Raya Adha gadis manis berambut panjang dan hidup sebatang kara karena orang tua dan adiknya meninggal karena kecelakaan. Raya kemudian terusir dari rumahnya sendiri oleh adik tiri ayahnya.
Tak ingin terpuruk raya memilih pergi ke Jakarta menyusul temannya untuk melanjutkan hidup dan bekerja.Namun karena sebuah kejadian raya harus terikat sebuah pernikahan dengan laki-laki yang tidak ia cintai bahkan tidak di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Tamu Tak Di Undang
Lagi-lagi hari yang tak terduga di alami Raya kembali,tamu tak di undang tiba-tiba datang mengaku sebagai keluarga Raya.
Kedatangan mereka membuat duka Raya kembali terbuka.
Di ruang tamu seperti biasa dengan hangat Artha menyambut tamu yang tak di undang itu.Laki-laki tua itu bisa menebak dengan mudah rencana licik dari tamu nya tersebut.
"Om Andri, tante Dina..." Ucap Raya yang masih berdiri di atas anak tangga.
"Mau apa mereka?" Tanya Rendy yang berbisik kepada Raya.
Dina yang melihat Raya langsung berdiri menghampiri Raya, memeluk Raya seolah ia adalah tante terbaik Raya.
"Sayang...apa kabar kamu? Kenapa kamu nikah gak ngabarin om dan tante?" Tanya Dina pura-pura baik.
Yang di tanya hanya diam saja sedangkan Rendy hanya bisa menahan emosi nya karena sejak lama ia sudah tahu perlakuan buruk Andri dan Dina terhadap Raya.
"Tante tahu dari mana kalau aku sudah menikah dan tinggal di sini?" Bukan nya menjawab pertanyaan Dina, Raya malah bertanya balik.
"Dari Irma." Jawab Dina singkat.
"Perempuan itu." Ucap Rendy geram.
Mereka saat ini sudah duduk di sofa, Dina menunjukan sikap akrab kepada Raya.
"Apa tujuan tante dan om datang kemari?" Tanya Raya datar.
"Om..hanya ingin menjenguk mu." Jawab Andri "Kami sangat Rindu kepada mu Ray."
Rendy dan Artha hanya menyungging kan senyum mendengar ucapan Andri.
"Sejak kapan kalian merindukan ku?"
"Sayang...jangan seperti itu kamu kan keluarga mu satu-satunya." Ucap Dina lembut.
"Sejak kapan kalian menganggap Raya sebagai keluarga?" Tanya Rendy ketus.
"Nak Rendy...Raya ini keponakan kami anak dari kakak ku." Ucap Andri.
"Keponakan? Bukan kah kalian sudah mengusir Raya dan menguasai rumah dan usaha milik orangtua nya." Ucap Rendy to the point.
Andri dan Dina yang mendengar ucapan Rendy hanya tertunduk malu.
"Bahkan kalian adalah dalang dari kecelakaan mobil yang menimpa kedua orangtua dan adik Raya." Ucap Artha menimpali.
Raya yang mendengar ucapan mertua nya sontak saja terkejut air mata nya tumpah membasahi pipi.
"Benarkah itu om tante?" Tanya Raya dalam tangis nya "Kenapa kalian begitu tega?" Ucap nya kembali.
lagi-lagi Andri dan Dina hanya diam tertunduk tujuan nya mendekati Raya kembali sudah gagal.
"Aku sudah memanggil polisi untuk kalian." Ucap Artha sambil menyeruput teh nya.
"Jangan pak...kami mohon jangan penjara kan kami." Pinta Andri sambil berlutut.
"Raya...tante mohon maafkan kami." Pinta Dina yang juga berlutut.
Raya hanya diam membisu ia malah memilih beranjak pergi.
"Raya...tante mohon."Teriak Dina.
"Om mohon Ray." Teriak Andri yang melihat Raya berlalu pergi.
Polisi yang sedari tadi menunggu di luar dengan sengaja di persiapkan Artha untuk menangkap Andri dan Dina.
Selama ini Artha sudah mencari tahu seluk beluk kehidupan menantunya itu, hanya saja ia membiarkan orang-orang jahat seperti mereka datang dengan sendiri nya.
Di kamar Raya sudah menangis sejadi-jadinya ia tidak menyangka atas perbuatan om dan tante nya itu.
"Berhentilah menangis kasihan anak kita." Ucap Rendy sambil memeluk istrinya.
"Kenapa mereka sejahat itu?" Tanya Raya yang masih sesegukan.
"Harta,iri dan dengki membuat seseorang menjadi gelap mata." Ucap Rendy "Ikhlas kan apa yang sudah terjadi kita tidak bisa menolak takdir."
"Berkat mereka aku kehilangan segala nya."
"Yang penting sekarang ada aku suami mu dan juga papah masih banyak yang sayang sama kamu."
"Terimakasih mas."Ucap Raya yang menghapus air mata nya.
"Maafkan aku yang dulu sayang."
"Sudahlah mas kejadian waktu itu bukan atas kehendak kita wajar jika kamu bersikap seperti itu."
Rendy yang mendengar ucapan Raya semakin kuat memeluk tubuh istri nya.
"Istirahat lah aku akan menemui papah sebentar."
Rendy kemudian pergi menemui Artha yang masih santai menikmati teh nya laki-laki tua itu masih setia dengan buku yang ia baca.
"Pah..." Tegur Rendy
"Hmmm." Balas Artha yang masih sibuk dengan buku nya.
"Dari mana papah tahu semua nya tentang Raya?" Tanya Rendy penasaran.
"Dasar anak bodoh." Ucap Artha sambil melepas kacamata nya "Sejak kejadian kamu dan Raya di hotel papah langsung mencari tahu kebenaran nya termasuk seluk beluk kehidupan Raya. Papah hanya menunggu kamu menuntaskan masalah ini tapi kamu sangat lambat untuk menuntaskan nya."
"Jadi, saat papah mengusir tante Lina...."
"Ya..papah sudah tahu hanya saja papah pura-pura tidak tahu papah ingin lihat kemampuan kamu saja." memotong ucapan Rendy.
"Terimakasih pah."
"Bahagiakan Raya dia perempuan baik-baik jangan pernah menyakiti nya kalau kamu sampai sedikit saja menyakiti nya papah tidak akan segan-segan menghukum mu." Ancam Artha.
"Rendy janji pah akan membahagiakan Raya."
Artha hanya tersenyum mendengar ucapan putra nya,sedangkan Rendy memilih kembali ke kamar hari ini ia tidak pergi ke kantor. melihat kondisi Raya yang tertekan, Rendy memberikan Raya sebuket bunga karena ia tahu bahwa istri nya itu sangat menyukai bunga.Rendy sudah memesan bunga beberapa saat lalu.
"Mas...untuk apa bunga ini?" Tanya Raya sambil menerima bunga dari Rendy.
"Ya untuk istri ku lah...aku harap suasana hati nya saat ini kembali membaik." Goda Rendy "Apa kamu suka?" Tanya nya.
"Terimakasih mas..apa pun pemberian mu aku sangat suka." Ucap Raya lalu memeluk suami nya.