Arjuna Hartono tiba-tiba mendapat ultimatum bahwa dirinya harus menikahi putri teman papanya yang baru berusia 16 tahun.
“Mana bisa aku menikah sama bocah, Pa. Lagipula Juna sudah punya Luna, wanita yang akan menjadi calon istri Juna.”
“Kalau kamu menolak, berarti kamu sudah siap menerima konsekuensinya. Semua fasilitasmu papa tarik kembali termasuk jabatan CEO di Perusahaan.”
Arjuna, pria berusia 25 tahun itu terdiam. Berpikir matang-matang apakah dia siap menjalani kondisi dari titik nol lagi kalau papa menarik semuanya. Apakah Luna yang sudah menjadi kekasihnya selama 2 tahun sudi menerimanya?
Karena rasa gengsi menerima paksaan papa yang tetap akan menikahkannya dengan atau tanpa persetujuan Arjuna, pria itu memilih melepaskan semua dan meninggalkan kemewahannya.
Dari CEO, Arjuna pun turun pangkat jadi guru matematika sebuah SMA Swasta yang cukup ternama, itupun atas bantuan koneksi temannya.
Ternyata Luna memilih meninggalkannya, membuat hati Arjuna merasa kecewa dan sakit. Belum pulih dari sakit hatinya, Arjuna dipusingkan dengan hubungan menyebalkan dengan salah satu siswi bermasalah di tempatnya mengajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Liburan di Semarang 1
Seperti biasa Cilla menjadi yang pertama duduk di restoran hotel menikmati sarapan pagi.
Tidak lama kelima Pandawa itu masuk ke dalam resto dan menghampiri Cilla. Ternyata gadis itu sudah menyiapkan meja untuk enam orang.
Arjuna yang sudah membaca niat para sahabatnya yang ingin mengoloknya dengan Cilla, buru-buru duduk di bangku paling pinggir yang lain, jauh dari posisi Cilla yang juga duduk di paling pinggir.
“Sepertinya ada yang nggak bisa tidur nyenyak semalam makanya pagi-pagi sudah duduk manis di restoran,”ledek Erwin yang langsung duduk di sebelah Cilla sambil senyum-senyum.
“Om Erwin nggak bisa tidur ?” Cilla menoleh dengan wajah polosnya. “Nggak ada bau-bau iler di bantal hotel, ya ?” ledeknya.
Sementara itu di ujung meja, Arjuna sedang disuruh pindah oleh Theo, Luki dan Boni.
“Wooii Win, jangan duduk sebelah situ, dong. Nanti ada yang panas gimana ?” Boni memberi kode pada Erwin supaya bangun dan memberikan tempatnya untuk Arjuna.
“Apaan sih lo !” gerutu Arjuna sambil cemberut.
“Udah Om, cepetan deh pada duduk dan sarapan. Karena waktu kita cuma hari ini, lebih pagi lebih baik. Lagipula saya sama Pak Arjuna nggak ada apa-apa, jadi mau duduk jauh dekat nggak ada pengaruh.”
“Kamu kira lagi naik busway, jauh dekat satu tarif,” Erwin terkekeh.
Ketiga pria yang belum duduk itu akhirnya menurut dengan posisi Boni yang duduk di seberang Cilla bersama Theo dan Arjuna, Luki duduk di sebelah Erwin.
“Jangan godain Pak Arjuna lagi,” ujar Cilla. “Biar saya aja yang bikin Pak Arjuna kesal, soalnya saya udah kebal. Kalau Om-om nanti tersinggung, berantem , terus jotos-jotosan.”
“Lebay,” cebik Arjuna.
Cilla tersenyum mendengar Arjuna mulai bicara. “Selamat pagi Pak Arjuna,” sapanya sopan, layaknya seorang murid pada gurunya.
Keempat sahabat Arjuna tertawa lalu meninggalkan meja, mengambil makanan yang disiapkan ala buffet oleh pihak hotel.
Arjuna akhirnya ikutan bangun dan menyusul keempat sahabatnya. Cilla kembali sendiri menunggu kelima Pandawa.
“Rute kita hari ini mulai dari Klenteng Sam Poo kong, Kota Lama, makan siang dan terakhir ke Lawang Sewu yang letaknya paling dekat dari sini,”Cilla memberikan penjelasan setelah semuanya duduk dengan makanan masing-masing.
“Diatur aja Cil, kita belum pernah ada yang jalan-jalan kemari,” sahut Luki.
“Gue udah pernah sih, tapi pas kelas 7, lupa-lupa inget deh,” ujar Erwin.
“Oh iya, besok jadwal pesawat Om jam berapa ? Pagi atau siang ?”
Theo dan Erwin langsung membuka handphone untuk mengecek e-tiket mereka.
“Pesawat jam 3, Cil. Bareng nggak sama kamu ?” sahut Theo
“Sepertinya beda Om, besok pesawat saya jam 4 sore, beda sedikit. Tapi nggak apa-apa kita bareng aja ke bandaranya, jadi Pak Tono nggak bolak balik.”
“Nggak bisa dirubah biar barengan, Cil ?” Tanya Theo kembali.
“Beda perusahaan penerbangannya, Om.”
“Yah masa pisahnya di Semarang, Cil ?” timpal Erwin.
“Nggak apa-apa, Om, Jadwal libur saya masih lama. Kalau Pak Arjuna kasih ijin, saya mau kok diajak lagi ketemuan pas om lagi pada kumpul. Sekalian saya mau kenalan sama Kak Mimi.”
“Bener ya, kamu mau datang ?” Boni menegaskan. “Saya akan ajak Mimi ketemu ssma kamu.”
“Asal pas jadwal saya lagi kosong, papa bucin,” ledek Cilla sambil tertawa.
“Dih, mulai ikutan nih bocah,” gerutu Boni.
“Nggak usah panggil pakai bucinnya, Cil,” ujar Luki “Panggil papa aja.”
“Ogah,” Cilla mencebik. “Nanti orang pikir saya ini sugar baby-nya Om Boni. Nggak minat saya punya sugar daddy kayak Om Bon bon,” Cilla terkikik.
“Biasa sama om…” Arjuna mulai buka suara dengan tatapan sinis.
Theo dan Luki langsung menoleh menatap Arjuna, memberi isyarat supaya sahabat mereka tidak lagi mengeluarkan kata-kata pedas pada Cilla.
“Biasa sama Om Arjuna,” potong Cilla cepat sebelum Arjuna menyelesaikan kalimatnya, yang Cilla tahu akan kemana berakhirnya.
“Kalau sugar daddy-nya kayak Om Arjuna saya mau. Nggak penting isi dompetnya gaji guru, yang penting kerennya,” Cilla mengangkat kedua jempolnya.
“Haaiisss sejak kapan kamu panggil Om Arjuna,” Luki tergelak. Ketiga pria yang lain juga baru sadar kalau panggilan Cilla berubah.
“Jadi mulai panggil om juga nih ?” Boni mencondongkan badannya sambil mengedipkan mata.
“Apa Mas Arjuna, kayaknya lebih mesra,” timpal Erwin.
“Sepertinya efek semalam diminta paksa sama Arjuna jadi berubah panggilan Cilla,” Theo kali ini ikut meledek keduanya.
Arjuna jadi memerah wajahnya. Antara kesal dan malu, ia menggerutu sambil mengunyah omelet di piringnya.
“Makanya jangan suka nethink dulu sama orang,” bisik Theo pada Arjuna. “Lawan bocah kayak Cilla jangan pakai hati, tapi otak,” Theo masih dengan suara berbisik sambil tertawa pelan.
Saru jam kemudian, setelah acara makan pagi selesai, mobil perlahan meninggalkan parkiran hotel menuju Klenteng Sam Poo Kong.
“Cil, ini urunan dari kita berlima untuk biaya hari ini,” Theo yang duduk di belakang Cilla menyerahkan sebuah amplop putih bertuliskan nama hotel tempat mereka menginap.
“Dih kok pakai begini segala Om, nanti pas di tempat wisata sama makan saja om keluarin uang. Kan hotel sudah Om bayar langsung.”
“Kamu atur aja dulu dengan uang ini, Cil,. Kalau nanti kurang, bilang aja. Lagipula kan kita berlima sudah dikasih tumpangan mobil, makan siang kemarin sampai makan malam gratis. Biar sama-sama enak, Cil,” timpal Luki.
“Kapan-kapan kami mau kok temenin kamu travel lagi kalau dibayarin,” ujar Boni sambil tertawa.
“Beneran nih om pada mau ? Asal kuat aja diajak makan merakyat ya,” Cilla ikut tertawa.
“Aku mau Cil, berdua aja juga boleh,” Erwin yang duduk di depan membalikkan badan sambil mengedipkan mata.
“Boleh, boleh,” Cilla tertawa. “Boleh ramai-ramai maksudnya, Om.”
Hanya limabelas menit dari hotel mereka sampai di Klenteng Sam Poo Kong. Cilla membeli tiket masuk termasuk untuk Pak Tono yang ternyata belum pernah ke tempat ini.
“Om, di belakang klenteng yang kedua ada cerita sejarahnya. Om sama Pak Tono silakan lihat-lihat, jangan lupa foto ya. Saya tunggu di sini aja,” Cilla duduk di satu tempat duduk panjang yang terbuat dari semen.
“Kamu nggak apa-apa, Cil ?” Theo melihat wajah Cilla mendadak sedikit pucat dan berkeringat.
“Nggak apa-apa, Om. Kekenyangan maka pagi,” Cila tertawa. “Saya tunggu di sini saja.”
Cilla memberi isyarat supaya kelima Pandawa itu menikmati wisata mereka, sementara ia sendiri duduk dan mulai mengambil handphonenya.
Cilla masih fokus membuka laman sosial medianya. Dilihatnya akun Febi dan Lili yang beberapa hari ini sering mengganti statusnya.
Cilla mengusap layar handphonenya dan tidak sadar kalau ada cairan bening keluar dari kedua matanya.
“Sakit banget ?” Sebuah gelas kertas dengan kepulan asap disodorkan dekat wajahnya. Cilla mendongak tanpa sempat menghapus air matanya. Dia terkejut mendapati Arjuna sedang berdiri di depannya.
“Perut kamu sakit banget sampai nangis ?” Kali ini suara Arjuna terdengar kalem dan kembali memacu denyut jantung Cilla.
Ingin rasanya kepala Cilla menggeleng dan mengatakan bahwa bukan perutnya yang sakit, tapi hatinya. Tapi ia tidak yakin kalau Arjuna akan mau mendengarkan curahan hatinya. Akhirnya Cilla menganggukan kepalanya.
“Minum teh hangat ini biar perut kamu lebih enak. Amanda, adik saya, juga suka mengeluh sakit banget perutnya kalau baru datang bulan. Biasa mama saya kasih minuman jahe hangat. Tapi di sini cuma ada teh hangat.”
Arjuna kembali menyodorkan gelas kertas yang dipegangnya, lalu duduk di samping Cilla.
“Terima kasih, Pak,” Cilla menerimanya lalu meniup teh yang masih panas itu, dan tanpa mampu dicegah air matanya justru terus mengalir.
“Bapak tinggal aja, saya nggak apa-apa. Sebentaran juga pasti hilang sakitnya.”
“Nggak apa-apa, saya sudah pernah kemari kok, Sama keluarga sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu.”
Cilla hanya mengangguk dan menundukan kepala sambil meniup tehnya.
Diberi perhatian di saat dirinya sedang sakit justru membuat hatinya terharu. Selama ini Cilla selalu berusaha terlihat tegar dan baik-baik saja hingga tidak ada orang yang menawarkan pertolongan untuknya. Hanya Bik Mina dan Pak Trimo saja yang mengetahui semua permasalahannya.
Tiba-tiba tangan Arjuna sudah mengusap-usap pelan punggung Cilla.
“Gimana ? Lebih enak ?”
Arjuna yang berpikir kalau Cilla kesakitan karena datang bulan, memperlakukan gadis itu seperti yang mama Diva biasa lakukan pada Amanda saat datang bulan.
Kali ini Cilla menggeleng dan menjawab “Nggak.”
Arjuna mengakat alisnya sebelah sambil menatap Cilla yang masih menunduk sambil meniup tehnya.
“Kenapa ?”
“Karena perlakuan Bapak ini malah bikin saya baper dan jantung saya jadi nggak karuan lagi.”
Jedderrr
Arjuna terkejut dan menjauhkan tangannya dari punggung Cilla. Posisinya yang tadi miring menghadap Cilla berbalik lurus ke depan lagi.
“Saya nggak bohong atau main-main dengan ucapan saya, Pak. Bapak adalah cowok pertama yang buat saya sering deg-degan.”Cilla menoleh dan mengusap air mata dengan punggung tangannya.
“Lihat senyuman Bapak aja saya langsung grogi, apalagi Bapak mengelus-elus saya seperti ini. Saya bukan Amanda dan hati saya nggak bisa diajak kompromi untuk menganggap Bapak seperti Amanda.”
Arjuna menoleh ke samping dengan wajah memerah. Dia jadi salah tingkah dengan ucapan Cilla. Kenapa rasa dan pikiran mereka tidak bisa sejalan, sih ? Gerutu Arjuna dalam hatinya.
Arjuna ingin memperhatikan Cilla seperti adiknya, sementara Cilla hanya dengan diberi senyuman saja sudah bertambah jatuh cinta.
“Jangan lupa Pak Arjuna, nama saya Pricilla dan bukan Amanda,” ujar Cilla lagi.
Arjuna masih menoleh ke samping, mengusap wajahnya dan menghela nafas panjang.
Apakah ada rumus persamaan matematika yang bisa membuat hati dan pikiran mereka memiliki hasil yang sama ?
Sementara dari kejauhan, Theo mengambil foto mereka berdua dengan kamera DSLR-nya, sejak Arjuna duduk di samping Cilla.
kok tau banget😂😂
dan cewek pake emosi 75 dan logika 25 %
lha ini malah kebalikan si juna malah yg dewasanya cila
taek jg ni cowok
emang enak..rasain tuh 😂