NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Malam makin larut, di sebuah klub malam privat yang terletak di salah satu gedung pencakar langit Ibukota, alunan musik bass berdentum halus menyusup lewat dinding kedap suara.

Di area VIP yang hanya bisa diakses oleh kalangan terpilih, Devran Zavian duduk santai di sofa kulit berwarna gelap.

Pria itu mengenakan kemeja sutra berwarna hitam dengan dua kancing atas terbuka, memperlihatkan tato naga samar yang merayap di sekitar lehernya.

Di tangannya, segelas wiski bertabur es batu diputar-putar dengan gerakan lambat. Di sekelilingnya, empat orang pengawal bertubuh kekar berdiri bersiap di sudut remang.

Suara ketukan sepatu hak tinggi yang tegas membentur lantai. Seorang wanita cantik melangkah masuk. Gaun malam berwarna biru yang dikenakannya memancarkan keanggunan.

Meskipun raut wajahnya tampak sangat dingin dan dipenuhi sisa emosi, pesona alaminya tetap tak terbendung. Dia adalah Adelina Atmadja.

Devran menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa percaya diri dan keangkuhan. Ia meletakkan gelas wiskinya di atas meja kaca, lalu menyandarkan punggungnya.

"Adelina..." sapa Devran dengan suara rendah dan serak yang memikat. "Aku tidak menyangka kau akan menemuiku selarut ini."

Adelina menghentikan langkahnya persis di hadapan meja Devran. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap pria di hadapannya dengan sorot mata yang tajam bagai mata pisau.

"Kakekku telah menetapkan tanggal pernikahan, Devran," ucap Adelina tanpa basa-basi, suaranya mengalun datar, dingin, dan bening. "Empat hari lagi, aku akan menikah dengan Darius Adhitama."

Mendengar hal itu, senyuman di wajah Devran mendadak memudar sejenak. Alis tebalnya menyipit kencang, dan kilatan amarah yang berbahaya melintas di matanya.

"Menikah? Empat hari lagi?" ulang Devran dengan intonasi yang mulai memberat. "Keluarga Atmadja benar-benar sudah tidak berdaya sampai melakukan hal itu."

Devran terkekeh sinis, lalu meneguk habis wiski di gelasnya hingga menyisakan es batu saja. "Dan kau... kau menerimanya begitu saja, Adelina."

"Aku tidak punya pilihan, Devran!" potong Adelina, nada suaranya bergetar menahan rasa kesal. "Kakek mengancam akan mencabut posisi, aset, dan hak warisku di Keluarga Atmadja."

Adelina melangkah satu tindak mendekati Devran, lalu berbisik. "Tetapi aku tidak akan pernah membiarkan pria bernama Darius Adhitama itu menyentuhku atau menguasai kehidupanku."

Devran seketika bangkit dari sofa. Ia lalu melangkah perlahan mendekati Adelina, menyisakan jarak yang sangat tipis di antara mereka.

"Kau tahu betul aku bisa menekan Keluarga Atmadja jika kau memintanya, Adelina," bisik Devran dengan nada mengancam yang dingin. "Kau tidak perlu tunduk pada gertakan kakekmu."

"Keluarga Atmadja tidak bisa dikendalikan oleh ancamanmu, Devran," sahut Adelina cepat, matanya menatap tajam tanpa sedikit pun rasa gentar.

Devran mengepalkan tangannya rapat-rapat. Gelora cemburu dan harga diri yang tersenggol membuat dadanya berombak naik turun.

Sebagai sosok yang sangat berpengaruh dan disegani di lingkaran elit Ibukota, ia tak rela wanita yang sangat ia inginkan disandingkan dengan pria lain terlebih lagi seorang pemuda terbuang.

"Lalu apa rencanamu?" tanya Devran dengan suara rendah. "Kau datang kemari bukan hanya untuk memberi tahuku soal pernikahan konyol itu, bukan?"

Adelina kemudian menghela napas pendek. "Pernikahan ini hanya formalities di atas kertas demi menenangkan Kakek dan menyelamatkan nama besar Keluarga Atmadja, Devran."

Ia menatap Devran lurus-lurus. "Aku ingin kau melakukan satu hal, Devran. Buat pria itu tahu batas dirinya. Jangan biarkan dia mencampuri urusanku."

Devran tertawa dingin, sebuah tawa yang sarat akan dominasi dan intrik kejam. Ia memajukan wajahnya hingga napasnya yang beraroma alkohol menerpa kulit wajah Adelina.

"Kau tidak perlu memintanya dua kali, Adelina," bisik Devran dengan nada suara mengancam. "Besok, akan kubuat Darius Adhitama menyesal karena telah datang ke Ibukota."

Adelina hanya mendengus pelan, lalu berbalik tanpa mengucap sepatah kata pun. Langkah kakinya tegas dan anggun saat melangkah pergi.

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerpa megahnya dinding-dinding dan jendela kaca Mansion Nomor Satu di Perumahan Dama Sanctuary.

Di ruang makan yang amat berkelas, Darius duduk santai dengan kemeja putih kasual yang tergulung hingga ke siku. Jemarinya yang kokoh memegang cangkir kopi hitam panas.

Angelina melangkah mendekat dengan gerakan yang sangat halus dan anggun. Ia menaruh piring berisi hidangan sarapan yang tersaji sempurna di hadapan Darius.

"Silakan dinikmati, Tuan," ucap Angelina dengan suara lembut seraya membungkuk sopan.

"Terima kasih, Angelina," sahut Darius dengan nada datar namun sarat akan ketegasan.

Tepat saat itu, ponsel tanpa merek milik Darius yang berada di atas meja bergetar halus. Layarnya menampilkan nama Julian. Ia segera meraih ponsel tersebut dan menggeser layar untuk menjawab.

"Bicaralah, Julian," ucap Darius singkat, lalu menyesap kopi hitamnya yang masih memgepulkan asap tipis.

"Tuan," suara Julian di seberang telepon terdengar sangat lugas. "Berdasarkan data imigrasi resmi yang kami periksa, ada catatan masuk atas nama Karina Volodina ke Ibukota sekitar satu tahun yang lalu."

Darius meletakkan cangkir kopinya ke piring tatakan. Sorot matanya seketika menajam. "Lalu? Di mana keberadaannya saat ini?"

"Dia saat ini tinggal di sebuah apartemen sederhana bernama Apartemen Griya Sentosa di wilayah selatan Ibukota, Tuan," terang Julian secara rinci melalui sambungan telepon.

Mendengar hal itu, Sorot mata Darius memancarkan kilatan emosi yang sangat jarang terlihat. "Pastikan lokasi persisnya dan kirimkan alamat lengkapnya padaku sekarang juga."

"Siap, Tuan. Alamat dan nomor unitnya sudah saya kirimkan ke ponsel Anda," jawab Julian dengan penuh kesigapan.

"Bagus. Tetap pantau area sekitar dari jarak jauh dan jangan menarik perhatian," perintah Darius dengan nada datar namun dingin.

"Baik, Tuan," sahut Julian dengan cepat dan patuh sebelum menutup sambungan telepon.

Darius melirik pesan masuk yang menampilkan alamat lengkap unit apartemen di Griya Sentosa. Ia kemudian bangkit dari kursi makan, dan mengambil kunci mobil serta jas santainya.

"Tuan, apakah Anda akan pergi sekarang?" tanya Angelina dengan hangat seraya mengambil piring kosong di meja.

"Ya. Aku ada urusan sebentar," sahut Darius tenang sambil membenahi jasnya dengan gerakan santai namun presisi.

Darius melangkah menuju garasi bawah tanah, lalu memasuki Mercedes-Maybach S-Class miliknya. Mesin mobil meraung halus sebelum meluncur meninggalkan Perumahan Dama Sanctuary menuju Apartemen Griya Sentosa.

Tiga puluh menit kemudian, Mercedes-Maybach S-Class hitam yang dikendarai Darius memasuki kawasan permukiman kelas menengah di wilayah selatan Ibukota.

Mobil itu akhirnya melambat dan berhenti di tepi jalan, beberapa puluh meter dari bangunan lima lantai bercat kusam dengan sebuah papan nama bertuliskan Apartemen Griya Sentosa.

Darius melangkah keluar dari Mercedes-Maybach miliknya. Penampilannya yang tegap dan modis seketika mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya.

Ia melangkah mantap menyeberangi jalan kecil, melewati gerbang utama, dan memasuki area lantai dasar Apartemen Griya Sentosa. Darius lalu memeriksa layar ponselnya kembali.

Nomor Unit 304, Lantai 3.

1
Glastor Roy
tor yang baik hati
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!