Sedang proses pembenaran naskah, isi, dan cerita. Sedang revisi bersekala besar!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sea starlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemberian Hari Libur
# PAGI HARI..
Kasih mengerjapkan mata ada rasa sakit di seluruh tubuh rasa denyut masih tersisa akibat hantaman tadi malam,dirinya tergeletak di lantai.
Perutnya mulai kembung sudah beberapa gumpalan angin yang ada didalam.
Secara perlahan dia duduk dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 08:30 pagi dia pun buru-buru bangkit berdiri,matanya mencari Nathan yang tak ada di kasur apakah sudah pergi bekerja atau dia belum pulang selama kepergian tadi malam.
Kasih memasuki kamar mandi lalu membersihkan diri dan berdiri di depan cermin kamar mandi sambil mengecek beberapa lebam di tubuhnya.
Kasih keluar dari kamar mandi menutupi semua lebam yang ada dan kelopak matanya juga terlihat sembam akibat semalaman menangis,lalu bergegas pergi bekerja Kasih berjalan keluar kamar turun menapaki anak tangga dengan kaki yang masih terasa getir.
Sesampainya di dapur ruang makan sudah kosong tak ada lagi satu bayangan di sana Nathan juga tak ada,hanya ada beberapa lauk sarapan yang di sisakan untuknya Pak Tejo sedang sibuk membersihkan sisa-sisa makanan di meja.
Kasih berjalan mendekati Pak Tejo. "Pak apa semua orang sudah pergi.?" menutup semua sakit dari hadapan kepala pelayan.
Pak Tejo berhenti mengilap meja dan memiringkan pandangan menatap Kasih. "Sudah dari tadi Nyonya Muda." menjawab dengan hormat.
Kasih menyoroti seluruh ruangan. "Apa Pak Tejo melihat Tuan muda,atau jam berapa dia pergi tadi.?" bertanya seperti sedang kehilangan.
Pak Tejo mengingat sejak kapan Nathan pergi dan pulang. "Tuan muda sudah pergi dari tadi malam dan belum ada kembali." membungkuk hormat.
Pasti Nathan masih marah denganku mangkanya dia tidak pulang...;; Batin Kasih. "Apa pak Tejo tau,Tuan muda pergi kemana..?" Bertanya penasaran.
"Paling Tuan muda pergi ke rumah sakit Nyonya."
Mendengar jawaban Pak Tejo sudah membuat Kasih faham,benar saja pasti Nathan sedang bermalam dengan istri tercintanya.
Pak Tejo dapat menebak pasti Tuan Muda dan Nyonya Muda sedang bertengkar tadi malam,taunya Pak Tejo tadi malam saat melintas di depan kamar mereka ia tak sengaja mendengar suara pekikan Nathan, padahal kamar itu sudah kedap suara tapi karena telinga Pak Tejo begitu tajam dia juga tetap bisa mendengar suara sekecil apapun itu.
Di tatapnya mata Kasih yang begitu sembam walaupun sudah di tutupi dengan kacamata dan sudah di pastikan tak akan ada orang mengetahui kalau ia habis menangis,Namun Pak Tejo memiliki sisi yang sangat peka terhadap lawan bicara dia bisa mengetahui jati diri siapapun dalam sekejap,
sepertinya Pak Tejo memiliki garis keturunan anak indigo,
Jujur ia ingin sekali bertanya tentang tadi malam namun niatnya terkurung saat dia sadar itu bukanlah urusannya.
"Pak Tejo saya permisi ya." berpamitan ingin pergi.
"Nyonya tidak sarapan dulu.?" Tejo menunjukkan makanan yang terhidang di meja.
" Tidak Pak,saya akan sarapan di luar." Menolak secara baik-baik.
Tanpa menoleh lagi Kasih berjalan cepat menuju ruang tamu agar bisa keluar dari rumah,bisa-bisa ia akan telat hari ini,otaknya juga sudah tak dapat bekerja memikirkan kejadian tadi malam.
HOSPITAL
Nathan berdiri di samping kasur dalam ruang ICU sambil mengkompres tubuh Sera menggunakan handuk putih terbasahi oleh air hangat,tangannya bergerak lembut mengusap seluruh lekuk tubuh mulus Sera yang sudah tiga tahun tak ia sentuh,dua orang suster ikut membantu sambil mengecek perkembangan denyut jantung Sera dan sekertaris Rehan berdiri di ujung kasur menghadap pintu pura-pura tak melihat ke belakang karena posisi Sera yang tak memakai sehelai benang pun.
Matanya bisa ternodai kalau satu titik bagian sensitif berhasil ia lihat,benar sekali bahwa Nathan tak pulang dan lebih memilih tidur di rumah sakit,otaknya juga tak terlintas bayangan Kasih tentang prilakunya tadi malam yang ada hanya Sera Sera Sera dan Sera.
" Rehan pergilah,hari ini aku ingin menghabiskan waktu seharian disini.!" berbicara sambil sibuk bekerja.
ucapan Nathan memaksa Rehan agar bisa menatap Hormat diri nya namun terhalang satu alasan. "Baik Tuan muda." Rehan terpaksa bersikap kurang ajar dengan menjawab tanpa menoleh.
Nathan duduk ke kursi merasa capek berdiri terus. "Kau bisa habiskan waktu seharian untuk beristirahat,kau juga lelah kan aku perintah setiap hari.?" hardik nya.
Merasa terkasihani oleh perhatian Nathan. "Tidak sama sekali kok Tuan,itukan sudah menjadi kewajiban saya untuk melayani anda sampai anda bosan dan memecat saya." Terlalu merendah ingin di puji. " Baiklah Tuan saya permisi."
Nathan tersenyum dengan mimik seram mendengar ucapan sekertaris nya,Rehan pun keluar meninggalkan ruangan itu secara baik-baik.
Sesampainya di luar rumah sakit Rehan berdiri di samping mobil ia menghirup udara segar ingin membuat rencana mau kemana hari ini,entah kenapa dia lebih suka bekerja melayani Nathan seharian dari pada libur gak jelas yang ada dirinya semakin gabut.
Mendongak menatap langit biru yang cerah di hiasi awan putih yang berbentuk bentuk macam. "Hah,aku mau kemana coba,? hari ini juga tidak ada acara,ffiiuhh." merasa bosen dengan keadaan.
Dia teringat dengan salah satu tempat hiburan menarik di ibukota,itu tempat yang biasanya dihabiskan oleh manusia untuk bertamasya,Ancol,yah taman Ancol itulah tempat yang paling nyaman untuk menghibur diri menghilangkan rasa suntuk,sudah bulat akan keputusan dia pun menaiki mobil menuju ke sana.
********
Dilan berada di rumah Yura dalam keadaan duduk di sofa ruang tamu,beberapa pelayan sudah menyuguhkan makanan dan minuman ringan spesial untuknya sambil menunggu Yura datang.
Seorang wanita yang tak tau datang dari mana menghampiri Dilan. " Nak Dilan sudah dari tadi datangnya.?" Andien mengulurkan tangan untuk di salam oleh Dilan yang refleks berdiri.
Dilan menc*** punggung tangan Andien.
"Iya Tante ini saya lagi menunggu Yura." Menjawab melepaskan tangan.
" Owh begitu." Andien menyuruh Dilan duduk kembali dan Andien pun ikut duduk di sebelah Dilan.
Mereka berbincang sedikit mengenai masalah penting tentang pekerjaan masing-masing,tak lama Yura pun datang sudah rapi bersiap dengan penampilan anggunnya nyaris membuat Dilan terpesona.
Yura melangkah mendekati sofa. "Hay,sorry sudah membuat kamu menunggu." meminta maaf bagai orang salah.
" Tidak apa-apa kok Yura." memaafkan dengan hati kecilnya sambil salah tingkah.
Ihhhh kenapa sih ni anak masih tahan aja disini,betah banget deh nungging aku, nyebelin banget...;; Batin Yura..
Padahal tadi Yura sudah satu jam lebih berdandan sengaja ia lama kan agar Dilan bosan menunggu dan akhirnya pergi,dia tau saat pelayan mengatakan kalau Dilan sudah datang sontak dia merasa malas,ia berinisiatif berlama-lama namun karena Dilan sangat mencintainya jangankan satu jam satu abad pun Dilan akan tetap bertahan menunggunya.
Dilan menarik tangan Yura. "Kita pergi yuk." mengajak dengan lembut.
"Ayuk." Yura sangat menyesal mengatakan itu ingin sekali membatalkan nya tapi nanti Dilan malah sakit hati dan mama akan memarahinya.
"Tante kami pergi ya." Dilan menyalami Andien begitu juga dengan Yura bertujuan ingin berpamitan sebagai tanda sopan santun.
Mereka berjalan bergandengan menuju keluar rumah Yura merasa tak nyaman bersama dengan Dilan kalau bukan paksaan papa dan mama ia tak akan berhubungan dengan Dilan, ambisi orang tuanya ingin menjodohkan dirinya dengan Dilan sangat mencekik hidupnya,
Kini mereka sudah berada di dalam mobil.
Dilan tak tau mau kemana karena jalan-jalan ini belum di rencanakan. "Yura kamu mau nya kemana.?" saat Dilan bertanya Yura hanya sibuk dengan ponselnya.
"Terserah kamu aja." jawaban sangat ketus karena matanya sangat fokus ke layar,dia sibuk ngechat Rehan namun tak ada balasan.
" Gimana kalau ke Ancol.?" meminta persetujuan.
"emmm, terserah kamu,aku ngikut aja." masih cuek dan sibuk dengan ponsel.
Dilan hanya tersenyum menerima jawaban acuh dari Yura dia juga bisa memaklumi keadaan Yura,sebenarnya dia sedikit merasa sedih karena di cuekin tapi tak masalah asalkan bisa jalan bareng itu udah cukup baginya asalkan ia tetap bisa berada di sisi Yura.
. BERSAMBUNG