sekuel dari kembalinya sang ratu mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon owe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rencana.
seorang lelaki yang duduk di kursi dengan kaki yang diperban terlihat menatap tajam seorang wanita muda yang sedang merengek padanya, Karen datang menemui pamannya Ryunnal Dexa untuk meminta bantuan.
" paman " ucap Karen seraya merengek kepada pamannya.
" apa kau tidak lihat Karen, bahkan gadis kecil itu berani menembak kakiku! dan kau saat ini merengek seperti itu padaku ? " sentak Ryunnal dan Karen diam seraya menundukkan wajahnya dengan perasaan kesal. " jika kau tak bisa menikah dengan George baik-baik. Maka gunakan cara lain agar ia bisa menikahi mu " tandas Ryunnal dengan tegas membuat Karen menatap bingung pada paman nya itu.
" maksud paman ? " ucap Karen penasaran. Ryunnal tersenyum tipis menatap Karen otak liciknya mulai bekerja menyusun rencana agar keinginannya tercapai.
" jangan khawatir paman akan mengurus semuanya, dan soal gadis itu paman akan mengirim beberapa orang untuk mengusiknya. " seringai Ryunnal dan Karen tersenyum senang.
" benarkah paman ? hmm jika begitu aku sudah tak sabar ingin melihat gadis itu tersiksa, ingat paman aku ingin gadis itu menangis dan meraung penuh kehancuran " tegas Karen dan Ryunnal tersenyum sinis.
Karen sudah membayangkan hal-hal buruk pada Athena, ia tak peduli jika Athena putrinya siapa, yang terpenting saat ini adalah kebahagian dan tujuannya. Karen menghembuskan nafasnya perlahan saat ia mengingat perkataan orangtuanya di England jika mereka tak mempermasalahkan jika pernikahan George dan juga Karen tak pernah terjadi, tapi Karen bersikeras untuk membuat pernikahan itu terjadi, kedua orang tua Karen hanya bisa diam dan melihat perkembangan nya sampai dimana.
Bandara internasional Prancis.
Seperti yang diucapkan oleh Malvin jika Elisya harus segera pulang ke Turki mengikuti orangtuanya, awalnya Elisya enggan tapi Malvin mampu membujuk adik perempuannya itu dan pada akhirnya Elisya setuju walaupun dengan berwajah masam.
saat ini mereka sedang berada di bandara Malvin memeluk sang ibu yang tampak berwajah sendu kemudian ia menatap Asyur dengan datar.
" nak.. Kunjungi kami saat kau mempunyai waktu luang, jujur mommy sangat merindukan mu dan mommy ingin sekali memelukmu lebih lebih lama lagi " ucap Diandra dengan sendu dan Malvin hanya tersenyum getir saat ini, Malvin memeluk sang ibu dan melabuhkan kecupan ringan di dahi Diandra. Asyur dan Elisya hanya diam menatap keduanya.
" Ya. mommy tenang saja. Aku akan berkunjung nanti " ucap Malvin mencoba membuat suasana hati sang ibu senang, Diandra tersenyum lembut dan menangkup wajah putra pertamanya itu manik keduanya bertemu, Malvin kian hari sangat mirip dengan Macky.
" kak, " pekik Elisya dan Malvin berbalik memeluk sang adik dengan tersenyum manis. " jaga dirimu baik-baik " ucap Elisya dan Malvin hanya terkekeh.
Asyur menatap Malvin dan Elisya secara bersamaan walaupun mereka berbeda ayah tapi Malvin sangat menyayangi adiknya itu, Asyur hanya diam tertunduk dan Diandra menyadari hal itu lalu memeluk lengan sang suami dan tersenyum manis.
" Malvin Daddy, mommy dan juga adikmu pergi dulu, kau jaga dirimu baik-baik. Jika terjadi apa-apa hubungi Daddy " ucap Asyur menatap Malvin dengan tatapan yang sulit diartikan.
" baik dad " ucap Malvin tersenyum tipis.
Malvin memandang kepergian orang-orang yang dikasihinya sampai hilang dari pandangan, setelah itu Malvin segera pergi ke perusahaan untuk melakukan rutinitasnya.
mobil mewah itu melaju pesat membelah jalanan ibukota, Malvin menghembuskan nafasnya dengan berat sungguh perkataan Asyur kemarin membuat ia sedikit tak berkonsentrasi, sebenarnya Malvin tak membeci Asyur tapi entah kenapa ia selalu membatasi diri dengan pria berdarah timur itu.
sesampainya di GM Crop's Malvin segera menuju ruangannya, seperti biasa para karyawan yang bekerja akan menunduk sopan kepada Malvin dan ia hanya menanggapinya dengan senyum tipis tanda menghormati.
Malvin segera berkutat dengan sebuah laptop berwarna putih disana, ia akan mencari tau keberadaan Chaiden saat ini, jujur Malvin sangat muak harus berurusan dengan lelaki psikopat itu.
" bersembunyilah dengan baik karena jika aku sampai menemukan mu, maka kau tak bisa lari lagi maupun bersembunyi. " desis Malvin menatap tajam layar laptop miliknya.
Malvin mencari tahu dari datar Aldebaran, dimulai dari aset-aset milik Aldebaran hingga kekayaan dan bangunan-bangunan penting milik Aldebaran, yang tertumpuk menjadi satu dalam sebuah map sedang berwarna biru, satu persatu Malvin membaca dan melihatnya dengan sangat teliti.
Malvin sangat serius dalam hal itu hingga saat ketukan pintu pun tak ia hiraukan, pintu terbuka lebar menampilkan sosok wanita berbalut pakaian sederhana dan elegan, langkahnya yang anggun mendekat kearah Malvin.
" Malvin " suara lembut itu membuyarkan konsentrasi Malvin ia terkejut saat melihat seorang wanita yang sedang berdiri tak jauh disampingnya.
" kapan kau masuk ? " bingung Malvin.
" ohh maaf, tadi aku sudah mengetuk tapi tak ada jawaban sama sekali dan akhirnya aku masuk saja. " ucap seorang wanita yang bernama Madeline
" ada apa ? " tanya Malvin datar dan Madeline hanya tersenyum tipis.
" Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama, apa bisa " ucap Madeline ragu-ragu dan Malvin memicingkan matanya seketika, Malvin selalu bersikap dingin dan datar pada dirinya entah mengapa Madeline pun tak tau.
" akan ku usahakan " ucap Malvin dan Madeline tersenyum tipis. " sebaiknya kau tunggu saja disana! karena aku sedang bekerja " dingin Malvin membuat Madeline diam saja tak menjawab dan akhirnya Madeline duduk di sofa yang tersedia.
Malvin acuh seakan tak memperdulikan keberadaan Madeline di ruangannya, Madeline asik memandang wajah tampan milik Macky dalam hatinya ia bertanya-tanya mengapa sikap Malvin sangat dingin kepadanya tidak seperti pada orang lain yang terlihat ramah dan murah senyum.
Madeline menghembuskan nafasnya pelan, dalam hatinya ia mencintai pria dingin itu sedari dulu, tapi apa ? ia memendam perasaannya sendiri tanpa mau mengungkap kebenaran apa yang hatinya rasakan selama ini.
waktu terus berlalu tanpa sadar Malvin mengabaikan Madeline hingga wanita itu tertidur dalam posisi setengah duduk, suara pintu yang terbuka membuat Malvin menoleh kearah pintu itu, George masuk kedalam sana tanpa melihat Madeline yang sedang tertidur Karena menunggu Malvin.
" kau belum makan ? ini hampir jam tiga sore. " seru George dan seketika Malvin menoleh kearah sofa bertanya melihat sosok wanita yang sedang tertidur lelap, George pun menatap arah pandang Malvin. " Madeline ? " bingung George lalu ia menatap Malvin seketika " dia disini ? " ucapnya lagi dan Malvin hanya mengangguk kecil.
" Aku lupa jika dia berada di sini, " ketus Malvin dan George terkekeh seketika.
" kau selalu saja bersikap seperti itu padanya, tidakkah kau merasa kasihan pada wanita itu ? Kesalahan ayahnya bahkan ia tak tau sedikitpun " ucap George dan Malvin diam saja.
" Entahlah akupun tak tau, sebenarnya aku tak ingin bersikap seperti ini tapi jika mengingat tentang ayahnya yang dulu hampir melecehkan ibuku rasanya dadaku sesak seketika, " lirih Malvin dan George diam saja, sosok Malvin yang ceria dan mudah bercanda itu seketika lenyap saat mereka menginjak usia remaja George paham akan sahabatnya itu.
" sudahlah jangan diingat lagi, masih ada aku disini Malvin. Bangunkan dia bukankah tadi kau mengatakan jika ia mengajakmu makan siang, jika begitu ayo kita pergi bersama sebelum pulang, aku sudah merindukan gadis ku " ucap George terkekeh dan berlalu pergi dari ruangan Malvin.
Malvin berjalan dan menatap wajah damai yang sedang tertidur, wajahnya mirip seperti gadis Tionghoa karena sang ibu berasal dari negeri tirai bambu itu, Malvin menatap wajah itu sesaat.
Maafkan aku Madeline, jika sikap ku selama ini menyakiti hatimu, tapi sungguh sebenarnya aku tak mau melakukan hal itu. Batin Malvin
saya menunggu🤭🙏