Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.
Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.
Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.
Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXVIII
Akan ada yang hilang
Akan ada yang pergi
Namun akan ada yang tetap tinggal
Menantikan sang pujaan
Waktu berlalu
Berganti dengan warna dan masa
Entah dengan hatimu
Yang pasti hatiku masih tetap sama
*****
Malam beranjak meninggalkan senja yang tak berwarna. Meniti waktu malam yang kian pekat. Seakan tahu ada satu hati yang sedang gundah gulana. Mencari alasan tentang semua hal yang telah lewat pada masanya.
Ibu Ayu Kumala terlihat lebih pendiam untuk malam ini. Bahkan saat Anjani kecil bertanya tentang bulan yang sedang terlihat malu-malu karena tertutup oleh awan tipis yang melewatinya.
"Bunda-bunda... lihatlah bulan itu!" Anjani berkata dengan antusias. Namun ibu Ayu yang di sapa dengan Bunda oleh Anjani malah terlihat melamun dan tidak memperhatikan apa yang di katakan oleh Anjani.
"Bulannya cantik bunda. Bulat penuh, tapi sepertinya dia malu di lihat oleh Jani!" Anak kecil seperti Anjani memang tidak begitu peka dengan lawan bicaranya, yang pikirannya sedang tidak ada di tempat.
Malam ini selesai makan semua sedang bersantai sambil menikmati pemandangan malam yang indah. Bulan penuh yang terang meskipun kadang awan tipis yang lewat menutupnya sekilas.
Anne berserta Anna sedang duduk-duduk di bangku panjang dengan membawa buku bacaannya. Anak-anak yang lain juga melakukan hal yang sama. Bahkan ada yang menggelar tikar pandan dan karpet karakter untuk alas duduk.
Meskipun rumah panti asuhan Ayu Kumala ada di daerah perkotaan namun suasana masih seperti di kampung. Bukan tanpa sebab juga, karena adanya pepohonan yang rindang dan halaman yang luas serta tata letak ruang dan bangunan juga menyesuaikan layaknya perumahan desa. Mungkin karena inilah, anak-anak menjadi betah meskipun semua terlihat sederhana.
Jika malam bulan terang seperti malam ini, mereka memang suka berada di luar. Menikmati keindahan langit malam yang sudah semakin pudar karena tetangganya bulan berganti dengan terangnya lampu bohlam yang beribu-ribu Watt dari lampu-lampu jalan dan gedung pencakar langit.
"Dek...!" Panggil Anna pada Anjani kecil.
"Ya kak!" Anjani pun menjawab dengan cepat, karena Anna memanggilnya dengan menarik ujung baju yang Anjani pake.
"Bunda sedang ada yang di pikirkan, jadi g usah tanya-tanya dulu y!" Anna memberitahu Anjani yang biasa patuh dan juga cepat tanggap.
"Bunda kenapa?" Tapi sepertinya malam ini berbeda. Anjani justru bertanya karena merasa penasaran dengan penjelasan yang di berikan oleh Anna.
"Bunda-bunda, bunda kenapa?" tanya Anjani dengan menggoyang-goyangkan tangan ibu Ayu yang ada di sebelahnya.
"Eh ya, eghh... ada apa Jani?" tanya ibu Ayu dengan gerakan kaget dan juga gagap.
"Bunda kenapa diam saja dari tadi? Jani sudah ngomong banyak dan bertanya juga. Tapi bunda tetap diam saja!" Anjani mengadu dengan apa yang dia lakukan tadi.
Ibu Ayu tertawa kecil, mentertawakan dirinya sendiri yang melamunkan seseorang yang sudah tidak mungkin dia inginkan juga.
"Tidak ada apa-apa sayang. Bunda hanya sedikit capek saja. Kan bunda lebih sibuk minggu-minggu kemarin itu!" Alsan yang sangat pas untuk diutarakan pada anak-anak seperti Anjani, yang belum mengerti dengan permasalahan orang-orang dewasa.
"Ya sudah. Jani pijit ya bunda!" Anjani justru menawarkan diri. Tentu saja ibu ayu tersenyum melihat reaksi Anjani yang peka itu. Padahal bukan capek badan yang ibu Ayu maksud. Tapi capek pada hatinya sendiri dengan kejadian di masa lalunya.
"Sudah sayang. Ayok masuk, sudah larut dan semakin dingin udaranya!" Ibu ayu mengajak anak-anak yang ada di luar untuk segera masuk ke dalam. Mereka semua bergegas membereskan tikar dan juga karpet yang digelar. Merapikan dan membawanya masuk serta. Teras samping panti menjadi sepi, sama seperti hati pemiliknya.
"Maaf mas..." guman ibu ayu yang tidak bisa di dengar oleh siapa pun, termasuk orang yang dia sebut dengan sapaan "mas" tadi.
Semua anak-anak sudah masuk kamar masing-masing. Begitu juga dengan Anne, namun Anna pamit ke dapur dulu pada Anne untuk mengambil minuman di botol yang biasa dia sediakan di kamar.
"Inne, aku ke dapur dulu ya ambil air!" pamit Anna pada Anne yang sedang membereskan tempat tidur. Anne hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah sampai di dapur dan mengisi botolnya dengan air putih, Anna berjalan ke rumah tengah di mana meja ibu Ayu dengan berkas-berkas panti tertata rapi. Tadi Anna melihat sekilas jika ibu Ayu sedang duduk memperhatikan sesuatu yang dia pegang. Seperti sebuah figura foto dengan bentuk kecil seperti kotak dompet.
"Bu..." Sapa Anna saat melihat ibu Ayu masih diam dan tidak menyadari kehadirannya.
"Bu, ibu Ayu!" Tegur Anna lebih keras dari yang tadi.
"Eh ya... Ada apa Anna?" tanya ibu ayu terkejut. Dia langsung menegakkan pungungnya yang tadi bersender di sandaran kursi.
"Jika ibu ada yang dipikirkan Anna bisa kok jadi pendengar. Meskipun tidak bisa membantu setidaknya ibu ada tempat bercerita sehingga tidak merasa sendirian." Anna mencoba mengatakan apa yang dia pikirkan saat ini.
"Ibu tidak apa-apa sayang. Terima kasih ya! Tidurlah, sudah malam. Besok kesiangan lho!" Ibu ayu berusaha tetap tersenyum dengan wajar seperti biasanya. Namun Anna tahu jika senyum ibu Ayu terlihat gagal di matanya. Dia tidak bisa di tipu begitu saja, karena sedari kecil dia memang dekat dengan beliau. Berbeda dengan Anne yang lebih dekat dengan ibu Wati, adik ibu Ayu.
"Baiklah, Anna ke kamar. Selamat malam, ibu juga istirahat. Jika ada perlu Anna siap kok membantu." Anna berpamitan sekaligus menawarkan bantuan.
Ibu Ayu mengangguk setuju dan juga tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Anna padanya. Dia tidak menyangka jika bayi kecil yang sering dia timang dulu, kini telah tumbuh menjadi remaja yang peka pada sekitarnya.
Anna pun melangkah kembali ke arah kamarnya sendiri. Menyusul Anne yang mungkin sudah mulai terbawa ke alam mimpi.
*****
Malam hari di sebuah rumah besar Pondok Indah di mana Larry tinggal bersama keluarganya.
Om Tio sedang menginap malam ini karena istrinya Tante Lina sedang ada pekerjaan ke Bali.
"Om, makan dulu. Sudah di tunggu papa sama Mama tuh!" Larry menegur om Tio yang sedang ada di teras samping dekat garansi mobil.
"Om Tio!" panggil Larry lagi dengan suara yang lebih keras.
"Apaan sih boy, berisik tahu!" Om Tio pura-pura tidak kaget dan mengomel agar tidak ketahuan jika sedang melamun.
"Om itu yang apaan? Dari tadi Larry panggil gak nyahut-nyahut gitu!" Sungut Larry sambil memajukan bibirnya.
"Hahaha... iya-iya, maaf!" Akhirnya om Tio pun berdiri mengikuti Larry yang sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu tanpa menunggunya lagi.
***Terima kasih untuk semua dukungannya. Jagan lupa like dan juga coment ya....
Kasi giff atau hadiah makin keren deh 😍😍🙏✌️
lanjut...