Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI DIMANA SEMUA BAU MENJADI MUSUH
Usia 6 minggu 3 hari.
Jika kemarin Sia sebesar biji kacang polong manis, hari ini ia sudah sebesar biji blueberry kecil. 7 milimeter. Dalam 48 jam, ia tumbuh 1 milimeter. Satu milimeter yang di dunia luar terlihat tidak ada artinya, tapi di dalam rahim, satu milimeter itu adalah pembangunan sebuah peradaban.
Hari ini, di dalam tubuh Sia yang masih melengkung seperti huruf C, tonjolan lengannya sudah tidak lagi bulat. Ujungnya mulai pipih. Itulah cikal bakal telapak tangan. Tonjolan kakinya menyusul dua hari di belakang. Tabung saraf yang minggu lalu masih terbuka di ujung atas dan bawah, hari ini sudah tertutup sempurna. Dari tabung itulah nanti otak dan sumsum tulang belakangnya terbentuk. Dan jantungnya, yang kemarin baru terlihat berkedip 112 kali per menit, hari ini berdetak lebih cepat, 120 kali per menit. Semakin cepat, semakin teratur, seperti seseorang yang sudah menemukan ritmenya.
Alya tidak tahu detail itu. Yang Alya tahu, pagi ini dunia menjadi musuh penciumannya.
Pukul 05.12 pagi, Rafael belum sempat menyalakan kompor untuk merebus air. Ia hanya membuka kulkas untuk mengambil telur.
Alya yang masih berbaring di kamar langsung berseru dari jauh, "Fa! Tutup kulkasnya!"
Rafael kaget, langsung menutup. "Kenapa?"
"Bau," kata Alya dengan suara tertahan. "Kulkasnya bau. Bau telur, bau sisa ayam kemarin. Aku bisa cium dari sini."
Rafael mendekat ke kamar. Ia mencium tangannya sendiri. Tidak ada bau aneh. Kulkasnya bersih. Tapi ia ingat catatan dokter: di usia 6 minggu 3 hari, estrogen naik sangat tinggi. Estrogen membuat indra penciuman menjadi 10 kali lebih sensitif. Itu mekanisme perlindungan purba, agar ibu hamil menghindari makanan yang berpotensi berbahaya. Hanya saja di apartemen modern, perlindungan itu berubah menjadi siksaan.
Mulai hari ini, semua bau menjadi terlalu jujur.
Pasta gigi mint yang selama 24 tahun dipakai Alya, pagi ini terasa seperti sabun cuci piring.
Sabun cuci piring yang wangi lemon, terasa menyengat seperti bensin.
Dan nasi hangat yang baru matang, yang biasanya adalah aroma paling menenangkan di rumah mereka, pagi ini membuat Alya langsung menutup hidung.
"Aku tidak bisa makan nasi anget," kata Alya, duduk di lantai dapur, jauh dari meja makan. "Baunya... terlalu nasi."
Rafael tidak tertawa. Ia mengerti. Ia mengambil nasi itu, memasukkannya kembali ke rice cooker, lalu mengipasinya sampai dingin, lalu memasukkannya ke kulkas selama 15 menit.
"Nasi dingin mau?" tanyanya.
Alya mengangguk ragu. Setelah dingin, aroma nasinya hilang 80%. Ia bisa makan tiga suap kecil dengan telur dadar yang dibuat tanpa bawang, tanpa minyak banyak, dan dimasak dengan api kecil agar tidak berasap.
Tiga suap. Itu saja sudah kemenangan besar hari ini.
Pukul 11.04, ujian rahasia ketiga datang.
Ponsel Alya bergetar. *Mama.*
Bukan Papa seperti kemarin. Mama.
Alya menatap Rafael dengan panik. Rafael langsung duduk di sampingnya, mengaktifkan pengeras suara, dan menggenggam tangan Alya erat. Mereka sudah punya kesepakatan: kalau orang tua menelepon, harus di-loudspeaker, supaya tidak ada yang menanggung beban berbohong sendirian.
"Halo, Nak? Lagi apa?" Suara Mama di seberang terdengar ceria, tapi ada nada curiga yang khas ibu-ibu.
Alya menarik napas, mencoba membuat suaranya normal. "Lagi di rumah aja, Ma. Baru selesai... bersih-bersih."
"Fa ada?"
"Fa, hai," Rafael menyahut. "Ya, Ma."
"Mama lihat di Instagram, Alya kok pucat? Foto yang kemarin di story? Sakit ya?"
Itu foto yang diunggah Rafael dua hari lalu, foto Alya sedang tidur di sofa, tanpa filter, wajahnya memang pucat karena begah.
Alya hampir keceplosan. Ia ingin sekali bilang, _Ma, bukan sakit. Alya hamil. 6 minggu 3 hari. Jantungnya sudah 120 kali per menit. Tadi pagi Alya muntah karena bau kulkas._
Tapi Rafael meremas tangannya pelan, mengingatkan.
"Enggak kok, Ma," kata Alya, suaranya dibuat ringan. "Cuma masuk angin. Semalam hujan terus di sini. Makanya pucat."
"Minum tolak angin sana. Jangan begadang. Kamu itu kalau skripsi suka lupa waktu. Fa, jagain Alya jangan kasih kopi-kopi terus."
"Iya, Ma. Alya enggak minum kopi kok sekarang. Minumnya air putih anget sama susu," jawab Rafael cepat.
Itu bukan bohong. Alya memang sudah berhenti kopi sejak tahu hamil. Susu yang dimaksud adalah susu almond dingin yang satu-satunya tidak membuatnya mual.
Mama terdiam sebentar. Lalu berkata kalimat yang membuat jantung Alya berhenti sepersekian detik.
"Atau... kalian lagi isi ya?"
Sunyi.
Seluruh apartemen yang berukuran 36 meter persegi itu mendadak sunyi total. Suara AC pun seperti hilang.
Alya menatap Rafael. Rafael menatap Alya. Matanya membelalak.
Ini adalah momen yang mereka takutkan sejak awal. Firasat seorang ibu.
"M... maksudnya, Ma?" tanya Alya dengan suara yang ia usahakan tetap stabil, tapi ujungnya bergetar.
Mama tertawa di seberang. "Mama iseng aja. Soalnya Mama mimpi gendong bayi dua malam berturut-turut. Katanya kalau mimpi gendong bayi, ada yang mau isi di keluarga. Mama pikir siapa lagi kalau bukan kalian."
Rafael menghela napas yang ia tahan. Ia menjawab, karena Alya sudah tidak bisa berkata-kata.
"Amin-in aja dulu, Ma. Doain aja. Kalau sudah isi, pasti Fa sama Alya yang pertama kasih tau Mama sama Papa. Janji."
"Ya sudah, Mama doain terus. Sudah ya, Mama mau arisan dulu. Jaga kesehatan kalian."
Telepon ditutup.
Alya langsung menjatuhkan diri ke pelukan Rafael, menangis tanpa suara. Bukan karena sedih, tapi karena lega dan karena hampir saja.
"Hampir, Fa. Hampir banget. Tadi aku mau bilang. Lidahku sudah di ujung."
"Aku tahu. Aku lihat matamu sudah mau cerita. Makanya aku remas tanganmu. Kita sudah janji, ya? Kita tunggu sampai detak jantungnya stabil di atas 120, sampai usia 8 minggu, sampai kita pulang dan kasih foto USG yang ada kedipannya itu langsung ke tangan Mama. Bukan lewat telepon."
Alya mengangguk di dada Rafael. "Mama mimpi gendong bayi. Berarti Sia sudah titip salam ke neneknya lewat mimpi."
Sore itu, Alya tidak bisa berbuat apa-apa. Lelahnya berbeda dari lelah skripsi. Ini lelah yang datang dari dalam sumsum. Lelah karena tubuhnya sedang membangun plasenta dari nol. Sebuah organ baru yang belum pernah ada seumur hidupnya, kini harus dibangun dalam waktu 12 minggu.
Ia tertidur di sofa jam 15.00, bangun jam 17.30, dan masih merasa lelah.
Rafael membiarkannya tidur. Ia hanya menyelimuti dan meletakkan foto USG ketiga di dada Alya.
Pukul 19.00, ritual kalender.
Rafael menulis, tulisannya agak berantakan karena tangannya masih gemetar sisa telepon Mama tadi:
*18 Okt 2026 - 6 minggu 3 hari / 6w3d - 7 mm - Sia - FHR ∼120 bpm - Tonjolan tangan mulai pipih (bakal telapak). Gejala puncak: hiperosmia (semua bau jadi musuh), pasta gigi mint tidak tahan, nasi hangat tidak tahan (harus nasi dingin), muntah 2x hari ini (pagi dan siang), air liur berlebih, lelah sangat berat (tidur siang 2,5 jam), BAK tiap 1,5 jam. Ujian rahasia ke-3: telepon Mama curiga + mimpi gendong bayi. Rahasia masih aman.*
Alya yang baru bangun, mengambil pulpen, menulis di bawahnya dengan tulisan miring yang kecil:
_Sia, hari ini Ibu tidak bisa cium bau apa pun. Semua bau bikin Ibu mual. Tapi Ibu tidak marah. Ibu tahu hidung Ibu jadi tajam karena mau melindungi kamu. Hari ini nenekmu hampir tahu kamu ada. Nenekmu mimpi gendong kamu. Kamu sudah pinter ya kirim salam lewat mimpi. Tunggu sebentar lagi ya, kita kasih kejutan ke nenek._
Menjelang malam, Alya menemukan satu-satunya hal yang bisa mengalahkan mual: air es yang diberi irisan lemon tipis, dan biskuit kraker asin yang dimakan sambil berbaring miring ke kiri.
Rafael duduk di lantai, di samping sofa tempat Alya berbaring, mengusap-usap punggungnya dengan gerakan melingkar pelan, sesuatu yang ia pelajari dari video bidan di YouTube semalam.
"Fa," bisik Alya, matanya setengah terpejam, memegang foto USG yang ada kedipan jantungnya.
"Ya?"
"Terima kasih ya, hari ini kamu jadi hidung dan lidahku. Kamu yang ciumin dulu makanan mana yang aman buatku."
Rafael tersenyum, mencium pelipis Alya yang masih terasa agak pucat dan dingin.
"Tugasku. Sampai 12 minggu nanti. Sampai Sia tidak perlu pinjam terlalu banyak hormon lagi. Nanti kalau Sia sudah 12 minggu, plasentanya sudah jadi, hormonnya akan lebih stabil, dan kamu akan kembali bisa cium bau nasi hangat tanpa mau muntah. Janji."
Alya mengangguk pelan, lalu tertidur lagi, dengan tangan masih mengelus perutnya yang masih rata, di mana seorang bayi sebesar biji blueberry sedang sibuk membentuk telapak tangannya untuk pertama kali, dengan jantung yang berdetak 120 kali per menit, tanpa tahu bahwa di luar, ia baru saja hampir membuat rahasianya terbongkar lewat sebuah mimpi yang dititipkan kepada neneknya.
Bersambung...