas kelompok saya sore ini udah selesai duluan sebelum saya nyampai rumah temen! Kamu penyelamat saya hari ini!"

"Sama-sama, Mbak Alya. Sukses kuliahnya ya," jawab Bumi sambil tersenyum hangat.

"Iya! Jangan lupa dihabisin makanannya! Dadah, Mas Bumi!" seru Alya penuh kegembiraan sambil melangkah cepat keluar dari kamar dan menutup pintu triplek kembali.

Setelah suasana kamar kembali sunyi, Bumi meletakkan bungkusan makanannya sejenak. Ia meraba saku celananya, lalu kembali menarik keluar secarik memo misterius yang ditinggalkan oleh kakek berbaju hitam semalam. Dengan debaran jantung yang makin cepat akibat rentetan keanehan yang baru saja menimpa fisik, indra, dan otaknya dari pagi hingga siang ini, Bumi perlahan-lahan mulai membuka lipatan memo tersebut, bersiap untuk membaca pesan rahasia apa yang tertera di dalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!