Tragedi menimpa Kenanga, dia yang akan ikut suaminya ke kota setelah menikah, justru mengalami kejadian mengerikan.
Kenanga mengalami pelecehan yang di lakukan tujuh orang di sebuah air terjun kampung yang bernama kampung Dara.
Setelah di lecehkan, dia di buang begitu saja ke dalam air terjun dalam keadaan sekarat bersama suaminya yang juga di tusuk di tempat itu, hingga sosoknya terus muncul untuk menuntut balas kepada para pelaku di kampung itu.
Mampukah sosok Kenanga membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai kembali
"Kamu sudah faham semua caranya kan? Jangan sampai lupa ya" ucap Sadam
"Iya kak, Kenanga sudah ingat caranya" jawab Kenanga
"Kenanga ini pintar kak, cepat belajar dan kopi buatannya juga enak" ucap Sigit
Hari itu Kenanga akan mulai bekerja untuk menggantikan Astri yang sedang hamil muda, Astri memang sudah menikah dengan Restu beberapa bulan lalu karena Restu sudah mulai tertarik pada Astri setelah secara tidak sengaja memakaikan gelang pernikahan dari kampung mahoni, Astri juga menerima anak anak Restu bahkan Rosi tidak bisa lepas dari Astri karena dia jarang sekali bertemu dengan ibunya Resti yang pindah ke kota bersama suaminya.
"Sudah kamu kerja sana, jangan mengikuti Kenanga terus di sini tidak ada duda" ledek Dimas
"Sigit belum pernah jauh dari Kenanga kak, jadi seperti ada yang kurang" ucap Sigit membuatnya di ledek teman teman Dimas juga.
"Cieee, calon pengantin, nanti kak Panji kasih kado kasur ya" ucap Panji
"Terima kasih kak, Alhamdulillah Kenanga kita tidak perlu beli kasur, kata Om Bintang hari ini rumah kamu akan di pasangi listrik baru" ungkap Sigit
"Rumah kita mas" jawab Kenanga dan Sigit mengangguk
"Kak Restu kasih kulkas deh, untuk menyimpan bahan makanan"
"Kak Sadam peralatan masak plus peralatan membuat kue ya, mungkin kamu suka buat kue, mixer, blender"
"Kak Gibran kasih dispenser dan karpet deh"
"Kak Gilang kasih apa ya? Kasih mesin cuci lah"
"Alhamdulillah, padahal Kenanga belum sehari kerja tapi sudah dapat hadiah banyak" ungkap Dimas
"Lo ngasih apa dim buat kado?" tanya Restu
"Gue kasih do'a" jawab Dimas karena dia sudah membeli televisi dan AC untuk hadiah pernikahan keduanya.
"Alhamdulillah terima kasih semuanya, kami jadi merasa tidak enak karena kami belum lama tinggal di sini" ungkap Sigit
"Jangan sungkan, kalian saudara kami juga" ucap Dimas dan Gibran.
Kenanga menunduk, untuk pertama kalinya dia merasa memiliki keluarga lagi setelah kedua orang tua dan juga neneknya meninggal, bahkan Dirga yang dia jadikan sandaran hidupnya juga sudah pergi, hanya Sigit yang Kenanga punya sekarang, tapi ternyata dia juga mendapatkan keluarga lain melalui Dimas.
"Kamu terharu?" tanya Sigit dan Kenanga mengangguk
"Kalau ada yang mengganggu kalian di tempat ini, lapor pada kami" ucap Panji
"Mau di apakan?" tanya Dimas meledek
"Mau gue ajak ngopi tapi kopinya gue kasih sianida" jawab Panji tertawa
Sigit pamit karena dia senang Kenanga akan di temani orang orang yang bisa dia percaya, apalagi di sana juga ada istri Gilang yang membantu Gilang dan kadang Kania juga ke sana membawa bayinya kalau rewel ingin di gendong Dimas.
~~
"Nah, di sini adalah lahan Om, luasnya sampai ke ujung jalan sana, kalau yang di sini khusus di tanami padi, apa kamu bisa mengelolanya?" tanya Bintang.
"In sya Allah Om, Sigit hanya perlu memperhatikan jarak tanam lahan satu dengan yang lain, waktu panen, pupuk apa saja yang di gunakan, mengecek pengairan dan memastikan tanaman tidak terkena hama" jawab Sigit
"Iya, tapi kamu juga harus memperhatikan pekerja di sini, kalau menurut kamu ada yang salah jangan takut untuk menegurnya karena saya akan lebih sering berada di rumah nanti, hanya akan memeriksa melalui laporan kamu saja" jawab Bintang
"Tapi Sigit merasa tidak enak Om, baru datang sudah jadi tangan kanan Om" ungkap Sigit
"Kalau tidak enak ya kamu kasih bumbu, kamu di kenal sebagai keluarga jauh Om jadi jangan sungkan, cukup jaga kepercayaan yang sudah Om berikan" jawab Bintang
"In sya Allah Om, Sigit akan jaga dengan baik amanah Om ini" jawab Sigit
Selesai berkeliling lahan Bintang, Sigit juga di kenalkan pada semua pekerja Bintang yang ada di lahan itu, mereka rata-rata sudah melihat Sigit, hanya belum mengenalnya saja karena sebelumnya hanya tinggal di rumah Bintang dan menjaga Kenanga yang keguguran.
"Ini adalah kang Herman, kamu juga pasti kenal, kalau kamu tangan kanan saya, kang Herman ini tangan kiri saya, kang Herman mengurus perkebunan jadi kamu bisa bertanya pada kang Herman kalau ada yang tidak kamu tahu di tempat ini" ucap Bintang
"Kami kan sudah kenalan di rumah den" ucap Herman
"Formalitas saja kang" jawab Bintang membuat semuanya tertawa.
"Den Sigit jadi yang paling muda di sini, hati hati di dekati para ibu ibu pemetik sayur" ucap Wawan
"Kamu tidak tahu ya kalau den Sigit ini sudah menikah, istrinya cantik sekali kata Ijah saat melihat den Dimas di puskesmas kemarin" ungkap Yana
"Iya pak, kebetulan saat itu istri saya keguguran, jadi saya tidak bisa langsung menyapa warga di sini, hanya melapor pada pak RT saja untuk membuat KTP di kampung ini" jawab Sigit
"Innalilahi, maaf ya den, kami turut berdukacita" ungkap semuanya
"Terima kasih pak, do'anya saja untuk istri saya supaya tetap kuat" jawab Sigit
"Pak Endang ko dari tadi diam saja?" tanya Bintang
"Saya ko merasa den Sigit ini mirip dengan teman saya waktu sekolah dulu, namanya Wisnu, tapi tidak mirip juga sih, matanya beda" jawab Endang membuat Sigit melirik Bintang
"Mungkin hanya kebetulan saja pak Endang" jawab Bintang setenang mungkin
"Jangan khawatir, om yakin Wisnu tidak akan tahu kalau kalian masih hidup" bisik Bintang dan Sigit mengangguk.
Endang masih menatap Sigit dengan tatapan dalam, dia yakin kalau Sigit mirip dengan Wisnu dan dia pernah bertemu Wisnu ketika Wisnu berkunjung ke kampung istrinya dulu, bahkan nama anak Wisnu juga sama dengan Sigit.
"Pasti ada sesuatu" gumam Endang.
~~~~~
Di bengkel.
"Woi bubar!" teriak Panji
Warung kopi Sadam tiba tiba saja penuh dengan pembeli yang kebanyakan laki laki dan hanya ingin berkenalan dengan Kenanga, bahkan bengkel Dimas juga mereka jadikan tempat nongkrong dengan alasan cuaca panas dan mereka ingin berteduh.
"Kalian bilang gerah tapi malah beli kopi panas!" kesal Panji
"Kerja mah kerja saja kak, kami tidak mengganggu ko" ucap seorang pemuda tersenyum pada Kenanga.
"Nggak ganggu tapi kalian semua menghalangi jalan orang" jawab Gibran.
"Namanya juga usaha kak" jawabnya
"Usaha sih usaha, tapi yang kalian dekati itu istri orang, masih saudaranya Dimas" ucap Restu
"Apa!" pekik mereka semua membuat Dimas dan teman temannya menutup telinga mereka. Untungnya mereka tidak sedang meminum kopi mereka dan tidak tersedak.
"Jangan bercanda kak" keluh orang yang terlihat memelas
"Nggak percaya tanya saja sendiri" ucap Dimas
"Neng benar sudah menikah?" tanya orang yang baru selesai membayar pesanan kopinya
"Iya kak, saya sudah menikah" jawab Kenanga membuat mereka semua lemas.
"Hahaha... Belum pernah gue lihat lelaki lajang di kampung Curug patah hati berjamaah.
"Suaminya mana?" tanya yang lain
"Sedang ikut Om Bintang, kerja" jawab Kenanga
"Orangnya cantik, suaranya lembut, tapi kenapa malah sudah sold out" keluh yang lain
"Kasihan" ledek Dimas dan teman temannya
"Hihihihi... Baru lihat Kenanga saja mereka sudah heboh, coba kalau mereka lihat Sahara yang cantik paripurna ini, mereka pasti klepek klepek" ucap Sahara yang tiba tiba sudah ada di belakang Dimas
"Mau apa?" tanya Dimas
"Batagor lima porsi, kan Sahara sudah jadi hansip di puskesmas kemarin lusa" jawab Sahara mengibaskan rambut panjangnya.
"Ingat ternyata, aku pikir kamu sudah lupa, ada di rumah, tadi aku sudah pesan dan kamu tinggal makan" jawab Dimas
"Yes... Terima kasih ya Dimas tampan, Kenanga mau batagor?" tanya Sahara
"Tidak, Kenanga sukanya bakso" jawab Kenanga dan tiba tiba saja para pemuda pergi dari sana dengan terburu buru.
"Hihihihi mereka mau beli bakso, Horee hari ini kita pesta bakso! Oh iya Dimas, si kuyang berhasil kabur tapi ginjalnya sudah Sahara sembur!" pekik Sahara menghilang dari sana.
"Kamu bisa melihat Sahara?" tanya Gibran
"Bisa kak" jawab Kenanga