⚠️ Warning, Area 21+ (Bocil Harap Mlipir) 🚫
Dunia Faraz seketika berhenti saat mengetahui wanita yang baru Ia nikahi menghilang di malam pertamanya, Rasa sedih, Khawatir, Curiga bercampur menjadi satu.
Bagaimana tidak, Malam pertama yang seharusnya menjadi malam yang paling indah bagi sepasang pengantin malah berubah menjadi mimpi buruk baginya.
Lalu bagaimana setelah perceraiannya, Akan kah Faraz menemukan cinta sejatinya?
Ikuti terus kisah "Perjalanan Cinta Sang Duda" yang Bucinnya sampai emak-emak sakit kepala 🤣
Author : Noor Hidayati 👈
FB : I'tsmenoor
IG : @_itsmenoor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Faham yang makin melebar
"Ada apa Zeenat, kenapa kamu marah pada Faraz, bukankah kamu begitu merindukan nya?" tanya Shehzad.
"Dia membuat ku kecewa, Dia juga mempermalukan ku di depan teman lama ku," ucap Zeenat kesal.
"Memangnya apa yang sudah Dia lakukan sehingga membuatmu marah seperti ini?"
"Sekarang Dia jadi suka minum Shehzad,"
"Apa!"
"Ya, bukan itu saja, bahkan Dia bermalam di kamar Putri dari teman lama ku,"
"Apa maksudnya bermalam?" tanya Shehzad.
"Itulah masalahnya, sekarang coba pikirkan seorang pria mabuk menginap di kamar seorang gadis, pikir kan apa yang bisa terjadi?"
"Tapi jangan menuduh Putra kita tanpa bukti Zeenat, Putra kita mungkin mabuk, tapi gadis itu tidak kan?"
Zeenat menggeleng pelan.
"Sekarang cari tau rumahnya, dan tanya pada gadis itu, apa yang terjadi sebenarnya," ucap Shehzad.
"Ya, Kau benar, baiklah Aku pergi dulu,"
"Baiklah hati-hati,"
Zeenat pun keluar dari kamar dengan wajah yang masih kesal pada Faraz.
Faraz yang dari tadi berdiri di depan pintu menatap ibunya penuh penyesalan.
"Sekarang antar Ibu kerumah gadis itu." tegas Ibu
"Kerumah gadis cupu itu?" tanya Faraz kaget.
"Kamu memanggilnya apa?" tanya ibu memastikan.
"Eee... Tidak Ibu, Mmmm.... Maksudku rumah Putri dari teman Ibu," elak Faraz
"Kita berangkat sekarang,"
"Tapi Bu... Aku tidak tau rumahnya."
"Apa kamu masih mau membohongi Ibu lagi?"
"Kali ini aku tidak berbohong Ibu, Aku benar-benar mabuk jadi Aku tidak tau dimana rumahnya,
Daan saat Aku pulang dari sana, Aku tidak memperhatikan jalanannya."
"Ibu tidak tau apa yang sudah kamu lakukan, tapi yang jelas kamu sudah tidur di kamar gadis itu, dan gadis itu adalah Putri sahabat Ibu mu, Ibu benar-benar tidak bisa menerima ini Faraz!"
Faraz tertunduk diam.
"Sebelum kamu meminta maaf pada gadis itu dan Ibu nya, Ibu tidak akan mau memaafkan mu " Ibu kembali masuk ke kamar.
"Ibuuu... Aku memang tidak tau rumahnya tapi Aku tau dimana Dia bekerja, kalau Ibu bisa memaafkan ku setelah Aku meminta maaf padanya, maka Aku akan meminta maaf padanya sekarang juga." ucap Faraz melangkahkan kakinya.
"Tunggu! Ibu akan ikut denganmu, Ibu tidak ingin kamu membohongi Ibu lagi."
Faraz mengangguk kecil.
°°°
Mereka sampai di tempat Alia bekerja.
Sebelum turun dari mobil Faraz dan Ibunya menggunakan masker agar orang-orang tidak mengenalinya.
Setelah sampai depan pintu masuk Faraz menghentikan langkahnya.
"Faraz kenapa hanya diam, cepat masuk dan temui Dia."
"Ibuu Aa... Aku... ee.. untuk apa ibu, Aku kan tidak melakukan apa-apa kenapa Aku harus meminta maaf padanya?"
"Ibu tidak percaya pada mu, belakangan ini kamu sering sekali berbohong,
Sekarang cepat masuk dan jangan banyak alasan."
"Ibu.. ini bandara hanya orang-orang yangg memiliki tiket yang boleh masuk." ucap Faraz.
"Baiklah, ikut ibu sekarang," Zeenat menarik tangan Faraz untuk membeli tiket.
"Berikan kami tiket." ucap Zeenat.
"Tujuan...?
"Terserah, berikan kami tiket kemanapun."
"Ibu bilang kita akan menemui gadis itu kenapa sekarang malah memesan tiket?"
"Tadi kamu bilang kita harus memiliki tiket untuk masuk kedalam,"
"Ya itu memang benar, tapi masa ibu cuma mau menemui gadis itu beli tiket sih, tunjukan saja wajah ibu pada mereka, pasti mereka mempersilahkan ibu masuk tanpa harus membeli tiket,"
"Astaga Faraz kenapa kamu itu banyak sekali alasan, tadi bilang harus ada tiket, sekarang bilang gak perlu dan cukup menunjukan wajah ibu,"
Faraz terdiam menggaruk-garuk kepalanya.
"Nyonya apa anda berminat mengunjungi Lombok?" tanya petugas.
"Ya terserah saja, cepat berikan sini." ucap Zeenat.
"Baiklah kalau begitu Terimakasih," ucap petugas dengan ramah.
Zeenat mengambil tiketnya dan kembali menarik tangan Faraz masuk kedalam bandara.
"Sekarang katakan dimana tempat kerja gadis itu?"
Faraz melihat kesana kemari mengingat-ingat dimana letak restoran Alia bekerja.
"Apa kamu juga lupa?" Ibu mengangkat tangannya geram.
Faraz langsung menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Faraz... cepatlah, kenapa lama sekali mengingatnya?"
Faraz mengingat saat keluar dari pesawat Dia berjalan kekiri dan masuk ke restoran pertama.
Faraz pun mempraktekkan saat ia keluar dari pesawat dan belok kiri menuju restoran.
Sepertinya ini bu," ucap Faraz ragu.
"Kenapa kamu ragu, apa benar ini tempatnya?"
"Ee.. Ya Aku yakin ini restoran tersebut Dia bekerja."
Ibu pun berjalan masuk ke restoran tersebut, dan di ikuti Faraz di belakangnya.
Faraz mencari kesana kemari.
"Yang mana orangnya?" tanya Ibu melihat-lihat para pelayan restoran tersebut.
Faraz pun melihat Alia yang tengah sibuk melayani pengunjung.
"Tuh..." ucap Faraz mengangkat dagunya menunjuk ke Alia.
"Yang mana?" tanya ibu mencari-cari yang Faraz maksud.
"Itu ibu... gadis yg melayani nenek tua itu," ucap Faraz menghadapkan ibunya ke arah Alia.
Ibu melihat Alia yang tengah melayani pengunjung dengan begitu ramah, ia memperlakukan pengunjung yang sudah sangat tua itu seperti sedang melayani orang tuanya sendiri, Zeenat begitu terkesan melihat kelembutan Alia melayani orang tua.
"Apa ibu tersenyum?" tanya Faraz.
"Bagaimana kamu tau?"
"Meskipun Ibu memakai masker tapi senyum Ibu jelas terlihat dari tarikan mata Ibu" ucap Faraz yang langsung mendapat tabokan dari ibunya.
"Kenapa Ibu memukul ku?"
"Diamlah, dan lihat gadis itu, Dia benar-benar memperlakukan pengunjung seperti orang tuanya sendiri, kali ini Ibu yakin kamu tidak salah pilih,"
"Apa maksud ibu, Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya,"
"Kamu masih bilang tidak ada hubungan apa-apa dengannya tapi kamu menginap di rumah nya,"
"Ibu berapa kali ku jelaskan, malam itu Aku mabuk dan gadis itu membawaku ke rumahnya, bahkan Aku tidak tau siapa namanya,"
"Apa!" belum sempat Ibu bicara, salah satu pelayan menghampirinya dan mempersilahkan mereka duduk.
Pelayan memberikan daftar menu makanan pada mereka
"Bisa Saya meminta sesuatu?" tanya Zeenat.
"Ya tentu," jawab pelayan.
"Aku ingin gadis itu yg melayani kami." ucap Zeenat sembari menunjuk Alia
"Oh ya, baiklah," ucap pelayan itu dan langsung pergi memanggil Alia
Alia pun dengan senyum ramahnya datang ke meja mereka.
"Selamat sore... Tuan.. Nyonya... Ada yang bisa saya bantu?"
Ibu menyenggol Faraz agar Faraz berbicara pada Alia.
Alia merasa bingung dan menatap Faraz, meskipun Faraz menggunakan masker, namun bola mata hazel itu terlihat tidak asing baginya.
Faraz segera berdiri menatap Alia.
"Ee... Ibu ku ingin menemui mu." ucap Faraz dengan sikap cueknya.
"Apa?" Alia merasa bingung karena dia belum tau siapa yang ada di depannya.
"Ee... ini Aku..." Faraz membuka maskernya sejenak dan menutup nya kembali
"Kamu!" ucap Alia terkejut.
"Sssssstttttttt..." Faraz menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri.
"Gara-gara kamu ibu ku jadi marah pada ku, bahkan sampai sekarang Ibu belum mau memaafkan ku, kenapa kamu memanggilku Sayang dan menyuruhku nengatakan yang sebenarnya pada Ibu ku?"
"Apa! Jadi yang Bu Fareeda katakan itu benar, jika kamu tidur di kamar Alia?" ucapan Zeenat membuat para pelayan dan pengunjung langsung menatap mereka karena suara yang cukup keras.
Alia melihat ke sana kemari dan melihat semua orang menatapnya penuh curiga.
Bersambung...