Spin Off dari "GHEA: Cinta Lama Belum Usai"
Tak pernah terbayangkan di benak Felichia, kalau dirinya akan mengandung anak dari Dean Alexander, sahabat Erlan Prakasa yang merupakan suami sah Felichia.
Semua hal rumit ini terpaksa Felichia lakukan atas perintah dari mertuanya dan demi menebus kesalahannya pada keluarga Prakasa.
Apa sebenarnya kesalahan Felichia pada keluarga Prakasa, hingga ia harus melakukan hal mengerikan ini?
Lalu bagaimana tanggapan Erlan saat tahu anak yang dikandung Felichia adalah benih dari Dean dan bukan merupakan benihnya?
Dan apa sebenarnya alasan Dean Alexander meminta Felichia mengandung calon anaknya, sementara dirinya juga sudah menikah dengan Melanie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU MAU JUGA
Gedung Alexander Group.
Dean yang baru datang langsung disambut oleh Aaron.
"Dimana?" Tanya Dean to the point.
"Ada di ruanganmu. Wajahnya sudah pucat," jawab Aaron sedikit menjelaskan pada Dean.
Dean memilih untuk tak menanggapi dan segera masuk ke ruangannya untuk menemui Pak Prakasa yang sejak tadi sudah menunggunya.
"Baru pulang dari berlibur, Pak Prakasa?" Sapa Dean setelah membuka pintu ruangannya.
"Dean Alexander! Syukurlah kau segera datang," Papa Panji segera bangkit dari duduknya dan menyapa Dean dengan hangat. Namun Dean tidak terkecoh kali ini dan pria itu tetap bersikap dingin.
"Ada apa? Mau mengemis bantuan lagi?" Tanya Dean sinis sembari langsung duduk di kursi kebesarannya.
"Sebenarnya begini, Nak Dean-" Papa Panji belum menyelesaikan kalimatnya saat Dean sudah mengangkat tangan ke arah Papa Panji seolah memberi kode agar pria paruh baya itu berhenti bicara.
"Yang kemarin saya gelontorkan jumlahnya tak sedikit, dan kalian membayarnya dengan sebuah penipuan!" Dean menuding ke arah Papa Panji.
"Penipuan apa maksudnya, Nak Dean? Kami tidak pernah menipu! Felichia wanita yang subur dan kami dengar dia sudah mengandung penerus keluarga Alexander," kilah Papa Panji mencari pembenaran.
Dean mencondongkan tubuhnya ke arah Papa Panji dan menatap tajam pada pria tua di hadapannya tersebut.
"Tapi hubungan pernikahan Felichia dan Erlan baik-baik saja dan mereka tidak ada rencana untuk bercerai. Kenapa anda tega menumbalkan menantu anda sendiri hanya demi sebuah perusahaan?"
"Ck!" Papa Panji berdecak sinis.
"Menantu yang hanya bisa membuat masalah bagi keluarga kami! Erlan jadi pembangkang karena wanita sialan itu dan Felichia juga yang sudah membuat Erlan menjadi koma selama berminggu-minggu! Jadi memang sebaiknya kami membuang sampah sejenis Felichia dari keluarga kami." Jelas Papa Panji yang seolah benci sekali pada Felichia.
"Sampah?" Dean mendengus tak percaya.
"Kalau anda menyebut Felichia sebagai sampah, kenapa malah memberikannya kepada saya?" Tanya Dean seraya menggebrak meja.
"Kau bisa langsung membuangnya jika sudah selesai memakainya, Dean Alexander! Kau bilang butuh rahim pengganti, kami memberikannya. Selanjutnya setelah anakmu lahir, terserah kau mau membuang Felichia atau membunuhnya, atau menjualnya-"
Braak!
Dean menggebrak meja sekali lagi.
"Erlan sudah tidak ingat pada Felichia, jadi tak perlu lagi merasa bersalah!" Ucap Papa Panji yang sepertinya sama sekali tak merasa bersalah meskipun sudah membuat hubungan pernikahan anaknya menjadi porak poranda. Entah terbuat dari apa hati orang tua ini.
"Dimana Erlan sekarang?" Tanya Dean menyelidik.
"Akan aku beritahu jika kau bersedia membantu perusahaan Prakasa lagi, Dean Alexander!" Papa Panji mengajukan syarat.
"Cih! Jangan berharap!" Decih Dean menatap marah ke arah pria tua tak tahu diri tersebut.
"Perusahaan Prakasa akan gulung tikar dalam hitungan hari, jadi aku tak perlu membantu apapun." Lanjut Dean yang langsung membuat kesombongan Papa Panji yang tadi sempat menggebu-gebu runtuh seketika.
"Dean, kau masih bisa menyelamatkannya!" Papa Panji memohon pada Dean.
"Untuk apa? Untuk apa aku membantu orang yang sudah menipuku mentah-mentah?" Sahut Dean merasa sinis.
"Dean," Papa Panji memohon pada direktur muda itu.
"Silahkan pergi dari ruanganku dan dari gedung kantorku!" Usir Dean seraya menunjuk ke arah pintu ruangannya.
"Dean Alexander! Kau tidak bisa melakukan ini! Aku akan menyebarkan skandal kalau kau berselingkuh dengan menantuku hingga kau menculiknya, menghamilinya, dan menyembunyikannya!" Papa Panji mengancam Dean.
"Anda belum tentu bernafas sampai besok kalau sampai berita itu benar-benar tersebar!" Dean balik mengancam Papa Panji yang raut wajahnya langsung berubah segan.
"Satu hal yang perlu anda tahu, Tuan Panji Prakasa! Hutang diantara kita sudah lunas dan impas! Anda mencarikan rahim pengganti dan saya sudah menyelamatkan perusahaan anda sebelumnya. Jika sekarang perusahaan anda kembali kolaps, itu sudah diluar perjanjian dan saya tak akan membantu lagi!"
"Akan saya kembalikan menantu sampah anda setelah wanita itu melahirkan!" Pungkas Dean sebelum Papa Panji keluar dari ruangannya.
"Brengsek!" Umpat Dean seraya mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya.
Pria itu mendongakkan kepalanya sambil bersandar pada kursi kebesarannya.
"Dean," pintu ruangan Dean menjeblak terbuka bersamaan dengan Aaron yang merangsek masuk.
"Kau tahu kabar yang baru berhembus dan sampai ke telingaku?"
"Kabar apa?" Tanya Dean dengan nada malas.
"Erlan akan menikah dengan adik dari Matthew Orlando," ujar Aaron yang langsung membuat Dean menegakkan tubuhnya.
"Kabar burung macam apa itu? Erlan sudah menikah dan punya seorang istri." Dean sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Ups! Aku lupa kau teman baik Erlan," Aaron meringis dan menutup mulutnya.
"Baiklah! Kau benar, itu hanya kabar burung. Tak perlu kucari tahu kebenarannya," ucap Aaron lagi menatap heran pada wajah Dean yang pucat dan sepertinya sedang menahan mual.
"Kau awasi saja tua bangka Prakasa tadi, dan langsung habisi dia jika ada berita miring apapun tentang diriku!" Ucap Dean berpesan pada Aaron sebelum pria itu melesat ke arah kamar mandi untuk muntah-muntah.
"Kau baik-baik saja, Dean? Mualmu masih belum sembuh?" Tanya Aaron heran.
Asisten Dean itu segera membawakan air hangat untuk Dean.
"Akan semakin parah saat aku melihat wajahmu yang mengesalkan itu! Jadi aku akan pulang saja!" Jawab Dean setelah meneguk habis air di gelasnya.
"Dasar brengsek!" Umpat Aaron pada Dean yang sudah meninggalkan ruangannya.
****
Felichia berjalan santai masuk ke dalam kediaman Alexander sambil menyendoki es puter yang ia beli dalam ukuran paling besar, serta tangannya menenteng sebuah plastik bening berisi cilok yang tadi juga ia beli di pinggir jalan.
"Fe, itu apa?" Tegur Melanie pada Felichia.
Ada Dean juga yang sepertinya baru pulang dari kantor. Pria itu terlihat berantakan dan sedikit kusut.
"Es puter." Felichia menunjukkan gelas berisi es puter di tangannya.
"Cilok," lanjut Felichia yang ganti menunjukkan plastik bening berisi cilok di tangannya yang lain.
"Kau beli dimana?" Tanya Melanie menyelidik.
"Di dekat lampu merah saat perjalanan pulang," jawab Felichia santai.
"Ck! Seharusnya kau jangan membeli makanan pinggir jalan begitu, Fe! Kalau kamu keracunan atau terjadi apa-apa pada kandunganmu, bagaimana?" Cecar Melanie dengan raut wajah tidak senang.
"Maaf, tapi penjualnya bersih, kok, Mel! Dan aku tidak membelinya setiap hari, jadi aku rasa ketakutanmu itu terlalu berlebihan," tukas Felichia mencari pembenaran.
"Lagipula, bukankah katamu aku boleh makan apa aja yang aku inginkan dan tak perlu menahan-nahannya," imbuh Felichia yang sebenarnya merasa dongkol dengan sikap paranoid Melanie yang berlebihan.
"Iya, tapi bukan berarti kau bisa jajan sembarangan begitu! Kau bisa minta koki di rumah membuatkan untukmu jika kau ingin makan makanan kaki lima begitu!" Ujar Melanie yang hanya membuat Felichia menghela nafas jengah.
"Baiklah, aku minta maaf! Aku tak akan jajan sembarangan lagi," jawab Felichia menahan dongkol di hatinya.
"Aku akan menghabiskan yang ini agar tak mubazir," lajut Felichia seraya berlalu menuju ke halaman belakang, meninggalkan Melanie dan Dean yang hanya membisu.
"Mel," panggil Dean yang sejak tadi hanya diam.
Aneh memang, tapi sepertinya Dean memang malas bicara di depan Felichia.
"Ada apa, Dean? Kau mau makan?" Tanya Melanie seraya mendekat ke arah Dean.
"Ya, aku ingin makan makanan yang tadi dimakan Felichia," ucap Dean yang langsung membuat Melanie tertegun sesaat.
"Apa katamu barusan?" Melanie berharap ia salah dengar karena Dean paling anti dengan makanan pinggir jalan sama seperti halnya Melanie.
"Aku mau maka es puter dan apa tadi yang dipegang Felichia? Aku mau makan dua makanan itu!" Ucap Dean sekali lagi yang benar-benar membuat Melanie ternganga tak percaya.
Apa ini masih bagian dari syndrome kehamilan simpatik?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.