Kenapa Mama tidak menjodohkanku dengan CEO kaya yang punya perusahaan dimana-mana kenapa justru dijodohkan dengan pria kaku dan lugu ini.
Aku tidak percaya jika umurnya hanya terpaut 2 tahun dariku, aku lebih percaya kalau dia lahir pada zaman Majapahit saat Ken Arok baru menikah dengan Ken Dedes. Bagaimana mungkin dizaman serba modern ini ia tak tahu kalau aplikasi WhatsApp bisa menggunakan dark mode, ia juga tak tahu ada aplikasi bernama tik tok.
Mama, mana calon suami idamanku! berikan aku CEO tampan dan kaya.
-Caramel Indira Aditama
Aku siap menikah denganmu Caramel.
-Rafka Kalandra Pradipta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Edelweiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan
"Rafka, air .... " Caramel merengek dan menggeliat bersamaan, ia belum sadar sepenuhnya dari tidur. Bahkan mata Caramel masih setengah terbuka, tapi ia merasa sangat haus seperti berada di tengah gurun. Tangannya meraba-raba mencari keberadaan Rafka tapi tidak ada. Dimana robotku?
"Ini airmu."
Caramel membuka mata, ternyata Rafka sudah pergi mengambil air secepat itu.
"Duduk dulu supaya tidak tersedak." Rafka membimbing Caramel bangun dari posisi tidur.
"Berapa suhu hari ini, panas sekali." Keluh Caramel dan meneguk segelas air putih hingga tandas tak tersisa.
"Sepertinya AC kita rusak, makanya kamu kepanasan."
"Hm?" Caramel mengerutkan kening, ia memberikan gelas yang sudah kosong kepada Rafka.
"Kamu nggak?"
"Tidak."
"Kok bisa?"
"Aku tidak pakai baju semalam."
Caramel melotot mendengar jawaban Rafka, jangan-jangan semalam—
"Kamu nggak ngapa-ngapain aku kan?"
"Tidak, aku hanya memelukmu." Wajah Rafka polos, "lagi pula aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita kalau aku melakukan hal lain."
Caramel mengangguk samar. Walaupun Rafka kalem dan pendiam tapi ia perkasa di atas ranjang. Caramel tertipu oleh wajah polos lelaki itu padahal sangat agresif di ranjang. Kadang Caramel curiga bahwa Rafka mungkin minum obat kuat. Apakah ia boleh bertanya tentang itu pada Rafka?
Rafka melangkah keluar kamar untuk melanjutkan aktivitasnya membuat sarapan. Karena Rafka bangun lebih dulu maka ia berinisiatif untuk membuat sarapan seperti yang biasa Caramel lakukan.
"Rafka!" Caramel turun dari tempat tidur menyusul Rafka, sepertinya ia harus bertanya langsung pada lelaki itu dari pada penasaran.
Caramel disambut dengan aroma pancake dan coklat sesampai di dapur. Rafka terlihat sedang meletakkan meses di atas pancake dan beberapa buah blueberry. Rafka membuat tampilannya lebih cantik dari pada buatan Caramel biasanya.
"Ada apa? sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu." Rafka menoleh sekilas pada Caramel.
Caramel menelan liurnya, ia tidak tahan ingin menyantap pancake yang terlihat sangat menggiurkan itu. Namun Rafka tidak segera mempersilahkan Caramel memakannya, ia justru serius menghias pancake tersebut. Caramel geregetan, mengapa Rafka menghiasnya hingga tampilan pancake nya tampak seperti buatan restoran padahal mereka akan memakannya sendiri.
"Rafka, kamu minum obat kuat ya?" Dengan percaya dirinya Caramel menanyakan itu dengan suara lantang.
Kening Rafka berkerut melihat Caramel.
Caramel menelan liurnya, kali ini bukan karena ingin makan pancake melainkan karena ditatap seperti itu oleh Rafka. Caramel jadi bingung mau menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
"M ... maksud aku—"
"Tidak."
"Hm?" Caramel mendelik tidak terima dengan jawaban Rafka. "Tapi—"
"Diusia tiga puluhan wajar saja seorang lelaki kuat dan perkasa di atas ranjang, kamu kan belajar IPA saat SMA, kenapa tidak tahu?" Rafka berjalan melewati Caramel membawa dua piring pancake yang sudah dihias menjadi sangat cantik.
"Aku ... lupa karena sibuk mempelajari perbankan." Caramel menyusul Rafka.
Rafka menarik kursi agar Caramel bisa duduk dan segera menikmati sarapannya.
"Kenapa kau kerja di perbankan padahal saat SMA ambil jurusan IPA."
"Kamu juga kenapa kerja jadi BMKG padahal waktu SMA ambil jurusan IPS."
"Tentu saja keduanya saling berhubungan." Rafka duduk di samping Caramel, ia menuangkan air putih untuk wanita itu.
"Ada sebagian kecil dari metereologi, klimatologi dan geofisika juga dipelajari saat SMA di jurusan IPS."
"Bukannya kamu menganalisis keadaan alam, itu namanya ilmu pengetahuan alam." Caramel tidak mau kalah, bahkan ia mengacungkan garpu kepada Rafka.
Rafka menahan senyum, sejak kapan Caramel punya pemikiran seperti itu.
"Makan sarapanmu sebelum dingin." Ujar Rafka.
Caramel sadar bahwa ia telah berlebihan membahas sesuatu yang tidak penting, ia segera menurunkan garpu di tangannya dan menyantap pancake cantik buatan Rafka.
"Sebentar lagi aku akan panggil tukang servis AC supaya kamu tidak kepanasan lagi."
Caramel mengangguk.
"Persediaan kopi mu habis, aku akan segera membelinya."
"Aku ikut."
"Nanti kalau tukang servis AC nya datang bagaimana?"
"Kenapa bukan aku yang beli kopi biar kamu di rumah nungguin tukang servis AC, kamu takut aku belanja banyak ya?" Caramel menatap Rafka tajam.
"Bukan begitu sayang, aku ingin kamu istirahat di rumah."
Caramel mengerucutkan bibir bawahnya, padahal sudah lama ia tidak pergi ke Grand Indonesia kesayangannya. Surga semua orang dimana kamu bisa tahan berlama-lama berada disana.
"Kamu ingin apa biar aku belikan."
Caramel berpikir, kenapa ia tidak ingin makan apapun padahal ia sudah berniat ngidam banyak hal untuk menguji kesabaran Rafka. Namun sayangnya sekarang Caramel justru tidak ingin makan apapun. Ternyata ngidam tidak bisa dibuat-buat.
"Aku pengen pancake punya kamu, kelihatannya lebih enak."
Rafka menukar piringnya dengan piring milik Caramel. Itu satu adonan, bagaimana mungkin pancake Rafka terlihat lebih enak.
"Sama saja." Kata Rafka.
"Beda, punyamu masih sisa banyak." Caramel terkekeh karena berhasil mengelabuhi Rafka.
Rafka tersenyum, ada saja kelakuan Caramel yang membuatnya gemas.
"Makanlah yang banyak." Rafka mengusap puncak kepala Caramel dan beranjak membawa piringnya yang sudah kosong.
"Biar aku yang cuci." Seru Caramel.
"Tidak usah."
Sebisa mungkin Rafka membantu pekerjaan rumah agar tidak terlalu membuat Caramel lelah. Bukan karena Caramel sedang hamil tapi Rafka memang ingin memperlakukan istrinya sebaik mungkin.
"Rafka, aku mandi duluan ya." Caramel baru saja selesai mencuci piring bekas makannya.
"Aku akan pergi membeli kopi, tunggu aku datang."
"Ya udah, buruan." Caramel mengibaskan tangan dan menyalakan televisi sembari menunggu Rafka datang.
Caramel ambil cuti satu hari untuk menemani Rafka di rumah. Caramel tidak bisa kerja dengan tenang sementara Rafka di rumah. Bisa-bisa ia ingin segera pulang menemui sang suami. Sebut saja Caramel bucin, ia memang merasa seperti itu sekarang.
Caramel terperanjat mendengar seseorang mengetuk pintu, ia segera beranjak untuk melihat siapa yang datang. Caramel mengintip dari lubang pintu, tampak seorang lelaki berdiri di depan pintu.
Caramel membuka pintu, sepertinya laki-laki itu adalah tulang servis AC yang sudah dipanggil oleh Rafka.
"Saya dari jasa servis AC, benar ini kediaman bapak Rafka?"
"Iya mari masuk." Caramel mempersilahkan lelaki berusia sekitar 30 tahunan itu masuk.
"Sebelah mana yang bermasalah?" Tanya lelaki berseragam tersebut.
"Itu di kamar." Caramel menunjuk kamarnya agar lelaki itu bisa segera memeriksa AC nya.
Caramel berdiri di depan pintu, sepertinya ia tidak asing dengan laki-laki itu. Caramel merasa lelaki itu sudah memberi pengaruh cukup besar dalam hidupnya tapi apa? mantan pacar? ah tentu saja bukan. Lalu siapa?
Cklek!
Caramel mendengar suara pintu terbuka. Pasti Rafka sudah datang, ia segera menghampiri sang suami. Caramel mengambil alih dua kantong plastik yang Rafka bawa. Bukan hanya kopi, Rafka juga membeli banyak makanan ringan kesukaan Caramel.
"Tukang servis AC nya sudah datang?" Tanya Rafka seraya melangkah ke kamar.
"Udah tuh." Caramel mengaduk-aduk kantong plastik mencari kopi kapsul di dalamnya.
"Uh sayangku, akhirnya kamu ada di pelukanku." Caramel memeluk satu kotak kopi kapsul yang setiap pagi selalu menjadi penyemangatnya.
Aroma kopi yang baru diseduh begitu memanjakan indera penciuman Caramel. Ia memejamkan mata dan menyesal kopi itu perlahan selagi hangat.
"Rafka, mau nggak?" Caramel menyodorkan keripik kentang kemasan yang baru dibuka pada Rafka.
Rafka mencomot dua keping keripik dan memakannya. Sejak menikah, Rafka jadi sering ngemil makanan ringan yang mengandung banyak penyedap seperti itu padahal dulu ia sangat menghindarinya. Rafka hanya makan makanan sehat penuh nutrisi yang bermanfaat untuk tubuhnya. Mungkin itu alasan mengapa sebagian lelaki memiliki perut buncit setelah menikah. Namun Rafka akan tetap rajin olahraga demi mempertahankan massa ototnya.
"Kamu Dio?" Rafka menunjuk tukang servis AC yang baru selesai memeriksa AC di kamar.
Lelaki yang dipanggil Dio tampak terkejut melihat Rafka, "Rafka ya?" Katanya.
"Kamu kenal?" Tanya Caramel dengan mulut penuh keripik.
"Ya, dia teman SMA seangkatanku." Jawab Rafka.
"Jadi kamu tinggal disini?"
"Iya." Rafka mengangguk dan menjabat tangan Dio, "bagaimana AC nya?"
"Ada banyak debu di pipa yang terhubung dengan evaporator, tapi aku udah bersihin." Jelas Dio.
"Bagaimana, apa kalian merasa ruangan ini dingin kembali?"
"Ya, ini nggak sepanas tadi." Caramel manggut-manggut.
"Terimakasih Dio." Ucap Rafka.
"Tidak masalah." Lelaki hitam manis itu tersenyum.
"Ini istrimu?" Dio melihat Caramel, ia juga merasa tidak asing istri Rafka.
"Iya."
Caramel menyodorkan tangan hendak menjabat Dio.
"Tanganku kotor." Dio mengacungkan tangan di depan dada.
"Tempatmu bersebelahan dengan Rama." Ujarnya.
"Kamu kenal Rama?" Sahut Caramel cepat, ia sudah menduga bahwa lelaki bernama Dio itu pernah berpengaruh terhadap kehidupannya dimasa lalu.
"Tentu saja dia kenal, kami satu sekolah." Jawab Rafka dengan wajah datar.
Caramel menahan senyum, sepertinya Rafka cemburu mendengar nama Rama.
"Terimakasih sudah memperbaiki AC kami." Rafka memberikan sejumlah uang kepada Dio.
"Jangan sungkan panggil aku kalau AC nya bermasalah."
"Ya." Rafka membimbing Dio keluar dari tempat tinggal mereka sebelum lelaki itu membahas Rama lebih banyak.
bersyukur bisa dapat bacaan novel se keren ni.
tq thor