Clarissa Binar, seorang wanita yang terus mengabdi pada suaminya. Mencintai suaminya meskipun lima ahun ini suaminya tidak menoleh padanya, hanya menoleh pada putranya Abra.
Namun dalam lima tahun ini dia harus dihadapkan kenyataan pahit. Tiba-tiba seseorang masa lalu dari Adam, suaminya datang dan membawa seorang anak berumur lima tahun.
Akankah Binar memaksa pernikahannya bertahan atau justru memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Lihatlah
Binar menatap Andra dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, ingin sekali ia menyela, tapi ia tahu anak di depannya pasti akan salah paham.
Adam terdiam semenit, lalu beberapa menit kemudian, ia menatap Ayu dengan jengah. Seakan mendapatkan Berlian dan membuang batu krikil, ia merasa sangat bersyukur.
"Makanlah, jangan membahas apa pun," ucap Adam.
Ayu tersenyum sinis, perkataannya membuatnya ia menang. Seakan membuat Binar kalah telak. Padahal wanita di depannya diam bukan berarti kalah, tapi hanya ingin menjaga perasaan Andra.
"Benar kan?"
"Ayu sepertinya kau lupa? kau melupakan sesuatu, sekalipun Andra anak ku, tapi aku akan mempercayakannya pada anak ku yang bisa bertanggung jawab." Tutur Adam. Dia tidak mau mengambil tindakan salah, bukan karena anak pertama harus memegang pewaris, bahkan ia tahu, kalau status Andra bukanlah anak sahnya.
Ayu terdiam, seakan ada sebuah batu yang memukulnya. Ia jadi teringat status Andra..
"Apa karena Andra anak di luar nikah dan kau melupakannya?"
"Terlepas Andra anak di luar nikah, dia tetap anak kalian. Masalah pewaris, tenang saja. Abra tidak akan merebutnya dari Andra," jelas Binar. Dia pun bangkit dari tempat duduknya dan berlalu ke lantai atas.
"Aku juga sudah kenyang," ucap Adam menyusul Binar.
Dia merasa bersalah pada istrinya itu, ia tahu istrinya pasti sakit hati. Ibu mana yang tidak sakit hati ketika mengungkit masalah hak pewaris.
"Sayang, kamu sudah bangun," ucap Binar. Inilah yang ia sukai dari Abra, meskipun anaknya sudah bangun. Dia tidak akan kemana-mana. Hanya berguling kanan-kiri.
"Ma, Ma,"
"Iya sayang," Binar mencium kedua pipi gembul anaknya.
"Pa, Pa," sapa Abra, dia melihat seorang yang mirip dengan ayahnya dan meyakini kalau dia adalah ayahnya.
"Sayang,"
Abra mengulurkan kedua tangannya, meminta di gendong. Binar pun memberikan Abra pada Adam.
"Sayang, maaf tadi,"
"Sudahlah jangan membahasnya, aku bisa memahaminya kok." Binar berucap dengan nada getir. Tidak masalah kalau Abra tidak mendapatkannya, yang penting Adam mau mencintainya, itu sudah cukup baginya.
"Sayang, biarkan aku yang menggendong Abra, kau kan mau berangkat kerja."
"Sebentar, nanti siang kamu ke kantor ya sayang, sekalian bawa Abra, bawa Andra juga kalau dia mau, di usahakan jangan bawa Ayu, aku males melihatnya."
Binar terkekeh lucu, kalua dia menyangka dulu secinta apa Adam pada Ayu? tapi sekarang ia menduga sebesar bencinya sebesar cintanya, atau mungkin lebih.
"Baiklah, baiklah."
***
"Andra, kamu harus secepatnya bergerak. Lihat tadi, papa mu saja membela Binar dan anaknya, kau harus bisa membuat ayah mu bangga dan jangan mengecewakan Mama, susah-susah Mama mengandung mu dan membesarkan, jadi kamu harus membalas jasa mama."
Bi Lia mengelus dadanya, apa ini yang di namakan ibu kandung? meminta jasa pada anaknya, bahkan menekan anaknya?
"Mama keluar dulu, mau ke Mall, kamu baik-baik saja di rumah," ucap Ayu. Dia memang memiliki janji dengan teman-teman masa kuliahnya dulu atau masa SMA, sekaligus teman Adam.
"Iya Ma,"
Bi Lia melirik Ayu yang telah berlalu, dia merasa iba pada bocah kecil di depannya.
"Maaf tuan, kalau boleh, jangan sampai tuan muda mendengarkan perkataan Nyonya Ayu," ucap Bi Lia. Seketika Andra mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah Bi Lia.
"Kenapa Bi?"
"Saya tidak bisa banyak bicara, tapi saya yakin tuan kecil pasti bisa membedakan mana yang benar dan salah."
"Hemmmp.."
"Nyonya Binar orang baik, bukannya saya membelanya. Tapi perjuangannya mendapatkan cinta tuan Adam tidaklah mudah, tiap hari, tiap menit, Nyonya Binar kadang menangis. Bahkan saat baru-baru ini, tuan muda kecil Abra mendapatkan kasih sayang, sebesar itulah tuan Adam membenci Nyonya Binar. Tapi saya bersyukur, perjuangan Nyonya Binar membuahkan hasil."
Bi Lia menerawang jauh, ingatannya berputar pada Binar yang menggendong Abra sambil menangis, selalu di cuekin, kadang Adam berbicara kasar pada Binar.
"Tuan muda Andra hanya melihat pada diri sendiri, padahal Nyonya Binar jauh lebih menyakitkan, mencintai seseorang tapi tidak bisa mendekapnya."
"Saya yakin, tuan Andra pasti melihat betapa cintanya Nyonya Binar pada tuan muda."
##hey kak, maaf ceritanya membosankan. tenang saja, cerita ini bakalan aku tamatin kalau udah bab 40 an😁