Saquel dari novel "Perjodohan dengan CEO"
Arabella Levina Ayyara Bastian , gadis barbar yang sering di panggil Ara ini merupakan putri sulung dari pasangan Chika dan Andre. Dia terkenal terkenal di sekolahnya sebagai murid yang sering bolos dan pembuat onar akan tetapi dia tetap berprestasi. Masih ada sisi baik dari Ara yaitu suka membela murid yang di bully atau di tindas.
Narendra Artha Wijaya, pria kaku yang mempunyai gengsi yang tinggi ini diam-diam selalu memperhatikan Ara dan juga melindunginya. Narendra mempunyai saudara kembar yaitu Nayla Queena Wijaya mereka merupakan anak dari pasangan Alana dan Raka Wijaya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya jika gadis barbar di satukan dengan pria kaku?
Yuk simak cerita selanjutnya......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
"Jadi benar, kalian bolos jam pelajaran" tanya kepala sekolah memastikan.
"Iya pak, soalnya saya males belajar matematika" sahut Ara.
Mereka bertiga hanya diam saja membiarkan Ara yang menghandlenya.
"Besok bapak akan memanggil orang tua kalian untuk datang kesekolah, bapak akan mengadukan kelakuan kalian semua kepada orang tua kalian" kata Seno.
Seno berpikir, mereka pasti takut kalau orang tuanya di panggil kesekolah.
Dengan begitu dia memanfaatkan kelemahan mereka untuk menekannya.
Namun dugaannya salah, mereka berempat malah santai, tak ada yang membantahnya.
Mereka berempat tidak ada yang membantah, semua tahu kalau itu sudah jadi konsekuensi dari tindakannya. Semua sudah terlanjur, lalu mereka bisa apa kecuali harus menghadapi ceramah dari orang tuanya nanti.
"Panggil saja pak, kalau begitu kami pulang dulu pak" kata Ara dan pamit sama kepala sekolah.
Tangan Seno mengepal karena tak berhasil menekan Ara dan teman-temannya, sangat sulit mengintimidasi mereka.
Mereka berempat pergi ke parkiran mengambil mobilnya, mobil mereka satu persatu meninggalkan area sekolah dan melaju menuju ke rumahnya masing-masing.
"Bagaimana pa" tanya Bella menghampiri ayahnya.
"Dia tak terpengaruh dengan ancaman papa, bahkan mereka membiarkan orang tuanya di panggil oleh pihak sekolah" Sahut Seno kepada putrinya.
Seno ingin menekan Ara karena masih dendam dengan Ara dan temannya yang tengah membuat mobil putrinya rusak.
Namun dia tidak bisa terang-terangan membalas perbuatan Ara kepada putrinya itu, akan sangat beresiko jika orang tua Ara mengetahui dirinya telah melakukan hal yang tidak terpuji kepada putrinya.
"Terus bagaimana pa? bahkan tiap hari dia makin dekat dengan Narendra, Bella ingin papa mengeluarkan dia dari sekolah ini, supaya dia tidak bisa dekat lagi dengan Narendra." rengek Bella.
"Tak semudah itu mengeluarkan orang Bella, apalagi Ara tak melakukan kesalahan yang fatal. Bukan dia yang keluar dari sekolah, melainkan papa yang akan di pecat dari sekolah ini nantinya"
"Papa bisa mengeluarkan dia dengan alasan karena sering membolos" usul Bella.
"Baru kali ini mereka ketahuan bolos Bella, bagaimana mungkin papa mengeluarkan mereka dengan alasan spele seperti itu." tolak Seno.
"Kalau begitu papa skors aja mereka, dengan begitu Bella akan leluasa mendekati Narendra" ucap Bella memaksa.
Karena kalau ada Ara, Narendra selalu saja memperhatikan Ara ketimbang dirinya, meskipun di hadapannya tak sedikitpun Narendra menoleh ke arahnya.
...****************...
"Assalamualaikum...Ara cantik sudah pulang ini" teriak Ara memenuhi rumahnya.
"Berisik kak Ara" sahut Shaka yang sedang menonton film kesukaannya.
"Eh, adik ganteng kakak sedang menonton rupanya" kata Ara membuat Shaka merotasi bola matanya malas, dia merasa curiga dengan ucapan manis kakak nya yang beda dari biasanya.
Ara berjalan mendekati adiknya, lalu duduk di sisi adiknya yang masih kosong.
"Eh bocil, kamu punya uang tidak?" tanya Ara.
"Ngapain kak Ara nanya begitu" sahut Shaka curiga.
"Kakak mau pinjem, uang kakak habis... nanti kak Ara ajak kamu jalan-jalan deh" lirih Ara sambil clingukan memastikan tak ada maminya.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Shaka yang mulai tertarik dengan iming-iming yang di berikan Ara kepadanya.
"Terserah kamu mintanya kemana? beli jajanndi luar juga boleh, tapi kamu bayar sendiri" ucap Ara.
Shaka mendengus, udah di suruh ngutangin. giliran mau ajak jalan malah di suruh bayar sendiri.
"Kalau begitu Shaka mending pergi sama papi saja, geratis" tolak Shaka.
Alasan Ara meminjam uang kepada adiknya karena uang mingguan dia yang di kasih papinya sudah habis buat main tadi.
Kalau nanti minta lagi sama papinya pasti akan banyak pertanyaan yang akan di tanyakan kepadanya.
Dia berinisiatif meminjam ke adiknay, pasalnya adiknya itu jarang jajan, biasa dia kalau pergi ke sekolah akan selalu membawa bekal buatan maminya.
"Nah kalau akur begini kan papi senang melihatnya" ucap Andre yang baru saja pulang dari kantornya.
Shaka dan Ara menoleh melihat papinya sudah pulang padahal hari masih menunjukkan pukul stengah empat sore.
"Tumben papi sudah pulang" tanya Ara.
"Karena papa tidak sabar mau bertanya sama putri nakal papi, tadi kalian habis darimana" tanya Andre sambil duduk di sofa single di ruangan tersebut.
"Tentu saja dari sekolah pi" sahut Ara mengerutkan dahinya, ia bingung dengan maksud papinya, tak mungkin kan kalau papinya tau kalau dirinya bolos pikir Ara.
"Jangan berbohong sayang, apa hari ini kamu bolos sekolah hmmm" tanya Andre tegas.
"Iya Ara bolos pi dan besok pihak sekolah akan memanggil papi untuk datang ke sekolah" jawab Ara jujur, percuma saja bohong, kalau papinya sudah bertanya seperti itu tandanya papinya sudah mengetahuinya.
"Kenapa harus bolos, bukankah kalian bisa main setelah jam pulang sekolah"
"Ara tidak suka pelajaran berhitung. itu membuat kepala Ara pusing" keluhnya.
"Lalu kenapa kamu mengambil jurusan IPA kalu tidak suka berhitung, kenapa tidak ambil IPS kalau begitu. " ucap Andre tak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya.
"Karena biar terlihat keren" ucap Ara sambil cengengesan.
Andre geleng-geleng, selalu saja alasannya tak masuk akal.
Sebenarnya Andre tidak marah putrinya bolos, terlebih dia sudah melihat senidiri apa yang di lakukan putrinya di luar tadi.
Tapi bukan berarti Andre membenarkan perbuatan putrinya.
Silahkan saja mau pergi kemana dan ngapain, asal jangan mempengaruhi jam sekolahnya, karena bagi Andre dan Chika, pendidikan tetap nomor satu.
"Lalu ini kenapa kamu dekat-dekat dengan adik kamu" tanya Andre curiga.
"Dekat di curigai, giliran berantem di marahi" gerutu Ara.
Kali ini Andre menatap wajah putranya.
"Kak Ara mau utang sama Shaka" jawab Shaka ember. Membuat Ara melototi adiknya, mulut adiknya selalu saja tidak bisa di ajak kompromi.
"Memangnya uang kamu kemana Ara, ini baru hari apa, sudah habis saja uangnya" omel Chika yang baru saja datang sambil mebawakan minum untuk mereka.
"Mami ngga mau tahu, pokoknya mami tidak mau kasih uang kamu lagi. besok-besok mami akan kasih uang saku kamu harian saja, di kasih mingguan malah cepet habis. baru juga tiga hari".
"Yee.. bukan salah Ara kalau uangnya habis, mami aja yang ngasihnya kurang banyak,"
Ingin Rasanya Chika memukul kepala putrinya, uang lima ratus ribu tidak cukup tuh memangnya anaknya itu jajan apa aja.
"Sudah nanti papi yang kasih"kata Andre menghentikan perdebatan mereka.
"Papi terbaik, ....I love you papi"sorak Ara sambil mencium pipi papinya.
Ara tersenyum mengejek ke arah maminya, terlihat wajah maminya merah padam karena marah dengannya.
"Besok Ara akan menyuruh aunty Arin saja yang datang ke sekolah, karena Ara tak mau mami yang datang" teriak Ara sambil berlari menuju ke kamarnya sebelum maminya kembali murka dengannya.
Bersambung
Happy reading guys 🙏
Jangan lupa, like, koment, vote, gift 🙏
😀😀😀