Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia
Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Regan beraksi
Regan : Lo gak jagain dia? Gue udah mulai beraksi.
Langit menghela napasnya, sekarang dia masih bingung. Dia siapa yang dimaksudkan oleh Regan. Lala? Adista Mikko? Dinda? Atau orang tuanya? Langit sama sekali tidak tahu.
“Mau Lang?” tanya Bayu sambil menyodorkan sebatang rokok kepada Langit. Langit menatap rokok yang dipegang oleh Bayu.
“Gue udah berhenti,” ucap Langit mengalihakan pandangannya. Bayu hanya mengangguk dan memasukkan kembali ke dalam kotak rokok yang dia pegang. “Asep kemana?”
“Pulang.”
Langit hanya mengangguk. “Regan kesini lagi gak?”
“Semenjak dia berantem sama lo, dia gak kesini lagi. Gue gak tahu dia dimana, tapi gue khawatir Lang. Ucapan Regan masih jadi kepikiran.”
“Gak usah khawatirkan gue,” ucap Langit sambil terkekeh. “Gue baik-baik aja.”
“Tapi Lang, gak selamanya lo itu baik-baik
aja, dan sekarang ada Regan.”
“Udah, gak usah mikirin gue,” Langit berdiri. “Gue pulang dulu.”
Langit mengendarai Libert dengan kecepatan biasa, motornya terus melaju hingga dia berhenti di depan rumah Adista. Rumah pacarnya dulu.
“Aku kangen kamu By,” gumam Langit sambil memperhatikan rumah Adista.
Adista keluar dari rumah bersama dua anak cowok. Sesekali Adista tertawa karena kelakuan anak yang lebih kecil. Langit meringis melihat Adista, keluarganya sepertinya telah kembali saat melihat Evan yang keluar dan melihat Langit. Langit hanya memberi kode kepada Evan untuk diam dan tidak memberitahu Adista, karena Langit hanya ingin melihat Adista tertawa dan tersenyum lebar saat ini.
Langit terus memperhatikan Adista, saat Adista tertawa Langit juga ikut tertawa. Hingga seorang anak laki-laki yang besar membisikkan sesuatu sambil menunjuk Langit membuat Langit menutup kaca helmnya dan segera pergi dari rumah Adista.
Libert berheti di taman yang dulu pernah mereka datangi. Dimana Langit ketahuan merokok dan harus push-up seratus kali di depan Adista, dan dimana dia membuat Adista menangis pertama kali.
Langit duduk di bangku taman yang mereka duduki dulu, sambil mengingat kembali tentang mereka dulu membuat Langit tertawa sendiri. Dulu semuanya baik, semuanya sangat menyenangkan, semuanya membuat Langit bahagia. Sayangnya itu dulu.
“Bang Langit.”
Langit mendongak dan melihat Genta yang sudah berada di samping Langit sambil memegang sepeda.
“Kenapa?” tanya Langit datar. Dia tidak suka Genta, karena Genta adalah Adiknya Elang, dan juga Genta dekat dengan Adiknya, Lala.
Genta menepikan sepedanya, setelah selesai cowok itu langsung duduk di samping Langit membuat Langit menatap Genta bingung.
“Sekarang Lala dimana Bang?” tanya Genta, Langit mengernyit bingung.
“Di rumah lah, memangnya kenapa?”
“Kenapa akhir-akhir ini gak jawab telepon sama gak pernah balas pesan aku.”
“Mungkin dia bosan,” jawab Langit seadanya. Memang benar, cewek bernama Lala dan notabenya adalah Adiknya Langit memiliki sifat kebosanan yang tinggi membuat Langit kadang bingung, karena karma selalu ada.
“Aku tahu dia orangnya bosenan Bang, tapi aneh aja dia kayak gitu,” kata Genta.
“Kalo dia sama sekali gak pernah hubungi lo, berarti dia benar-benar bosan,” ucap Langit. “Lo kejar aja dia terus, gangguin biar dia jengah dan sukanya sama lo aja.”
Genta tersenyum tipis dan mengangguk mantap. Sekarang tinggal dia laksanakan saja apa yang baru saja Langit ucapkan. Genta tidak sabar.
Ponsel Langit berdering membuat Langit mengambil ponselnya itu dan melihat Vivin meneleponnya.
“Kenapa Bun?”
“Langit ...,” ucap Vivin sambil terisak, Langit mengernyit. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
Tiba-tiba Langit teringat ucapan Regan. Apa sekarang saatnya Regan beraksi? Siapa yang terkena?
“Bun, tenang. Bicaranya pelan-pelan aja.”
“Langit ... Adek kamu. Lala ... dia,” Vivin memberi jeda, wanita itu kembali terisak. “Lala kecelakaan Lang.”
Bagaikan disambar petir, tubuh Langit membeku. Pikirannya berkecamuk membuat pikiran bahwa Regan adalah dalang dibalik kecelakaan yang dialami Lala.
Langit menghembuskan napasnya. “Langit segera ke rumah sakit Bun.”
“Kenapa Bang?” tanya Genta.
“Lala kecelakaan, sekarang dia di rumah sakit,” jawab Langit mencoba untuk santai, tapi di dalam hatinya dia sangat khawatir dan mengucapkan banyak doa agar Adiknya itu selamat.
Genta segera berdiri dari duduknya dan terkejut setengah mati dengan apa yang baru saja Langit ucapkan.
“Gue ikut lo Bang.”
Langit hanya mengangguk, dia mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia khawatir, jelas, meskipun dia selalu kesal dengan Lala karena selalu mengganggunya atau menggodanya menggunakan nama Adista. Lala masih tetap Adiknya, Adik tersayangnya.
Setelah mendapatkan banyak pekikan dari orang-orang dan sumpah serapah, akhirnya Langit sampai di parkiran rumah sakit. Dia dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah sakit meninggalkan Genta yang masih mengikuti Langit di belakang meskipun sedikit tertinggal.
Langit melihat Vivin yang tengah terisak dan Alfian yang menenangkan Vivin sambil menepuk pelan bahu Vivin. Langit mendekat dan duduk diantara keduanya, lututnya menyentuh lantai, Langit berlutut dihadapan orang tuanya, penyebab Langit kecelakaan adalah Langit.
“Bun ... Yah ...,” Langit berucap sambil menundukkan kepalanya. “Langit minta maaf, Langit salah. Ini salah Langit, Langit gak bisa jaga Lala dengan baik. Langit salah, Bun,” ucap Langit menahan air matanya yang ingin luruh.
Vivin membersihkan sisa air matanya dan memeluk Langit, putranya. Menepuk pelan punggung Langit.
“Bukan salah kamu, Lang. Semuanya kecelakaan, bukan salah kamu,” ucap Vivin menenangkan.
Pertahanan Langit runtuh, Langit langsung memeluk Ibunya itu dengan erat. Tidak pernah dia memeluk Vivin seerat ini dan sambil menangis.
“Bunda ....”
“Iya, Bunda ada disini Lang. Bunda selalu ada buat kamu.”
Alfian hanya diam menepuk pelan punggung Vivin memberikan energi kepada istrinya itu agar tetap bersabar dan menerima semuanya.
Genta hanya berdiri diam menatap semuanya, Genta sama sekali belum beranjak dari tempatnya dan melirik dari jendela menampilkan Lala yang terbaring lemah. Lala.
* * *
Adista tidak tahu apa yang Alvaro ucapkan tadi memang benar adanya, karena Adista juga melihat seperti Langit saat Alvaro menunjuk cowok yang memperhatikan Adista.
“Papa ...,” teriak Dito membuat Evan merentangkan tangannya dan memeluk Dito. “Pa, Kak Adis punya pacar ya?”
Evan terkekeh dan mencubit hidung Dito lembut. “Kata siapa?” tanya Evan.
“Kata Bang Varo, tadi ada cowok yang ngeliatin Kak Adis, terus waktu Bang Varo nunjuk ke arah cowok itu, dia langsung pergi.”
Adista hanya menggelengkan kepalanya karena Dito selalu saja mengaduh kepada Evan tentang apa yang terjadi hari ini. Segalanya, membuat Adista bingung harus diapakan mulut Dito agar tidak memberitahu Evan.
Pernah Adista menonton drama Korea di kamarnya, Alvaro dan Dito masuk dan Adista membiarkan karena mereka sama sekali tidak mengerti. Hingga adegan romantis yang membuat Adista memekik membuat Dito dan Alvaro menghampiri Adista dan ikut menonton. Dan terjadi, Alvaro hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Dito sudah berlari mencari Evan untuk dia ceritakan apa yang baru saja terjadi.
“Memangnya kamu sama Langit lagi ada masalah?” tanya Evan.
Adista hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Evan, dia bingung harus mengucapkan apa. Dia putus tapi dia merasa tidak putus karena Langit seperti selalu berada di sekelilingnya. Berada di dekatnya.
“Memangnya kalo udah SMA boleh pacaran ya Pa?” tanya Dito lagi.
“Gak boleh! Tunggu udah kuliah,” jawab Adista.
Dito hanya mengangguk. “Tapi Kak Adis punya foto cowok di kamarnya Pa,” ucap Dito membuat Adista menghela napasnya, lagi.
Adista diam saja saat Dito sudah menceritakan banyak hal tentang Adista kepada Evan, sedangkan Alvaro dia hanya diam menatap Adista yang sedang memainkan ponselnya, tidak lama setelah itu dia duduk di sebelah Adista membuat Adista mematikan ponselnya dan menatap Alvaro.
“Ada apa?” tanya Adista, Alvaro masih
diam.
“Kak, cowok tadi lagi sedih,” ucap Alvaro membuat Adista mengernyitkan keningnya bingung. Langit?
“Kakak gak kenal sama dia.”
“Kakak kenal, Kakak tahu siapa dia. Hubungi dia sekarang kalo Kakak gak mau dia pergi ninggalin Kakak,” kata Alvaro kemudian duduk kembali di sebelah Evan dan sudah bermain dengan Dito dan Evan.
Meskipun Adista belum lama mengenal Alvaro dan Dito, Adista sudah sangat hafal dengan keduanya, tapi Alvaro berbeda. Meskipun dia belum besar, tapi dia sudah sangat mengerti dan juga Alvaro bisa mengetahui perasaan hati orang membuat Adista was-was saat dekat dengan Alvaro.
Ponsel Adista berdering membuat Adista berhenti memikirkan ucapan Alvaro dan mengangkat telepon dari Dinda.
“Halo Din. Kenapa?” tanya Adista sambil melirik Alvaro yang memperhatikan Adista.
“Dis, Lala kecelakaan.”
Adista langsung berdiri membuat dia diperhatikan oleh Evan dan Dito.
“Sekarang lo ke rumah sakit, Langit butuh lo.”
Adista segera berlari ke kamarnya mengabaikan tatapan bingung dari Evan yang melihat Adista yang terburu-buru.
“Kakak kamu kenapa?” tanya Evan lebih kepada Alvaro.
“Ada orang yang lagi butuh Kak Adis, cowok yang kita lihat tadi,” ucap Alvaro melihat Adista yang sudah tergesa-gesa keluar dari rumah setelah berpamitan dengan Evan.
Adista berjalan masuk ke dalam rumah sakit, di dalam hatinya dia terus berdoa agar Lala selamat dan Langit tetap diberi kesabaran. Adista berjalan melewati lorong rumah sakit hingga dia sampai di lorong yang memperlihatkan Langit tengah duduk di kursi tunggu dengan kepala menunduk.
“Langit,” Adista memanggil dan berjalan mendekati Langit. Adista sudah berdiri di hadapan Langit, sedangkan Langit menatap Adista dengan tatapan sedihnya.
“Adista ...,” lirih Langit dan langsung memeluk pinggang Adista membenamkan kepalanya di perut Adista. “Ini salah aku Dis, aku yang salah.”
Adista hanya diam menepuk pelan punggung Langit untuk menenangkan cowok itu dan sesekali tangan Adista mengelus pelan rambut Langit dengan mengatakan kalau masalah Lala bukanlah kesalahan Langit.
Dinda dan Mikko telah kembali dari kantin rumah sakit, Geandra datang setelah Mikko memberi tahu dan juga menenangkan Langit dengan mengabaikan Adista yang berada di samping Langit.
“Gue pulang dulu Lang, nganterin Dinda. Nanti gue kesini lagi,” ucap Mikko sambil menepuk pelan pundak Langit, Langit hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
“Hati-hati di jalan,” ucap Langit, Mikko hanya mengangguk.
Sekarang hanyalah Adista, Langit dan Geandra. Adista tahu mereka sudah putus, dan kejadian tadi hanyalah sebagai penenang karena Langit sudah pernah berada di kehidupan Adista.
“Aku pulang dulu, Lang,” ucap Adista, berdiri dari duduknya dan menunggu Langit untuk bicara.
“Hati-hati di jalan Dis, maaf aku gak bisa nganterin kamu.”
Adista hanya tersenyum dan menggeleng, kemudian dia berjalan pergi menjauhi Langit dan Geandra yang masih berada disana. Dia tahu kebenarannya sekarang, Langit tidak akan kembali kepadanya.
TBC
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞