NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 023 - Ular Sisik Lendir Penjaga Altar

Cairan merah kental di tengah kolam terbelah perlahan, memunculkan gelombang riak berbau anyir busuk yang menyapu tepian marmer hitam. Dari kedalaman pusaran air darah yang gelap tersebut, dua pasang mata berwarna putih keruh tanpa pupil perlahan muncul ke permukaan udara, memancarkan hawa dingin pembunuh yang membekukan darah di pembuluh nadi Gu Yuan.

Itu adalah seekor ular sanca raksasa berkepala dua dengan tubuh setebal batang pohon cemara tua berumur ratusan tahun. Sisik-sisiknya berwarna hitam legam dan dilapisi oleh lapisan lendir pekat yang berkilau keunguan di bawah temaramnya cahaya lentera minyak tanah. Lendir itu berbau asam belerang yang menusuk hidung, mengeluarkan desis uap halus setiap kali menetes membakar lantai marmer hitam.

Binatang buas spiritual ini adalah Ular Sisik Lendir—makhluk rawa beracun tingkat rendah yang sengaja dipelihara oleh Tetua Mo Cheng di dasar kolam darah untuk menjaga keutuhan tiga puluh enam tiang formasi dari sentuhan orang luar. Setiap pengawas yang hendak memeriksa atau membersihkan tiang formasi biasanya diwajibkan melumuri jubah mereka dengan minyak lemak ikan khusus yang baunya dikenali oleh ular tersebut agar tidak dimangsa hidup-hidup.

Gu Yuan mengenakan jubah abu-abu milik Luo Biao yang tidak berlumur minyak pelindung tersebut. Di mata dan penciuman binatang purba itu, tubuh pemuda yang berdiri di dekat tiang ketujuh hanyalah seonggok daging segar penyusup yang harus segera dicabik-cabik dan diseret ke dasar kolam.

Kedua kepala ular raksasa itu mendesis panjang sambil menjulurkan lidah bercabang hitam mereka ke udara yang lembap. Hawa dingin yang memancar dari tubuh monster itu membuat udara di sekitar tiang ketujuh terasa membeku seketika, membentuk lapisan embun es tipis di atas pakaian Gu Yuan.

Gu Yuan membeku di tempatnya, menempelkan punggungnya rapat-rapat ke dinding tiang batu obsidian hitam. Cermin perunggu di balik saku jubah sebelah kirinya mendadak berdenyut panas, memicu getaran peringatan bahaya maut yang menyengat dadanya dengan rasa perih membakar.

Dunia membeku; garis batas ruang retak menjadi pola perunggu abu-abu.

Suara desis lidah ular berkepala dua itu berhenti kaku di udara. Tetesan lendir ungu beracun dari taringnya membeku menggantung sejengkal di atas permukaan air kolam darah. Lanskap aula gua memudar menjadi abu-abu logam yang sunyi dan hampa, menarik kesadaran Gu Yuan masuk ke dalam simulasi persepsi indra monster penjaga tersebut.

...****************...

Di dalam dunia cermin, Gu Yuan mencoba bergerak perlahan ke arah tiang kedua belas. Begitu telapak kakinya yang beralaskan sandal jerami menjejak lantai marmer yang basah oleh lapisan air tipis, gelombang getaran halus merambat cepat melalui permukaan batu.

Kedua kepala ular itu seketika tersentak serentak. Meskipun sepasang mata putihnya buta total terhadap cahaya lentera dan wujud fisik manusia di sekitarnya, indra pendengaran dan sensor getaran di rahang bawah monster itu luar biasa mengerikan.

Dalam hitungan detik, tubuh raksasa berlendir hitam itu melesat keluar dari kolam seperti anak panah lepas dari busur. Ekornya yang berduri menghantam lantai marmer hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan batu tajam, sementara kedua mulutnya yang menganga lebar menelan tubuh Gu Yuan dari dua arah secara serentak, meremukkan seluruh tulang belikatnya dalam sekali lilitan sebelum menyuntikkan racun pelarut daging ke dalam rongga dadanya.

Simulasi menunjukkan kenyataan taktis yang sangat krusial: Ular Sisik Lendir itu buta total terhadap cahaya dan pandangan visual biasa karena menghabiskan puluhan tahun hidupnya di dalam kegelapan kolam darah bawah tanah. Namun, ia sangat peka terhadap getaran langkah kaki di atas genangan air marmer dan sangat rakus terhadap aroma darah pekat yang baru menetes di sekitarnya.

Jika perhatian sensor getarannya tidak dialihkan ke arah lain dengan umpan yang tepat, melangkah satu tindak saja di atas lantai basah ini sama dengan mengundang maut seketika tanpa sempat mencapai tiang kedua belas.

...****************...

Udara kembali berhembus, tetesan keringat dingin jatuh ke tanah tepat di detik yang sama.

Gu Yuan menahan sentakan hebat di rongga dadanya. Rasa dingin yang menyesakkan dari lilitan simulasi masih terasa meremas tulang-tulang iganya di dunia nyata, meninggalkan sensasi sesak napas yang membuat otot-otot perutnya menegang kaku dan perih. Keringat dingin mengucur deras di keningnya, namun ia menahan tubuhnya agar tidak bergeser bahkan sehelai rambut pun dari posisinya di samping tiang ketujuh.

Kedua kepala ular itu kini telah terangkat setinggi satu depa di atas permukaan kolam, berjarak hanya lima langkah di depan posisi Gu Yuan berdiri. Taring-taring panjangnya yang melengkung meneteskan lendir ungu beracun yang mendesis membakar permukaan marmer. Moncong kirinya perlahan berputar ke arah kiri dan kanan, mengendus aroma udara lembap untuk mencari sumber getaran yang sempat ia rasakan saat debu pemahatan rontok tadi.

Gu Yuan menggerakkan jemari tangan kanannya dengan sangat lambat dan tanpa suara sedikit pun. Dari lipatan sabuk kain di pinggangnya, ia mengeluarkan sebuah botol tembikar kecil berleher panjang yang tertutup sumbat lilin lebah merah.

Di dalam botol tembikar kecil ini tersimpan sisa cairan Darah Korosi Tulang yang tadi berhasil ia sembunyikan dari cangkir giok pemberian Tetua Mo Cheng di aula balai obat. Cairan kental itu memiliki aroma karat tembaga dan asam pekat yang luar biasa kuat—aroma darah beracun yang seratus kali lipat lebih memikat bagi binatang buas peminum darah daripada bau keringat manusia biasa.

Gu Yuan mencabut sumbat lilin botol dengan ujung jemarinya tanpa menimbulkan bunyi decit.

Sambil menahan napasnya serendah mungkin di balik kain selendang penutup mulut, ia memiringkan mulut botol tembikar tersebut secara perlahan, mengarahkan tetesan cairan merah kental itu ke arah genangan air parit marmer di sebelah barat kolam—tepat di seberang posisi berdirinya yang mengarah ke lorong menuju tiang kedua belas.

Tik.

Setetes kecil cairan Darah Korosi Tulang jatuh membelah udara, menghantam genangan air marmer di sisi barat dengan bunyi ketukan air yang sangat halus namun bergema jelas di dalam kesunyian gua yang mencekam.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!