NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Regresi ingatan ke umur 17 tahun?

Sudah bab 25. Kasih komentar ya teman-teman tentang bab-bab sebelumnya, biar author bisa nambah wawasan lebih luas soal novel yang aku tulis ini. Terimakasih teman-teman atas sarannya...

...****************...

*Ingatan terakhir Aluna.

Ini bukan April mop, bukan juga hari prank sedunia, tapi juniornya sudah bercanda tak main-main, jika siapapun mendengar akan dibuat ketakutan, bukan? Pharita tidak seperti itu, dia tetap tenang, tarik napas dalam lalu hembuskan. "OSIS... oh sudah berapa tahun yang lalu ya? Sepertinya—"

"Apa maksudmu berapa tahun yang lalu? Aku baru menjabat jadi sekretaris... atau kamu bukan anggota OSIS di sekolahku? Ah—ini bunga, cantiknya!!!" seru Aluna. Dia terlihat bahagia saat Pharita membawakan buket bunga besar khusus untuknya, tertera tulisan "Cepat sembuh Aluna, kau harus kuat menghadapi suamimu yang brengsek itu." Aluna mengerutkan dahi tak mengerti suami yang dimaksud.

"Terima kasih, nama Kakak siapa?"

Pharita memegang kepala pening sendiri, "Tunggu dulu, tunggu... kau ga bohong Lun soal ini? Katakan kalau kau cuma nipu aku buat ngejutin atau segala hal—"

"Kejutan? Kalau itu sekolahku akan mengadakan pesta khusus untuk para siswa Kak, Kakak juga boleh ikut kok."

Seketika nyawa Pharita terkikis pelan-pelan, dia memundurkan badan sampai terbentur pintu kamar. "DOK! DOKTER!!! TOLONG DOK!!!"

Stetoskop tertempel di bawah dada wanita itu, setelah diperiksa kini dokter bisa menyimpulkan keadaan wanita itu yang sebenarnya. "Yang bisa saya pastikan di sini karena pasien mengalami trauma psikis berat bisa menjadi satu penyebab masalah paling langka di dunia medis."

Perawat yang ngedumel tadi hanya mematung di dekat tonggak infus, seolah dia yang cerewet tadi tak mau disalahkan atas gangguan mental Aluna.

Pharita menutup bibir dengan kepalan tangan, satu tangannya lagi berkacak pinggang. "Jadi... hal langka apa yang menyebabkan teman saya seperti ini Dok?"

"Regresi ingatan Mbak, ini biasanya dialami oleh orang yang mengalami kecelakaan berat atau trauma yang sangat mendalam di masa lalu. Di mana saat sudah menderita regresi ingatan ini, pasien seolah memundurkan waktu umurnya..."

Pharita meneguk ludah ketakutan, kakinya tak bisa tenang sendiri. "La—lalu Aluna ini, dia merasa umurnya sekarang berapa Dok?"

"Dari yang Mbak ceritakan tadi bisa jadi pasien berada di umur 16-17 tahun. Masih dalam masa sekolahnya..."

"Umurnya sekarang 24 tahun, kalau begitu Aluna mengulang waktu 7 tahun yang lalu? Jadi bagaimana dengan ingatan dewasanya dokter? Apa bisa dikembalikan?"

"Ka—kalau itu..." Dokter malah tergagap sendiri. Pharita masih menunggu jawaban dari pria nampak masih muda itu tapi hasilnya tak memuaskan untuk didengar. "Saya hanya bisa menyarankan pasien untuk terus konsultasi, itu bisa menjaga ingatannya tetap stabil. Agar tidak terjadi hal tak diinginkan lebih baik menjaga pikiran sang pasien agar tetap dalam keadaan tenang, tidak perlu untuk tergesa-gesa mengingat dirinya di masa dewasa. Karena mungkin dengan begitu, dia akan mengingat semuanya..."

Sebenarnya wanita tomboi itu tak yakin, ia sampai menggigit bibir ke dalam kecewa dengan dokter satu ini. 'Sialan... aku tak tahu apa yang terjadi pada Aluna, dia tiba-tiba sudah dirawat di rumah sakit... ah sejak satu bulan yang lalu ya? Setelah Aluna ditampar di rumahku apakah kamu baik-baik saja Lun di rumah suamimu? Aku takut kalau itulah pemicunya...'

"Terima kasih Dokter..."

Setelah dokter khusus kamar VIP dan perawat bawahan dari si dokter akhirnya pergi juga, kini terlihat Pharita jatuh pasrah terduduk tak berdaya. Ia menggenggam tangan Aluna erat, sudut bibirnya berkedut ikut merasa sakit sendiri.

Pharita mengusap air matanya cepat, ia tak boleh terlihat sedih di depan orang yang sekarang mentalnya sedang di umur remaja.

"Perkenalkan namaku Pharita... aku..."

"Kak Pharita? Nama yang langka untuk Indonesia ya Kak?" tanya Aluna. Dia berbeda dari yang dulu terlihat pemalu dan tertutup, versi ini berbeda seolah dia bisa menonjolkan semuanya apapun yang dia mau.

Pharita angguk kepala, "Iya karena aku keturunan Thailand dan Indonesia, tapi aku menetap di sini."

"Lalu Kakak kelas berapa? Apa Kakak salah satu saudara dari bibiku atau temanku?"

Seketika Pharita berhenti bernapas, ia mencoba untuk tetap tenang. "Aku? Aku adalah tetanggamu, kamu selalu baik padaku..."

"Eh, kok aku gak ingat ya?" pikir Aluna, dia meremas dahinya keras-keras. Tapi Pharita tidak tega dan menarik tangan wanita itu agar tak memaksakan dirinya sendiri. "Maklum karena dirimu habis dirawat, jadi mungkin perlahan kamu akan mengingatnya... aku sudah bekerja Aluna,"

"Oh ya kah? Maaf ya Kak, aku kira tadi Kakak itu anggota OSIS atau kakak kelasku..."

"Iya gak papa."

"Auh—Kak sampai kapan ya aku dirawat di sini? Soalnya aku mau segera ke sekolah... Kakak pasti tahu kan bagaimana ribetnya jadi sekretaris OSIS itu? Harus ngatur ini, ngatur itu... Bibi juga katanya mau membuatkan aku makan malam enak. Siapa yang gak pengen coba?"

"Bibi?" tanya Pharita, alisnya terangkat ke atas penasaran. "Bukannya kamu cuma tinggal sama ayahmu Lun? Siapa bibi itu?"

"Ah masa Kak Pharita gak tahu? Kan kita tetangga, Bibi Winda, dia kakaknya ibuku... aku kan telah ditinggal ibu sejak kecil, dan ayahku entah dia pergi ke mana tapi Bibi sama anaknya baik-baik semua Kak! Pasti Kakak tahu yang namanya Kak Zion kan? Dia saudara terbaik yang aku punya!"

Pharita tak mengerti apa yang dimaksud, tapi yang ia tangkap di sini pasti adalah saat remaja, wanita itu tidak tinggal dengan ayahnya yang pemalas tersebut melainkan dirawat bibinya?

Pharita ingin bertanya lebih jauh soal keberadaan bibi wanita itu, tapi pintu dibuka kencang oleh seseorang yang juga membawakan sebuket bunga.

"Sudah bangun kau jalang."

Mendengar salam yang sangat tak sopan itu, Pharita bisa memastikan bahwa yang datang adalah suami juniornya—siapa lagi kalau bukan Arkan? Si CEO perusahaan besar yang sangat arogan dan tidak bermanusiawi.

Pharita berdiri, dia akan menghalangi pria itu untuk mendekat karena bagaimanapun ucap dokter tak boleh dibiarkan mental pasien terguncang. 'Kalau ada suaminya, apa tidak meronta Aluna?!'

"JANGAN HALANGI TUAN ARKAN!" seru Dion. Dia meninju perut wanita itu tanpa Pharita sangka sebelumnya, Dion kini tersenyum puas sambil berbisik. "Ini balasan karena meremehkan pria." bisiknya licik. Pharita menekuk perutnya ke bawah pelan-pelan.

"Jangan, aku mohon jangan dekati dia." lirih Pharita berusaha agar Arkan tak mendekati istrinya. Tapi bukan Arkan yang menjawab, Dion langsung nyolot. "Siapa kau berhak ngatur-ngatur? Di sini yang membayar semua biaya pengobatan dan medis Nyonya Aluna adalah Tuan Arkan. Wanita jamet sepertimu tak pantas untuk menyuruh-nyuruh. Mengerti?"

'Fuck! Kenapa dia terus jawab omonganku sih?!'

Arkan menaruh buket bunga di atas laci, yang sebelumnya ditaruh untuk buket bunga pemberian Pharita—dibuang ke lantai, karena menurut Arkan yang lebih pantas di tempat itu adalah pemberiannya bukan milik orang lain. Arkan membungkuk mengelus pipi wanita itu yang tak terlihat ketakutan sama sekali. Pria itu belum diberitahu keadaan istrinya setelah koma hampir tiga minggu.

"Setelah sembuh nanti kita pulang ya Aluna?" diakhir kalimat nada pria itu sedikit ditekan.

"Paman siapa?"

Jemari Arkan di pipi Aluna seketika turun sendiri. Pria itu berdecak akan memberikan cekikan di leher wanita itu tapi entah mengapa tatapan tajam diberikan padanya, padahal sebelumnya tak pernah ia ketahui bahwa wanita itu pernah menatapnya secara terang-terangan.

"Ada yang berbeda denganmu." desis Arkan, seolah melihat musuh.

Aluna memandang Pharita, yang dianggap tetangganya itu sedang membungkuk menahan sakit di perutnya. "Kak Pharita! Paman ini siapa?! Kenapa dia menyentuh pipi orang seenaknya Kak?!"

Pharita langsung menoleh ke belakang, tak hanya dia tapi juga Dion yang kini mengedip kedua mata nampak tak percaya.

Arkan yang tepat berdiri di depannya merasa geram mendengarnya. Dia menurunkan kepala kembali menggoda wanita itu. "Memang kenapa kalau saya sentuh pipimu? Kau tidak alergi kan dengan sentuhan? Padahal sudah setiap hari seperti ini, masih saja berlagak sok malu."

"Berhenti memanggil saya paman, mana panggilan mas yang selalu kau gadang-gadangkan itu?"

Gluk—

Aluna menatap perawakan pria mahal di depannya dari atas kepala sampai bawah kaki. Ia geleng kepala ogah-ogahan, "Memang paman siapa? Paman itu lebih tua dariku, seharusnya paman jangan bertingkah seperti ini! Paman mau aku laporkan ke polisi?!" seru Aluna, tatapannya tak gentar sama sekali.

Alis tebal Arkan saling bertaut, tangannya cepat mencekik leher wanita itu sampai dibuat kedua mata Aluna melotot karena cekikan di lehernya. "Jangan main-main sama saya Aluna, kau mau saya kurung lagi?"

"Hm?"

Pharita di belakang seolah mendengar kata kurung merasa ada yang janggal. Dia perlahan berdiri memukul tengkuk leher pria itu yang bisa dia jangkau dengan mudah karena tinggi badan mereka hampir sama.

"Bangsat! Suami seperti apa kau hah? Gelarmu saja yang besar tapi etikamu tak ada sama sekali! Panggil kakek yang selalu kamu banggakan di televisi itu Tuan Arkan, katakan pada kepala besar Seo apa pantas seorang terkemuka melakukan hal sekeji ini pada istrinya sendiri? Anda picek? Lihat di ujung sana ada CCTV."

Dion melirik ke atas, dia menatap tajam ke pengawas CCTV yang tentunya layar langsung menghitam seolah tahu arahan darinya.

Pharita telah mengeluarkan semua unek-uneknya, dia mengembuskan napas damai. Arkan memegang tengkuk lehernya yang membekas sampai hampir bengkak. Pria itu menyuruh asistennya mengompres tengkuk lehernya dengan es batu yang ada di kulkas di ruang VIP ini. Segera Dion melaksanakan tugasnya.

Aluna dipeluk erat, padahal ia di sini posisinya tak tahu apa yang terjadi.

...****************...

Di dekat pancuran air, dari tadi Pharita tak berhenti mondar-mandir. Dia memegang jidatnya kasar, "Ini semua salahmu Dion! Kenapa kau diam saja hah! Urus tuanmu dengan baik! Kau—kau becus tidak jadi asistennya? Selama ini kau membiarkan Aluna mendapat kekerasan seperti itu di rumahnya?! Kalau aku jadi dirimu pasti aku akan baku hantam dengan Tuan Arkan, sekalipun dia yang membayar gajiku."

Dion menaikkan sebelah alis tak yakin, untung saja hanya ada mereka berdua di sini. Sedangkan tuannya sedang berada di kejauhan dari mereka berdua, tadi Pharita melarang Arkan untuk menguping pembicaraan mereka sebelum Pharita berhak memanggilnya untuk datang.

"Ucapanmu takkan bisa menjamin kan? Kalau kau berani mengatakan hal seperti itu, dirimu yang hampir setiap hari kena amuk bos di kafe kenapa tidak kau banting? Berani sekali mengatur pekerjaan saya, cih dikira mudah?"

Langsung Pharita tertohok seketika. Ia memegang jantungnya yang entah mengapa terasa begitu menyakitkan. "Cepat katakan, apa yang ingin kau beritahu." ucap Dion tak mau basa-basi yang terlalu panjang dan basi.

Pharita menghela napas pelan, dia butuh pernapasan ringan agar menyegarkan tenggorokannya. "Aluna... dia, amnesia berat. Bukan terlalu berat tapi bisa dikatakan langka, tadi dokter memberitahuku bahwa itu diakibatkan oleh psikis trauma yang sangat mendalam dan membekas, mengakibatkan..."

Dion berdiri, semakin takut mendengarnya. "Apa?! Mengakibatkan apa?!"

"Seharusnya kau tahu Dion, tadi kenapa Aluna memanggil suaminya dengan sebutan paman terus menerus, padahal kau tahu bukan kalau Aluna memanggil suaminya dengan panggilan mas?"

"Itu artinya—" Dion serasa mengerti apa yang dimaksud, tapi ia tak tahu bagaimana mengatakannya. Pharita angguk kepala, dia mendadak lesu. "Ingatannya mundur ke dirinya sendiri pada umur remaja... sekitar 16-17 tahun, itu seolah seperti circle yang terus berulang-ulang dalam otaknya."

"Dion, sekarang kamu paham kan? Aku dulu juga sepertimu, mungkin aku pernah menjahati Aluna di tempat kerja... aku memandang Aluna itu bukan hanya cantik tapi dia gampang memikat pria lain, dulu aku pernah menjebaknya sampai dia harus berhutang uang kasir... padahal jelas pelakunya adalah aku."

Dion langsung mengepal tangan erat, dia menatap wanita itu dengan tatapan kebencian.

"Tapi saat aku menyelamatkannya, aku seolah melihat versi diriku saat kecil dahulu. Kertas putih dengan lubang hitam di tengahnya. Kesepian, ingin dilihat, ingin dipeluk... itulah Aluna Dion, dia tak ingin menjadi tawanan... ia ingin bebas seperti burung, aku mohon sangat mohon sekali padamu Dion agar menjauhkan suaminya sementara... agar dia tak terluka dengan sifat tuanmu itu."

Dion terdiam sejenak, dia sama sekali tak memberikan jawaban. Pharita mendekat, mereka yang saling bertatapan seintens itu dipandang orang lain sebagai pasangan romantis, padahal bagi keduanya ada masalah besar yang tak mau mereka hadapi.

"Kau ingin nyonyamu sembuh Dion? Jaga sikap tuanmu, atau kalau tidak jangan lakukan apapun seperti bajingan."

...****************...

Mendengar semua laporan di dalam mobil yang terparkir di halaman rumah sakit, Arkan di bangku belakang mendengar dengan seksama semua perbincangan yang tadi Dion dan Pharita omongkan di belakangnya. "Sialan! Bangsat!"

"Dion, siapa tuanmu sebenarnya? Katakan? Wanita banci itu atau saya?"

Dion terdiam, dia mengepal tangannya ke setir mobil. "Tentu saja Anda Tuan Arkan, tidak ada yang saya turuti selain hanya Anda saja karena itu sudah dipastikan melanggar kontrak karyawan."

"Bagus. Setelah Aluna sembuh, bawa dia pulang ke rumah, tak peduli saya akan mentalnya yang rusak, pokoknya bawa saja!"

Mendengar sentakan di belakang, Dion mau tak mau tidak mendengar apa yang Pharita sampaikan tadi. Ini demi pekerjaan, untuk apa mengurus perkataan wanita jamet itu?

Bersambung...

BTS-Behind The Scene

Arkan & Aluna

Dion & Pharita

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!