Area Dewasa.!!! Tidak ada nilai positif.
Tidak suka = SKIP
Nicholas Alexander, laki - laki tampan berusia 24 tahun itu baru saja patah hati setelah kekasih yang sudah dia kencani selama lebih dari 4 tahun itu telah di tiduri oleh laki - laki lain.
Hancur.? Tentu saja dia sangat hancur menerima kenyataan pahit itu.
Pada akhirnya dia harus melepaskan wanita yang hampir saja dia nikahi dalam waktu dekat ini.
Mampukah Nicho melupakan cinta pertamanya.?Dan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya.?
Siapakah wanita beruntung itu yang akan mendapatkan cintanya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Kakak kenapa mukanya masih cemberut.? Baju yang aku pake masih nggak bener juga.?" Sisil terlihat bingung menatap Nicho yang sejak tadi memasang wajah kesal. Bahkan dia belum mengatakan apapun sejak Sisil keluar setelah mengganti baju dan sampai sekarang mereka sudah sampai di luar gedung apartemen. Malam - malam jalan bersama Nicho yang sedang memasang wajah seperti itu, membuat Sisil seperti sedang melakukan uji nyali. Sejak tadi seperti merasakan aura mistis hingga mampu membuat bulu kuduknya meremang.
Nicho melirik sekilas, kemudian hanya menggeleng pelan. Sisil sudah menduga menduga tidak ada yang salah dengan baju yang dia kenakan. Tidak mungkin Nicho masih mempermasalahkan baju yang sudah dia ganti dengan celana panjang dan kaos polos yang dilengkapi cardigan. Badannya tertutup dari ujung kaki sampai leher.
"Terus kenapa diem aja.? Mukanya nyeremin banget,," Ucapan Sisil yang kedua kalinya kini membuat Nicho semakin melirik tajam. Sisil bergidik ngeri dan menjauh 2 langkah dari samping Nicho. Mukanya sudah seperti vampir yang akan menghisap darahnya.
"Malah tambah nyeremin,,," Gumam Sisil pelan, kemudian Sisil terkekeh geli. Dia seperti sedang jalan dengan patung hidup. Tidak bersuara saat ditanya dan hanya melirik saja.
Melihat Sisil tertawa, Nicho semakin mempercepat langkahnya. Dia seperti sengaja ingin membuat Sisil setengah berlari mengejarnya karna dipastikan wanita itu tidak akan bisa mensejajarkan langkahnya jika hanya berjalan.
"Iihh,,, kak Nicho.!!" Teriak Sisil kesal. Kini giliran wajahnya yang cemberut karna di kerjai oleh Nicho.
Teriakan dan langkah cepat Sisil justru membuat Nicho tersenyum puas.
"Huh,,, huh,, huh,,,!!" Nafas Sisil terengah - engah. Dia sampai berkacak pinggang dengan badan yang sedikit membungkuk. Sedangkan Nicho sudah duduk di depan supermarket dengan air mineral dingin di tangannya yang sudah dia minum beberapa teguk. Laki - laki itu hanya menatap acuh ke arah Sisil yang terlihat kelelahan.
"Min,,,taa,,," Ujar Sisil tersenggal. Dia merebut paksa air mineral di tangan Nicho dan langsung meneguknya tanpa sisa. Aksi Sisil yang meneguk habis minuman miliknya, langsung mendapat teguran dari Nicho.
"Enak aja main habisin.!" Geram Nicho. Yang di tegur hanya menyengir kuda.
"Haus kak,,! Lagian kakak jalannya cepet banget, aku tuh jadi lari - lari ngejar kakak.!" Tutur Sisil kesal.
"Lagian kenapa juga aku harus ngejar kakak, tanpa ngejar pun bisa sampe sini. Huh,,,! Buang - buang tenaga aja,,," Gumamnya. Dia jadi merasa bodoh dan berhasil di kerjai oleh Nicho.
"Hahaha,,," Nicho tertawa puas mendengar ocehan Sisil. Melihatnya tersiksa dan mengomel seperti itu jadi hiburan tersendiri untuknya.
"Puas banget ketawanya.!!" Geram Sisil. Dia memberikan botol kosong pada Nicho dan masuk kedalam supermarket tanpa memperdulikan Nicho.
"Kurang ajar tu anak.!" Nicho menatap botol kosong di tangannya. Bisa - bisanya Sisil memberikan botol air mineral itu padanya. Dia yang membeli, Sisil yang menghabiskan, dan dia juga yang harus membuangnya ke tempat sampah.
"Belanja sebanyak itu kenapa harus malam - malam,," Nicho menghampiri Sisil yang masih sibuk memilih belanjaan. Dia memutuskan masuk untuk mencari Sisil setelah 20 menit menunggu di luar.
"Kakak masih disini.?" Sisil tidak langsung menanggapi ucapan Nicho, dan justru balik memberikan pertanyaan padanya.
"Aku kira udah pulang,,," Lanjutnya.
"Tadi pagi aku kuliah sampe siang, terus pergi sama kak Alvin, pulangnya workout sebentar terus langsung tidur sampe sore. Baru sempet keluar sekarang,,," Sisil memasukan beberapa sayur kedalam troli belanjaannya.
"Banyak juga yah,," Gumam Sisil sambil menatap troli. Nicho hanya menggelengkan kepalanya melihat ulah aneh Sisil. Dia yang memasukan semua belanjaan itu ke troli, tapi dia juga yang heran.
"Biasanya Dave yang bantuin bawa belanjaan. Walaupun posesif dan galak, tapi selalu mau bantuin aku. Sayang aja kelakuannya begitu,,,"
Nicho bisa melihat kesedihan dan kekecewaan dari raut wajah Sisil. Wanita itu seolah menyayangkan tindakan kotor Dave.
"Buruan belanjanya.! Malah curhat masa lalu." Sindir Nicho ketus.
Sisil hanya melirik sewot, lalu bergegas menyelesaikan belanjanya.
Sisil terus tersenyum berjalan di samping Nicho. Tidak menyangka laki - laki itu mau membawakan belanjaannya, meskipun memasang wajah cemberut.
"Makasih kak,,," Entah sudah berapa kali Sisil mengucapkan kalimat itu, Nicho bahkan sampai bosan mendengarnya.
"Mau sampai berapa kali kamu bilang kayak gitu.?" Wajah Sinis Nicho selalu awet menempel di sana.
"Sampe kak jawab. Habisnya kakak diem aja,,," Sahut Sisil cepat.
Nicho hanya menghela nafas dan tidak menghiraukannya lagi. Keduanya terus berjalan menyusuri koridor apartemen.
Nicho mengendus kesal sambil menatap pintu apartemennya dari kejauhan. Dia ingin memastikan apa Alvin masih berbuat mesum di dalam atau sudah enyah dari apartemennya. Nicho bahkan ragu untuk membukanya lagi. Pemandangan gila itu membuatnya jadi berfikir yang tidak - tidak.
Tak berselang lama, pintu apartemennya terbuka. Alvin dan wanita tadi keluar dari sana.
"Itu kak Alvin sama siapa.?" Sisil menunjuk ke arah Alvin. Nicho hanya menghela nafas kasar dan berjalan cepat menghampiri kedua orang itu.
"Heh bangs*t.!" Seru Nicho ketus. Alvin terlihat kaget melihat kedatangan Nicho.
"Seenaknya aja lu ngew* di apartemen gue.!"
"Lu kehabisan duit buat nyewa kamar di hotel.?!"
Nicho benar - benar geram dengan kelakuan sepupunya.
Sementara itu Sisil hanya bengong saja mendengarkan ucapan Nicho. Juga menatap Alvin dan wanita itu dengan tatapan aneh. Di leher keduanya sama - sama terdapat bekas kemerahan. Meski Sisil belum pernah melakukannya, tentu saja dia paham dari mana tanda kemerahan itu berasal.
"Yaelah, gitu doang pake protes.! Lagian cuma sebentar, gak sampe 2 jam,,," Alvin memberikan pembelaan.
"Bac*t doang lu bisanya.!"
"Besok buang sofa gue dan gantiin yang baru.! Banyak virus di sana.!" Geram Nicho sembari berlalu dari hadapan Alvin. Sisil langsung berlari mengikuti Nicho.
"Sialan,,! Bisa - bisanya dia liat siaran langsung gue.!" Gumam Alvin. Dia terlihat kaget dan kesal.
"Cepet buka pintunya.!" Pintar Nicho pada Sisil.
"Iya,, sabar,,," Sisil meletakan kantong belanjaan di lantai, membuka dompet dan mengeluarkan access card.
"Kak Alvin abis begituan sama cewe tadi.?" Tiba - tiba saja Sisil bertanya seperti itu meski sebenarnya dia sudah tau.
"Begituan gimana.?" Mendapat pertanyaan itu, Sisil justru menjadi salah tingkah hingga wajahnya merona.
Nicho seolah sengaja ingin membuat Sisil tidak berkutik.
"Eumm,,, nggak jadi,,," Sisil memilih mengakhiri pembicaraan. Dia membuka pintu dan masuk kedalam setelah mengambil kembali belanjaannya.
Nicho hanya tersenyum tipis, lalu mengikuti langkah Sisil setelah menutup pintu.
Nicho meletakan 2 kantong belanjaan di atas meja makan. Dua manik matanya terus mengikuti pergerakan Sisil. Ada hal yang dia ingat begitu menyadari keberadaan Sisil. Tidak ada wanita lain yang saat ini sedang dekat dengannya kecuali Sisil. Meski memang kedekatannya dengan Sisil tidak lebih dari sebatas tetangga dan teman saja.
Nicho menghela nafas berat. Dia bingung sendiri menghadapi permintaan Papa Alex. Jika membawa ke rumah dan mengenalkannya pada Papa Alex dan Mama Rissa, itu artinya kedua orang tuanya akan menganggap serius hubungan dia dan Sisil. Sedangkan disisi lain, saat Nicho tidak ingin memiliki hubungan dan terikat dengan siapapun. Dia juga memikirkan Sisil yang seolah sedang diberi harapan lebih olehnya.
"Kakak mau minum.?" Sisil bertanya sambil mengeluarkan belanjaan dan menatanya di dalam lemari es. Dia mengambil minuman kaleng dan memberikannya pada Nicho yang sedang berdiri tegap di sisi meja makan.
"Aku perlu bantuan kamu." Ucap Nicho dengan suara tegas. Juga dengan tatapan mata yang penuh harap.
...****...
Makasih yang udah ikut komen di bab 13, dan yang udah follow akun (Ratna Wullandarrie & Clarissa icha).
Pengumuman give away di majuin hari ini.
Othor udah dapet 4 pemenang yang bakal di kirimin pulsa masing² 20k. 4 orang itu udah follow semua akun othor.
Selamat buat para pemenang, langsung kirim dm ke othor lewat IG : r.wulland , jangan lupa cantumin bukti akun NT / MT nya yah.
Buat yang belum dapet, ikut give away bulan depan yah🥰
Dan ini hasil random nya. Dapet nomor urutan sebanyak itu tapi cuma ada 4 orang yang memenuhi syarat. Yaitu follow 2 akun othor di NT.
Kebanyakan cuma follow 1 akun othor doang.
Biar mikir jg laki model bgtu. Ribet bgt soal anak merid jg blm ada setaun