NovelToon NovelToon
KETULUSAN HATI ELINA

KETULUSAN HATI ELINA

Status: tamat
Genre:Romantis / Poligami / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Henny

Elina Jovanka melihat bagaimana hancurnya kehidupan ibunya saat ayahnya memutuskan untuk memiliki 2 istri. Saat sang ibu meninggal, Elina berjanji tak akan pernah menikah jika suaminya berpoligami.
Saat ia dipertemukan dengan cinta pertama dalam hidupnya, Okan Atmaja langsung melamar Elina dan mereka menikah. Elina yakin kalau Okan akan mencintainya sebagai satu-,satumya wanita dalam hidupnya. Namun, Elina tak pernah membayangkan kalau untuk mendapatkan restu dari ibu mertuanya, ia harus merelakan Okan menikah dengan gadis lain.
Sanggupkah Elina bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Golongan Darah Haikal

Mata Okan tajam menatap Susi membuat perempuan itu menangis. Namun ia memberanikan diri menatap Elina.

"Kenapa mba meragukan kalau Haikal adalah anak mas Okan? Apakah mba nggak melihat kesamaan wajah antara mereka? Mba nggak pernah melihat foto mas Okan saat kecil?" Tanya Susi dengan air mata yang mengalir di pipinya.

"Elina! Kamu sengaja ingin menjatuhkan harga diri Susi di hadapan Okan ya?" Larasati mengangkat tangannya, dengan jari telunjuknya ia menunjuk wajah Elina.

"Lalu siapa pria bernama Iqbal?" Tanya Elina yang mulai geram.

Susi akan menjawab namun Larasati lebih dulu menyela. "Iqbal itu adalah sepupunya Susi dari pihak ibunya. Iqbal sudah seperti kakak bagi Susi. Ia memang beberapa kali mengantar Susi pulang. Jangan keterlaluan kamu Elina."

"Tapi aku melihat.....!" Kalimat Elina terhenti saat pengasuh bayi berteriak panik sambil membawa Haikal.

"Nyonya.....den Haikal muntah-muntah dan tubuhnya kejang."

Semua langsung berdiri.

"Tapi kenapa?" Larasati langsung mengambil Haikal dari gendongan pengasuhnya. "Dia makan apa tadi."

"Den Haikal tadi minum susu bersama tuan Okan di kamar mereka."

Okan mengangguk. "Karena aku sakit perut, Elina yang memberikan dia susu. Dia minum sampai habis kan sayang?" Okan menatap Elina.

"Iya. Dia minum sampai habis. Aku menepuk pundaknya dan membuat ia bersendawa. Seperti biasa." Kata Elina.

"Apa yang kamu campurkan pada Susu cucuku?" teriak Larasati.

"Ibu, jangan menuduh Elina sembarangan!" Okan menghardik ibunya.

"Jangan berdebat, ayo bawa Haikal ke rumah sakit!" ajak Zeki.

Okan langsung berlari dan mengeluarkan mobilnya. Larasati yang menggendong Haikal bersama Susi masuk ke dalam mobil yang dibawa Okan. Sementara Elina menunggu pengasuh menyiapkan perlengkapan Haikal dan menyusul bersama mobil Zeki.

Saat mereka sudah berada di rumah sakit, Haikal sementara ditangani secara insentif.

"Golongan darah bayinya A+. Mohon keluarga siapkan golongan darah itu. Sepertinya anak ini terserang deman berdarah." Ujar salah satu perawat.

Elina terkejut. Golongan darah Okan juga adalah A+. Saat ia memberikan susu pada Haikal, badan anak itu memang agak panas. Sang pengasuh mengatakan kalau sejak kemarin Haikal memang sudah demam namun Susi mengatakan kalau Haikal begitu karena akan tumbuh gigi.

Larasati mendekati Elina. "Pergi kamu dari sini! Aku muak melihat wajahmu sebagaimana aku muak melihat wajah ayahmu! Kau sangat mirip dengan ayahmu kan? Jadi kau sama bejadnya dengan dia.!" Larasati mendorong tubuh Elina.

"Bibi!" Zeki langsung memeluk tubuh Elina yang hampir jatuh. Tepat di saat itu Okan keluar dari kamar pemeriksaan. Ia melihat bagaimana Elina yang dipeluk oleh Zeki.

"Ada apa ini?" tanya Okan.

"Bibi mendorong kakak ipar." Kata Zeki sambil melepaskan tangannya yang ada di pinggang Elina.

"Ibu, tolong jangan membuat skandal di rumah sakit. Kita seharusnya berdoa agar Haikal sembuh." Okan menatap pengasuh bayi, Larasati dan Susi yang berdiri tak jauh darinya. "Kalian juga, Haikal sudah demam beberapa hari kenapa tak langsung membawanya ke dokter? Untung saja kita belum terlambat membawanya ke rumah sakit. Aku mau ke PMI dulu untuk memberikan darahku pada Haikal. Zeki, golongan darahmu apa?"

"Aku juga golongan darahnya A+."

"Ayo ikut aku." Okan melangkah. Namun baru beberapa langkah, ia mendekati Elina. "Sayang, sebaiknya kau pulang saja. Aku tak ingin kau bertengkar dengan ibu."

Elina mengangguk walaupun sebenarnya dia ingin berada di rumah sakit ini. Bagaimana pun ia juga menyayangi Haikal. Ia pun menyusuri lorong rumah sakit.

"Elina?"

Langkah Elina terhenti. "Dokter Arkan?"

"Ada apa di sini? Kau menangis?" Arkan langsung memegang lengan Elina karena ia melihat Elina sepertinya sangat lemah.

"Aku.....!" Tak tahu mengapa, tangis Elina pun pecah. Ia bahkan merasa agak pusing.

"Ayo ke ruangan ku!" Arkan langsung melingkarkan tangannya di bahu Elina dan mengajaknya pergi. Wajah Elina yang agak pucat membuat Arkan khawatir.

Okan yang kembali masuk ke rumah sakit karena ponselnya ketinggalan, terkejut melihat Arkan yang memeluk pundak Elina. Dadanya langsung terasa sesak. Posisi Elina dan Arkan yang membelakangi mereka membuat Elina tak menyadari kedatangan Okan.

"Elina.....!" Okan menarik tangan Elina dengan sedikit kasar membuat Elina dan Arkan sama-sama terkejut.

"Mas....!" Elina kaget melihat wajah Okan yang merah menahan marah.

"Ayo ku antar pulang!" Okan menarik tangan Elina membuat dokter Arkan hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Elina saat keduanya sudah berada di luar rumah sakit. Ia menarik tangannya dari pegangan Okan yang agak kuat menahannya.

"Kamu tanya aku kenapa? Memangnya pantas kamu dan dokter Arkan berpelukan seperti itu?" Suara Okan sudah mulai meninggi. Sungguh ia terbakar cemburu.

"Itu tak seperti yang kamu lihat, mas. Aku tadi tak sengaja ketemu dengan Arkan. Dan tiba-tiba saja aku merasa pusing. Dia mengajak aku ke ruangannya karena melihat aku menangis." Elina berusaha menjelaskan dengan sabar.

Okan memejamkan matanya, kedua tangannya masih mengepal.

"Mas......!" panggil Elina.

"Pulanglah. Jangan buat aku semakin sakit kepala, Eli. Saat ini aku hanya ingin konsentrasi untuk kesembuhan Haikal." Suara Okan melunak. Tangannya melayang di udara, memanggil taxi yang parkir tak jauh dari sana.

Elina masuk ke dalam taxi dengan hati yang hancur. Ia merasa sangat sedih karena Okan sepertinya tak percaya padanya.

"Mau saya antar ke mana, Bu?" tanya sopir taxi.

"Ke toko kue." Lalu Elina menyebutkan alamatnya. Saat taxi berjalan, Okan segera masuk kembali ke dalam rumah sakit.

Tangan Elina bergerak mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Ia menelepon teman curhat sekaligus konselornya. Sungguh, Elina merasa sangat bad mood pagi ini.

***********

Jarum jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Namun Okan belum juga pulang. Ia tak juga memberi kabar. Pada hal Elina sudah 4 kali meneleponnya dan mengirimkan beberapa pesan.

Elina pun menyimpan Al-Qur'an di lemarinya. Ia membereskan peralatan sholatnya. Ia keluar dari kamar. Tepat di saat itu, Zeki menaiki tangga.

"Zeki? Kau baru pulang? Kemana mas Okan?"

"Kak Okan belum sampai rumah ya? Tadi kami selesai donor darah langsung ke kantor. Namun baru selesai rapat jam 12, bibi Larasati menelepon lagi. Kondisi Haikal katanya drop. Kak Okan langsung pergi. Sekitar jam 3, kakak menelepon lagi dan menyampaikan kalau kondisi Haikal sudah kembali normal."

Elina hanya tersenyum. "Mungkin mas Okan akan tidur di rumah sakit. Kamu sudah makan malam?"

"Sudah. Aku mau mandi dan langsung istirahat. Hari ini aku capek sekali." Zeki segera pamit dan ke kamarnya. Sebenarnya ia ingin berbincang-bincang dengan Elina namun tadi Okan sempat menyampaikan tentang rasa cemburunya saat melihat Elina bersama dokter Arkan. Zeki tahu kalau kakaknya itu sangat mencintai Elina dan sedikit posesif.

Elina menuruni tangga dan segera menuju ke dapur. Ia merasa lapar karena ia belum makan malam.

Saat tangannya sedang sibuk membuat mie instan,ia mendengar suara mobil. Okan masuk dari pintu samping yang memang berhadapan dengan dapur dan ruang makan.

Saat mata keduanya saling menatap, Elina tersenyum. Tak ada salam dari Okan. Ia hanya berjalan masuk dengan wajah lesuh.

"Mas, sudah makan?" tanya Elina.

"Sudah." jawab Okan sedikit cuek. Ia segera menaiki tangga menuju ke kamar.

Elina merasa sedih. Okan tak pernah cuek padanya. Ia pun mematikan kompor dan membawa mie instan buatan ke meja pantry. Ia makan walaupun rasa laparnya seperti hilang tak berbekas.

Selesai makan, Elina mencuci semua yang digunakannya, lalu ia pun menuju ke kamar. Saat ia masuk, dilihatnya Okan baru saja keluar dari kamar mandi. Ia hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan.

"Mas, kamu ingin minum sesuatu?" tanya Elina sambil mendekat.

"Tidak. Aku ingin tidur. Aku lelah." Okan segera naik ke atas tempat tidur. Ia tidur sambil membelakangi Elina yang masih berdiri.

"Tidurlah, mas. Selamat malam." kata Elina dengan suara sesak menahan tangis. Ia ingin kembali menjelaskan pada Okan mengenai kejadian di rumah sakit. Namun ia tahu Okan pasti sangat lelah dengan semua yang terjadi. Perlahan Elina meraih ponselnya dari atas meja. Ia melangkah meninggalkan kamar. Elina merasa ingin menghirup udara segar di luar.

Ia tahu Larasati tak pulang. Ia pasti menjaga cucu kesayangannya itu. Elina tak merasa iri. Haikal pastilah membutuhkan lebih banyak perhatian dan kasih sayang di saat seperti ini. Elina sendiri heran, bagaimana anak itu bisa mendapatkan demam berdarah pada hal lingkungan di sekitar mereka sangatlah bersih.

Elina duduk di teras samping sambil memainkan ponselnya. Udara malam yang semakin dingin seakan tak dipedulikannya. Perasaan hampa sebagai seorang anak yatim piatu kembali menyiksanya. Elina berharap pernikahannya akan membawa ia pada kebahagiaan lagi karena ia akan memiliki keluarga yang baru. Namun pada kenyataan ia mulai mengalami kesedihan. Elina tak ingin menangis namun akhirnya tangis nya pecah.

Ya Allah, sampai kapan aku harus kuat menerima semua ini? Aku ingin memiliki keluarga yang bahagia. Aku ingin menyayangi ibu Larasati seperti ibuku sendiri. Apakah hanya karena aku pernah meninggalkan Okan sampai ibu sangat membenciku?

"Jangan menangis, Elina."

Elina menoleh dengan kaget. Ia buru-buru menghapus air matanya. "Zeki?" Elina melihat Zeki yang duduk tak jauh darinya. "Sejak kapan kau duduk di sana?"

Zeki tersenyum. "Aku sudah ada di sini 15 menit sebelum akhirnya kamu datang. Apakah kak Okan cuek padamu?"

Elina mengangguk.

Zeki berpindah tempat duduk di depan Elina. "Mungkin dia sedang banyak pikiran. Ada proyeknya yang mengalami masalah hari ini. Ia juga sedang terbeban dengan masalah sakitnya Haikal. Dan dia sedang cemburu karena dokter Arkan. Tadi saat ia menceritakan padaku mengenai dokter itu, terlihat jelas kalau rahangnya mengeras. Ia takut kalau kamu akan tertarik padanya."

"Mas Okan seharusnya percaya kalau aku mencintainya. Aku tak mungkin akan berpaling dari padanya. Aku sebenarnya kecewa karena ia meragukanku. Tapi aku mencoba memahaminya."

Ada rasa sedih di hati Zeki melihat mata cantik Elina terlihat menanggung luka. Ingin rasanya Zeki membawa Elina ke dalam pelukannya. Menenangkan kakak iparnya itu.

"Besok mungkin suasana hati kak Okan akan membaik."

"Aku juga berharap demikian." Elina berdiri. "Aku mau masuk dulu, Zeki. Selamat malam."

"Selamat malam, Elina."

***********

7 hari sudah Haikal masuk rumah sakit. Okan masih bersikap cuek pada Elina. Walaupun demikian, Elina tetap menyiapkan keperluan Okan saat ia akan mandi, sarapan dan berangkat ke kantor. Okan hanya mengatakan kalau sebaiknya Elina jangan ke rumah sakit supaya tak bertengkar dengan ibunya.

Kemarin malam Okan tak pulang. Karena hari Sabtu, ia memilih tidur di rumah sakit. Zeki selalu menghibur dan menguatkan Elina. Dengan cerita-cerita lucunya, kadang ia membuat Elina tertawa.

Hari ini hari minggu. Elina menghabiskan semua waktunya untuk ada di rumah baru mereka. Membersihkan kebunnya membuat Elina sedikit melupakan persoalannya dengan Okan. Ia juga membersihkan beberapa bagian rumah. Semuanya sudah siap, namun entah kapan rumah ini akan mereka tinggali.

Jam 8 malam, Elina baru pulang ke rumah lama. Ia terkejut melihat Okan dan Zeki yang sementara makan malam. Pada hal ia sudah mengirim pesan pada Okan kalau ia ada di rumah baru dan meminta Okan untuk memberitahunya jika Okan akan pulang.

"Ayo makan, nyonya!" ajak bi Ina.

"Saya sudah kenyang, bi. Oh ya mas Okan pulang dari rumah sakit jam berapa?"

"Sebelum magrib."

"Terima kasih, bi." Elina segera menuju ke kamarnya. Ia sudah tak tahan lagi. Ia akan bicara dengan Okan.

Hampir jam 10, Okan akhirnya masuk ke kemar.

"Kita harus bicara, mas. Aku tak tahan kau sepertinya cuek padaku. Ada apa? Apakah hanya karena masalah dokter Arkan? Bukankah sudah kujelaskan padamu kalau kejadian di rumah sakit itu hanya karena ia ingin menolongku. Aku juga tahu diri sebagai seorang perempuan yang sudah menikah. Tak mungkin aku membiarkan diriku dipeluk oleh lelaki lain. Aku hanya mencintaimu, mas."

Okan yang duduk di tepi ranjang memandang Elina. "Maafkan aku, Eli. Aku tak bisa menahan rasa cemburu di hatiku. Di tambah lagi dengan kondisi Haikal yang sempat beberapa kali drop, semakin membuat aku stres."

"Hanya karena itu lalu kau mendiami aku selama beberapa hari ini? Kau egois, mas. Apakah kau tak pernah pikirkan bagaimana cemburunya aku setiap kali kau ada di kamar Susi? Bagaimana sakitnya aku saat kau mengakui bahwa kalian sudah tidur bersama? Namun aku belajar memaafkan. Belajar ikhlas menerima. Aku sedih karena kau meragukan aku, mas." Elina langsung mengeluarkan isi hatinya yang selama ini terpendam. Namun ia menahan air matanya sekuat mungkin. Ia tak ingin kelihatan rapuh dan cengeng di depan Okan.

Okan perlahan berdiri dan mendekati Elina. "Maafkan aku yang menyakitimu, sayang. Maafkan aku." Okan menarik tubuh Elina dan memeluknya erat. "Aku sungguh takut kehilanganmu sampai tak bisa menghilangkan rasa cemburuku."

Elina sungguh merindukan pelukan Okan. "Jangan pernah meragukan aku, mas."

"Aku tahu." Okan mencium puncak kepala Elina berulang-ulang. Ia merasa sedih karena menyakiti Elina dengan sikap cueknya. Ia sangat merindukan memeluk istrinya ini.

********

2 jam kemudian......

Elina dan Okan masih saling berpelukan setelah mereka saling melepaskan rindu dalam keluasan raga. Baju mereka masih berserakan di atas lantai.

"Eli, aku sudah melakukan tes DNA pada Haikal secara diam-diam. Hasilnya keluar kemarin. Haikal memang adalah anakku." Kata Okan membuka pembicaraan.

"Syukurlah." Elina merasa lega.

"Kalau Haikal sudah keluar rumah sakit, kita akan mengadakan doa syukur untuk peresmian rumah baru kita."

Elina merasa senang. "Benarkah mas? Ah, aku senang sekali mendengarnya. Akhirnya, kita akan tinggal berdua di sana."

Okan membelai rambut istrinya lalu mengecup pipi Elina. "Aku ingin kau bahagia, sayang."

Elina tersenyum dalam dekapan Okan. Namun ia ingat dengan persyaratan yang diajukan eh Larasati waktu itu.

"Bagaimana dengan persyaratan dari ibu, mas?"

Okan menarik napas panjang. "Akan ku pikirkan lagi. Namun soal menalak Susi, akan segera kulakukan saat Haikal keluar rumah sakit."

Elina tersenyum walaupun hatinya berkata bahwa Larasati pasti akan berusaha menggagalkan kepindahan mereka.

*********

Apakah yang Elina pikirkan akan terjadi?

dukung emak terus ya

1
Hr sasuwe
👍
pipi gemoy
vote Thor ✌🏼
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼🙏🏼🌹
pipi gemoy
👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼☕🙏🏼
pipi gemoy
balas. Eli jgn terlalu polos 👻🌹
pipi gemoy
beh Okan, padahal bisa langsung talak Susi kan nikah siri juga tapi ajak kongkalikong spy ibu mu tak tahu👻👻👻👻👻👻👻
pipi gemoy
gemes nya gue sama si Eli 👻😑
pipi gemoy
congrats Eli n Okan 🌹
pipi gemoy
hadir lagi Thor ☝🏼
Dewa Rana
teknik arsitektur, Thor, bukan teknik arsitek
Dewa Rana
bagus Thor
fitri
bagus banget ceritanya...
karyanya memang keren²...
fitri
nyesek bangetttt....😭😭😭
Retna Tri Tunjung
akhirnya happy buat Elina dan Okan..
Retna Tri Tunjung
aku baru baca novel ini, sp maraton bacanya, di part ini sp menangis aku....
Ari Peny
aq baca lg novelmu thor kangen kemesraan keduanya
keke global
part termewek 😭😭
keke global
novel novelnya ga ad yg gagal
Elsye Nurhayati
Luar biasa
🇬 🇪 🇧 🇾
hai ak baru Nemu kisahnya ellina,mba ellina kamu hebat,
mas okan juga hebat otthornya juga hebat

Tuhan berkahi dan terus berkati terus pimpin MB ellina dan keluarga serta othor ,sehat,belimpah sukacita amin🙏❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!