NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 — Pikiran yang Nggak Seharusnya

Mobil berhenti di depan Vila Kusuma hampir tengah malam.

Pak Darto hendak memanggil staf, tetapi Arya menggeleng. Ia membuka pintu penumpang dan melepaskan sabuk pengaman Anindya.

"Aku bisa jalan," gumam perempuan itu.

"Kamu mengatakan hal yang sama sebelum hampir menjatuhkan kursi bar."

Anindya membuka mata, lalu mengangkat kedua tangan. "Kalau begitu, gendong."

Arya tidak punya alasan menolak. Ia mengangkat Anindya, membawanya melewati lorong, lalu masuk ke kamar mereka.

Anindya bersandar tenang di dadanya. Aroma sampo bercampur sedikit rasa buah dari minuman tadi. Setiap langkah membuat wajah mereka begitu dekat hingga Arya harus menatap lurus ke depan.

Ia meletakkan Anindya di tepi ranjang.

"Duduk. Aku ambil minuman hangat."

"Jangan pergi."

Jari Anindya kembali menangkap ujung bajunya.

"Aku cuma ke meja. Pak Darto sudah menyiapkannya."

Setelah mendapat janji itu, genggamannya melonggar. Arya mengambil wedang jahe hangat, menguji suhunya, lalu menyodorkan gelas.

"Minum pelan-pelan."

Anindya memegang gelas dengan dua tangan, tetapi kepalanya terus turun. Arya akhirnya menopang dasar gelas dan membantunya minum.

"Pahit," keluhnya.

"Tadi minuman manis kamu habiskan tanpa bernapas."

"Karena Tania bilang harus berani."

"Besok aku akan bicara dengan Tania."

"Jangan marahi dia. Aku sendiri yang mau."

Arya menyimpan gelas. "Mau apa?"

Anindya berpikir lama. "Membuat Mas melihatku."

"Aku selalu melihatmu."

"Belum semuanya."

Sebelum Arya sempat bertanya, Anindya menjatuhkan tubuh ke bantal.

Ia membantu melepaskan sepatu perempuan itu, lalu menarik selimut sampai bahunya. Saat hendak berdiri, Anindya membuka mata lagi.

"Mas tidur di mana?"

"Di sofa."

"Kenapa?"

"Kamu sedang mabuk."

"Tapi kita menikah."

"Justru karena itu aku tidak akan memanfaatkan keadaanmu."

Anindya menatapnya beberapa detik, seolah berusaha memahami. Kemudian bibirnya melengkung. "Makanya aku suka."

Dada Arya berhenti sesaat.

"Suka apa?"

Tidak ada jawaban. Anindya sudah memejamkan mata.

Arya duduk di tepi ranjang dan memperhatikan wajahnya. Tanpa tatapan tajam seorang direktur, Anindya terlihat lebih muda dan rapuh. Beberapa helai rambut menutupi pipinya. Arya menyibakkannya perlahan.

Ia teringat percakapan di bar tentang cinta pertama Anindya. Seorang pria yang dikenalnya sejak sekolah, sudah menikah, dan masih ditemui setiap hari.

Rasa tidak nyaman kembali muncul.

Siapa pria itu?

Mengapa Anindya menikah dengannya kalau hatinya masih untuk orang lain?

Arya hampir tertawa pada dirinya sendiri. Pernikahan mereka dimulai sebagai syarat wasiat. Anindya tidak pernah menjanjikan cinta. Ia tidak berhak merasa dikhianati oleh perasaan yang sudah ada jauh sebelum akad.

Namun, logika itu tidak menenangkan dadanya.

Anindya bergerak dalam tidur. Kerah bajunya bergeser sedikit, memperlihatkan kulit leher. Mata Arya tanpa sengaja mengikuti garis tersebut sebelum ia cepat-cepat menarik selimut lebih tinggi.

Pikiran yang tidak seharusnya muncul memenuhi kepalanya.

Ia membayangkan bagaimana rasanya mencium kening perempuan itu. Ia bertanya-tanya apakah Anindya akan tetap tersenyum kalau dirinya mendekat bukan karena kontrak. Ia bahkan berharap pria cinta pertama itu sudah benar-benar keluar dari hatinya.

"Aku baru bercerai," bisiknya pada diri sendiri. "Jangan salah mengartikan kebaikan."

Anindya tiba-tiba meraih lengannya.

Arya kehilangan keseimbangan dan jatuh duduk di ranjang. Dalam keadaan masih tidur, Anindya bergerak mendekat lalu memeluk pinggangnya.

"Jangan pergi," gumamnya.

"Anindya, lepaskan dulu."

Pelukannya justru menguat.

Arya mencoba membuka jemarinya satu per satu. Begitu satu terlepas, tangan yang lain kembali menangkapnya. Setelah tiga kali mencoba, ia menyerah.

Ponsel Anindya berbunyi di meja. Nama Tania muncul bersama pesan singkat.

Berhasil atau gagal total?

Arya membaca pratinjau itu tanpa membuka layar. Ia mengambil ponselnya sendiri dan mengirim pesan kepada Tania.

Dia aman. Lain kali jangan beri minuman kepada orang yang tidak tahu batasnya.

Balasan datang seketika.

Berarti Mas Arya sedang bersamanya. Saya anggap berhasil.

Arya mengabaikan pesan berikutnya. Ia meletakkan ponsel, lalu memeriksa suhu dahi Anindya. Normal. Ia juga menaruh baskom kecil dan air di samping ranjang untuk berjaga-jaga bila perempuan itu mual.

Anindya membuka mata sepersekian. "Mas marah?"

"Sedikit."

"Sama aku?"

"Sama rencana bodoh kalian."

"Aku cuma takut waktunya habis."

"Waktu apa?"

"Dua bulan."

Arya terdiam. Di balik tingkah lucu malam ini, rupanya Anindya terus menghitung sisa perjanjian. Perempuan itu yakin ia akan pergi ketika batas waktu tiba.

"Tidurlah," katanya lembut. "Besok kita bicara saat kamu sadar."

"Besok Mas masih ada?"

"Masih."

"Lusa?"

"Masih."

"Bulan depan?"

Arya menatap mata setengah terpejam itu. "Aku tidak sedang menyiapkan koper."

Anindya tersenyum puas, lalu menarik lengannya lagi. Ketakutan di wajahnya hilang begitu mudah hanya karena satu kepastian kecil.

Arya baru sadar bahwa selama ini bukan hanya dirinya yang takut dimanfaatkan. Anindya, dengan seluruh kekayaan dan kuasanya, juga hidup dalam ketakutan bahwa orang yang dipilihnya akan meninggalkan rumah begitu kontrak selesai.

Kesadaran itu mengubah cara Arya memandang pelukan di pinggangnya. Bukan jebakan. Bukan rayuan seorang perempuan mabuk. Itu adalah pegangan seseorang yang terlalu lama menunggu dan belum berani percaya bahwa penantiannya bisa berakhir.

"Kamu ternyata keras kepala bahkan saat tidur."

Anindya menyandarkan kepala pada sisinya dengan napas teratur.

Arya meraih bantal lain dan mengatur posisi agar perempuan itu tidak sakit leher. Ia berniat menunggu lima menit, lalu pindah ketika pelukannya longgar.

Lima menit menjadi lima belas.

Anindya tidak melepaskannya.

Arya akhirnya berbaring di sisi luar ranjang, tetap di atas selimut dan menjaga jarak sebisa mungkin. Lampu kamar diredupkan. Dalam sunyi, ia bisa mendengar napas mereka sendiri.

Ia tidak merasa terjebak.

Justru untuk pertama kalinya, ranjang yang sama tidak terasa seperti wilayah asing.

Menjelang dini hari, Anindya kedinginan dan bergerak lebih dekat. Arya menutupkan ujung selimut, lalu membiarkan kepalanya bersandar di bahu.

"Pria di dekat jendela itu siapa?" tanyanya pelan, meski tahu Anindya tidak akan menjawab.

Perempuan itu menggumam sesuatu yang tidak jelas. Satu-satunya kata yang tertangkap terdengar seperti "Mas".

Arya menatap langit-langit. Ia tidak tahu apakah itu jawaban atau sekadar panggilan dalam mimpi.

Pagi nanti, Anindya mungkin tidak mengingat apa pun. Arya bisa berpura-pura malam ini juga tidak berarti apa-apa.

Namun, tangannya bergerak sendiri menutupi jemari Anindya yang masih berada di pinggangnya.

Ia akhirnya mengakui sesuatu yang sejak beberapa hari lalu terus dihindari.

Perasaan ini jelas bukan sekadar rasa terima kasih biasa.

Ia ingin melihat Anindya tersenyum saat sadar, ingin mendengar perempuan itu memanggilnya setiap pagi, dan ingin mengetahui siapa anak laki-laki dekat jendela yang masih memenuhi hatinya. Keinginan-keinginan itu terlalu pribadi untuk disebut kewajiban kontrak.

Dan jika ia tidak berhati-hati, dua bulan yang dijanjikan Anindya akan berakhir jauh sebelum ia siap kehilangan perempuan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!