"Love or Death?" tanya Lucas sembari menyodorkan satu pisau yang begitu tipis dan tajam tepat di leher gadis yang di rantai di depan nya.
"I love you!" jawab Anna dengan cepat sebelum pisau tajam itu menembus leher nya.
Smirk pria itu naik dengan tatapan hewan buas yang seakan ingin memakan mangsa nya.
Definisi cinta di tolak pisau melayang?
Gadis muda yang menjalani kehidupan sulit itu kini terjebak dengan pria gila yang jatuh cinta dan terobsesi dengan nya?!
Dan obsesi gila itu hanya bermula dari mata biru nya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aylis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti ini?
4 Hari kemudian
Anna berdiri menjauh dari kursi yang sedang duduki oleh boneka yang sama sekali tak memiliki sisi menggemaskan itu.
Walaupun menggunakan pengawet namun tetap saja akan ada kulit yang membusuk.
Ia mendekat dengan ragu dan mengambil berlian biru yang menjadi satu-satu nya kilau. Menutup mata nya agar tak melihat dari jarak dekat hal mengerikan itu.
Tangan gemetar namun ia tetap menyimpan berlian biru itu, "Setidak nya aku harus punya uang..." gumam nya lirih.
Kalau mau kabur dari orang gila itu.
Ia pun membawa nya berjalan sembari mencari seseorang yang memberikan nya hadiah itu.
"Si..Sir?"
Langkah nya terhenti dan tersentak, ia menatap pria tampan itu dan berdiri sejenak berusaha mengatur ekspresi nya dengan baik.
"Kenapa kau membawa nya?" tanya Lucas mengernyit.
"Seperti nya sudah mulai membusuk, boleh sa..saya si..simpan?" tanya nya lirih yang tak mungkin mengatakan langsung ingin membuang nya.
Lucas diam dengan wajah datar yang tak bisa di tebak, "Kau mau membuang nya?" tanya nya yang menebak dan langsung membuat gadis itu tersentak.
"Bukan! Bukan di buang! Ta-"
"Mau ku berikan yang baru? Aku bisa berikan banyak boneka untuk mu," ucap pria itu dengan senyuman tipis.
Anna menelan saliva nya dengan sulit, siapa yang mau di berikan hadiah yang bagaikan kutukan itu?
"Sa..saya hanya mau an..anda Sir, Bu..bukan boneka..." ucap nya tersenyum pada pria itu.
Tak peduli segemetar apa kaki nya, setakut apa dirinya dan sebedebar apa jantung nya, ia harus tersenyum dengan cantik dan memuji pria itu.
Lucas mendekat satu langkah pada gadis itu, ia mengangkat tangan nya dan membuat Anna tersentak.
"Ack!"
Lucas terhenti, sebelum nya ia pernah mengacak rambut gadis itu tapi tidak dengan reaksi itu.
"Kenapa? Kau seperti takut? Aku tidak akan memukul mu," ucap nya yang mengacak rambut ikal gadis itu.
"Tapi..."
Anna langsung menengandah menatap pria yang lebih tinggi dari nya itu.
"Aku ingin melihat darah mu lagi, sudah lama kan?" tanya nya dengan senyuman yang seperti tak berdosa sama sekali itu.
Anna meremang, namun ia mengangguk dengan senyuman dan menatap ke arah pria itu.
"Te..tentu..." ucap nya tersenyum.
Pria itu tak membalas ucapan apapun kecuali hanya senyuman simpul penuh arti, ia perlahan memegang tangan gadis itu dan melihat ke arah pergelangan tangan nya.
"Di sini, tidak akan terlalu terlihat kalau kau nanti pakai jam tangan." ucap nya sembari mengusap pergelangan tangan yang putih dan kecil itu dengan ibu jari nya.
"Si..sir ta..tapi..." ucap Anna yang terbata seperti sedang menahan napas nya.
Pergelangan tangan?!
Bukan nya itu sama saja dengan menyuruhya untuk bunuh diri?!
"Tenang lah, kau tau? Kenapa orang-orang masih bisa hidup dengan tangan yang terpotong tapi tidak dengan leher yang terpotong?" tanya Lucas dengan senyuman miring.
Anna mengernyit, ia tak cukup pintar untuk memahami bahasa yang tinggi.
"Karna yang paling berpotensi mati itu kalau aku memberi nya di sini," ucap nya yang memegang leher gadis itu dengan tangan yang lain dan menancapkan kuku nya.
"Ukh!"
Anna meringis namun ia berusaha tetap tersenyum walaupun ia sudah ingin lari bagaimana pun cara nya.
"Ku dengar ada acara di sekolah mu," tanya Lucas seperti mengalihkan pembicaraan yang tengah mereka lakukan.
Anna langsung mengambil napas nya ketika ia tadi seperti tak bisa menghirup nya sama sekali.
"Ya..ya memang a..ada sir..." ucap yang langsung terbata.
"Kau akan membawa ku kan?" tanya pria itu dengan wajah yang tak bisa di tolak.
"Te..tentu Sir..." jawab Anna lirih.
Memang benar di sekolah nya akan di adakan festival dan di hari pertama biasa nya para saudara atau teman bahkan mungkin wali akan datang.
Seperti festival gabungan, yang berperan besar dalam seni dan gadis itu pun juga baru akan pertama kali mengikuti nya karna ia baru masuk di tahun itu.
Anna bingung, pasal nya ia baru tau tentang acara itu dua hari yang lalu saat ia kembali sekolah lagi semenjak beberapa hari libur namun pria itu sudah tau lebih dulu entah dari mana.
Terlebih lagi sebenarnya ia tak berniat sama sekali untuk membawa pria itu ke sekolah nya sebagai wali atau kerabat.
"Sekarang kita akan ke mana? Kamar mu? Atau di sini?" tanya pria itu sembari meraih tangan gadis itu dan mengusap pergelangan tangan nya.
"Se..senyaman nya a..anda Sir..." ucap Anna lirih, jantung nya berdebar namun ia juga tak bisa lari.
......................
Sekolah.
Suara berlarian, tawa dan teriakan anak-anak remaja yang membuat bising di koridor saat jam belajar telah berhenti sejenak.
Namun tak semua siswa dan siswi tampan cerah, ada satu anak yang hanya lesu sembari menyandarkan kepala nya di atas meja.
Jaket yang panjang menutup luka di pergelangan tangan nya, benar ia tak mati namun rasa nya seperti setengah mati.
Setelah darah nya mengalir pria itu tersenyum dan terpaku seperti melihat sesuatu yang sangat menarik.
Memeluk tubuh nya dan membasahi dengan cairan merah kental yang anyir itu setelah nya pergi dan langsung memberikan nya bantuan medis.
"Ann? Kenapa pucat? Sakit?" tanya Samantha yang menatap dengan khawatir pada teman nya yang cantik itu.
Anna menggeleng dan duduk dengan benar sembari tersenyum.
Pucat?
Siapa yang tak pucat jika darah nya terbuang percuma?
"Di festival nanti siapa yang datang Sam?" tanya Anna pada gadis itu.
"Papa aku bilang dia bakal datang!" ucap Samantha dengan senyuman cerah.
Anna tersenyum, ia tak punya seseorang untuk hal seperti itu.
Yah, kecuali satu!
"Kamu nanti bawa siapa Ann? Yang ganteng itu?" tanya Samantha sembari menyenggol bahu nya.
Anna tersenyum, ia sangat tidak mau pria itu datang namun seperti nya akan tetap datang.
Ponsel gadis itu berdering, ia menatap notifikasi yang di berikan pada nya.
"Siapa Ann?" tanya Samantha sembari mengintip isi pesan.
Anna tak menjawab, ia hanya membuang napas nya lirih.
Siapa lagi jika bukan bocah pembuat onar di sekolah.
"Aku keluar dulu ya," ucap nya sembari bangun dan beranjak pergi.
..
"Nih!"
Gevan menoleh, susu botol dengan roti isi yang di berikan pada nya.
"Kau pucat? Sakit?" tanya remaja bermata hijau itu sembari mengernyit.
Anna membuang wajah nya dengan malas tak ingin berdebat atau bahkan menjawab nya.
"Kenapa? Khawatir ya?" tanya nya yang memilih bersikap biasa dan mencoba membuat remaja pria itu agar tak bersikap dekat dengan nya.
"Tidak," jawab Gevan sembari meminum susu yang di berikan pada nya.
"Tapi kalau kau sakit dan tidak datang jadi membosankan..." ucap Gevan lirih.
"Apa?" tanya Anna mengernyitkan dahi nya dan mendekatkan wajah nya agar bisa mendengar apa yang di katakan pria itu.
"Astaga! Kau membuat ku terkejut!" ucap nya tersentak.
"Hm?" Anna menatap sembari menengandah ke arah kakak kelas nya itu.
Gevan terdiam sejenak, walaupun tampak pucat namun wajah gadis itu tetap terlihat cantik dengan mata yang berkilau dan rambut yang tampak bersinar di bawah matahari.
......................
Mansion Damian
AKH!!!
Suara teriakan gadis itu menggelegar membuat seisi mansion langsung mendatangai nya.
"A..api nya!" ucap nya yang terlihat terkejut dan panik melihat kobaran api besar itu.
Ia tak tau cara menggunakan kompor listrik dan malah memantik nya dengan korek karna ia pikir harus di pancing dengan api.
Lucas mendatangi keributan itu, langkah nya berhenti mematung melihat kobaran api merah itu dari jauh dan para pelayan nya berusaha memadamkan nya.
Lihat?
Ini adalah balasan karna melawan ku,
Deg!
Pria itu tersentak, suara aneh yang kembali masuk ke dalam telinga nya. Padahal ia dulu tak merasakan apapun saat melihat kobaran merah yang ingin melahap dapur nya itu, namun kini?
Luc?
Anak ku?
Kau itu mirip dengan ku...
Kaki pria memutar, ia mengepal dan merasakan sakit yang luar biasa di kepala nya lagi.
"Kenapa suara kep*rat itu ada?!" gumam nya saat ia merasakan suara sang ayah yang seperti melekat dalam tubuh nya.
Deg!
Deg!
Deg!
Melihat pria itu yang beranjak pergi dengan wajah berbeda membuat Anna takut akan di marahi karna membuat dapur nya menjadi berantakan.
Tanpa gadis itu tau jika bukan tingkah nya lah yang membuat pria itu tak suka melainkan karena hal lain.
"Si..sir?" panggil nya yang langsung menyusul dan meraih tangan gadis itu.
Tak!
Tubuh gadis itu terhuyung dan hampir terjatuh, namun
Bruk!
Bukan ia yang jatuh namun pria yang terlihat tak baik itu lah yang terjatuh.
"Anda baik-baik saja?" tanya nya yang langsung memegang pundak pria tegap itu.
"Pergi kalau tidak mau mati..." gumam Lucas dengan suara yang sangat pelan karna kepala nya yang terasa ingin pecah dan lagi suara-suara yang terus datang di telinga nya.
Ia sangat yakin sebelum bertemu dengan gadis itu, ia baik-baik saja kecuali masalah insomnia.
Walaupun tak bermimpi buruk namun ia memang sangat sulit untuk tidur, dan setelah bertemu dengan gadis itu?
Warna, suara, mimpi, kilasan ingatan yang ia sendiri seperti tak pernah merasakan nya selalu datang.
"Ha?" Anna mengernyit, ia tak mengatakan apapun namun ia melihat pria itu seperti mengalami apa yang dulu sering ia alami.
"Sir?"
"Sir!"
Tangan kecil nya menutup kedua telinga pria itu, rasa dingin dari telapak tangan yang halus dan lembut membuat pria itu menoleh.
Pandangan nya berputar tak jelas, kepala nya masih terasa begitu sakit seperti akan pecah berkeping.
"Jangan dengar apapun," ucap nya sembari menutup telinga pria itu.
Seseorang pernah melakukan hal seperti itu padanya saat ia berada di panti asuhan, dan yang melakukan itu adalah ibu panti nya sendiri.
Hah...
Lucas menarik napas nya dengan berat dan menjatuhkan dagu nya di pundak kecil itu.
Tak ada pergerakan apapun, suara tarikan napas masih terdengar namun seperti nya mulai terkendali membuat Anna melepaskan tangan nya di telinga pria itu.
"Sir?" panggil Anna pada pria itu.
Lucas menarik dagu nya dan melihat ke arah wajah yang hanya berjarak beberapa Senti dari nya.
Deg!
Sesuatu yang sebelum nya buram dan abstrak kini tampak jelas.
Begitu jelas sampai membuat nya tak percaya, garis hidung yang mancung, bibir bulat yang mungil mata biru dengan bulu mata yang lentik dan pipi yang bulat walaupun dengan tubuh kecil.
Tap!
Anna tersentak, kedua tangan pria itu menyentuh wajah nya.
"Sir?" panggil nya lirih.
Pria itu menatap dengan tak percaya, ia bisa melihat wajah seseorang dengan jelas untuk pertama kali nya semenjak dari 20 tahun yang lalu.
Namun walaupun begitu, penglihatan nya tak sesempurna seperti orang normal lainnya karena ia masih melihat hitam putih di belakang gadis itu.
Hanya wajah mungil itu lah yang dapat ia lihat dengan jelas, kulit nya, wajah nya, mata dan rambut ikal nya yang bersinar.
"Kau ternyata seperti ini..." ucap nya lirih dengan seringai dan sorot mata yang tajam pada gadis itu.
Deg!
Anna tersentak, seluruh poti-pori nya menegang naik dan merinding seketika saat melihat tatapan dan senyuman itu.
"Si..Sir..." panggil nya lirih dengan perasaan yang entah mengapa begitu takut.
Tersenyum namun bukan senyuman, menatap dengan tatapan yang tampak menyimpan maksud tersembunyi seakan memelototi dan ingin melahap nya masuk ke dalam.