Lima tahun yang lalu dia mengubah identitasnya, membuang jauh masa lalunya karna rasa kecewa pada suaminya.
Dan kini di saat dua buah hatinya menanyakan sang ayah, apakah yang akan di lakukan ALEA, akankah dia berkompromi pada hatinya demi kebahagian buah hati tercinta. Atau dia mengabaikan demi gengsi dan harga dirinya walau sebenarnya dia masih sangat mencintai pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beban pikiran Ziga
Pagi ini selesai sarapan rencananya Leea dan juga anak anak akan pergi menjenguk Ayu bersama dengan Ziga. Tapi melihat keadaan Ziga saat ini Leea merasa sedikit khawatir. Dari semalam pria itu tak bicara sepatah katapun sejak Leea menanyakan tentang ayah mertuanya, Ziga terus terdiam bahkan hingga mereka tidur Ziga hanya memeluk erat Leea dalam tidurnya tanpa berkata apa apa.
Leea ingin sekali bertanya apa yang ada di dalam pikiran suaminya tersebut, namun entah mengapa dia tidak sanggup untuk mengatakannya. Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah terus berada di sisi Ziga suaminya apapun yang terjadi nanti.
"Apa kita akan menjenguk mamah sekarang ?" tanya Leea setelah melihat Ziga telah bersiap.
"Iya, apa anak anak sudah siap?" jawab Ziga sekaligus bertanya pada Leea istrinya.
"Sudah, aku akan segera panggil mereka" jawab Leea yang kemudian kembali ke atas untuk memanggil kedua buah hatinya.
"Aiden, Zeline, kalian sudah siap ?" tanya Leea ketika sampai di depan pintu kamar anak anaknya.
"Sudah Mom" jawab Zeline sembari membukakan pintu kamar untuk ibunya tersebut.
"Ayo berangkat, Daddy sudah menunggu di bawah" ucap Leea yang kemudian menggandeng tangan anak anaknya.
"Mom, apa Grandma galak?" tanya Zeline dengan wajah polosnya.
"Tidak sayang, Grandma sangat baik" jawab Leea, dia kemudian teringat bagaimana baiknya ibu mertuanya tersebut.
"Apa Grandma akan senang bertemu dengan kami ?" tanya Aiden kali ini.
"Tentu saja sayang, Grandma pasti senang bisa bertemu dengan kalian" jawab Leea, karna setahu Leea dulu Ayu sangat berharap untuk segera mendapatkan seorang cucu.
Mereka pun segera ke bawah untuk menemui Ziga yang telah menunggu di depan.
Ziga mengendarai sendiri Maybach miliknya menuju Lenox Hill Hospital. Dia tidak membawa Erik menjadi supirnya karna pria tersebut dia perintahkan untuk mengurus perusahaan yang sudah beberapa hari terakhir di tinggalkan oleh Ziga.
Leea menatap Ziga yang masih fokus menyetir. Entah mengapa dia merasa ada masalah besar yang di sembunyikan oleh suaminya tersebut. Anak anak mereka yang duduk di kursi belakang tampak asyik menikmati pemandangan lalu lintas kota New York yang cukup padat.
"Ada apa?" tanya Ziga pada Leea yang terus saja memperhatikannya saat mobil mereka terjebak kemacetan.
"Harusnya aku yang bertanya, sejak semalam kau terlihat aneh" jawab Leea masih terus memandangi suaminya.
Ziga mengernyitkan alisnya, kemudian dia menoleh untuk menatap wajah istrinya tersebut.
"Aneh bagaimana?" tanya Ziga yang kali ini telah kembali berkonsentrasi menatap jalan di depannya.
"Dari semalam kau hanya terdiam sejak aku menanyakannya tentang Papah" ucap Leea lembut, dia sebenarnya tak ingin menambah beban pikiran suaminya hanya saja dia penasaran tentang keadaan Ayah mertuanya.
Lagi lagi Ziga terdiam, dia sadar cepat atau lambat Leea pasti akan mengetahuinya. Hanya saja untuk saat ini Ziga masih bingung bagaimana caranya menceritakan pada Leea.
"Papah sudah meninggal lima tahun lalu" jawab Ziga pada akhirnya, dia tahu tidak mungkin selamanya menyembunyikan hal ini dari Leea.
Leea terkejut, dia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Danu ayah mertuanya telah meninggal. Mungkin hal inilah yang membuat Ayu ibu mertuanya depresi, fikir Leea.
Leea mengusap pelan lengan Ziga yang masih menyetir, dia tahu hal ini pasti berat untuk Ziga. Terbukti dengan diamnya pria itu sejak tadi malam. Selama lima tahun kepergiannya ada banyak hal terjadi yang dia tidak ketahui, termasuk kematian Ayah mertuanya. Hal ini pasti membuat Ziga terpuruk, tiba tiba Leea merasa amat bersalah telah meninggalkan Ziga lima tahun lalu di saat Pria tersebut dalam keadaan terpuruk.
Mata Leea mengembang, rasanya air mata itu ingin segera jatuh. Tapi Leea buru buru menyeka air matanya karna saat ini mereka telah tiba di rumah sakit.
Ziga menggendong Zeline dan menuntun Aiden, sementara Leea berjalan sedikit di belakang mereka. Leea masih memikirkan tentang kematian Danu ayah mertuanya dan juga memikirkan sikap Ziga yang sepertinya sedang menanggung beban yang begitu berat.
"Tuan muda, anda datang" sapa Hans begitu melihat kedatangan Ziga.
"Bagaimana keadaan Mamah?" tanya Ziga sambil menurunkan Zeline dari gendongannya.
"Nyonya besar sudah lebih baik, beliau baru saja selesai sarapan" jawab Hans.
"Ini?" tanya Hans sembari menunjuk Leea dan anak anak.
"Ini istri dan anak anakku" jawab Ziga.
"Ah Nyonya muda" sapa Hans, dia tidak begitu ingat wajah Leea karna mereka hanya pernah bertemu sekali lima tahun yang lalu. Tapi dia heran dengan kehadiran Leea dan juga kedua anaknya karna mereka semua yang bekerja di Mansion mengetahui apa yang terjadi lima tahun lalu termasuk juga dengan menghilangnya Leea istri Ziga.
Ziga hendak melangkah masuk kedalam kamar rawat ibunya, tapi ketika hendak meraih gagang pintu tiba tiba dia mengurungkan niatnya. Dia berbalik kemudian menghadap Via.
"Sebaiknya kau masuk terlebih dahulu" ucap Ziga, dia takut kedatangannya akan membuat ibunya marah dan tak terkendali. Karna hingga saat ini Ayu masih menyalahkan Ziga atas apa yang terjadi pada Danu suaminya.
"Tapi," ucap Leea ragu, dia tampak bingung mengapa Ziga tidak mau terlebih dahulu masuk untuk melihat keadaan ibunya.
"Benar Nyonya, mari saya antar" ucap Hans.
"Nyonya besar sudah lama sekali ingin bertemu dengan Nyonya" tambah Hans, dia memang mengetahui banyak yang terjadi di keluarga Pratama.
Leea memejamkan matanya kemudian menghirup nafas dalam dalam. Dia sedikit takut bertemu dengan Ayu ibu mertuanya. Dia takut Ayu tidak menerima bahkan membencinya karna telah meninggalkan Ziga lima tahun lalu. Setelah terdiam sejenak Leea pun akhirnya mengangguk. Bagaimanapun juga mereka datang kesini untuk menjenguk ibu mertuanya, maka dari itu Leea harus siap dengan segala kemungkinan apa pun tanggapan ibu mertuanya.
"Mari Nyonya" ajak Hans kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam kamar dengan Leea mengikuti dari belakang.
Sedangkan Ziga mengajak Aiden dan Zeline untuk duduk menunggu di depan pintu kamar.
"Daddy, apa Grandma tidak mau bertemu kami?" tanya Zeline, karna hanya ibunya saja yang masuk ke dalam untuk menjenguk Neneknya.
"Bukan begitu sayang, Grandma sedang sakit jadi kita harus bergantian untuk melihatnya" ucap Ziga mencoba menjelaskan agar putrinya tersebut tidak kecewa.
Zeline pun mengangguk anggukan kepalanya kemudian dia segera duduk di pangkuan ayahnya. Aiden sendiri hanya memperhatikan tanpa banyak bertanya.
Leea memasuki kamar Ayu dengan perasaan tegang, dia takut Ayu merasa kecewa padanya karena telah pergi menghilang lima tahun lalu.
"Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda" ucap Hans kepada Ayu yang sedang duduk bersandar di ranjang memandang keluar jendela.
"Sudah kukatakan aku tidak ingin bertemu dengan siapapun" bentak Ayu tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Tapi Nyonya, Tuan muda"
"Jangan pernah kau menyebut anak tidak tahu diri itu " potong Ayu cepat, dia masih belum menghilangkan kebenciannya pada Ziga.
Hati Leea mencelos mendengar Ayu menyebut Ziga sebagai anak yang tidak tahu diri. Setahu Leea, Ayu sangat menyayangi Ziga anak semata wayangnya tersebut. Ayu tidak pernah marah pada Ziga, tapi kini bahkan Ayu menyebut Ziga sebagai anak yang tidak tahu diri. Sebenarnya apa yang terjadi, berbagai pertanyaan muncul di kepala Leea.
"Sebaiknya kau keluar" ucap Ayu masih dengan nada yang keras dan juga tetap tidak menoleh ke arah Hans dan Leea.
"Mamah" panggil Leea akhirnya, dia mencoba memberanikan diri untuk menyapa ibu mertuanya tersebut.
Mendengar suara wanita yang memanggilnya dengan sebutan Mamah membuat Ayu pun segera mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut.
Betapa terkejutnya Ayu ketika melihat Leea yang berdiri di samping Hans. Ayu membelalakkan matanya seakan tak percaya pada penglihatannya.
Via menantunya yang menghilang lima tahun lalu kini berada di hadapannya, Ayu mengucek matanya seolah masih tak percaya akan penglihatannya.
Tapi benar itu memang Via, Via menantunya yang menghilang. Via yang dulu sangat di sayanginya kini berada tepat di depan matanya.