Seorang gadis membuka mata dengan perlahan dan menatap sekeliling untuk memastikan dirinya berada dimana. Matanya terbelalak kaget saat menyadari dirinya berada di rumah sakit.
"Astaga, apa yang terjadi sebenarnya? Gue belum mati?" tanya gadis itu dengan bingung.
Sangat mengherankan kalau dirinya masih hidup saat nekat menabrakkan diri di sebuah truk yang sedang melintas di jalan. Dan yang lebih mengherankan di tubuhnya tidak mengalami luka gores sedikitpun.
Penasaran dengan kelanjutan ceritanya langsung aja di baca gaes🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ana marisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Semua pandangan tertuju pada Azam. Kerutan nampak jelas di dahi penghuni kantin melihat tingkah Azam yang kini berjalan menghampiri Kiana.
"Kenapa lo," ucap Kiana.
"Ikut gue!"
Kiana tersentak saat Azam menarik tangannya keluar dari kantin. Kiana terlihat memberontak, namun hal itu terlihat sia-sia. Genggaman tangan Azam di pergelangan tangannya sangat erat.
"Apa-apaan sih lo!" sentak Kiana saat mereka tiba di taman belakang sekolah. Ia menatap tajam ke arah Azam yang kini tengah meraup wajahnya. Cowok itu terlihat kacau.
"Njir kayak Zombie lo," ucap Kiana saat melihat wajah Azam terkena darah dari tangannya.
Kiana juga baru menyadari jika pergelangan tangannya kini berwarna merah terkena darah dari tangan Azam.
"Tangan gue kena darah lo tau nggak, Ya Tuhan." Kiana mengusap pergelangan tangannya dan setelah itu melotot pada Azam. "Lo ngeselin juga ya. Liat nih, tangan gue jadi kotor."
Azam menghela napas berat kemudian berbalik menatap Kiana. "Sini tangan lo, biar gue bersihin," ucap.Azam membuat Kiana mengerutkan keningnya.
"Nggak perlu. Gue bisa bersihin tangan gue sen..." Kiana tersentak saat Azam menarik tangannya dan membersihkan darah menggunakan kemejanya.
Kiana tidak tahu sejak kapan Azam melepaskan kemeja sekolahnya hingga kini hanya memakai kaus hitam polos. Dan juga Azam sangat jarang memakai almamater.
"Udah bersih," ucap Azam setelah selesai dengan kegiatannya.
Kiana langsung menarik tangan dan menatap kesal pada Azam dan memilih duduk di bangku panjang yang tersedia di bawah pohon beringin.
Sial, tiba-tiba Kiana merinding dengan suasana saat ini. Mana sekarang ia tengah bersama Azam, lengkap sudah. Pasti kaum setannya juga sudah ada di sekitar sini.
Sangat mengherankan, mengapa bisa ada pohon beringin di halaman sekolah ini, mana di sediakan kursi lagi.
"Kiana." panggil Azam membuat Kiana kaget. Ia sedang melamun memikirkan hal gaib, namun suara Azam mengejutkan dirinya.
"Kenapa lo?" balas Kiana jutek. Ia terlalu malas berhadapan dengan Azam.
Azam menghela napas dengan kasar. Perasaannya terlalu cepat tumbuh tanpa bisa dicegah. Azam sadar bahkan sangat sadar, perubahan Kiana yang mulai menjaga jarak dengannya membuat Azam seperti kehilangan sesuatu. Kini ia sudah menyadari perasaannya. Perasaan yang entah sejak kapan ada.
"Kiana," panggil Azam lagi.
"Dari tadi manggil mulu. Kenapa? Mau minta tanda tangan gue?" tanya Kiana sinis sambil menyilangkan kakinya.
Azam menghela napas lagi. Ia mendekat dan duduk di sebelah Kiana. Tidak ada yang bersuara. Keduanya dian dengan pikiran masing-masing. Azam dengan pikiran mengenai perasaannya, sedangkan Kiana malah memikirkan perutnya yang belum di beri makan.
"Lo mau jadi patung? Kalau nggak ada yang mau di omongin, gue mau pergi," ucap Kiana membuka suara. "Anak gue udah kelaparan. Butuh asupan." lanjut Kiana.
Kalimat terakhir Kiana membuat Azam mengerutkan keningnya. "Anak? Kita kan belum pernah ngelakuin itu gimana lo bisa punya anak?" heran Azam. Cowok itu salah mengartikan ucapan Kiana.
Kiana mendengus kasar. "Dahlah males banget bicara sama orang kayak lo."
Kiana beranjak berdiri, berniat untuk pergi. Namun, Azam dengan cepat menahan tangannya lagi.
"Ada apa lagi sih?" stok kesabaran Kiana mulai menipis.
"Mau kemana?" tanya Azam. Cowok itu menatap dengan pandangan teduh untuk pertama kalinya. Tidak ada tatapan tajam penuh kebencian lagi.
"Kemana-mana hatiku senang. Udah lepas! Pegang-pegang mulu lo!" Kiana menyentak tangan Azam dan bersedekap dara. Ia menatap raut tenang Azam.
"Lo kerasukan jin kalem kayaknya, tumben banget nggak mencak-mencak?"
Azam hanya diam saja. Ia menatap wajah jutek istrinya itu. "Lo dekat banget ya sama cowok di kantin tadi? Sejak kapan dekatnya?" tanya Azam penasaran. Ia mati-matian menahan amarah. Cukup sudah dengan Devan yang membuat ia penasaran, kini di tambah dengan Davian. Setelah itu siapa lagi?
Alis Kiana terangkat sebelah mendengar pertanyaan Azam. "Urusannya sama lo apa? Lagian gue dekat dengan siapa aja, mau itu cowok atau cewek, itu urusan gue, bukan urusan lo. Jangan sok-sokan menjadi orang yang berperan penting di kehidupan gue, Zam. Jijik gue liatnya." ceplos Kiana yang tanpa sadar membuat emosi Azam meluap.
"Gue suami lo, Ki. Jadi gue berhak tau lo dekat dengan siapa aja. Terlebih dekat dengan cowok," ucap Azam dengan penuh penekanan.
Kiana terkekeh sinis sambil mengangguk-angguk kecil. "Suami ya? Eemm...Jadi udah mulai ngakuin kalau lo suami gue? Dulu aja jijik banget, bahkan nggak segan-segan kasar sama gue karena lo menolak hubungan ini. Sekarang apa hmm? Jangan-jangan lo beneran udah suka ya sama gue?" Kiana tertawa mengejek pada Azam.
Tingkah Azam sekarang ini sungguh terlihat seperti lelucon di mata Kiana.
"Gue emang udah su..." Belum selesai Azam berucap, Kiana langsung menyelanya.
"Zam, lo udah lupa dengan kalimat gue waktu itu? Lo sekarang nggak penting di hidup gue dan juga jangan terlalu kepo sama urusan gue. Kita emang suami istri, tapi arah kita udah berbeda. Jujur aja, Zam. Sebenarnya gue mau cerai aja. Siapa sih yang mau bertahan sama suami kasar kayak lo? Tapi gue nggak bisa karena suatu hal dan gue nggak mau Papi sama Mommy kecewa.
"So, jangan bertingkah sok, di depan gue. Bukannya terbuai, yang ada gue malah mual," lanjut Kiana dengan wajah datar.
Azam mengepalkan tangan dengan kuat. Matanya terpejam sejenak berupaya menahan gejolak amarah yang ingin meluap.
"Ingat perkataan gue tadi, kalau perlu di catat biar nggak lupa." ucap Kiana. "Oh iya satu lagi, sikap lo sekarang aneh di mata gue!" Kiana terkekeh sinis dan berbalik pergi meninggalkan Azam yang terdiam seribu bahasa.
Sepeninggalan Kiana, Azam kembali menghela napas dengan kasar. Keadaan taman belakang yang sunyi menemani dirinya yang sedang di landa kesal. Yang terdengar hanyalah suara daun yang di terpa angin dan juga umm...suara tawa wanita?
"Mbak kunti, lo ngetawain gue ya?" ucap Azam setelah mendengar suara tawa itu. Bukannya melarikan diri, cowok itu memilih duduk anteng di kursi dan berbicara entah dengan siapa.
"Njir, udah dapat kata pedas dari istri, sekarang gue malah di ketawain sama makhluk gaib berdaster," gerutu Azam yang dibuat semakin kesal.
Cowok itu kembali meraup wajahnya dengan gusar. Setelahnya ia mengambil Handphone dari saku celana, membuka aplikasi galeri dan mencari foto seseorang.
Tujuannya mencari foto saudara kembarnya yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Mereka kembar identik, berbeda dengan sifat yang bertolak belakang. Azka sosok yang humoris dan friendly, berbeda dengan Azam yang emosional dan terkesan dingin dan datar.
"Maaf Ka, gue nggak bisa nahan perasaan gue. Gue harap lo ikhlasin Kiana buat gue ya? Gue doain lo tenang di alam sana, nggak usah takut, ada cacing yang lagi nemenin lo di alam kubur. Jadi lo nggak sendirian," ucap Azam sambil menatap foto Azka. Kemudian cowok itu terkekeh kecil menyadari ucapannya barusan.
"Gue janji deh sama lo, nggak akan kasar lagi sama Kiana dan bakalan jaga dia. Lo tenang aja, gue bakalan berusaha kontrol emosi mulai sekarang."
Azka Alfarizi Nugraha, cowok yang bersahabat dengan Angel dari kecil hingga zaman SMP dan juga cowok itu yang mencintai Angel dengan tulus namun hanya bisa memendamnya.
Kiana pikir jika ia sudah mengetahui ingatan dari Angel, namun nyatanya belum semua ingatan Angel yang Kiana dapatkan. Angel terkesan seperti menyembunyikan sesuatu bahkan Kiana tidak bisa mengingat hal itu.
dan kiana sama rayyan aja.. cocok🤭😁