Menjadi seorang model terkenal ternyata membuat Laluna Bachtiar menjadi sosok yang angkuh dan keras kepala. Luna, kembali ke Indonesia setelah lima tahun menetap dan menjadi model terkenal di Amerika, setelah memergoki sahabat dan kekasihnya berselingkuh.
Kehidupan hedonis yang terbiasa dijalani Luna selama berada di Amerika membuat Rafli Bachtiar (Ayah), marah dan cemas.
Giovanni Halim, supir pribadi kepercayaan Rafli akhirnya menugaskan Gio untuk menjaga Luna kemana pun anak gadisnya itu melangkah.
"Aku benci kamu!" Hardik Luna pada Gio setiap kali Gio berhasil menyeretnya pulang dari club malam.
Gio hanya menatap Luna dingin. Semakin hari keduanya malah semakin akrab. Hingga pada akhirnya, Luna menyadari ada yang mulai aneh dengan perasaannya pada supir pribadinya itu.
Giovanni tidak mampu menolak pesona Nona muda kesayangan Tuannya itu, sementara di kampung halaman, Gio telah bertunangan dengan Dewi.
Bagaimana akhir perjalanan cinta Gio dan Luna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Yang Tercantik
"Luna." Suara yang terdengar setengah memekik itu membuat Luna menoleh.
Luna mendapati George setengah berlari ke arahnya. Ia menyungging kan senyum bersahabat. Lelaki bule itu nampak sumringah melihat Luna yang tampak cantik dengan gaun hitam berhias gliter.
Malam ini ia ada undangan dari relasi bisnis. Maret sudah memasuki musim semi. Cuaca sudah sedikit lebih bersahabat.
"Kau sangat cantik malam ini." Puji George setelah sampai di samping Luna. Lelaki itu juga nampak gagah. Luna tersenyum.
"Terima kasih George, kau juga tampan." Balas Luna membuat George senang.
"Jadilah partner ku malam ini, Luna. Tidak lucu kita berjalan sendiri-sendiri sementara yang lain berpasangan. Lagipula, akan sangat bahaya gadis cantik seperti mu sendirian di tengah pesta seperti ini." Ujar George sambil memperhatikan sekeliling. Ia tahu watak para lelaki di tempat itu. Ia takut nanti terjadi apa-apa dengan Luna.
"Baiklah, Tuan George." Luna segera menyambut uluran tangan George.
Keduanya mulai berjalan menyusuri ruangan, menyalami setiap kenalan.
Mereka tampak seperti sepasang kekasih saja. Luna juga berusaha menghindari tatapan-tatapan buas para lelaki yang sedang melihat ke arahnya.
"Kau lihat, mereka semua memandang mu bagai singa yang lapar." Bisik George.
"Ya, mengapa mereka begitu ya? Ada banyak sekali perempuan di tempat ini selain aku." Balas Luna dengan berbisik pula.
"Sebab, kau yang tercantik." Sahut George sambil tersenyum, Luna hanya membalasnya dengan senyuman kecil.
Luna dan George mengitari bhallroom lalu menemukan sebuah balkon yang agak jauh dari tempat acara. Luna bersandar pada pagar pembatas balkon, ia memandang lampu jalan yang menerangi London malam itu dengan begitu indahnya.
George menatap gadis itu intens. Ia mengagumi Laluna. Kecantikannya, kecerdasannya, cara bicara, juga tubuhnya. Semuanya. Luna sangat indah.
Luna juga memiliki aroma wangi yang khas dari tubuhnya, membuat siapa pun yang dekat akan jadi candu, terbayang-bayang lalu jadi rindu. Feromone nya terlalu kuat. Luna punya semua hal yang bisa memikat.
"Luna, apa kau tidak memiliki kekasih?" Tanya George, ia berjalan mendekat ke arah Luna, ikut bersandar di samping gadis itu di pagar pembatas balkon.
"Tidak, George." Luna menggelang.
"Mengapa? Kau cantik, pasti banyak yang menyukaimu."
"Aku masih ingin menikmati kesendirianku." Sahut Luna dengan senyum tercetak.
"Jika ada yang menyatakan perasaannya padamu, apa kau mau menerimanya?" Tanya George lagi.
Luna menggeleng lagi. Ia memang tidak punya jawaban lain selain tidak untuk saat ini. George tersenyum kecil, mencoba menerima jawaban mantap itu dari Luna.
"Kau sendiri? aku kira kau akan membawa kekasihmu ke acara ini" Ungkap Luna membuat George tertawa kecil.
"Sama seperti mu, aku juga masih ingin menikmati kesendirianku. "
"Kau mengcopy kata-kataku." Luna memukul pelan bahu lelaki itu.
"Tapi kalau denganmu, rasanya aku ingin melepas kesendirian ini." Ujar George lagi, wajahnya nampak serius. Sedang Luna berusaha mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan hal lain.
George lagi-lagi paham, Luna sedang berusaha menghindari topik tentang cinta itu dengannya.
"George, sepertinya aku harus pulang sekarang." Luna mengangkat jam tangannya.
"Kau membawa mobil?" Tanya George menahan langkah Luna, gadis itu menggeleng.
"Aku naik taksi tadi. Tak apa George aku bisa pulang sendiri."
"Tidak, biarkan aku mengantar mu ya."
Melihat George yang nampak khawatir, akhirnya Luna menyetujui lelaki itu mengantarnya ke apartemen. Mereka berpamitan dahulu pada Tuan acara kemudian melangkah meninggalkan bhallroom.
Di dalam mobil, Luna dan George nampak terdiam. Sekeliling mereka jadi sunyi. Tidak biasa nya George jadi kaku begini pada perempuan. Luna membuat ia jadi gugup saja.
Sementara Luna tampak fokus menatap jalanan. Ia tidak mau George terlalu banyak menaruh harapan. Tidak ingin pula kembali terjebak terhadap semua perasaan. Luna benar-benar belum bisa menerima orang lain di hatinya, sebab Gio terlalu banyak menguasai seluruh rongga hatinya.
"George, terima kasih sudah mengantarku." Ujar Luna setelah mobil sampai di depan halaman apartement yang tinggi menjulang.
"Aku senang bisa mengantarmu, Laluna."
"Hati-hati di jalan, George, aku masuk ya." Ucap Luna lagi, namun George kembali menahan dirinya.
"Luna, aku sangat suka padamu." Ujar George lirih. Luna menghindari tatapan itu.
"George aku.. "
Kata-kata itu terhenti, George mendekatkan bibirnya, untuk sesaat Luna hampir saja terbuai. Manakala bayangan Gio tiba-tiba melintas.
Luna mengalihkan wajah, hingga akhirnya bibir George yang kurang sesenti itu hanya mengenai pipinya.
"George, maaf aku tidak bisa." Luna keluar dari mobil, meninggalkan George yang memandangnya pias.
Lelaki itu masih berdiam, belum ada hasrat untuk kembali melajukan mobil. Luna sendiri sudah berada di apartemennya. Ia terhenyak saat melihat mobil George masih berada di bawah melalui kaca jendela apartement.
Luna menutup tirai, membiarkan George sendirian di bawah. Itu lebih baik daripada harus memberi lelaki itu harapan. Luna ke London untuk menyembuhkan Lukanya, bukan untuk menambah luka baru atau justru menciptakan Luka juga bagi orang lain.
"George, maafkan aku. Aku tidak mau jatuh cinta lagi, termasuk kepadamu." Ujar Luna lirih. Ia masuk ke dalam kamar, mengganti dress dengan baju tidur.
Saat sedang terpaku, ponsel Luna berdering. Ia tersenyum, nama papa tertera di layar ponselnya.
"Lun..belum tidur?" Suara papa menyapa.
"Belum pa, aku baru pulang dari acara pesta salah satu rekan bisnis."
"Kamu baik-baik aja kan selama di London?" Tanya papa penuh rindu.
"Sangat baik, Pa. Papa baik-baik juga kan?"
"Iya Lun, Mas mu menjaga papa dengan sangat baik."
Luna terdiam saat papa menyebut Gio. Ia merasa hatinya nyeri, terasa rindu ini menikam hatinya kian hari. Lama ia terdiam sampai akhirnya suara papa kembali terdengar.
"Lun, Mas mu akan menikah satu minggu lagi."
Luna mencoba tersenyum mendengar berita itu. Ia mencoba menahan airmatanya.
"Aku ikut bahagia, Pa." Sahut Luna terbata-bata."
"Istirahat ya Lun, papa pasti akan mengunjungimu nanti."
Luna mematikan sambungan telepon. Ia duduk di atas ranjang, meringkuk memeluk lutut. Air matanya seketika merebak. Luna membiarkan tangisnya pecah. Sudah lama sekali ia tidak menangis untuk Gio.
Malam ini, Luna kembali merasa hatinya kembali tergores. Dengan terus memeluk lutut Luna menangis sesegukan, ia meraih baju kaus Gio yang selalu ia letakkan di samping nya setiap tidur.
Luna memeluk baju itu erat. Seberat cintanya untuk lelaki bernama Giovanni.
"Mas Gio... Aku sangat mencintaimu." Isak Luna sambil terus memeluk kaus Gio yang semakin basah karena air mata nya.
Kasih...
Aku kehilanganmu
Aku terluka
Kasih...
Jika aku boleh memilih
Ingin rasanya aku melangkah
meninggalkan semua kenangan kita
Harapan tinggi tentang indahnya berdua
Tiada lagi yang tersisa
Aku terpenjara oleh cintamu yang luar biasa
Kini kau sempurna menjadi miliknya
Meninggalkan aku sendiri,
Yang masih merana.
Semoga bahagia dengannya..
-Elegi Laluna