Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Bersemangat dibalik obrolan
Nama ku Riska Aprilia Di kelas 6 aku bersekolah tidak memiliki banyak teman seperti yang lain dan aku seorang siswa biasa dengan ekonomi yang terbatas kedua orang tuaku berjualan.
Di sekolah aku hanya terdiam di meja belajar sambil menunggu kelas masuk. sementara teman teman ku ada yang bercerita.
"hei apa kau sudah mengerjakan Pr"
ada juga yang mengerjakan tugas bersama untung saja sebangku dia juga pendiam namun terkadang sebangku juga seperti yang lain berinteraksi dan mulai membicarakan tentang diriku
"riska dia sangat pendiam sekali!"
bisik-bisik
Entah kenapa di saat aku kelas 6 aku sering sekali di rendahkan oleh teman temanku dan bahkan banyak yang membenciku aku bingung memikirkan temanku mereka pikir aku semiskin itu Dimata mereka. Saat itu sekolah ada praktek memasak guru memberikan pilihan mencari kelompok sendiri atau sesuai no urut.
"Guru buat kelompok masing masing 4 anak"
namun semua teman saling mencari kelompok sendiri dan di situlah aku hanya satu siswa yang tidak mendapatkan kelompok.
Aku menanyakan teman sekelas ku apa ada yang kekurangan kelompok namun semuanya menjawab tidak dan ada yang menjawab sudah pas padahal kelompok mereka masih tiga masih kurang satu anak. Aku hanya bisa terdiam dan pasrah.
Di dalam kelas semua sekelas ku membicarakan tentang praktek dan apa yang harus di masak.
Aku mengatakan pada guru aku belum mempunyai kelompok masak.
"Bu saya belum mendapatkan kelompok memasak"
guru pun mencarikan kelompok untuk ku tapi tidak ada satupun yang mau dengan ku. Padahal guru sudah mencarikan nya
"apa ada yang kekurangan kelompok?"
Teman teman
"tidak Bu sudah pas kelompoknya".
dan setelah itu guruku tidak mencarikan nya lagi hanya mengatakan tidak apa-apa besok tetap berangkat ya.
Istirahat tiba aku duduk di luar kelas sambil melihat sahabatku dengan teman dekatnya yang baru. Dia melihatku tapi wajahnya tampak asing aku memandangnya dari kejauhan. aku hanya duduk terdiam memikirkan Besok sekolah atau tidak.
Pulang sekolah tiba sesampainya di rumah aku bicara pada ibu tentang praktek memasak di sekolah aku belum mendapatkan kelompok dan ibu pun langsung mempertanyakanku
"mengapa tidak mendapatkan kelompok memangnya guru tidak mencarikan kelompok?" tanya ibu dengan wajah sedih.
Aku pun menjawab
"semua kelompok sudah pas aku tidak mendapatkan kelompok".
disaat itu ibu berkata tidak apa-apa hanya tidak mendapatkan kelompok.
Keesokan harinya aku izin di grup tidak berangkat sekolah karena kepentingan keluarga. Namun guru membalas dengan
"berangkat saja tidak apa apa"
karena tau bukan karena ada kepentingan keluarga namun karena belum memiliki kelompok.
namun aku hari itu aku tetap tidak berangkat.
aku dirumah mengupas bawang.
"Ibu biar aku yang kupas bawang nya"
dan membantu ibu memasak kari untuk berjualan. Kakak ku bersekolah di bangku SMP ia ingin bercita-cita menjadi seorang dokter ia tetap belajar giat untuk meraih cita-citanya dan untuk mengangkat derajat ibu dan bapak, bapak pekerja yang kuat ia tidak pernah lelah demi keluarga-nya ia pergi berkerja sebagai buruh. Dan juga ia berjualan bubur ayam di pagi.
Di rumah hanya aku dan ibu yang sedang memasak bumbu untuk bubur ayam nanti dan juga memasak untuk makan siang sebelum bapak kakak pulang agar langsung makan sudah matang.
Bapak pulang sesampainya di rumah ia terlihat lelah. Ibu langsung menyiapkan makanan.
"Ibu biar ku yang bantu"
kita makan siang bersama.
seselesainya setelah makan bapak langsung pergi berkerja lagi ia tak kenal lelah selesai itu
aku bersemangat menjadwal pelajaran untuk sekolah besok dan berharap tidak ada yang membahas lagi tentang praktek memasak itu.
Esok pun tiba aku bangun pagi semua keluarga ku bangun ibu memasak bubur untuk bapak jual di pagi ini. Aku dan kakak bersarapan bersama.
Selesai itu bapak pergi berjualan sebelum siang tiba "bapak berangkat".
Dan aku, kakak pergi berangkat sekolah kita berangkat bersama tapi berbeda tempat.
Sampai di sekolah aku berjalan ke bangku ku semua teman sekelas ku menatapku dengan tatapan sirik dan ada juga yang mengatakan
"Riska kemarin kok enggak berangkat emang ada kepentingan keluarga?" tanya temanku.
aku hanya menjawab Dengan "ya iya dan iya"
Beberapa ada yang ketawa entah mentertawakan ku atau memang tertawa.
aku duduk di bangku sebangku langsung mengobrol dengan ku.
"Eh Ris kemarin kan keluarga besar aku ngumpul semua. Sumpah, aku kadang suka minder kalau melihat pencapaian saudara-saudaraku. aku tapi di sisi lain aku ikut bangga."
Jawabku
"Oh, gitu ya... hebat ya keluarga kamu," jawabku pelan, berusaha mengalihkan rasa perih di hati agar tidak terlihat di wajahku.
Sebangku
"iya iyalah kaya mereka punya rumah besar-besar loh Dan hampir pertemanan mereka dengan yang kaya pastinya"
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telingaku, seolah-olah menegaskan bahwa orang seperti aku. anak seorang penjual bubur keliling tidak pantas masuk ke dalam lingkaran pergaulan mereka.
Teman sebangkuku tampaknya tidak menyadari perubahan raut wajahku. Dia masih terus bercerita dengan antusias tentang liburan mewah saudaranya, mobil baru sepupunya, dan betapa beruntungnya mereka. Sementara itu, aku hanya bisa mengangguk-angguk kecil, berpura-pura mendengarkan padahal rasanya hatiku ingin menangis.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi nyaring. "masuk-masuk guru datang!" Guru mata pelajaran pertama melangkah masuk ke dalam kelas. Semua murid langsung kembali ke tempat duduk masing-masing dan mengeluarkan buku pelajaran. guru "silakan di tulis jangan ngobrol terus!" aku terdiam dan Aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungku, dan menatap lurus ke papan tulis. "Aku berjanji pada diriku sendiri: aku akan belajar dengan giat. Aku akan membuktikan bahwa anak seorang penjual bubur pun bisa sukses dan memiliki masa depan yang cerah, tanpa harus merendahkan orang lain." bisikku sambil menulis
Istirahat pun tiba aku duduk di depan koridor-koridor kelas. dan menatap sahabatku tidak disangka-sangka sahabatku yang bernama Fitriani tiba-tiba datang dan kita mulai mengobrol.
Fitriani "Riska kok sendiri"
jawabku "iya" hatiku berkata tumben sekali medekatiku.
"Fit kok enggak sama teman kamu biasanya bareng?" Tanyaku
Fitriani "teman aku enggak berangkat hari ini"
Setelah mendengar jawaban dari Fitriani sahabatku aku cukup tau ternyata sahabatku baru akan membutuhkanku disaat hatinya sedang kosong, kesepian dan akan menghilang di hadapanku ketika temanya berangkat besok, dan kami akan asing kembali. Aku hanya tersenyum tipis mendengar penjelasannya. "Oh, begitu," kataku singkat.
Fitriani tidak menyadari perubahan nada bicaraku. Ia terus bercerita tentang hal-hal tidak penting, seolah-olah kami adalah sahabat paling dekat di dunia ini. Aku hanya mendengarkan sambil mengangguk pelan. Di dalam hati, "aku merasa lelah menjadi tempat singgah sementara."
Bel masuk berbunyi. Fitriani berdiri dan menepuk pundakku. "Duluan ya, Ris!" ucapnya riang sebelum berlari kecil menuju kelasnya. Aku hanya diam menatap punggungnya yang mulai menjauh. Dan aku kembali masuk ke kelas duduk terdiam memikirkan sahabatku yang datang pada saat membutuhkan ku saja.
aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. aku sadar, terus-menerus memikirkan sikap Fitriani tidak akan mengubah apa pun. Hari ini masih panjang, dan masa depan jauh lebih berharga dari pada sekadar merenungkan orang yang datang sesuka hati. "Aku harus semangat!".
pokoknya harus Sampek ending