Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Deru mesin Ducati Panigale yang membelah keheningan dini hari akhirnya mati, menyisakan dengung tipis di telinga Steviona saat ia melangkah masuk ke kediaman raksasa Lagustav. Udara di luar yang menusuk tulang nyatanya belum seberapa dibanding suhu di dalam rumah ini. Vibes-nya selalu sama: megah, dingin, dan terasa seperti museum penyimpan trauma.
Steviona mendorong pintu kayu ek ganda itu dengan satu tangan. Sepatu botnya berketuk pelan di atas lantai marmer. Gadis itu berniat langsung naik ke lantai dua, menenggelamkan otot-ototnya yang kaku ke bawah shower air panas. Tapi, langkahnya terhenti saat ujung matanya menangkap siluet di ruang tengah.
Lampu kristal utama memang dimatikan, tapi pendar kuning dari lampu sudut cukup untuk mengekspos sosok Evans. Pria paruh baya itu duduk bersandar di sofa single kulit, menautkan jemarinya dengan raut wajah kelelahan yang kentara. Dia sengaja menunggu.
"Ini jam berapa, Stev?"
Suara bariton Evans memecah kesunyian, memantul di dinding ruang tamu yang kelewat luas. "Jangan pulang malam-malam. Nggak baik."
Steviona bahkan nggak repot-repot memutar kepalanya. Ekspresinya pualam, sedingin balok es. Nasihat bare minimum ala figur ayah itu terdengar seperti kaset kusut yang salah putar di telinganya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk merespons, ia kembali melangkah. Jaket kulit hitamnya bergesekan pelan, menciptakan dominasi hening saat ia berjalan melewati bahu sang ayah, menganggap pria itu tak lebih dari sekadar pajangan interior.
"Berhenti bersikap seperti ini sama Ayah, Stev."
Evans bangkit berdiri. Frustrasi akhirnya membobol pertahanan pria itu. Ia mengambil satu langkah lebar, memangkas jarak, dan menahan lengan putrinya. "Ayah ini orang tua kamu."
Gerakan Steviona berhenti total. Atmosfer di ruang tengah itu anjlok drastis ke titik beku.
Perlahan, Steviona menunduk, menatap jemari Evans yang mencengkeram lengan jaketnya seolah sentuhan itu menularkan virus mematikan. Detik berikutnya, gadis itu menepis tangan ayahnya dengan kasar.
Steviona memutar tubuhnya. Sorot mata elangnya yang biasanya hanya memancarkan kegelapan absolut, kini berkilat oleh api amarah yang sudah ia pendam bertahun-tahun. Napasnya mulai memburu, menghancurkan topeng ketenangan yang selalu ia pakai.
"Ayah?" desis Steviona. Suaranya rendah, bergetar menahan luapan lava di dadanya, tapi tajamnya sanggup membelah ego pria di depannya. Bibirnya mengukir senyum sinis yang sangat menyakitkan. "Di mana letak 'ayah' itu, hm? Coba spill ke gue, di mana posisi lo pas gue literally butuh bahu buat sekadar bersandar?"
Evans tertegun. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Matanya menatap horor pada kehancuran yang terpampang jelas di wajah putri kandungnya.
"Pas dunia gue hancur berantakan, pas gue kehilangan segalanya... lo ada di mana?" Steviona maju satu langkah, menekan intimidasi psikologisnya. "Lo nggak pernah ada! Lo fucking absent! Alih-alih meluk gue, lo malah sibuk bikin plot twist menjijikkan. Sibuk merangkai cerita happy ending lo sendiri sama keluarga baru lo itu!"
Gadis itu menunjuk ke arah lantai atas, ke arah kamar-kamar kosong yang biasa ditempati Hierra dan Ariana. Suaranya mulai melengking, memecahkan keheningan rumah.
"Keluarga yang secara langsung udah nyakitin gue dan Kakek! Perempuan yang lo nikahi itu... dia adalah wujud nyata dari luka yang nggak bakal pernah bisa sembuh, Yah."
Mata tajam Steviona kini berkaca-kaca, membiaskan cahaya lampu sudut, meski ego memaksanya untuk tidak membiarkan satu tetes pun air mata itu jatuh. Jantungnya berdentum brutal menghantam tulang rusuk. Rentetan kalimat yang keluar dari mulutnya bukan lagi sekadar amarah anak remaja, melainkan jeritan luka bernanah yang selama ini ia jahit sendiri tanpa anestesi.
"Lo pikir gue lahir dengan hati sedingin ini?" Steviona terkekeh sumbang, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti isakan kering. Ia memukul dada kirinya sendiri dengan kepalan tangan. "Ayah adalah senjatanya. Keputusan lo adalah peluru yang ngebunuh sisi manusiawi gue. Lo yang ngerubah seorang Steviona Aria Lagustav jadi monster kayak sekarang!"
Dada Evans naik-turun dengan cepat. Pria paruh baya itu menggeleng pelan, matanya memerah menahan tangis melihat damage luar biasa yang ia ciptakan pada darah dagingnya sendiri. "Aria... Ayah minta maaf—"
"Gue nggak butuh maaf lo," potong Steviona mutlak, memutus oksigen di paru-paru Evans. Ia menatap ayahnya dengan sorot kekosongan yang jauh lebih menakutkan daripada amarah. "Monster ini... anak yang kehilangan kasih sayang, yang dipaksa mati rasa karena ditikam dari belakang oleh orang tuanya sendiri... ini semua literally mahakarya lo. Jadi, berani-beraninya lo nuntut respect dari gue."
Keheningan yang memekakkan telinga mengambil alih ruangan. Hanya terdengar suara detak jam dinding antik yang beradu dengan napas berat keduanya.
Tanpa sisa empati, Steviona membalikkan badan. Sepatu botnya kembali melangkah menaiki anak tangga pualam, meninggalkan Evans yang kini luruh berlutut di atas karpet ruang tengah, diremukkan oleh rasa bersalah yang tak akan pernah menemukan kata penebusan.
memang al sama amanda bisa punya anak lagi tapi beda cerita yang mulai berjuang akibat dibully menderita mulai bayibelum bahagia bepenuhnya sudah meninggal
katanya mafia masak gak bisa nemuin sampaai 5 th
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭