ini cerita gue...
Dimana gue harus di jodohkan sama pria yang usianya jauh banget dari gue, dan dia juga seorang duda. It's a nightmare!
Tapi pada akhirnya gue juga mulai suka sama si duda ganteng ini. Tapi gue harus menempuh perjalanan sulit untuk memperjuangkan cinta gue. this is my story, I am the eldest Lady Master of my family.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eldest Lady Master 28
.
Dian membelalakkan matanya saat mendengar apa yang baru saja Muvita katakan. Dia tidak menyangka jika Muvita akan mengatakan semuanya itu yang memang merupakan faktanya. Dian Benar-benar ketakutan.
Jarvis segera berlutut di lantai.
Dia tahu jika dia tidak akan pernah bisa mengatakan sedikit saja kebohongan pada Muvita.
"Aunty Muvita... Entah seperti apa perasaan Andara padaku, aku tidak pernah memikirkannya. Aku juga tidak pernah memiliki hubungan khusus apapun padanya. Aku menganggapnya murni sebagai adik perempuan ku, aku bersumpah untuk itu. Saat ini Lilo adalah calon istriku, aku tidak akan pernah menjalin hubungan dengan siapapun selain dirinya. Aku juga tidak pernah sebelumnya menjalin hubungan dengan siapapun. Walaupun aku sudah pernah menikah... Aku sama sekali tidak pernah menganggap bahwa pernikahan ku itu adalah sebuah hubungan. Itu hanya karena sebuah perjanjian tertentu saja. Aku akui itu semua hanya demi keuntungan ku sendiri... Aku tidak mau menyembunyikan apapun dari mu dan keluargu aunty... Aku mengatakan yang sebenarnya..." jelas Jarvis.
Muvita tersenyum.
Dia tahu jika Jarvis tidak akan pernah mengecewakannya
"Jadi... Kamu juga akan menganggap hubungan perjodohan ini sebagai perjanjian tertentu saja untuk kepentingan mu sendiri?!" tanya Muvita masih dengan begitu tegas dan serius.
Jarvis segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak aunty... Aku bersumpah! Ini adalah hubungan pertama kali yang aku lakukan. Aku serius dengan ini. . Aku serius terhadap Lilo." jawabnya.
"Cih! Berbicara manis memang sangat mudah... Tapi pembuktiannya sangat sulit!" ucap Muvita.
"Aku akan melakukan apapun yang aunty katakan."
Muvita tersenyum lebar. Namun dia kembali memasang wajah seriusnya.
"Tidak perlu berlebihan! Cukup dengan membuktikan jika tidak akan ada LAIN KALI! Untuk hal semacam ini terjadi lagi!" jawab Muvita.
"Iya aunty... Aku akan berusaha untuk membuktikan semuanya, dan membuktikan jika diriku layak dan benar-benar serius dengan Lilo." ucap Jarvis
"Putriku sengaja menutupi semuanya. Dia mungkin memiliki rencananya sendiri... Aku tidak tahu jalan pikirannya. Tapi aku melihat jika dia tidak ingin kalian dalam masalah. Dia tahu konsekwensi apa yang akan kalian dapatkan jika sampai suami ku mengetahuinya. Tidak ada yang bisa menahannya jika dia ingin menghancurkan kalian. Selama ini dia tidak pernah marah, tapi jangan salah... Saat dia marah, kalian bahkan tidak akan bisa melihat matahari lagi! Jadi camkan baik-baik tentang kejadian ini... Aku benar-benar berharap tidak ada LAIN KALI lagi... Jika sampai terjadi lagi, maka jangan salahkan aku jika aku sendiri yang akan menghancurkan kalian!" Jarvis dan Dian hanya bisa mengangguk patuh.
Mereka tidak memiliki pilihan lainnya.
Ucapan Muvita benar-benar tajam dan jelas jika itu adalah sebuah ancaman.
"Untuk Andara... Aku sarankan dia untuk lebih hati-hati. Aku sangat terlatih untuk memberikan hukuman bagi wanita gatal sepertinya! Sangat mudah! Jadi jangan biarkan dia kembali membuat masalah! Atau dia akan benar-benar merasakan bagaimana rasanya memilih mati saja dari pada hidup dengan penderitaan!" Dian benar-benar ketakutan melihat tatapan mata Muvita yang terlihat begitu tajam dan sangat mengerikan.
"Bik Siti.... Cepat bawakan minuman dingin... Calon menantu dan calon besanku terlihat kepanasan." ucap Muvita dengan begitu manis.
Tatapan matanya yang mengerikan tadi kini berubah drastis menjadi penuh kasih dan begitu ceria.
"Bawakan cemilan juga... Aku baru saja membuat kue bolu." tambahnya
"Iya nyonya." jawab bik Siti yang terdengar dari arah dapur.
"Aunty.... Apa aku boleh melihat keadaan Lilo sekarang?" tanya Jarvis.
Walaupun dia masih merasa sedikit takut pada Muvita, tapi dia benar-benar ingin tahu bagaimana keadaan Lilo saat ini.
"Santai saja. Temui saja dia di kamarnya. Tapi jangan berbuat macam-macam dulu... Aku belum ingin menjadi nenek. setidaknya sampai dia lulus sekolah..." Muvita menepuk pundak Jarvis dengan nada bercandanya.
Jarvis tersenyum kaku, dia tidak menyangka jika Muvita akan mengatakan hal semacam itu, terlebih setelah apa yang terjadi tadi.
'Calon ibu mertuaku ini memang sangat tidak bisa di tebak. Terkadang dia begitu ramah dan manis, tapi dia bisa berubah menjadi seperti dewi kematian hanya dalam hitungan detik saja... Aku penasaran, apakah Lilo juga begitu? Keluarga ini benar-benar tidak bisa di prediksi... Itu sebabnya mereka begitu berjaya... Aku benar-benar harus berhati-hati kedepannya.' ucap Jarvis dalam hatinya.
"Jarvis... a-a-ku ikut dengan mu... Aku juga ingin melihat bagaimana keadaan Lilo." Dian beranjak dari tempat duduknya. Dia sangat ketakutan melihat Muvita yang sangat mengerikan tadi, dia tidak mungkin tinggal berdua bersamanya di sana.
"Kak Dian... Kenapa harus repot-repot. Biarkan anak muda berbicara dari hati ke hati... Kita juga perlu berbicara dari hati ke hati agar kedepannya kita bisa lebih dekat... Iya kan... Kak Dian pasti mengerti maksud ku... Walaupun kak Dian tidak pernah menikah."
jleb!
Ucapan Muvita benar-benar langsung sampai ke hati Dian seperti yang dia katakan, jika dia akan berbicara dari hati ke hati dengan Dian.
'ini sedikit peringatan untuk mu!' Muvita tersenyum puas.
Dian meremas ujung baju yang dia pakai.
Ucapan Muvita benar-benar menembus masuk ke hatinya yang paling dalam. Dan rasanya begitu menyakitkan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena saat ini dia tidak memiliki kemampuan untuk melawan ucapan Muvita yang memang benar.
Jarvis melihat ekspresi wajah ibu angkatnya yang berbeda dari yang pernah dia lihat selama ini.
'aunty Muvita benar-benar tidak akan melepaskan kami... Ini seharusnya menadi awal yang indah bagi keluarga kami, tapi Andara merusak semuanya!! Aku benar-benar akan membuat dia membayar apa yang sudah dia lakukan!' Jarvis mengepalkan tangannya dengan kuat, sampai otot-otot tangannya terlihat begitu jelas.
"Mama Dian di sini saja. Aku hanya ingin melihat keadaan Lilo sebentar." ucap Jarvis sembari memberikan senyuman manisnya. Dia tidak ingin membuat ibunya bersedih, terlebih kata-kata Muvita tadi memang sangat keterlaluan. Hanya saja dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"pergilah." jawab Dian yang kini juga memperlihatkan senyumannya.
"Mm..." Jarvis berjalan dengan cepat menuju ke kamar Lilo, dia familiar dengan itu, jadi dia tidak membutuhkan siapapun untuk menunjukkan tempatnya.
"Lilo..." Jarvis masuk ke dalam kamar Lilo yang terbuka lebar
"Ngapain loe kemari?!" Tanya Lilo acuh.
"Aku hanya ingin bertanya... Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya pada ibumu tadi?"
"Apa aku perlu menjelaskannya?" tanya Lilo balik.
"Harus!" jawab Jarvis
"Itu karena gue punya cara gue sendiri. Gue enggak butuh Keluarga gue buat ikut campur dalam urusan pribadi gue." jawab Lilo.
"Kamu pikir keluargamu akan percaya pada apa yang kamu katakan?!" suara Jarvis meninggi, dan itu membuat Lilo terkejut.
"Apa masalah loe?! Loe itu tipe orang yang enggak pernah tahu berterimakasih! Dan enggak pernah tahu belajar dari pengalaman!" Lilo menatap geram pada Jarvis yang masih berdiri di samping tempat tidurnya.
Lilo mengatur nafasnya yang memburu!
Dia benar-benar marah saat ini.
"Gue cuman enggak pengen apa yang udah kakek buyut lakuin buat gue dan keluarga gue sia-sia! Gue juga enggak pengen keluarga gue khawatir! Dan gue juga enggak pengen loe sama nyokap angkat loe ini kenaa masalah! Tapi kayaknya apa yang gue lakuin ini selalu aja salah di mata loe! Loe perlu pergi ke spesialis mata! Mata loe beneran udah buta!" ucapnya lagi.
Sementara Jarvis masih terdiam dan tidak tahu harus bagaimana saat ini.
Apa yang Lilo lakukan semuanya adalah demi kebaikannya juga, tentang bagaimana Muvita sampai bisa mengetahui semuanya itu karena Muvita memang sangat peka terhadap sesuatu yang sensitif seperti itu.
Dia terlalu khawatir pada ibunya yang tadi terlihat begitu sedih karena kata-kata Muvita. Tapi dia justru melampiaskan semuanya pada Lilo lagi seperti sebelumnya.
"Loe itu sampah! Gue beneran jijik sama elo! Mendingan loe pergi! Gue mau istirahat!" Lilo memutar badannya membelakangi Jarvis yang masih saja berdiri seperti patung tanpa bisa mengatakan apapun.
Pada akhirnya dia keluar dari kamar Lilo tanpa mengatakan apapun lagi, karena Lilo kali inu benar-benar marah padanya.
.
piiisssss
yg bener aja Jarvis mau nyari pngacara buat Andara.
kaya Dika tegas,GK mudah dibohongi bisa baca pikiran org kalo ada yg mau nrbuat jahat
Jarvis gak ada tegas tegasnya ciihhh lemah