Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Bertemu dibawah pohon ceri?
Halo teman-teman Vera, bagaimana nih kabar kalian?! Sehat walafiat dan semoga kalian yang baca ini dilimpahkan rezekinya, dan apa yang kalian harapkan segera terkabulkan!!!!
Taman dekat jembatan sungai dilewati beberapa ikan musim yang lewat dari hulu ke hilir. Cahaya matahari saat itu sedikit terik, siapapun bisa tersengat oleh panasnya sinar matahari kalau mereka tak mau berteduh. Seorang cowok dengan memakai baju basket sedang akan menangkap operan dribbling dari satu timnya, namun sayangnya bola tersebut malah terlempar keluar dari besi sisi lapangan basket. Cowok itu berdecak kesal, "Jauh banget sih kalau ngelempar hah?!"
"Eh sorry Kan, gak sengaja..."
Teman karib cowok itu mendekat seraya memegang pundaknya, "Ambilin Ar- biar kita bisa lanjut main lagi."
"Aku?! Yang ngelempar di sini siapa hah?!?" seru cowok itu. Dia sudah seperti banteng mengamuk, kepulan napasnya keluar semua.
"Udahlah Ar, sekali-kali kamu jadi kakak kelas contohin hal baik kepada adik kelasmu..."
"Ck sialan kalian semua!! Setelah ini ku keluar dari klub!!!" seru cowok yang kelakuannya masih petakilan. Cowok itu keluar dari gerbang belakang, dia melewati jembatan yang di mana dia menyusuri rerumputan-barangkali bola basketnya bisa cepat ditemukan. Dia juga garuk-garuk kulit saking panasnya matahari membakar kulitnya yang seputih apel. "Di mana sih bangsat, bikin kesel aja..."
Arkan berjongkok saat dia melihat bola yang dia cari berada di sebelah tas anak-anak. Dia melihat dari balik pohon penasaran milik siapa tas Barbie tersebut.
"Siapa anak kecil ini? Kenapa dia tidur di sini? Di mana orang tuanya?" tanya pada diri sendiri. Semakin lama dipikirkan membuatnya geram. Untuk apa dipikirkan? Juga bukan urusannya kan? Cowok itu akan beranjak pergi dari sana sambil membawa bola basket dalam genggaman tangannya. Tapi tanpa sengaja dia tersandung batang pohon ceri, yang seketika membuat cowok SMA kelas 11 tersebut mengeluarkan suara keras.
"Ah bangsat!! Pakai jatuh segala!!!" serunya. Dia memegang kakinya sendiri yang sakitnya luar biasa hebatnya, membuatnya ingin melepaskan sepatunya sekarang juga untuk mengompres lukanya yang menyerang tulang keringnya.
Mendengar kegaduhan tersebut, gadis kecil dengan seragam SD dan ikat rambut lucu di kedua sisi rambut panjangnya langsung cepat berdiri. "Bang Zion?! Kapan Abang da-" Gadis itu berhenti bicara, dia segera menutup bibirnya cepat. Melihat ada cowok remaja SMA yang terus memegangi kakinya yang kesakitan segera menghampiri- berniat menolong.
"Kakak gak apa-apa?"
"Sial... sakit..."
Gluk- gadis itu melihat betis lelaki yang umurnya lebih dewasa daripada dirinya itu bengkak hampir berubah keunguan. Tergesa-gesa gadis tersebut menuju ke sungai mengambil botol sampah untuk mengambilkan air di dalamnya. "Kakak, ini air!!!"
"BYURRR!!!!"
"Fuck girl!!! Kau gila hah!! Jangan disiram air!!!" hardik cowok itu kesal. Dia semakin menjauhkan kakinya dari penglihatan gadis itu agar tak lagi banyak ulah. "Jangan dekat-dekat!- akh...-" Semakin dipegang kerasa sakitnya. Gadis perempuan itu tak tahu apa yang harus dia lakukan. Ia merasa kalau bantuannya tak membantu mas-mas yang ada di depannya itu. Dengan wajah manyun dan cemberut akan menangis, suaranya berubah pelan, "Ini salahku Kak! Ini tambah parah gara-gara aku!!!"
"Ssst! Diam! Nanti orang-orang salah paham tahu gak?! Ya gak apa-apa udah jangan nangis lagi tolol!!!" seru cowok itu panik sendiri saat anak kecil itu malah meraung, padahal di sini yang harusnya menangis adalah dirinya bukan gadis itu. "BISA DIAM GAK HAHH!?!" hardik cowok itu tak memiliki pilihan lain. Dia harus meminta bantuan anggota klubnya untuk membawanya ke klinik terdekat tapi sumpah demi apa?! Anak cengeng di depannya ini malah menghalanginya berdiri. Dingin di kakinya bercampur menjadi satu dengan panasnya terik matahari yang menyengat kulit. Baju basket tipis cowok itu sampai merembes keringat basahnya. "Ck, minggir-" usir cowok itu keras. Dia mencoba meminggirkan anak perempuan itu yang malah terus menangis. Tapi si anak sepertinya tidak peka sama sekali, dia malah membuka tas Barbienya lalu mengeluarkan buku gambar beserta pensil dan penghapus dari dalamnya. "Untuk kenang-kenangan keluarga Kakak, aku rela kok Kak kalau sampai dipenjara. Kakak tambah parah keadaannya gara-gara aku kan? Tenang saja Kak-hiks-hiks," Sambil menyeka air matanya, dia mencoba mengarsir raut wajah kesal cowok di depannya itu yang malah sudah dianggap calon mendiang. "Apa yang mau kau lakukan?!"
"Jangan aneh-aneh!!"
Tangan cowok basket itu merebut gambaran anak SD itu. Mata cowok itu membuka selebar-lebarnya kala terpukau dengan coretan dan garisan lembut yang baru dibuat hanya sampai kepalanya saja dalam 5 menit. Cowok itu sampai heran apakah yang di depannya ini adalah anak kecil atau bukan, tak mungkin bisa menggambar serapi ini. "Gambar lagi..."
"CEPATTT!!!"
Gadis itu kaget dengan bentakan cowok di depannya. Dia mengangguk kaku segera mengambil pensil dan mulai menyelesaikan gambarannya kala remaja itu terus memandang ke wajah teduh anak itu yang benar-benar kontras dengan cahaya matahari. "Ini Kak! Kata bibiku kalau kita berbuat sesuatu tapi belum dibayar itu namanya kerja rodi."
"Ah sial, rupanya bayar?! Masih kecil mata duitan! Kalau besar mau jadi apa kau hah?!?"
Anak itu menunduk, dia nampak sangat lesu mendengar cacian maki dari cowok itu. Tak punya pilihan lain, cowok itu merogoh sakunya mengecek apakah ada uang yang bisa dia bayarkan.
Dirinya melihat uang yang dia simpan di dalam kantong berisi dua lembar 50 ribuan. Segera dia beri semuanya kepada anak perempuan manis itu. "Ini."
"Eh Kak ini kebanyakan... Sedikit aja, lima ribu atau dua ribu."
"Mana ada aku uang receh seperti itu?! Sudah simpan saja sana! Pergi! Jangan sampai aku lihat wajah menyebalkan itu lagi, jangan nangis. Beli permen atau es krim kek," ucap cowok itu pelan. Dia juga mendesah kesakitan merasakan cenat-cenut di kakinya. Gadis itu berdiri, dia meneguk ludah pelan. Sebelum menyobek buku gambarnya, dia kembali berjongkok. "Nama Kakak siapa? Biar aku tulis di sini," kata gadis itu, sudah menyiapkan pensil di tangan kanannya bersiap menuliskan nama cowok SMA tersebut.
Cowok itu langsung nampak hening seketika. Untungnya tak lama kemudian mulutnya terbuka. "Dirgantara."
"Siapa?" tanya gadis itu masih belum paham apa yang cowok itu ucapkan, karena bagi gadis itu nama baru selalu susah penghafalannya.
"Dirgantara," kata cowok itu sedikit lemas. Dia sampai menguap karena gadis di depannya tak menulis, masih kebingungan dengan namanya.
"Siapa Kak? Dir-"
"DIRGANTARA!! D-I-R-G-A-N-T-A-R-A!!!!"
"DIRGANTARA BODOH!!!"
Gadis itu tersentak ke belakang. Saking kagetnya dia sampai menutup bibir tak percaya dengan cowok yang baru dia temui dari tadi suka nyolot. Setelah menulis nama cowok itu, dia langsung menyobek buku gambarnya dan dia taruh di sebelah cowok basket itu duduk. "Aku doakan semoga Kak Dirgantara tenang di surga, amin!" Kata paling terakhir yang dia sebutkan sengaja dibuat kencang.
Cowok itu langsung melotot. Jelas dia masih hidup, bernapas dengan baik, tak ada kendala-kendala yang tak diinginkan. Tapi demi apa?! Gadis di depannya ini benar-benar membuatnya jengkel. Setelah gadis itu pergi dari belakang cowok itu terus mencibir anak itu diam-diam. "Tolol banget, walau masih SD tapi sikapnya bikin orang muak saja cuih-"
Aleo menghampiri, teman dekat cowok itu yang tadi menyuruhnya untuk mengambilkan bola basket. "Kenapa malah diam di sini Arkan?! Mau nunggu cewek jogging lewat hah?!"
"Anjir ngagetin aja kau itu!"
"Ngapain di sini hah?" tanya Aleo tak sabaran. Arkan mengepal tangan erat, tanpa menunjuk semua orang bisa tahu di mana sorot matanya berada. "Buta atau apa emang gak lihat hah?!" tanya Arkan sedikit tajam. Dia memperlihatkan kaki tulang keringnya yang berubah keunguan karena setelah diberi air sungai yang panasnya tak terkira, kini dia harus menghadapi sakitnya menghadapi lukanya sendirian. Aleo, cowok pirang itu malah tersenyum-senyum gak jelas. Bahkan mata elang emas Arkan saja sampai lemas melihat Aleo tak cepat tanggap. Bukannya ditolong cowok itu malah bertanya, "Sakit gak?!"
"Menurutmu? Ada tawa yang aku keluarkan dari tadi hah?"
"Hm, gak tahu sih soalnya baru datang..."
"Kalau gak pengen nolong, sana pergi aja!"
Aleo langsung membungkukkan badan menyesal, "Eh maaf-maaf, gak bermaksud kok!!!"
Anak perempuan tersebut berlari sambil memeluk tas Barbienya bahkan air matanya terus berjatuhan tanpa izin seolah kala itu dia merasa sangat bersalah telah membuat orang tambah sekarat. "Maafkan aku Kak Dirgantara maafkan aku... kalau aku gak nuangin air di kaki Kakak, pasti Kakak masih hidup-hiks! hiks! Abang Zion!!! Aluna telah jadi penjahat!!!" teriaknya di sepanjang jalan, rengeknya tak bisa dihentikan siapapun.
Dalam keheningan dan hangat sauna, Arkan bangun dari setengah sadarnya. Kulit cokelat keemasan miliknya seketika berubah menjadi semerah bumbu Samyang. Dia mengelus kedua matanya yang penuh dengan keringat. Pria itu berjalan lenggak-lenggok keluar dari sauna menuju ke pemandian air dingin untuk meredakan suhu tubuhnya. Dalam keadaan masih kepalang mabuk, Arkan terus menggeleng cepat. Ia merasa mimpinya begitu nyata barusan. "Dia di mimpiku tadi... dia menghampiriku, ah- kenapa kau harus muncul? Kau tahu yang paling merepotkan adalah sosokmu yang selalu membuatku bingung. Aku masih ingat jelas dan tak salah orang- namamu Clarissa kan? Hm?!"
"Tuan," bahu Arkan dipegang oleh salah satu pelayan. Melihat tuannya akan jatuh sempoyongan tentu saja tangan refleks pelayan itu memegang kedua bahu pria itu agar tak jatuh. "Tuan, tolong sadarkan diri Anda!!!"
Arkan menepis tangan pelayannya. Dia menaruh kedua kakinya ke dalam kolam seluas dua ruangan kamar mandi. Pria itu malah masih bersantai-santai bahkan mengadah kepalanya ke atas menikmati dinginnya es batu menyengat kulit kerasnya. Dari belakang pelayan itu hanya bisa meneguk ludah pasrah. Telepon berdering di saku celananya. Dia mengambil ponselnya dan melihat kalau itu adalah Dion yang mencari-mencari keberadaan tuannya untuk segera datang ke rumah sakit tapi kunjungannya belum hadir juga di sana.
"Di mana Tuan, Erik?!"
Nama pelayan itu Erik. Dia memundurkan badan ke belakang menutupi speaker ponselnya agar tak mengganggu ruang santai Arkan di dalam bathtub air dingin. "Sabar Dion, aku sudah akan berbicara dengan Tuan Arkan. Tapi susahnya minta ampun,"
"Cepat paksa Tuan saja kalau kau memang tak bisa membawanya pergi. Lakukan apa pun pokoknya bisa membuat Tuan Arkan bangkit dan segera menjenguk istrinya!"
Erik mendesah berat, dia geleng-geleng kepala nampak tak percaya. 'Sial, aku lagi...'
Dion di seberang melirik ke layar telepon di telinganya, "Barusan kau bilang apa?!"
"Hah eh oh, tidak Dion aku hanya bercanda. Setelah ini beri aku waktu 10 menit."
Dion langsung mematikan telepon tak peduli kawannya itu hampir mengumpat, tetap saja umpatannya tak akan didengar siapapun. Erik kembali kepada tuannya yang malah akan tidur lagi. Lelaki itu segera membisikkan apa yang akan dia sampaikan kepada pria tersebut. "Tuan, Nyonya Aluna sedang dirawat di rumah sakit, dan kata Dion keadaannya sedikit kritis." Arkan tak menggubris sama sekali. Malahan dia menganggap suara bisikan tersebut adalah nyamuk jadi Arkan cuma mengusap telinganya saja mengira nyamuk tersebut akan pergi. Erik mencoba menahan amarahnya, dia menarik napas dalam. 'Tenang dulu Erik, kalau ini bukan pekerjaanku pasti sudah kubanting.'
Erik kembali berbisik, tapi bisikannya segera ditanggap Arkan yang kini membuka mata dengan tatapan tajam dan pipi yang bersemu memerah efek dari minuman. "Jangan bicara lagi! Saya mau istirahat! Sana pergi!!"
"Tapi Tuan, Nyonya-"
"Biarkan saja! Biar dia mati-ukh-" Arkan cegukan sendiri. Dia menutup bibirnya cepat sebelum menatap kembali kepada Erik dengan tetap tatapan yang setajam elang. "Memang itu urusan saya kalau dia sekarat? Pergi sana!!!"
"Tu-"
Arkan kembali merebahkan kepalanya ke belakang. Saat dia akan menutup kedua matanya rapat-rapat, Arkan melihat dirinya berada di taman bunga dengan banyak sekali hewan seperti panda, kuskus dan segala jenisnya. Dari kejauhan, gadis kecil yang selalu dia tunggu berada di kejauhan sana. Pelan-pelan Arkan berjalan. Dia tak melihat dirinya sendiri saat melewati pantulan air bahwa dirinya berubah ke mode anak remaja, saat dia masih berseragam. Gadis itu menoleh ke samping. Matanya seketika terlihat sangat terkejut dengan kedatangan pria itu. Gadis kecil itu berdiri. Dia menaruh buku gambarnya di atas rerumputan- pelan-pelan gadis itu berlari dan memeluknya cepat.
Arkan melihat dirinya dipeluk gadis itu. Si gadis memiliki tatapan sendu dan kacau. "Kak Dirgantara? Ini benaran Kakak?"
"Ya... Ini aku Clarissa..."
"Kakak, kenapa Kakak tidak pernah kembali lagi padaku?? Kenapa Kakak meninggalkanku?"
Arkan menaikkan sebelah alis. Dia mengelus tangannya yang masih kurus di atas kepala gadis perempuan itu. "Aku? Aku tidak pergi ke mana-mana, aku menunggumu... Aku sudah dewasa sekarang, bagaimana denganmu?"
Nampak gadis kecil bernama Clarissa itu tak menjawab sama sekali. Tatapannya bisu ke bawah tanah. "Aku... aku juga-" Mendengar hal tersebut sontak Arkan berjongkok. Dia mengambil salah satu jemari anak SD itu dan entah dari mana ada cincin muncul yang sekarang dijadikan untuk menjadi perhiasan salah satu jemari gadis itu. Arkan tersenyum senang. Dia mendongak ke atas dengan senyum yang sangat lembut tak pernah ditemukan di manapun. "Kalau begitu, Clarissa temui aku... kita sudah sama-sama dewasa sekarang, maukah kau menjadi istriku?"
Gadis itu melotot kaget, "TIDAK MAU!!!!!"
Bersambung...