"Aku pergi, Xander. Kuharap kamu akan baik-baik saja." ~ Tania Maharani
"Pergilah! Jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku! Aku sangat membencimu! ~ Alexander Vincent Pramono
Rumah tangga harmonis yang diharapkan langgeng hingga maut memisahkan rupanya hanya angan belaka. Tania harus pergi meninggalkan suami tercinta dalam keadaan hamil.
Lantas, bagaimana kehidupan Tania setelah resmi berpisah dari Xander? Akankah Arsenio menerima Xander sebagai ayahnya setelah mengetahui pria itu akan menikah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Baik
Xander mengayun langkah memasuki sebuah restoran Perancis dengan seorang pelayan laki-laki yang mengantarkan ke meja reservasi yang telah dipesan oleh Miranda.
"Tuan, di sana adalah meja yang telah dipesan oleh Nyonya Miranda." Pelayan pria berseragam menunjuk salah satu ruangan yang ada di sudut sana. Sebuah ruangan yang disekat kaca hingga para pengunjung lain dapat melihat keadaan dari luar begitu pun sebaliknya. Akan tetapi, ruangan itu kedap suara hingga percakapan mereka tak dapat didengar oleh orang lain.
Xander menjawab dengan nada dingin. "Baik, terima kasih." Lantas, pelayan laki-laki undur diri setelah mengantarkan Xander.
Xander mengembuskan napas kasar, berusaha mengendalikan diri. Setiap kali bertemu dengan Miranda, akan ada saat di mana mereka adu argumen dan pemicu perdebatan antara mereka tak lain soal rencana pertunangan Xander dan Lidya.
"Come on, Xander. Jangan jadi lelaki pengecut! Hadapi semua yang ada di depan mata," gumam Xander pada dirinya sendiri.
Xander langkahkan kaki menuju salah satu meja VVIP di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke taman restoran. Sejujurnya ia ingin sekali pergi meninggalkan restoran itu dan memilih tidur di apartemen miliknya, tapi lelaki itu terpaksa sebab Miranda mengancam akan melakukan hal bodoh agar bisa menjerat sang anak.
"Kenapa datang terlambat? Apa kamu sengaja ingin membuat kami menunggu?"
Kalimat itu menjadi sambutan yang Xander terima dari Miranda, sesaat setelah mantan suami Tania tiba di ruangan VVIP. Tampak sang mama menghunuskan tatapam tajam kepada anak semata wayangnya.
"Maaf, tadi aku kejebak macet," jawab Xander sambil mendudukkan bokongnya di kursi seberang Miranda. Di sebelahnya ada seorang wanita cantik, sedari tadi mengulum senyum di bibir.
Miranda berdecak kesal. "Selalu saja menjadikan macet sebagai alasanmu. Sejak dulu hingga sekarang tak pernah ada alasan lain selain macet, macet dan macet."
Xander terdiam beberapa saat, tak menyahuti perkataan Miranda. Ia malah mengalihkan perhatian pada cangkir kopi yang hanya tersisa setengahnya. Namun, si pemilik cangkir kopi tersebut tak ada di tempat.
Miranda menyaksikan raut kebingungan terlukis jelas di wajah sang putera. "Papamu sedang pergi keluar karena bosan menunggumu terlalu lama," jawab wanita paruh baya itu seakan mengerti isi pikiran Xander. Sengaja berbohong agar anak semata wayangnya sadar jika dia telah membuang waktu mereka terlalu lama.
"Ada hal penting apa yang ingin Mama bicarakan denganku? Bukankah Mama tahu kalau aku sibuk," ujar Xander to the point. Ia tak ingin berbasa basi dan menghabiskan waktu terlalu lama berada dalam ruangan sama dengan Miranda dan Lidya.
Miranda meraih cangkir keramik di hadapannya, kemudian menyesap perlahan cairan pekat itu. "Mama memintamu dan Lidya datang ke sini, untuk membicarakan rencana pertunangan kalian. Mama dan Mommy-nya Lidya telah menentukan kalau minggu depan kalian akan bertunangan. Maka dari itu, Mama ingin kamu dan Lidya mulai menentukan gedung, dekorasi dan kostum yang akan dikenakan. Mama mau semuanya serba mewah," kata wanita paruh baya itu tegas.
Tampak rona kebahagiaan terpancar jelas di wajah Lidya. Sebentar lagi cita-citanya menjadi nyonya muda Vincent Pramono terkabul. Akan tetapi, beda halnya dengan Xander. Pria itu bergeming beberapa saat setelah mendengar ucapan sang mama.
Kedua tangan Lidya menangkup punggung tangan Miranda yang ada di atas meja. "Tante tidak bohong, kalau minggu depan aku dan Xander akan bertunangan?" tanya wanita itu dengan pendar bahagia di bola matanya.
Miranda mengangguk antusias dan menjawab, "Tidak dong. Tante dan Mommy-mu sudah membahasnya saat kami bertemu kemarin. Setelah berdiskusi, akhirnya kami sepakat mempercepat pertunangan kalian."
Dengan suara yang dibuat semanja mungkin Lidya berkata, "Aduh, aku bahagia sekali. Akhirnya setelah sekian lama penantianmu tidak sia-sia. Aku akan menjadi bagian dari keluarga Vincent Pramono. Terima kasih, Tante Miranda." Wanita itu bahkan beringsut dari kursinya, lalu memeluk tubuh Miranda dengan erat. Mengekspresikan betapa bahagianya ia hari ini.
"Kenapa mengambil keputusan secara sepihak? Kenapa tidak bertanya kepada diriku terlebih dulu sebelum mengambil keputusan," ujar Xander. Ia tak mengira kalau Miranda akan secepat ini menentukan tanggal pertunangannya dengan Lidya.
"Loh, memangnya kenapa tidak? Bukankah kamu sudah setuju menikahi Lidya, lalu kenapa saat Mama telah menentukan tanggal baik bagi kalian, kamu malah protes," cibir Miranda. Sedikit kesal akan sikap Xander yang masih belum sepenuhnya setuju akan rencana pertunangan pria itu dengan perempuan pilihannya.
Xander melirik Miranda, kemudian pada sosok perempuan di sebelah mamanya. "Aku memang setuju dengan rencana pernikahan ini, tapi bukan berarti Mama dapat menentukan kapan aku bertunangan Lidya. Lagipula, aku menerima pernikahan ini karena paksaan Mama, 'kan? Bukan atas kehendak diriku sendiri."
Kalimat itu berhasil membuat Miranda dan Lidya terkejut. Bahkan saking terkejutnya, seakan sepasang mata istri dari pria keturunan Amerika copot dari tempatnya. Bola mata wanita itu terbelalak sempurna.
"Xander, jaga ucapanmu!" Miranda memberi peringatan, sambil menatap penuh ketidakpercayaan pada anak kesayangannya itu. Sikap manis dan penurut sudah hilang tak membekas dalam diri Xander sejak lelaki itu secara diam-diam menikahi Tania tanpa restu darinya.
"Kenapa aku harus tutup mulut?" sergah Xander cepat. "Aku sudah menuruti keinginan Mama untuk menikahi Lidya, tapi Mama tidak bisa memaksaku bertunangan dengan wanita pilihan Mama."
Xander menatap Lidya dengan sorot mata tak dapat dibaca. Ia tidak peduli jika seandainya wanita itu marah besar atau bahkan membencinya seumur hidup karena dianggap sebagi lelaki berengsek yang telah mempermainkan perasaan seseorang. Padahal, ia sama sekali tak ada niatan sedikit pun mempermainkan Lidya, memberi wanita itu harapan palsu.
"Jangan terlalu keras terhadap Mama-mu, Nak! Bagaimanapun, dia adalah wanita yang telah mengandung dan melahirkanmu," ujar seseorang dari belakang tubuh Xander. Jonathan Vincent Pramono menginterupsi perbedatan antara anak dan istrinya.
Sejak dulu lelaki berdarah Amerika selalu bersikap netra, tak berpihak kepada siapa pun. Ia tak segan menegur Xander maupun Miranda apabila di antara mereka ada berbuat salah. Dalam kasus seperti ini, ia pun tak ingin ikut campur dan membiarkan Xander, Miranda bermain dalam permainan yang diciptakan oleh mereka sendiri.
Xander melirik kecil ke arah papa-nya dan tersenyum samar. "Aku tak pernah melupakan semua jasa yang dilakukan Mama terhadapku. Namun, dalam kasus ini aku kecewa pada Mama karena mengambil keputusan secara sepihak tanpa melibatkan aku."
"Kalau Mama melibatkanmu, kapan kamu akan menikahi Lidya? Usiamu saja sudah memasuki kepala tiga, sudah waktunya kamu melupakan masa lalu dan melangkah maju ke depan tanpa menengok kembali ke belekang," sergah Miranda cepat. Kali ini ia tak dapat mengendalikan diri. Ia sudah cukup geram atas sikap Xander yang seakan mempermalukannya di hadapan Lidya. Wajah wanita itu merah padam, deru napas memburu dan dada kembang kempis.
"Pokoknya Mama tidak mau tahu, minggu depan kalian akan melangsungkan pertunangan. Kalau kamu memang tidak mau repot menyiapkan segala keperluan, biarkan Mama yang mengatur semuanya," kata Miranda tanpa mau dibantah. Ia melirik ke arah Lidya, dan tersenyum manis kepada sang model. "Dan untuk kamu, Lidya, persiapkan mental dan fisikmu untuk acara minggu depan."
Kedua sudut bibir Lidya tertarik ke atas hingga membentuk sebuah lengkungan. "Pasti, Tante!" jawab wanita itu antusias.
Xander menghela napas kasar. Percuma ia membantah karena pada akhirnya Miranda akan selalu menang. "Kurasa tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan. Kalau begitu aku pulang dulu. Permisi!" Ia menarik kursinya ke belakang hingga terdengar bunyi decit menggema memenuhi penjuru ruangan.
.
.
.