NovelToon NovelToon
Pamit

Pamit

Status: tamat
Genre:Poligami / Cerai / Tamat
Popularitas:762.9k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji

Bagaimana perasaanmu jika jadi aku? Menjadi istri pegawai kantoran di sudut kota kecil, dengan penghasilan yang lumayan, namun kamu hanya di beri uang lima puluh ribu untuk satu minggu. Dengan kebutuhan dapur yang serba mahal dan tiga orang anak yang masih kecil.
Itulah yang aku jalani kini. Aku tak pernah protes apalagi meminta hal lebih dari suamiku. Aku menerima keadaan ini dengan hati yang lapang. Namun, semua berubah ketika aku menemukan sebuah benda yang entah milik siapa, tapi benda itu terdapat di tas kerja suamiku.
Benda itulah yang membuat hubungan rumah tangga kami tak sehat seperti dulu.
Mampukah aku bertahan dengan suamiku ketika keretakan di rumah tangga kami mulai nampak nyata?
Jika aku pergi, bisakah aku menghidupi ke tiga anakku?
Ikuti perjalanan rumah tangga ku di sini. .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Perhatian

Sekali lagi, aku memanggil Jaka yang masih berdiam diri di tempat. Barulah dia tersadar bahwa kami harus segera ke rumah sakit.

"Ke rumah sakit aja, ya. Pucet banget itu anak kamu," kata Jaka begitu masuk mobil.

"Terserah aja, mas. Yang dekat yang mana, yang penting itu aja. Aku mau Anin segera dapat pertolongan."

"Kamu yang tenang, jangan cemas."

Satu kalimat penenang yang jujur saja tak pernah aku dapatkan dari siapapun, bahkan dari Anang sekalipun. Saat anak-anak ada yang sakit, tak pernah dia menenangkan aku seperti Jaka. Entahlah, aku baru sadar jika selama ini Anang terlalu acuh padaku. Akupun baru sadar setelah berpisah, entah kemana pikiranku dahulu, aku dulu selalu merasa bahwa Anang mencintaiku dan anak-anak meskipun hidup kami serba pas.

Begitu sampai rumah sakitpun, Jaka terlihat sigap memanggil suster yang sedang jaga. Kami sudah pesis seperti pasangan suami istri yang mengantarkan anaknya sakit.

"Bapak dan ibu tunggu di sini, ya. Kami akan berikan penanganan terbaik untuk pasien," ucap dokter wanita yang menghalangiku saat akan ikut masuk.

"Duduk dulu, Yu. Dengan kamu menunggu berdiri di depan pintu seperti itu tidak akan merubah keadaan. Duduk dan tenangkan dirimu."

Aku mengangguk pelan, "Makasih, ya mas. Makasih kamu sudah antar aku ke sini. Oh ya, ini uangnya, kamu boleh kerja lagi. Aku bisa di sini sendiri." Aku memberikannya uang beberapa lembar.

"Nggak, aku nggak narik lagi, kok. Nggak apa-apa, kan kalau aku temani? Apa ada yang marah?"

"Siapa yang marah? Aku single. Nggak akan ada yang marah. Kamu yang apa-apa. Waktu kamu habis buat nemani aku, nggak sayang?"

"Single? Berarti kamu semakin di depan dong?" tanyanya yang jujur saja membuat aku bingung.

"Maksudnya? Apanya yang semakin di depan?"

"Janda semakin di depan, kan?" katanya terkekeh.

Aku jadi sedikit tertawa mendengar lawakan Jaka. Pria ini receh sekali, tapi aku suka. Suka dengan caranya menghibur dan menenangkan aku. Pintar sekali pria ini membuat bahagia orang lain.

Beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa Anin membuka pintu ruangan. Aku segera berdiri dan bertanya mengenai kondisi Anin.

"Pasien terkena demam berdarah, harus di rawat di sini sampai stabil. Tapi ibu dan bapak tidak perlu khawatir, untunglah pasien segera di bawa ke rumah sakit, jadi kami bisa tangani dengan cepat."

"Alhamdulillah, terima kasih banyak, dok."

Dokter wanita berkaca mata itu akhirnya pamit undur diri. Aku segera masuk ke dalam ruangan Anin. Anak itu terbaring dengan selang infus di tangannya. Hatiku nelangsa melihat anak sekecil Anin sudah merasakan sakitnya jarum infus.

Aku duduk di samping ranjang anakku berbaring. Menyeka air mata yang tiba-tiba saja runtuh tanpa di tuntut.

"Jangan nangis lagi, kan kamu dengar apa kata dokter tadi. Anin nggak apa-apa, di rawat di sini beberapa hari juga akan sehat lagi. Kasihan nanti dia bangun lihat kamu sedih. Dia memang masih kecil, belum tahu kamu sedih apa nggak, tapi dia bisa merasakan. Dia akan sedih juga kalau kamu sedih." Lagi-lagi Jaka memberiku sentuhan di pundak.

"Makasih, iya aku nggak akan sedih lagi," kataku menghapus air mata.

"Ini sudah malam, aku cari makan dulu, ya. Nanti aku balik, sebentar aja kok."

Aku hanya mengangguk pelan. Di detik berikutnya, hapeku berbunyi dengan keras. Dengan segera aku menyalakan mode hening.

"Iya, Rif?"

"Gimana, anak lu sakit apa? Di rumah sakit mana?"

"Kena demam berdarah, nggak apa-apa kok. Untungnya cepat di bawa ke rumah sakit."

"Gue ke situ, ya. Share lok, mau di bawain apa? Udah makan belum, lu?"

"Nggak usah repot-repot, Rif. Boleh kalau ke sini, besok aja lah tapi, jangan sekarang. Lagipula udah malem ini."

"Masih jam tujuh, malem dari mana, sih? Anak-anak, lu gimana? Apa gue bawa ke rumah aja?"

Ya Allah, betapa beruntungnya aku di kelilingi oleh orang-orang baik. Tak ada yang bisa aku keluhkan jika di posisiku. Aku merasa sangat beruntung bisa mengenal mereka. Tak akan ada kata yang bisa aku katakan dan tak ada perasaan yang bisa mewakili bagaimana rasanya syukurku hingga detik ini.

Tuhan sudah mengambil kebahagiaanku beberapa tahun terakhir, tapi Tuhan sudah menggantikannya dengan yang lebih baik dari yang aku bayangkan. Rencana-Nya memanglah selalu terbaik dan terindah.

"Anak-anak? Gampang kalau soal mereka. Nggak perlu di jemput, Rif. Kalau butuh bantuan kamu, aku akan hubungi kamu dengan segera."

"Ya udah, kalau ada apa-apa kasih tahu, ya. Udah makan? Gue kirimin kalau belum, mau makan apa?"

"Makan? Gam..."

"Aku yang akan beli makan."

Aku terkejut setengah mati, bagaimana tidak? Aku tak sadar jika Jaka masih berapa di ruangan ini. Dan dia juga mendengar obrolan kami, ah kenapa aku tiba-tiba merasa tak enak hati begini?

"Siapa?" tanya Rifki dari seberang.

"Teman. Tadi yang antar aku, tadi dia pamitnya mau beli makan. Aku nggak tahu kalau dia masih di sini dan dengar obrolan kita." Aku menjawab setelah melihat Jaka benar-benar pergi.

"Dari suaranya kayak laki-laki?"

"Ya emang dia laki."

"Oh, ya udah. Gue tutup, ya. Bye." Dia menutup panggilam begitu saja.

"Kenapa akhir-akhir ini Rifki aneh banget, sih. Heran aku, apa yang salah dari kepalanya. Kadang sewot nggak jelas, marah, ngambek, aduh kayak anak gadis aja."

Aku lalu bergulir ke aplikasi hijau untuk menghubungi karyawanku yang berada di toko. Ya, aku punya satu karyawan yang jaga toko baju anak yang baru saja aku naungi selama satu bulan ini. Alhamdulillah, seperti yang aku bilang tadi sore, penghasilannya lumayan bisa untuk makan sehari-hari.

Aku mengambil baju dari salah satu kenalan yang berlangganan membeli produk kecantikan dariku. Kebetulan sekali, dia juga punya usaha konveksi yang memproduksi baju anak dan gamis. Akupun akhirnya tertarik untuk menjual pakaian produksinya.

Setelah beberapa saat aku berkutat dengan hape untuk mengurusi usaha-usahaku, fokusku teralihkan pada pintu yang terbuka. Ternyata Jaka yang datang dengan tentangan di tangan kanannya.

"Makan, yuk! Aku beli camilan juga, buat teman kamu nanti kalau aku pulang," ucapnya seraya membuka satu persatu makanan yang dia bawa.

Kami pun makan dengan sesekali ngobrol hal-hal yang ringan saja. Saling mengenal kembali satu sama lain. Sudah lama kami tak bersitatap seperti ini.

"Lama nggak ketemu ternyata membuat kamu makin cantik, ya," kata Jaka.

"Biasa aja perasaan. Dari pertemuan kita yang ke tiga, kan aku begini, mas."

" Iya, tapi buat aku saat kita ketemu pertama kali itu ka..."

Jaka tak menyelesaikan kalimatnya karena hapenya berbunyi. Lalu dia minta izin padaku untuk menerima panggilan dan sedikit menjaga jarak dariku, sedangkan aku melanjutkan makan.

"Iya, Ra. Abang pulang sekarang, diem nggak usah keras-keras ngomongnya. Udah tahu lagi sama orangnya. Suara udah kayak toa aja."

Hanya itu yang aku dengar dari akhir obrolannya. Entahlah, dia bicara dengan siapa aku tak tahu.

1
mimief
jaka sembung naik ojek
dia cemburu jek😜🤣🤣
Titien Prawiro
Mudah2an Rifki selamat
Titien Prawiro
Lanjut
Titien Prawiro
Bagaimana caranya agar bisa memberi vote dan hadiah?
Titien Prawiro
Anaknya jadi banyak 5blm nanti punya anak sama Jaka.
Titien Prawiro
nulis nasip tidak pakai P Nasib enak dibaca
Titien Prawiro
Sergmh ini apa juga artinya.
Titien Prawiro
Rasain kamu orang sombong arogan kaya milyarder saja, hidup juga pas2san pkai selingkuh tau rasa kamu.
Naufal hanifah
terimakasih ceritanya bagus
branding SMKN 1 BATEALIT
dalamnya hati tak dapat diukur lukanya sembuh tp masih ada bekasnya
Wanita Aries
kl aku tak kasih pencahar di makanannya biar mules2
Wanita Aries
lelaki bajigurrr
Wanita Aries
mampir thor.
duhh 200rb sbln bs gila aku 😪
Katherina Ajawaila
sedih amat thour, jd bego bacanya 🤭
Katherina Ajawaila
jelek amat firasatnya Anang /Sob/
Katherina Ajawaila
dasar bocil lucu juga ibu nya di suruh nikah dadakan
Katherina Ajawaila
Ayu agak sombong juga detik" mantan mertua mau ngk ada susah amat utk dtng yg terakhir, itu mantan mertua loh bukan. ortu kandung. bikin gemes 😡
evi carolin: sakit hatinya seseorang siapa yg tau ,semua tidak dapat disamakan hanya waktu dan keadaan yg mengubah nya
total 1 replies
Katherina Ajawaila
outhour, kasihan amat, itu sahkratul maut jemput ya thour🤭
Katherina Ajawaila
Ayu mana tau itu minta maaf utk terakhir 🤭, nanti nyesel kalau Udh ngk ada
Katherina Ajawaila
Nasip seseorg tdk. ada yg tau kalau. karma sdh terjadi, kita hanya sebagai wayang yg di kendalikan sm yg. kuasa 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!