" Hei Leha, turun gak ? " Ibunya Juleha berkacak pinggang di bawah pohon mangga.
" Bentaran ! Nanggung "
Masih dengan santai nangkring diatas pohon mangga.
Bagaimana kisah perjalanan rumah tangga antara Juleha dan Zainal dan pasangan lainnya yang menikah karena minta dijodohkan ? ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Mendadak nikah ( 4 )
Menjelang Dzuhur Abdul sampai di depan kantor kecamatan.
Rojali dan Zainal yang hendak melangkahkan kakinya ke mushola yang berada tepat di sebelah kantor camat mengernyitkan dahinya heran.
" Baru satu malam lu bergelar seorang suami, lu sudah mau ganti KTP ? sabar Dul, nikmati saja bulan madu-mu dulu ! "
" Dari mana kau tahu ? Zainal yang bergosip "
" Enak saja nuduh, memangnya dirimu artis ? " Zainal melangkah menuju tempat berwudhu meninggalkan Rojali dan Abdul yang masih berada di samping kantor.
" Berita menyebar cepat Dul, walaupun bini lu dari kampung sebelah "
Abdul dan Rojali mendudukkan bokongnya sebentar pada lantai menuju pintu mushola.
" Pasti berita yang menyebar sangat miring ya Li, terutama aku sebagai suami pengganti "
Abdul melirik Lusi dan Mira yang melintas tidak jauh dari keduanya duduk.
" Namanya mulut orang Dul, jangan lu pikirin, yang penting kedepannya bagaimana.
Noh, lihat adek ipar lu ! mereka enggak pernah pacaran, dia hanya mengintai intai adek lu, merasa adek lu bisa jadi istri yang diinginkannya, dilamar, adek lu mau, jadi deh "
" Dan lu bisa lihat sendiri, adek lu bahagia, kalau Zainal jangan lu tanya ? seisi negeri prindavan juga tahu "
" Beda Li, kalau Zainal memang mau, kami kan cuma tetangga, kalau aku dan Sarah ? "
" Diluaran sana banyak kok yang nikah dengan saudara jauh sendiri, pelan pelan pandangan lu sama tuh Sarah, lu rubah ! insya Alloh pasti bisa, eh, kenapa lu bisa di mari ? Lu gak kerja ? "
Rojali baru sadar dengan tujuan apa Abdul singgah ke kantor Camat.
" Aku baru mengajukan resign dari tempat kerja yang sekarang sekalian numpang Dzuhur "
" Dapat tawaran kerja baru ? "
Abdul menggeleng, berarti berita toko sembako itu tidak menyebar.
" Aku mau berdagang saja, setelah nikah, gak mungkin tetap bekerja disitu, kasihan Sarah kalau harus ditinggal tinggal "
" Beuh, awalnya dari kasihan, ntar lu juga bakalan cinta.
Udah belah duren belum ? "
Bisik Rojali senyum senyum.
" Kita wudhu, noh si Zainal udah Adzan "
Abdul lebih dahulu melangkahkan kakinya ke toilet, diikuti oleh Rojali.
Urusan belah duren ditanya, bikin Abdul jadi pengen, eh.
...*****...
" Mir, ada cowok cakep tuh ngobrol dengan bang Jali dan Bang Zainal "
Lusi berucap pelan sembari melipat mukenanya.
" Cakep sih, tapi sepertinya gak bujangan lagi "
" Tahu dari mana ? "
" Ketika kita lewat di depannya, dia cuma melirik sekilas, lalu acuh "
" Itu tidak menjamin Mir, bisa saja ia tipe pria yang sedikit pemalu "
" Walaupun pemalu, pastinya akan curi curi pandang lah, kita juga gak jelek-jelek amat, montok lagi, kalau sudah teman bang Zainal atau bang Jali, palingan udah laki orang "
Mira dan Lusi kembali ke ruangannya, walaupun masih jam istirahat, tetapi tidak mungkin ikut duduk duduk di dalam musholla seperti yang dilakukan oleh Zainal, Rojali dan Abdul.
" Lebaran ini, kita masih saja sendiri Mir, umur udah mau jalan dua enam, ibuk dan Bapakku sudah heboh setiap harinya "
Lusi mendudukkan bokongnya dengan malas di kursi kerjanya.
" Memang mereka ngomong apa ? "
" Percuma lu cakep, bisa cari duit sendiri tapi belum kawin juga, aduh Mir, sakit telingaku, emang apa hubungannya dengan jodoh coba ? "
" Sama, kau tahu Si, orang tuaku lebih marah ketika tahu aku putus sama bang Zai "
Mira meletakkan kepalanya diatas meja.
" Kan sudah lama putusnya, ada tiga atau empat bulan yang lalu kan ? "
" Iya, mereka tahunya baru Minggu lalu, mereka minta aku untuk bilang pada Bang Zai kalau orang tuaku mau ngomong, terpaksa aku jujur kalau bang Zai udah nikah sama cewek lain, selama ini aku cuma bilang, udah ketemu di kantor untuk apa datang ke rumah, makanya mereka enggak kalau kami udah putus, kau tahu Si, apa kata orang tuaku ? "
" Pasti kau dibilang bodoh "
Mira tidak menjawab, dia semakin membenamkan kepalanya diatas meja dengan menopang lengannya sebagai sandaran kepalanya.
...*****...
" Assalamu'alaikum, bang ? kok pulang cepat ? "
Sarah yang hendak memejamkan mata untuk tiduran selepas Dzuhur karena diluaran sana sedang terik teriknya matahari, sedikit terkejut melihat Abdul membuka pintu kamar, Sarah langsung terduduk.
" Waalaykumussalam, Abang baru mengajukan resign, Abang gak pengen jadi menantu yang akan mengecewakan mertua diawal awal pernikahan, Sar.
Abah Sarah bukan hanya Uwak bagi Abang, tapi udah jadi mertua Abang "
Perlahan Abdul mulai menanggalkan pakaian kerjanya, buru buru Sarah mengambilkan pakaian gantinya.
Mata Sarah berkaca kaca.
" Terimakasih Bang "
Sarah menunduk sembari memberikan pakaian salin untuk Abdul.
" Kamu tidak akan merendahkan Abang kan Sar ? Karena kedepannya Abang cuma akan berkutat di pasar, menjadi pedagang sembako dan itu ..."
" Enggak Bang enggak, InsyaAlloh enggak, Sarah justru banyak banyak berterima kasih pada Abang, jika Abang menolak, Sarah tahu pasti Abah pasti akan sangat kecewa, lagi pula untuk kedua adik Sarah, mereka sudah ada dipersiapkan oleh Abah kelak ketika mereka sudah menamatkan pendidikannya, abang gak perlu kuatir, Sarah akan membantu Abang nanti di toko "
" Jangan ! "
Tukas Abdul cepat
" Kenapa ? "
" Abang gak mau nanti kamu dilihati orang orang di pasar " eh
Cie cie Abdul mulai ngegombal ni ye.
Abdul memukul mulutnya sendiri, Sarah tersenyum malu malu, cepat cepat naik ke tempat tidur, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
...*****...
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
maraton bacanya
Mira bete lagi nih, Thor ada dendam ya sama mira👻
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
haduh porsinya pas Pasan bang jali👻
emang somplak mereka
hore Mahmud otw nikah juga Ama Lusi 👻🌹
rezeki nomplok si Abdul nikah nga modal 👻
awas ada yang kebakar leha👻
bang Zai ada yang kepanasan 👻