Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku, ingin punya anak lagi.
Langkah kaki Elea begitu pelan, mengabaikan teriakan seseorang yang memanggil namanya. Sedari tadi, kepalanya terus memikirkan jawaban yang Marcel berikan. Apa cinta semudah itu?
"Aku tak pernah senyaman ini dengan wanita manapun, kau adalah orang pertama dan satu-satunya yang membuatku nyaman. Hanya itu saja, tapi aku tak akan memaksamu untuk menyukaiku. Bersamamu setiap waktu, itu sudah cukup bagiku." itulah jawaban yang lelaki itu berikan.
Agak aneh, tapi begitulah jawaban seorang Marcel. Elea sendiri tak tahu mengapa, ia pun sama halnya walau hatinya menolak untuk menerima cinta bosnya itu. Organ didalamnya hanya berdebar didekat Rajendra saja.
Elea menundukkan kepalanya, ia hanya menatap lantai kantor yang diinjaknya itu. Ia berjalan makin pelan tanpa melihat lurus ke depan, hingga tanpa sadar ia ...
Bug
"Maaf, maaf, aku gak sengaja," ucap Elea yang langsung menatap sosok yang ditabraknya.
Keningnya berkerut melihat wanita paruh baya yang berada didepannya, begitu elegan dan glamor barang yang melekat dibadannya. Make upnya pun terlihat tebal dengan riasan sempurna membuatnya cantik paripurna diusia tersebut.
Elea menunduk kembali, "Maaf nyonya, saya tidak sengaja," ucapnya lagi walau ia tak tahu siapa perempuan yang seumuran ibu mertuanya itu.
Wanita paruh baya itu hanya berdecih dengan mata yang meremehkan, tanpa berkata apapun ia langsung pergi melanjutkan perjalanannya entah kemana, karena ia naik lift yang kebetulan terbuka. Elea menghembuskan nafas leganya, walau tak tahu siapa beliau setidaknya ia tetap bersikap sopan.
"Dia siapa?" gumam Elea bertanya-tanya sambil melihat pintu lift yang tertutup.
"Elea," panggil seseorang yang berjalan menghampirinya.
"Eh, Rika. Ada apa?" tanya Elea melirik wanita berpakaian rapi dan berambut panjang sebahu, ia adalah rekannya—sekertaris Marcel.
"Dipanggil pak bos, kamu disuruh ke ruangannya tadi," jawab Rika.
"Iya, ayo kamu juga mau keatas kan! Kita masuk barengan." ajak Elea menekan tombol pintu walau pintu liftnya belum terbuka, sehingga mereka berdua hanya menunggu saja dan berdiri didepan lift.
"Ngomong-ngomong, kalian aneh. Bukan kah kalian makan siang bareng, ko pulangnya sendiri-sendiri," ujar Rika bertanya sembari menyindir.
"Beliau ditelpon seseorang tadi, jadi buru-buru," jawab Elea.
"Oh, dan kamu gak ikut karena tak ingin jadi bahan omongan para karyawan lain. Begitu?" tanya Rika yang Elea jawab dengan anggukan kecil.
"Hebat kamu, baru masuk sudah terkenal. Bisa naik pangkat nanti," ujar Rika yang tak tahu memuji atau menyindir lagi.
Elea menunduk, "Itu tak seperti yang kamu pikirkan," dengan tegas Elea mengatakannya.
Elea melangkah masuk kedalam lift yang kosong, diikuti Rika yang tak percaya semudah itu dengan ungkapan rekannya. Ia yakin karena melihat tatapan bosnya pada Elea sangat lain dari pada yang lain.
Didalam lift mereka tak berbicara apapun lagi, hanya menunggu ruang gerak itu naik ke atas lantai tempat kerja mereka berada. Dalam hening itu ponsel Rika berdering, segera wanita itu rogoh dari saku blazernya.
"Iya pak, ada apa?" tanya Rika yang membuat Elea meliriknya sejenak.
"Baik, pak. Saya lagi dilift menuju ke atas, sebentar lagi sampai," jawa Rika.
Tuuutt
Sambungan terputus, Rika pun menyakukan kembali benda pipih tersebut ke blazernya. Ia melirik Elea yang diam tak bertanya apapun, padahal itu dari pak bos.
"Aneh, sudah ada asisten tapi apa-apa ke sekertaris," ucap Rika dengan penuh sindiran sembari memangku kedua tangannya.
Elea diam tak menyahut atau pun membantahnya, anggap saja angin lalu yang nantinya akan tersapu angin lagi.
^
Elea yang tengah sibuk ditempat kerjanya, karena Rika menyuruhnya menulis jadwal bos mereka. Tak hanya itu ia juga harus memeriksa berkas yang baru datang, agar terbiasa jika Rika sibuk dengan hal lain.
Seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan bosnya, seketika ia meniru rekannya untuk memberi hormat pada wanita paruh baya tersebut. Namun ketika melihat wajahnya ia terkejut, karena wanita itu adalah yang ia tabrak tadi.
Elea makin menundukkan kepalanya, karena tak hanya tak nyaman tapi juga merasa bersalah. Ia baru dengar dari Rika bosnya kedatangan ibunya, dan ia baru sadar ternyata ibu bosnya adalah sosok yang ia tabrak tadi.
"Bagaimana ini?" gumam Elea kian tak enak hati, mana anaknya sudah mengungkapkan rasa sukanya dan itu menambah perasaan tak nyaman.
Namun beruntung saja, wanita paruh baya itu segera pergi. Seakan tak peduli apapun yang dia lakukan, lagi pula sudah minta maaf. Apalagi selain itu?
^
Waktu berputar begitu cepat, hari yang terang kini sudah hampir gelap. Ia pulang dengan ojek online lagi dan menolak ajakan Marcel untuk dia antarkan pulang. Namun ia sempat melihat, mobil bosnya itu mengikutinya dari jarak yang cukup dekat.
Ia hanya pura-pura tak tahu, ketika mobil hitam itu parkir didekat rumahnya. Ia masuk saja dengan segera tanpa menghiraukannya, ia tak ingin Rajendra melihatnya bersama pria lain itu saja.
Karena kalau melihatnya, Elea yakin mulut kasar suaminya itu akan keluar tanpa batas.
Baru saja masuk ke dalam rumah besar dan megah itu, suara suaminya sudah terdengar mengawasi. Ia mendekati Elea dengan tampang yang penuh selidik, juga kedua tangan yang bersidekap.
"Baru pulang?" tanya Rajendra memberikan perhatian tapi terdengar menohok bagi Elea, ia tahu suaminya sudah mulai dengan mode menyebalkannya.
"Hmm," jawab Elea hanya berdehem sambil tarus melangkah, ia abaikan kehadiran lelaki itu yang tadi siang bersama sahabatnya.
"Aku mau bicara," ujar Rajendra namun Elea mengabaikannya, ia menulikan telinganya mendengar kalimat itu.
Memangnya suaminya mau bicara apa, selain kalimat untuk menceraikannya sementara ia belum siap untuk berpisah. Karena belum memiliki penghasilan tetap, jadi ia ingin mengulur waktu. Itu yang diperkirakan Elea, walau berharap bukan itu yang akan dibicarakan oleh suaminya.
Karena melihat sikap Elea yang begitu, terpaksa Rajendra melangkah cepat dan menggenggam lengan istrinya. "Apa kau tuli? Aku ingin bicara," geramnya.
Elea menghempaskan tangan suaminya, "Terserah," hanya itu hang dijawabnya.
Rajendra tak bisa lagi menahan kekesalannya, apalagi setelah tahu istrinya bekerja diperusahaan yang dikelola oleh adik tirinya. Ia menarik tangan Elea dengan kuat, lalu menggendongnya layaknya beras yang dipangku di pundaknya.
"Lepas! Turunkan aku! Apa yang kamu lakukan, Rajendra?" ujar Elea meronta-ronta diatas pundak suaminya, tak ada lagi kata lembut bahkan dari panggilan yang biasa dilakukannya.
"Diam! Kalau gak mau aku melakukan sesuatu," bungkam Rajendra yang membuat Elea diam akhirnya.
Lelaki itu membawa Elea ke kamarnya, kamar yang dulu milik mereka berdua. Rajendra menurunkannya dengan pelan, didekat ranjang mereka pun berbicara.
Elea mengelus lengannya yang sakit, akibat tindakan yang dilakukan oleh suaminya. Memang kasarnya bikin fisik dan mental Elea rusak, siapa yang tahan dengan sikap seenaknya itu. Elea bahkan ingin secepatnya usai dengan rumah tangga yang menyakitinya itu.
Rajendra melihat tangan itu, tangan yang sudah ia lukai. Namun, bagaimana lagi selain bersikap kasar, Elea mulai sulit diajak bicara.
"Aku ... Ingin kita punya anak lagi," ungkap Rajendra dengan pelan, ragu dan juga takut.
Entah kenapa begitu tak percaya diri, rasanya mulai canggung padahal ia minta pada wanita yang sudah sah menemaninya 10 tahun lamanya. Tapi takut Elea menolaknya karena sikapnya sangat aneh akhir-akhir ini, Rajendra anggap istrinya sedang PMS.
Mata Elea membulat, bahkan rasanya ingin keluar begitu saja mendengar hal yang ingin diucapkan suaminya. Ia ingin bercerai tapi ingin punya anak lagi, stres gak sih?
Elea ingin tertawa sekarang, tertawa melihat nasib hidupnya yang begitu miris. Diceraikan setelah melahirkan itu menyakitkan, bukan. Apa itu rencana Rajendra sekarang?
Pantas ia belum diceraikan juga, bisa dibilang ia dinikahi hanya untuk memberinya keturunan. Memang masuk akal, mengingat Erika yang memiliki riwayat kanker. Jika ia hamil, bukan tidak mungkin darah penyakitan itu akan turun pada anak-anaknya.
"Aku gak mau," jawab Elea menolak dengan tegas, ia memalingkan wajahnya dan ingin pergi dari kamar yang menyesakkan itu.
Mendengar penolakan Elea, Rajendra tak terima. Ia kembali menarik tangan istrinya membuatnya mengurungkan niat untuk keluar dari kamar itu.
"Kali ini saja, Ele. Bukankah kamu juga merindukan kehangatanku, kita bisa melakukannya malam ini," ujar Rajendra seenak jidatnya saja.
Elea tertawa getir, dulu ditolak dengan kasar sekarang Rajendra menginginkannya.
"Itu malam waktu itu, sekarang udah enggak!" tolak Elea lagi, ia menghempaskan tangan suaminya dengan kasar.
Rajendra terdiam, tangannya mengepal mengingat penolakan istrinya. "Baiklah, aku lakukan dengan paksa," ujarnya.
"Baiklah, aku lakukan dengan paksa."
Elea yang sudah berjalan, mendadak menghentikan langkah kakinya. Kalimat itu pernah ia dengar dulu sebelum si kembar akhirnya lahir, kalimat yang ia anggap dulu tak berarti apa-apa. Sekarang ia tahu maksudnya, ia paham betul orang kaya harus memiliki pewaris laki-laki.
Bukankah itu tuntutan dari ibu mertuanya.